Mamie

Tanggal 2 mei 2017,  tepat satu tahun kematian Ibu,  (kamu memanggilnya Mamie, Miya).  Usiamu belum lima bulan ketika Mamie dipanggil Yang Kuasa. Kamu tau, Ayah bukan tipikal orang yang suka mengenang sesuatu yang tidak enak dan mendramatisir keadaan. Tapi menurut ayah, kamu perlu tau kejadian saat Mamie meninggal.

Mamie sudah batuk-batuk sejak kamu dilahirkan. Papi cerita Mamie tidak mau terbuka mengenai penyakitnya sampai harus dibuat lubang permanen di paru-parunya untuk mengeluarkan cairan yang diduga disebabkan kanker. Dokter Indonesia sudah prediksi, kanker Mamie sudah menyebar ke tulang, paru-paru dan otak.

Kami langsung bergerak cepat, mamahmu kenal seseorang di National Cancer Center di Singapore dan kami langsung bikin janji untuk pengobatan di Singapore. Hal itu dilakukan karena Mamie tidak mau kemoterapi yang ditawarkan dokter di Indonesia.

Beberapai kali pengobatan di Singapore kondisi Mamie tidak kunjung membaik. Sampai tanggal 25 April, Mamie ambruk di tangan Bunda Sheika. Saat itu, Mamie sudah tidak ada. Tidak mau menyerah, Bunda Sheika dan Tonton Ivan langsung membawa ke Rumah Sakit Pertamina. Nafas Mamie sempat kembali, namun kondisinya sudah koma dan secara medis sudah sangat parah. Kami memutuskan untuk melanjutkan pengobatan sampai saat-saat terakhirnya.

Mamie meninggal tanggal 2 Mei. Kami semua sudah menerima. Hari itu juga, Mamie dimakamkan di Tanah Kusir. Ayah, Tonton Ivan, Bunda Sheika bahu membahu mengurus pemakaman Bunda.

Ayah sudah kehabisan air mata, yang Ayah pikirkan hanya bagaimana Mamie segera dikuburkan dan hidup harus segera berjalan kembali.

Sampai saat ini, Ayah belum pernah mengunjungi lagi makam Mamie. Tidak ada alasan khusus, Ayah hanya tidak ingin mengunjungi makam Mamie. Mungkin Ayah takut sedih dan breakdown di Makam Mamie. Mungkin Ayah tidak mau mengingat-ingat hal yang tidak mengenakkan. Entahlah.

Mungkin pada saat yang tepat, ketika kamu sudah bisa mengerti akan kematian, kita akan mengunjungi makam Mamie dan Ayah akan kenalkan kamu ke Mamie.

Iklan

Being Immortal

Seorang teman menyarankan saya untuk menulis tentang pengalaman saya dengan Amiya, putri kecil saya. Ide yang bagus. Selain sudah  setahun lebih saya tidak menulis, idenya sesuai dengan mengapa saya memulai menulis yaitu menjadi abadi. 

Pada akhirnya menulis adalah soal kebiasaan. Pelukis Chuck Close percaya Inspirasi untuk amatir sementara pelukis sesungguhnya datang dan bekerja.

Seperti kata Close, tak bisa hanya mengandalkan “inspirasi” untuk menghasilkan tulisan yang bagus, yang perlu dilakukan hanyalah memulai menulis dan tak perlu jadi tulisan yang bagus tulisan yang jujur lebih penting bagi saya. 

Terima kasih telah mengingatkan dan memberikan saran untuk saya, really appreciate it.

🙂

Semalam tanpa Susu

Sabtu 22 Maret 2017

Hari ini, mamahmu dinas ke semarang dan kamu harus tidur bersama ayah tanpa mamah. Kami kuatir karena tiap malam kamu pasti terbangun menangis keras dan baru tenang ketika menyusu. Makanya, Ayah kuatir nak, karena malam ini hanya kita berdua dan tak ada susu yang menemani.
Sebetulnya mamah sudah bilang ke ayah supaya suster saja yang tidur sama kamu dan ayah tidur di kamar lain. Tapi ayah gak mau, ayah percaya hal-hal seperti ini harus dihadapi. Lagian kamu kan anak ayah, waktu kamu baru lahir, saat kamu rewel-rewelnya dan belum ada suster, ayah bisa mengurusmu.

Malam ini, Suster sudah menakar susu, menyiapkan botol dan termos untuk membuat susu untuk persiapan ketika kamu rewel.  

Jam 21.30 kamu terbangun, awalnya hanya rengekan kecil tapi lama kelamaan jadi tangisan keras. Ayah tidak membuat susu karena masih terlalu sore. Ayah menggendongmu dan membiarkanmu tidur di dada ayah, seperti saat kamu baru lahir dulu. 

Jam 12.30 kamu kembali terbangun, ayah buru-buru meracik susu. Tapi, tangisanmu kencang sekali sampai terbatuk-batuk. Ayah segera menggendongmu sampai tangismu reda dan kamu tertidur. Ayah kembali membiarkanmu tidur di dada ayah. 

Jam 05.00 kamu kembali terbangun. Sudah tau apa yang harus dilakukan, ayah langsung menggendongmu lagi. Kamu pun tenang dan tertidur kembali. 

Saat kamu bangun lagi jam 06.30 Ayah baru sadar kamu telah tidur dari jam 19.30 berarti sudah 11 jam tidak minum baik itu susu maupun air putih

Sial.

Ayah langsung mengambil botol minummu. Kamu langsung meminum 3/4 botol air tanpa berhenti. Kamu terlihat agak lemas, mungkin karena tidak menyusu semalaman. 

Walaupun begitu,  berhasil melewati malam ini dengan sedikit drama. Dan ayah bangga sama kamu dan sama diri ayah sendiri. Sesuai janji ayah, jika kita bisa melewati malam ini tanpa harus ke rumah sakit, hari minggu ayah akan mengajak kamu main di Scientia Park BSD.

Sepertinya kita bisa jadi tim yang baik 😊

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damano, 1973

Amiya Arundaya Rauf

Nak,

Kamu lahir di waktu yang tepat di bulan Januari. Saat itu, ayah sedang dinas ke jakarta, berjibaku mengurus limbah pabrik di kementerian lingkungan hidup. Setelahnya, ayah dijadwalkan operasi post konstruksi jari kelingking yang cedera karena bermain basket. Ayah tak muda lagi nak, mudah sekali cedera, padahal pertandingan hanya setingkat Perusahaan. Sayangnya ayah terlambat sadar kalau things have change.

Semua bermula ketika mamah menyadari ada flek yang merupakan tanda masa kelahiran sudah dekat. Lewat tengah hari, ayah dan mamah bergegas ke rumah sakit pondok indah. Setelah diperiksa dokter, nampaknya hari itu kamu belum mau keluar. Namun, dokter menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ada saat-saat jantungmu berdetak sangat lemah. Dokter kuatir kamu terlilit tali pusar. Dokter menyarankan ayah dan mamah pulang dan mengecek kembali keesokan harinya. Mamah yang tak pernah kenyang menolak pulang, dia ngajak makan di PIM. Katanya biar kamu kuat. Ayah kira itu alasan saja supaya bisa makan di Monolog.

Minggu 17 Januari lepas tengah hari, ayah dan mamah kembali ke rumah sakit. Lagi-lagi dokter menemukan saat-saat di mana detak jantungmu sangat lemah, bahkan sampai diulang dua kalipun masih muncul. Dokter menyarankan agar kamu segera dilahirkan dengan ceasar atau kalau mau normal diinduksi. Mamahmu memilih induksi, sesuatu yang agaknya dia sesali kemudian.

Proses kelahiranmu hampir 24 jam. Ayah ikut menemani sepanjang proses kelahiranmu itu. Ayah melihat sendiri betapa mamahmu kesakitan saat kontraksi yang frekuensinya semakin lama semakin sering dengan durasi yang semakin panjang. Tengah malam mamahmu mencakar-cakar ayah meminta dokter datang untuk operasi caesar. Ayah mencoba menenangkan mamah dengan kuatir bercampur geli, karena baru beberapa jam lalu, mamah dengan gagahnya mengatakan ingin melahirkan normal.

Setelah sepanjang malam tak tidur, pagi harinya mamah kembali meminta dokter datang untuk segera operasi caesar. Saat itu mamah memang baru masuk ke bukaan tiga. Ayah lagi-lagi menenangkan mamah bahwa dokter sedang visit dan belum bisa datang. Padahal sejujurnya ayah tidak tau dokter ada di mana. Untungnya, hampir tengah hari mamah sudah masuk bukaan enam. Sehingga  mamah dipindahkan dari ruang perawatan ke ruang persalinan. Mamah yang tadinya lemas, mulai bersemangat karena kelahiranmu sudah dekat.

Tidak banyak drama di ruang persalinan itu, bahkan mayoritas drama ada di ruang perawatan ketika mamah dalam fase kontraksi. Dokter dan suster yang sudah berpengalaman mengikuti puluhan bahkan ratusan persalinan, sudah menjadi ritual rutin seperti apel pagi pegawai negeri. Kami sampat kuatir ketika suster memberitahukan bahwa air ketuban berwarna hijau pertanda kontaminasi. Hal ini menandakan kamu stress. Kami ketar ketir. Dokter juga sempat mempersiapkan segala sesuatunya kalau-kalau kamu kesulitan bernafas ketika lahir. Senin 18 Januari 2016 pukul 15.41 kamu menangis dengan kencang bahkan lebih kencang dari bayi lainnya. Momen itu adalah momen paling melegakan dan membahagiakan buat ayah, melihat kamu menangis, mendusel-dusel di dada mamah.

Kami menamakanmu Amiya Arundaya Rauf. Amiya berarti membawa kebahagiaan. Arundaya berarti matahari terbit yang melambangkan harapan untuk menghadapi masa depan. Sedangkan Rauf adalah nama Papi, kakekmu. Kami ingin membuat kebiasaan meneruskan nama keluarga nak. Jadi namamu itu berarti pembawa kebahagiaan dan harapan dari keluarga Rauf.

Sejak kamu lahir, ayah dan mamah masuk dalam fase hidup yang baru. Mengganti popok, bergadang , bertengkar, kesulitan menyusui, bertengkar, memandikan bayi, bertengkar, bahkan sampai kesulitan waktu mengatur waktu bertemu kamu dan mamah di Jakarta. dan pertengakaran-pertengkaran baru. Walaupun begitu, kami bahagia sekali Nak. Kamu menjadi pusat dunia ayah dan mamah. Kami selalu berusaha untuk menjadi orangtua yang baik untuk kamu. Dan kamu juga akan belajar dari Ayah dan mamah. Kita sama-sama belajar ya.

Dan Bandung

Tak terasa hampir tujuh tahun sejak aku meninggalkan Bandung untuk mencoba peruntunganku di Kota lain. Sejak tujuh tahun itu, kunjunganku ke Bandung bisa dihitung dengan jari. Kunjunganku akhir 2014 lalu aku melihat ternyata Bandung berlari lebih kencang dari yang kuperkirakan.  Berbagai hotel, cafe dan restoran tumbuh bak cendawan di sepanjang jalan dago. Dan yang paling kusesalkan, kawasan dago atas yang dahulu hijau, sekarang jadi kawasan perumahan mewah dengan apartemen bertingkat-tingkat yang asing.

Asing karena bangunan bertingkat berwarna biru itu arsitekturnya sangat tak cocok dengan landscape sekitarnya. Aku tak habis pikir kenapa bangunan asing itu dibiarkan berdiri di kawasan dago atas yang cantik. Dago Atas adalah kawasan perbukitan di utara Bandung yang bisa tembus sampai ke daerah Lembang. Sejak awal ke Bandung, aku senang nongkrong lama-lama di Dago Atas. Di kawasan itu, waktu seakan lumer dan berjalan lebih lambat, dan kita akan terbawa oleh suasananya yang santai. Apalagi orang tua pacar (sekarang jadi istri) beli sepetak tanah di kawasan PPR ITB dan bangun rumah dengan pemandangan cantik ke Taman Hutan Raya. Dulu, aku sering leyeh-leyeh di rumah istri sambil pacaran, mengerjakan tugas atau belajar sebelum ujian. Saat kembali ke rumah itu, aku tergetar melihat pemandangan Tahura yang semakin cantik saja.

Kayaknya dulu saat ngapel ke rumah istri di Bandung dengan intensitas yang lumayan sering aku tidak pernah setergetar ini melihat pemandangan Tahura dari halaman rumah istri. Entah kenapa, di penghujung 2014 lalu, aku duduk tergetar melihat dahsyatnya pemandangan Tahura.

Kunjungan akhir 2014 ke Bandung,  menjadi nostalgia kami saat pacaran dulu. Kami melakukan aktivitas yang dulu kami lakukan ketika masih pacaran; nonton DVD bareng, jalan pagi ke Dago Pakar, sarapan di Simpang Dago, sarapan di Rumah Joglo, dan bercanda seharian.  Kami tidak hanya pergi berdua saja, ayah dan ibu mertua juga berangkat ke Bandung.

Berbeda dengan kami yang tidak punya rencana yang jelas  untuk malam tahun baru dan tidak janjian dengan siapa-siapa. Ayah & Ibu mertua ada acara reuni di Hotel Sheraton. Karena ayah & Ibu mertua gak bawa mobil, mereka kami antarkan ke Hotel dan janjian akan dijemput lagi lepas tengah malam. Lucu sekali, harusnya kami yang berpesta sambil merayakan malam tahun baru dan mertua yang bersantai di rumah, tapi kebalikannya, kami yang bersantai di rumah dan mertua yang berpesta.

Rekan yang sudah pernah ke Bandung pasti tau, atmosfer Bandung berbeda sekali dengan Jakarta. Ada suasana santai, ramah, dan tidak intimidatif ketika memasuki Kota Bandung. Hal ini juga aku rasakan tahun 2002 ketika aku pertama kali turun dari Kereta Parahyangan di Stasiun Hall. Pertama kali menginjakan kaki di Bandung, aku langsung merasa “diterima” tanpa merasa dinilai. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Kita yang baru tiba di Jakarta, pasti akan merasa berjarak dan merasa sedang di-“elu siapa”-in dan dinilai kepatutannya berada di Metropolitan ini.

Perasaan “diterima” itu mungkin yang membuat siapapun jatuh hati dengan Bandung. Mungkin karena itu pula anak-anak asli Bandung sulit sekali lepas dari Kota kembang. Beberapa kawanku saat kuliah dulu bahkan sudah memastikan dirinya tak akan pindah dari Bandung dan mencari kerja di Bandung. Aku bisa memahaminya, empat tahun saja di Bandung, sepotong hatiku sudah tertinggal di sana. Selalu ada rasa bahagia ketika aku mengunjungi Bandung.

Bahkan, ketika aku sudah di bekerja, dan cukup mapan rasanya indeks kebahagiaanku sekarang belum dapat menandingi saat aku mahasiswa rantau dan tak punya uang di Bandung. Waktu di Bandung, aku tak punya uang berlebih dan rasanya hidupku cukup menyenangkan. Ada saja kegiatan menyenangkan yang tak membutuhkan banyak uang untuk menjalaninya; main basket contohnya, atau birdwatching.

Walaupun aku lahir dan menghabiskan lebih dari setengah masa hidupku di Jakarta. Bandung, somehow, tak pernah lekang. Sudut-sudut jalannya, sejuk udaranya dan bau kotanya membuatku selalu kangen. Jika diminta menyebutkan kota-kota favoritku di dunia, Bandung berada di atas, lebih tinggi dari Jakarta dan Bontang.

2014

Masa lalu biarlah masa lalu
-Inul Daratista

Tempus fugit, time flies, 2014 telah berlalu dan sudah 10 hari sudah jejak kita terlewat di tahun 2015. Aslinya aku mau mengeluarkan tulisan ini tepat sebelum tahun baru. Namun apa boleh buat, aku yang saat malam tahun baru ada di Bandung rasanya berat sekali untuk membuka laptop dan mulai menulis. Apalagi udara dingin dan memang udara di dago atas mengajak siapapun untuk bermalas-malasan.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, mungkin yang paling seru adalah pemilu tahun 2014 yang benar-benar keras, penuh fitnah, dan yang terparah, menjadikan penduduk Indonesia terbelah, aku dan kamu, dia dan mereka. Bahkan sampai saat ini, Jokowers atau Prabowers masih saling meledek, saling bully dan saling mencari-cari kesalahan orang lain.

Tahun 2014 kita juga menyaksikan dengan pahit, Brazil negara dengan sejarah sepakbola yang panjang, yang terkenal dengan Jogo Bonito, remuk redam 1-7 oleh Der Panzer Jerman. Aku yang fans Brazil sampai harus mematikan televisi karena tidak tega melihat Brazil dibantai Jerman.

Pada tahun 2014 kita bisa menaruh harapan kepada demokrasi. Kita melihat kemunculan pemimpin-pemimpin lokal yang super keren dan mengagumkan. Orang-orang seperti Tri Risma, Ahok, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah seperti menyeruak seperti bunga ditengah padang pasir. Selama ini politik dekat dengan hal-hal jorok dan kotor. Namun, dengan munculnya kepemimpinan lokal yang menginspirasi, kita bisa menaruh harapan ke proses politik yang kita jauhi dan kita benci itu.

Seperti biasa tiap tahun aku akan membuat kilas balik apa yang terjadi tahun 2014 dan apa harapanku di tahun 2015 mendatang. Tahun 2014 adalah tahun yang menantang. Tahun  ini aku menikah, namun juga hidup berjauh-jauhan dengan istri. Tahun ini juga merupakan tahun aku memulai bisnis pendidikan yang masih berjalan tertatih-tatih.

Highlight utama tahun 2014 adalah pernikahan pada bulan Maret 2014. Akhirnya setelah sepuluh tahun pacaran aku menikah juga. Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi dengan hidupku setelah pernikahan. Enam bulan setelah menikah, istri masih tinggal di Jepang dan aku di Bontang. Bahkan setelah kembali ke Indonesia istri masih tinggal di Jakarta karena sudah kerja. Pada tahun 2014, kami berdua belum berhasil mendapatkan solusi dari kehidupan kami yang berjauh-jauhan.

Tahun 2014, aku sama sekali tidak membuat dive trip. Sedih sih, tapi ya itu konsekuensi dari menikah. Aku harus kompromi sambil ngompor-ngompori istri untuk ambil sertifikasi selam. Namun sebagai gantinya, aku dan istri membuat dua traveling trip, yaitu Bali untuk Bulan madu, dan Jepang Cina untuk merayakan kepulangan istri ke Indonesia. Bali seperti biasa tidak pernah mengecewakan, apalagi kami berdua menginap di Ayana yang mewah dan keren itu. Menginap di Ayana mengubah cara pandang kami tentang hotel mewah dan hospitality. Kami jadi sadar kalau bisnis hospitality adalah bisnis yang rumit dan harga memang berkaitan langsung dengan service yang memuaskan. Aku juga pergi menjemput istri ke Jepang dan berkunjung ke beberapa kota di Cina untuk menyaksikan pertumbuhan ekonomi di Cina yang tinggi. Cina tidak seperti yang orang-orang katakan. Memang di beberapa daerah pipis sembarangan dan meludah sembarangan sudah merupakan hal yang lazim, namun di sisi lain, Cina nampaknya berupaya untuk menggantikan Amerika sebagai kekuatan ekonomi dunia. Pertumbuhan kelas menengah yang amat besar mendorong konsumsi domestik Cina yang besar. Selain itu pertumbuhan kelas menengah juga melahirkan pelancong-pelancong asal Cina yang menginvasi seluruh dunia. Di belahan dunia manapun kita bisa melihat turis-turis asal Cina dengan ciri khas yang mirip; bergerombol, jorok, royal, tidak disiplin, berisik dan lack of empathy.

Hasil check up kesehatanku yang dilakukan bulan bulan Oktober tahun 2014  hasilnya buruk karena tingkat asam uratku tinggi 9.2 mg/dl. Asam urat adalah sisa metabolisme dari purin. Normalnya ginjal bisa asam urat ini, namun bila berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan dan asam urat menumpuk dalam tubuh. Anehnya, aku tidak merasakan nyeri sendi atau apapun. Dokter kantor memberikan list makanan apa saja yang mengandung purin tinggi. Dari list tersebut, aku hanya boleh makan ikan. Sayurpun tidak boleh yang hijau, hanya boleh yang putih. Dan lucunya lagi, di internet aku menemukan rekomendasi bahwa pengidap asam urat harus banyak-banyak makan karbohidrat kompleks karena karbohidrat membantu mengeluarkan asam urat dari tubuh. Padahal aku sedang mengurangi konsumsi nasi karena kata seorang tabib Cina aku memiliki keturunan diabetes dan harus segera mengubah pola makanku.

Jumlah tulisan yang kupublish pada tahun 2014 ini juga tidak sesuai target, aku menargetkan 30 tulisan pada tahun 2014, namun yang berhasil publish hanya 22 tulisan, kurang dari dua tulisan setiap bulannya. Tidak ada alasan, aku hanya kurang fokus dan kebanyakan rencana.

Ekspektasi 2015

Fokus utamaku pada tahun 2015 adalah bagaimana mendapatkan solusi agar aku dan istri bisa hidup berdekatan. Mungkin aku yang pindah ke Jakarta, atau Istri yang pindah ke Bontang. Entahlah, tapi aku dan istri sedang sama-sama berusaha.

Selain itu, targetku tahun ini adalah mendorong istri untuk bisa sertifikasi selam sambil membuat dive trip bersama. Juga aku dan istri telah merencakan satu trip ke luar negeri pada tahun ini yang entah pada bulan berapa, tergantung rejeki yang kami terima.

Tahun 2015 aku juga harus lebih berani lagi masuk ke ranah bisnis. Tahun lalu Aku sudah memulai bisnis pendidikan, namun aku tidak terlibat langsung dan kontribusiku kecil. Tahun 2015 aku harus berani masuk dan memulai bisni & investasi entah di bidang properti, jasa, atau apapun yang bisa menghasilkan keuntungan.

Tahun 2015 aku menargetkan asam uratku turun dengan tidak menaikan kadar kolesterolku yang sudah bagus. aku akan meluangkan waktu untuk jogging dan berenang. Aku menargetkan setiap minggunya aku lari 10 km dan berenang 2 km.

Walaupun sejak tahun 2014 aku menargetkan bisa bahasa lain selain inggris dan indonesia, namun aku belum saja merealisasikannya. Aku memang sempat les bahasa perancis pada tahun lalu, namun aku tidak serius dan kurang motivasi. Aku malah lebih termotivasi belajar bahasa Cina ketika aku akan pergi ke Cina. Agaknya aku harus menseriusi bahasa Cina dan belajar bahasa Perancis lebih giat. Targetku tahun 2015 adalah meluangkan waktu satu jam setiap minggu untuk belajar bahasa.

Kelihatannya tahun 2015 tidak akan mudah. Aku memperkirakan akan ada keputusan besar yang dapat mengubah arah hidupku. Mudah-mudahan aku bisa menhadapi tahun 2015 dengan tidak kehilangan kemanusiaan dan kebahagiaan.

Tabique