Indonesia dan UNFCCC
Februari 9, 2010
Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim (UNFCCC) sudah berakhir. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, tidak ada perjanjian mengikat yang berhasil disepakati oleh 193 negara yang terlibat, hanya komitmen politik untuk menghadapi tantangan terbesar abad ini yaitu perubahan iklim.
Pada konferensi kali ini, para pemimpin dunia menunjukan itikad baik dengan duduk bersama untuk mengatasi ancaman nyata perubahan iklim global. Walaupun tidak memenuhi ekspektasi semua pihak, konferensi ini cukup memberikan harapan. Berikut adalah rangkuman dari hasil konferensi tersebut;
- Menjaga agar kenaikan temperatur global tidak lebih dari 2°C. Negara-negara kepulauan kecil dan Afrika kecewa dengan kesepakatan karena tidak sesuai dengan tuntutan mereka, yakni kenaikan temperatur global tidak lebih dari 1.5°C. Negara-negara inilah yang akan terkena dampak langsung dari kenaikan suhu global. Maladewa contohnya, negeri kepulauan yang sebagian besar hanya 1.5 meter dari permukaan laut itu terancam tenggelam akibat kenaikan temperatur global.
- Adanya mekanisme pengawasan dan pelaporan mengenai pengurangan emisi karbon. Negara-negara berkembang akan melakukan monitoring secara swadaya dengan hasil analisis yang bisa dipertanggungjawabkan dan ketentuan konsultasi internasional.
- Perjanjian ini menawarkan dana bantuan kepada negara-negara yang terkena dampak langsung pemanasan global sebesar $ 30 milyar pada periode 2010 – 2012 dan ditargetkan mencapai $ 100 milyar pada 2020. Dana ini akan digunakan secara berimbang untuk mitigasi (pengurangan) emisi gas rumah kaca (GRK) dan adaptasi di negara-negara yang terkena dampaknya secara langsung.
- Adanya mekanisme pendanaan baru untuk program REDD-plus (reduced emissions from deforestation and forest degradation). Prinsip program ini sederhana yaitu pemilik hutan —pemerintah atau perusahaan— diberi kompensasi atas perlindungan hutan dari penebangan.
Kekecewaan yang terbesar dari konferensi ini adalah ketidakmampuan untuk membuat suatu perjanjian internasional yang mengikat anggotanya untuk mengurangi emisi global sebagai pengganti Protokol Kyoto yang sudah tidak berlaku pada 2010. Dan lagi, hasil konferensi tidak menetapkan target yang jelas bagi negara-negara industri maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca baik jangka menengah maupun jangka panjang.
Indonesia boleh dikatakan berhasil mengawal Bali Action Plan yang merupakan hasil dari COP (Conference of the Parties) yang digelar di Bali pada tanggal 3 – 15 Desember 2007. Salah satu hasil dari Bali action plan adalah mekanisme REDD (Reduced emission from forest deforestation and forest degradation). Hal ini penting karena Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi kehutanan yang besar dengan sumbangan emisi CO2 yang besar pula dari sektor kehutanan.
Menurut Executive Summary: Indonesia and Climate Change yang dikeluarkan oleh PEACE tahun 2007, total emisi di Indonesia mencapai 3014 miliar ton ekuivalen CO2. Dari jumlah tersebut lebih dari 85% berasal dari sektor kehutanan, selebihnya berasal dari energi, agrikultur dan limbah. Ditelisik lebih jauh, 75% dari emisi yang berasal dari sektor kehutanan tersebut berasal dari deforestasi. Nah, dari 57 % sumbangan deforestasi tersebut berasal dari kebakaran hutan dan konversi lahan. Bandingkan dengan Amerika Serikat dan China yang lebih dari 50% sumbangan karbon berasal dari sektor energi.
Pada konferensi kali ini pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26 % dari aktivitas bisnis biasa (BAU) tahun 2020. Ini merupakan target yang ambisius mengingat carut-marut penggunaan lahan, laju deforestasi yang tinggi, pembukaan lahan gambut ditambah rencana pemerintah untuk membangun pembangkit listrik berbahan baku batubara dan peningkatan sumbangan emisi dari sektor transportasi.
Jika Indonesia mampu mengurangi emisi yang sebagian besar berasal dari sektor kehutanan itu, jaminan insentif finansial dari program REDD-plus dan komitmen penurunan emisi sebesar 26% dapat terpenuhi. Mudahkah? Tidak juga. Dengan carut marut tata guna lahan, lemahnya pengawasan hutan, penerapan hukum yang memble, laju deforestasi yang melonjak tajam dan permintaan terhadap produk hasil hutan yang tinggi membuat pemerintah harus menyingsingkan lengan baju dan berkeringat untuk mengejar target yang tidak mudah itu.
Namun, ada ancaman yang mengintai dari skema REDD. Skema ini tidak mempertimbangkan penduduk asli yang tinggal di area konservasi. Seringkali istilah “konservasi” justru malah menelantarkan dan mengusir warga asli dari tempat tinggal mereka. Kemudian juga, skema pengelolaan hutan lestari dikuatirkan malah mendorong industri kehutanan mengkonversi hutan primer menjadi hutan industri. Hal ini akan menurunkan kualitas hutan primer yang seharusnya jadi “kolam” keanekaragaman hayati dan menjadi “kebun-kebun” monokultur. Dan lagi, skema perdagangan karbon melalui REDD bisa jadi malah akan mendorong negara-negara maju untuk melampaui batas emisi karena beranggapan dapat membayarnya melalui skema REDD. Akbiatnya, total emisi dunia malah menjadi meningkat karena skema ini hanya “memindahkan” kelebihan emisi dari negara-negara maju.
Ribet? Emang! Makanya jadi Penguasa itu gak gampang. Kita yang berada diluar lingkaran kekuasaan memang berhak mengkritisi dan menjaga supaya Pemerintahan tetap membela kepentingan orang banyak. Tetapi, kita juga harus berupaya untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya berteriak-teriak dan grasak-grusuk menggoyang-goyang biduk yang sedang berlayar.
Saya sendiri adalah penggemar berat hutan hujan tropis. Hutan tropis seperti sebuah negeri dongeng yang memiliki aturannya sendiri. Negeri yang kelihatannya kejam namun lembut menampung bermilyar-milyar makhluk yang berebut hidup di relung-relungnya. Di pucuk tertinggi ,di balik batang pohon yang lapuk, sampai dalam segenggam tanah, kita dapat menemukan kehidupan. Tiap-tiap bentuk kehidupan itu saling bertautan terangkai membentuk jejaring halus ekosistem hutan tropis. Menakjubkan!
Apa yang akan Saya lakukan? Sederhana saja. Saya mulai menanam pekarangan rumah dengan buah-buahan khas Kalimantan seperti kweni, lay, wanyi dan asam putar. Tentu saja Saya tidak berharap bisa menikmati buahnya sekarang juga (bisa nunggu sepuluh tahun sampai berbuah). Saya ingin buah ini bisa dinikmati generasi penerus Saya dan tidak punah diterjang serangan buah-buahan populer seperti jeruk, apel, pisang dan mangga. Selain itu, dengan menanam pohon buah, Saya berharap bisa membangun replika sederhana jejaring kehidupan hutan tropis yang Saya kagumi itu.
If There Must be a War
Februari 2, 2010
If there must be a war, let it be against environmental contamination, nuclear contamination, chemical contamination; against the bankruptcy of soil and water systems; against the driving of people away from lands as environmental refugees.
If there must be a war, let it be against those who assault people and other forms of life by profiteering at the expense of nature’s capacity to support life.
If there must be a war, let the weapons be your healing hands, the hands of world’s youth in defense of the environment.
Mustafa Tolba
Former Secretary General
United Nations Environmental Programme
Perhatian: Orangutan di Kompleks PCVI PKT!
Januari 24, 2010
Siang itu, tidak seperti biasanya Saya salat Jum’at di masjid Baiturrahman kompleks PCVI PKT. Lepas salat, Saya langsung berangkat ke kantor. Nah, pada saat Saya melewati kolam pemancingan Arwana komplek PCVI, tampak sesosok makhluk berbulu cokelat besar sedang memanjat pohon. Kaget, Saya pun langsung menepi dan keluar dari mobil. Ternyata tidak salah dugaan Saya, yang terlihat tadi adalah orangutan jantan dewasa.
Foto di atas didapat dari kamera telepon genggam bapuk milik Saya, sementara foto di bawah didapat dari mesin pencari Google sebagai pelengkap foto Saya yang tidak jelas.
Orangutan jantan —terlihat dari bantalan di pipi —berbobot sekitar 150 kg nampak terganggu akan kehadiran saya. Dia pun mendengus-dengus, mungkin mencoba mengintimidasi. Saya pun mundur beberapa langkah khawatir dia menyerang. Tidak lama kemudian satu pengendara motorpun berhenti untuk melihat, dan disusul beberapa kendaraan lain. Saya pun menjadi khawatir orangutan ini merasa terganggu dan menjadi agresif.
Kemudian Saya melapor ke satpam untuk memberitahu ada orangutan jantan dewasa di pinggir jalan raya. Si satpam hanya tertawa dan berkata “sudah biasa itu mas”. Dia bercerita bahwa sering terlihat orangutan di daerah itu. Yang besar, ada di sisi kanan jalan. Yang lebih kecil berada di sisi kiri jalan. Dia juga mengatakan bahwa di hutan belakang water treatment PCVI masih suka terlihat beruang madu. Dia mengatakan bahwa orangutan besar ini kemungkinan berasal dari kebon binatang yang dahulu terdapat di belakang Jl. Manggar PCVI PKT
Menarik sekali, ternyata daerah perumahan PCVI, masih terdapat “penghuni asli” hutan Kalimantan Timur. Dan lagi, Saya belum pernah melihat lokasi bekas kebon binatang tersebut. Saya menjadi tertantang untuk melihatnya. Saya berencana untuk melihat dan menjelajahi lokasi itu setelah pulang kerja. Karena sudah pukul 13.30 akhirnya Saya memutuskan segera kembali ke kantor
***
Saya kembali ke kantor dengan perasaan khawatir akan keselamatan hewan menakjubkan tersebut. Sayapun bercerita kepada kawan-kawan Saya di Kantor. Beberapa orang nampak tertarik dengan cerita Saya. Tapi sebagian besar cenderung kurang lebih bersikap seperti ini”ngapain sih capek-capek mikirin orangutan” atau “segitunya ya”?
Saya punya berbagai alasan kenapa Saya peduli. Pertama, karena hewan ini sudah dalam kategori terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Orangutan juga masuk dalam daftar merah IUCN (International Union of Conservation Nature) spesies-spesies yang terancam punah. Artinya, keberadaan makhluk hidup ini diawasi oleh negara dan masyarakat internasional. Tindakan yang membahayakan kehidupan orangutan dapat mengakibatkan hukuman pidana dan kecaman dari masyarakat internasional.
Kedua, karena Saya sudah menyaksikan sendiri betapa hewan ini sangat menganggumkan. Dua tahun di Kalimantan Timur, Saya sudah menyambangi dua pusat konservasi Orangutan. Yang paling mengesankan adalah ketika Saya mengunjungi Taman Nasional Kutai pos Prevab. Disana, Saya mengikuti peneliti dari Jepang dalam riset jangka panjang mengenai perilaku orangutan. Ya, Saya benar-benar melihat orangutan liar yang hidup di alamnya. Menyaksikan bagaimana orangutan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain, membuat tempat tidur menjelang malam lengkap dengan “payung” yang disusunnya sendiri dari ranting-ranting pohon untuk melindunginya dari hujan, melihat jantan yang egois memaksa betina untuk kawin (yup, I actually saw orangutan mating, live!), membuat Saya takjub akan kecerdasan makhluk ini.
Untuk semua geliat pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan pengingkatan kesejahteraan di wilayah Kalimantan Timur, kita telah mengorbankan ekosistem yang telah terbentuk sejak puluhan juta tahun silam. Termasuk didalamnya koevolusi antara mahkluk dan lingkungan hidupnya. Orangutan yang tidak berdosa itu kehilangan tempat tinggal akibat tabiat manusia yang rakus. Kalau orangutan bisa berserikat dan berkumpul, sudah dituntutnya kita ke pengadilan karena merampas rumah dan hak-hak hidup mereka.
Ketiga, orangutan adalah salah satu warisan kekayaan bumi yang tidak ternilai. Tidakkah menakjubkan bahwa di dunia ini, orangutan hanya terdapat di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Bukankah itu menunjukan bahwa keunikan ekosistem dan panjangnya sejarah hubungan antara orangutan dan lingkungannya yang menyebabkan orangutan tersebut bisa survive hanya di dua Pulau tersebut. Apa hak kita memutus hubungan unik antara makhluk hidup dan lingkungannya?
***
Tidak arif rasanya bila kita tidak peduli terhadap kelangsungan hidup orangutan. Beberapa orang mungkin bertanya Apa manfaat langsung dari keberadaan orangutan bagi kehidupan manusia? Walaupun orangutan punah, sepertinya secara langsung tidak akan mempengaruhi perkembangan peradaban umat manusia.
Namun disisi lain, ketidakmampuan untuk menyisihkan ruang untuk hidup orangutan menandakan kegagalan peran kita sebagai makhluk superior yang seharusnya menjaga keseimbangan di Bumi. Ditambah lagi, tidakkah nanti kitabersalah kepada generasi peneruskarena tidak mampu menjaga kelangsungan hidup makhluk-makhluk mengagumkan di dunia. Akankah keturunan kita tau orangutan lewat mitos, cerita bergambar dan layar televisi?
Memperebutkan Tuhan
Januari 19, 2010
Pada penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur Ke Jakarta beberapa waktu lalu, mata Saya terpaku pada satu halaman pada harian The New Strait Times. Koran Malaysia berbahasa Inggris tersebut memberitakan tentang pembakaran tiga gereja yang ditenggarai akibat kisruh penggunaan nama “Allah” oleh umat Katolik di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dikabarkan bahwa pembakaran gereja tersebut akibat tulisan pada majalah Katolik Herald edisi bahasa melayu yang menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan. Biasanya majalah ini terbit dalam bahasa inggris yang menyebut Tuhan dengan “God” atau “Lord”.
Saya tidak mengerti kenapa masalah ini bisa sampai menyebabkan rumah ibadah umat Katolik terbakar. Beberapa pihak berspekulasi bahwa ini merupakan isu politik yang dihembuskan oleh partai pendukung pemerintah yang merasa terancam posisinya karena tekanan yang kuat dari partai oposisi. Perlu diketahui bahwa Pemerintah Malaysia didukung partai berkuasa yang mendorong pengeksklusifkan kata “Allah”. Namun, pengadilan Malaysia tidak menyetujuinya lantaran tidak ada masuk akal dan tidak punya landasan konstitusional.
Saya tidak mengikuti perkembangan politik di Malaysia. Tapi hal ini mengindikasikan bahwa kekerasan atas nama agama dapat terjadi karena gesekan kecil antara umat beragama. Bahkan jika benar hal itu bisa dipolitisir, berarti isu agama dapat dimain-mainkan demi kepentingan pihak-pihak tertentu.
Pihak pendukung pengeksklusifan kata “Allah” berpendapat bahwa isu ini vital karena menyangkut keesaan Tuhan. Saya menangkap adanya kekhawatiran bahwa umat Islam di Malaysia takut apabila kata “Allah” yang digunakan oleh umat lain akan mengakibatkan kebingungan di umat Islam karena “Allah” mereka sebut ternyata berbeda dengan “Allah” umat Katolik, seakaan-akan Tuhan punya banyak rupa dan wujud.
Saya pun harus mempertanyakan kembali konsep keesaan yang dianut para pendukung pengeksklusifan penggunaan “Allah”. Memangnya Tuhan ada berapa ? Menurut Saya, apapun panggilan-Nya, Tuhan umat Islam, Nasrani dan agama-agama lain di dunia ini adalah Tuhan yang Maha Esa. Pengejawantahannya yang berbeda. Tentu Saya tidak setuju jika dikatakan semua agama adalah sama. Agama bersifat partikular dengan kekhasannya masing-masing.
Tuhan bukan seperti yang digambarkan oleh Nietzsche dalam karyanya yang mahsyur Also Sprach Zarathustra. Tuhan muram dan pencemburu yang membunuh tuhan-tuhan lain karena marah melihat manusia menyembah tuhan-tuhan lain. Dan tuhan-tuhan lainpun mati karena tertawa geli.
“Allah” seakan-akan merupakan sosok baru yang diperkenalkan umat muslim ke dalam dunia yang telah penuh sesak oleh tuhan-tuhan lain. Tuhan orang Islam ini dipersepsikan amat pemarah sehingga apabila ada kaum lain yang menggunakan nama-Nya harus diberi hukuman yang seberat-beratnya, kalau perlu dimusnahkan.

Stereotip Muslim Dunia
Menggelikan sekali melihat umat-umat beragama di dunia saling bunuh sementara Tuhan membebaskan manusia untuk beragama. Ternyata di Dunia ini masih ada orang-orang yang memilih untuk saling bunuh atas nama Tuhan. Lebih jauh lagi Tuhan pun menjadi justifikasi untuk memenuhi hawa nafsu —mendulang suara saat pemilihan, memperistri perempuan sebanyak-banyaknya, memperluas daerah kekuasaan, mencari harta dengan rakus— orang-orang picik.
Dan itulah saat sebenarnya kita sudah meninggalkan Tuhan.
New Year’s Resolution
Januari 6, 2010
I believe there is a trade-off for something you want to achieve. To have a good career, for example, you have to sacrifice your personal life, vice versa. In the last six years i have always made resolutions. Though i rarely back-tracked and evaluated it. I came to know that most of them are unattainable resolutions. Because some of them are paradoxal.
How could you possibly want to have good career while you wish to travel a lot and have a good relationship with your significant others. I found it really stupid. If you wanna have good career, just stay focus on your career and don’t let anyone get in your way. If you want to have good relationship don’t be too ambitious in your career, then you will have a beautiful love life.
And my new year resolution is not to make another stupid thwarted resolution such as:
- Be a better person. The more i get older, the more i believe that nice guys always finish last. In this evil world, to achieve something, I believe you have to be more cruel. If you wanna be nice guys just stay away from the real world and make friends with Disney’s characters. There you will find your own place.
- Quit smoking, which i will never could
- Travel more. Well, i only have 4 days offs until October this year, so tell me how am I able to travel more? Silly.
- Get a girl. Seriously this is the most stupid resolution i have ever made in my life. What was i thinking? To have someone in your life is unpredictable, no target should be made. What am I, God.
What I really want for 2010 is to know my self better. Why? because things i have mentioned above are not my true resolutions. Those are everyone-around-me’s resolution. I have to stop doing things like everybody expect me to, it is tiring. I have got to know my self.
How am i gonna know my self better? that’s a good question, hmmm, I still don’t know how. Though I will figure out later if it is possible
Well, if it is not possible, I can always switch my mode into artificial and superficial resolutions. And it sounds more positive and up-beat as everybody wants me to be.

