Monthly Archives: Maret 2008

Filsafat Ilmu: Sejarah Filsafat ilmu & Krisis sains

Perkembangan Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu berkembang dari masa ke masa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta realitas sosial. Dimulai dengan aliran rasionalisme-emprisme , kemudian kritisisme dan positivisme.

Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika. Pandangan ini sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650), Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662).

Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya Novum Organum: Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini juga telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang Hukum dan HAM.

Kedua aliran ini dibedakan lewat caranya untuk mencari kebenaran rasionalisme didominasi akal sementara empirisisme didominasi oleh pengalaman dalam pencarian kebenaran. Kedua aliran ini secara ekstrim bahkan tidak mengakui realitas di luar akal, pengalaman atau fakta. Superioritas akal menyebabkan agama dilempar dari posisi yang seharusnya. Agama didasarkan pada doktrin-dokrtin yang tidak bisa diterima oleh rasio sehingga tidak diterima oleh para pemegang paham rasionalisme dan empirisisme. Bukan berarti dogma yang diajarkan agama itu tidak benar, tapi rasio manusia masih terbatas untuk menguji kebenaran dogma Tuhan. Munculah aliran kritisisme sebagai jawaban dari rasionalisme dan empirisisme untuk menyelamatkan agama.

Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian kebenaran. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori).

Filsafat positivisme membatasi kajian filsafat ke hal-hal yang dapat di justifikasi (diuji) secara empirik. Hal-hal tersebut dinamakan hal-hal positif. Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian mengenai relaita sosial dengan Penjelasan ilmiah, prediksi dan control seperti yang dipraktekan pada fisika, kimia, dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan, generalisasi, produksi, manipulasi.

Krisis Sains

Perkembangan sains sampai ke abad 20 membawa manusia ke tingkat yang lebih tinggi pada kehidupannya. Level pemahaman terhadap alam mencapai tingkat level yang lebih tinggi. Pengamatan alam sudah sampai ke level mikroskopis, ternyata pengamatan pada level mikroskopis mementahkan hukum-hukum fisika yang pada saat itu menajdi pijakan ilmu fisika. Hukum-hukum fisika klasik seperti mekanika dan gravitasi dimentahkan oleh perilaku elektron dan proton yang acak tapi teratur. Penemuan-penemuan baru pada bidang fisika pada level mikroskopis merubah pandangan ilmuwan pada saat itu mengenai alam secara keseluruhan. Tenyata sains merupakan ilmu yang tidak pasti, ada ketidakpastian dalam kepastian terutama pada level mikroskopis dimana ketidakpastian itu semakin besar. Pada masa ini terjadi pergeseran paradigma dari paradigma Newtonian ke paradigm pos Newtonian. Perubahan paradigma ini merupakan revolusi pada bidang fisika, yang melahirkan tokoh-tokoh baru seperti Einstein dan Heisenberg

 

Objek

Paradigma Newtonian

Paradigma Pos Newtonian

Alam

Mesin

Sistem / jaringan

Fenomena objek

Interaksi benda

Transformasi objek

Ruang, waktu

Datar, tak berbatas

Melengkung, tak berbatas

Kekuatan alam

Determenistik, realistik

Indeterministik, anti-realistik

Werner Heisenberg mengajukan teori ketidakpastian yang menyatakan tidak mungkin mengukur secara teliti suatu partikel secara stimultan dalam ruang dan waktu. Teori ini bukan hanya menjungkirbalikan teori fisika klasik yang dikembangkan oleh Newton, namun juga mengubah cara pandang berbagai disiplin ilmu terhadap sifat alam yang tadinya dianggap determentstik (dapat ditentukan) menjadi indeterminsitik (tidak dapat ditentukan). Teori ini menjadi landasan fisika kuantum. Perubahan paradigma terhadap alam mengubah arah perkembangan teknologi. Namun perkembangan teknologi yang revolusioner malah menjadi petaka bagi seluruh umat manusia, puncaknya ketika Albert Einstein menemukan bom atom dan digunakan oleh manusia untuk menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki. Dunia terkejut oleh kemampuan sains yang bukan hanya memudahkan manusia, namun juga menghancurkan. Pada tahap ini mulai dipertanyakan peranan sains dalam menuju kehidupan manusia yang lebih baik. Kritik mulai dilontarkan terhadap sains karena ternyata kemajuan sains belum tentu memajukan kemanusiaan di muka bumi.

Cendawan atom dan korban Bom atom Hiroshima

 

Sains memiliki tiga sifat utama yaitu netral, humanistik dan universal. Namun pada perkembangannya ternyata sains tidak netral, humanistik dan universal. Sains sangat tergantung pada kondisi ekonomi, sehingga pemilik modal dapat mengarahkan perkembangan sains. Pada masa perang dunia II sains memberi kontribusi besar pada kematian umat manusia lewat penemuan senjata pemusnah masal. Sains juga kehilangan sifat netralnya karena pengembangan sains sangat tergantung dari pemilik modal. Sains berpihak kepada pemilik modal.

Sains bersifat humanistik yaitu manusia sebagai pusat dari segalanya. Ternyata pandangan ini malah menghancurkan manusia. Kemajuan sains seiring dengan kemajuan teknologi. Teknologi sangat menguntungkan manusia karena bersifat memudahkan. Teknologi membutuhkan sumber daya yang diambil dari alam dan teknologi juga menghasilkan limbah yang sulit diuraikan aoleh sistem alam. Eksploitasi sumber daya alam berlebih mengakibatkan keseimbangan lingkungan terganggu yang menjadikan Bumi rentan terhadap bencana. Limbah hasil industri diketahui berbahaya bagi manusia, sehingga menimbulkan kanker yang membunuh jutaan manusia tiap tahunnya.

Sains hanya alat untuki mencapai sesuatu, namun dasar motivasi untuk mencapai suatu hal adalah hal yang berbeda. Akal budi lebih berperan untuk menentukan arah tujuan sains tersebut. Perkembangan dari sains seharusnya diikuti dengan perkembangan akal budi agar tercipta kehidupan manusia yang lebih baik.

Iklan

Apresiasi Sastra: Pertemuan (SDD, 1968)

PERTEMUAN

Perempuan mengirim air matanya

ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan

ke landasan cakrawala; kepalanya di atas bantal

lembut bagai bianglala

 

lelaki tak pernah menoleh

dan di setiap jejaknya: melebat hutan-hutan,

hibuk pelabuhan-pelabuhan; di pelupuknya sepasang matahari

keras dan fana

 

dan serbuk-serbuk hujan

tiba dari arah mana saja (cadar

bagi rahim yang terbuka, udara yang jenuh)

ketika mereka berjumpa. Di ranjang ini.

(Sapardi Djoko Damono, 1968)

 

Puisi ini di buat oleh Sapardi Djoko Damono (SDD) pada tahun 1968. Pria ini dilahirkan di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940. Beliau sekarang adalah Guru Besar Fakultas Sastra di Universitas Indonesia. Kegemarannya akan karya sastra mulai muncul sejak SMP. Ketika ia duduk di bangku SMA, SDD mengambil jurusan sastra dan kemudian kuliah di UGM fakultas sastra. SDD merupakan penyair angkatan 66 yang menurut HB Jassin dikategorikan angkatan 66 karena pada tahun 1966 para mahasiswa dan pelajar berhasil meruntuhkan pemerintaan yang bobrok pada zaman itu. Di masa itulah lahir pemberontakan dari sastrawan, penyair yang dikekang jiwanya oleh slogan-slogan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Selain SDD yang termasuk angkatan 66 antara lain Taufiq Ismail, Umar Kayam, Goenawan Muhammad, Arifin C. Noer, W.S Rendra, Ajip Rosidi, dan beberapa nama lainnya.

Karya-karya SDD menurut kolom pada situs Freedom Institute, menyebarkan semacam gaya dominan dalam khazanah sastra kita. Dikatakan pula puisi SDD adalah sebuah puncak pencapaian bahasa Indonesia. Di gambarkan puisi-puisi SDD amat berdisiplin, berima. SDD juga berhasil membuat karya yang menggoda pembaca dengan kesederhanaan kata, ambiguitas dan intelektualisme.

Puisi Pertemuan karya SDD menggunakan pilihan kata dan penyusunan kalimat yang teratur, pencitraan visual yang kuat sehingga menyebabkan orang tergoda untuk membaca dan mengapresiasi lebih jauh puisi ini. Pemilihan kata yang indah terlihat pada puisi ini yag kental dengan akhiran –a untuk memperindah bahasa. Perbandingan-perbandingan antara lelaki dan perempuan juga yang diungkap secara teratur dan nyata sehingga terlihat tandingan-tandingan antara lelaki dengan perempuan. Pada bait ke tiga SDD menggambarkan sesuatu yang intim lewat penggunaan-penggunaan kata yang kuat. Penguatannya berpusat pada kata Di ranjang ini.

Secara umum penyair mencoba menggambarkan perbedaan antara lelaki dengan perempuan. Pada bait pertama SDD mencoba menggambarkan perempuan yang emosional yang dituangkan lewat kalimat perempuan mengirim air matanya. Sedangkan pada bait kedua lelaki digambarkan sebagai makhluk yang penuh logika dan pada akhirnya ketika dipertemukan timbul reaksi keintiman-keintiman karena perbedaan satu sama lain yang menimbulkan kehidupan yang di lontarkan oleh penyair dengan kalimat dan serbuk-serbuk hujan tiba dari arah mana saja.

Puisi Pertemuan digambarkan oleh SDD sebagai perbandingan antara lelaki dengan perempuan. Di satu sisi membandingkan:

perempuan mengirim air matanya

ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan….

dan di sisi lain membandingkan:

lelaki tidak pernah menoleh

dan disetiap jejaknya: melebat hutan-hutan…

Hal yang sangat kontras digambarkan oleh SDD. Di satu sisi perempuan mengirim air matanya ke tempat-tempat yang agung, ke tempat yang tidak terjangkau seperti ke tanah-tanah cahaya, kutub-kutub bulan. Di sisi lain lelaki tidak pernah menoleh. Lelaki digambarkan oleh SDD penuh logika dan pada perjalanan hidupnya selalu ingin berbuat sesuatu di gambarkan oleh SDD dengan melebat hutan-hutan, hibuk pelabuhan-pelabuhan. Puncak perbedaannya adalah pada kalimat terakhir bait satu dan dua. Perempuan lembut bagai bianglala dan lelaki keras dan fana.

Pertemuan lelaki dan perempuan dituangkan oleh SDD pada bait ke tiga. Pertemuan lelaki dan perempuan ditandai dengan adanya serbuk-serbuk hujan yang melambangkan kehidupan. Pertemuan itu menjadi sangat intim dilukiskan oleh SDD dengan penggunaan kalimat Di ranjang ini.

SDD mencoba membuat parodi tentang kehidupan di mana perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tuhan mencipatakan lelaki dan perempuan dengan perbedaan-perbedaan. Walaupun sangat berbeda akhirnya lelaki dan perempuan membutuhkan satu sama lain untuk melanjutkan kehidupan. Sifat-sifat (perbedaan) lelaki dan perempuan yang melanjutkan kehidupan.

Pelatihan Kewiraan PT.Pupuk Kaltim

Yang namanya karyawan BUMN (katanya) sebelum menjadi karyawan tetap harus menjalani pelatihan kewiraan. PT. Pupuk Kaltim adalah BUMN, oleh karena itu saya harus menjalani pelatihan tersebut. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan semangat kebangsaan di jiwa calon-calon karyawan BUMN tersebut. Tujuan yang mulia menurut saya karena BUMN menempati pos-pos yang vital bagi daya tahan bangsa. Materi-materi yang diberikan adalah ketahanan nasional, kesadaran hukum, keamanan ketertiban masyarakat (KAMTIBMAS), kesadaran pada hukum, kesadaran pada disiplin, sistem pengamanan di Pupuk Kaltim, peran agama dalam pekerjaan, jasmani militer, peraturan baris-berbaris, tata upacara militer, bela diri militer, outbond. Setiap jam 05.00 WITA kami olahraga pagi, kemudian jam 07.00 kami apel pagi, dan dilanjutkan pemberian materi di kelas. Setelah sholat dzuhur dan makan siang, materi diberikan di lapangan. Materi selesai jam 04.00 WITA. Malam harinya kami harus apel malam jam 09.00 WITA. Fuih, cukup melelahkan.

Saya cukup senang menjalaninya, itung-itung belajar untuk hidup teratur. Cuma yang menjadi pertanyaan besar, kenapa saya tidak merasa bertambah rasa kecintaan terhadap bangsa. Yang malah menjadi poin penting bagi saya adalah;

  1. Latihan hidup teratur.
  2. Kondisi fisik semakin prima karena banyaknya aktifitas fisik
  3. Saya kenal teman-teman dari berbagai daerah.

Pemberian materi di kelas yang seharusnya menjadi inti utama menjadi hanya sekedar formalitas yang membosankan apalagi setelah olahraga dan makan pagi yang menimbulkan kantuk. Kekompakan yang coba dibangun justru menjadi blunder karena fasilitas yang diterima oleh lulusan sarjana lebih baik dibandingkan dengan D3 dan SLTA. Karena ditempatkan dalam satu wilayah yang sama dengan fasilitas yang berbeda justru celah yang sudah ada semakin lebar.

Namun hal itu tidak menjadi masalah karena ternyata teman-teman sarjana tidak membeda-bedakan teman berdasarkan tingkat pendidikan dan teman-teman D3 dan SMU tidak merasa sungkan untuk bergaul dengan teman-teman sarjana. Banyak sekali pembelajaran yang saya terima selama pelatihan kewiraan ini. Yang paling utama adalah saya jadi bisa mengenali watak, cara pandang, komunikasi efektif, cara memimpin, dan belajar dari hal tersebut. And that was the most important things I learned from this training.