Apresiasi Sastra: Pertemuan (SDD, 1968)

PERTEMUAN

Perempuan mengirim air matanya

ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan

ke landasan cakrawala; kepalanya di atas bantal

lembut bagai bianglala

 

lelaki tak pernah menoleh

dan di setiap jejaknya: melebat hutan-hutan,

hibuk pelabuhan-pelabuhan; di pelupuknya sepasang matahari

keras dan fana

 

dan serbuk-serbuk hujan

tiba dari arah mana saja (cadar

bagi rahim yang terbuka, udara yang jenuh)

ketika mereka berjumpa. Di ranjang ini.

(Sapardi Djoko Damono, 1968)

 

Puisi ini di buat oleh Sapardi Djoko Damono (SDD) pada tahun 1968. Pria ini dilahirkan di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940. Beliau sekarang adalah Guru Besar Fakultas Sastra di Universitas Indonesia. Kegemarannya akan karya sastra mulai muncul sejak SMP. Ketika ia duduk di bangku SMA, SDD mengambil jurusan sastra dan kemudian kuliah di UGM fakultas sastra. SDD merupakan penyair angkatan 66 yang menurut HB Jassin dikategorikan angkatan 66 karena pada tahun 1966 para mahasiswa dan pelajar berhasil meruntuhkan pemerintaan yang bobrok pada zaman itu. Di masa itulah lahir pemberontakan dari sastrawan, penyair yang dikekang jiwanya oleh slogan-slogan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Selain SDD yang termasuk angkatan 66 antara lain Taufiq Ismail, Umar Kayam, Goenawan Muhammad, Arifin C. Noer, W.S Rendra, Ajip Rosidi, dan beberapa nama lainnya.

Karya-karya SDD menurut kolom pada situs Freedom Institute, menyebarkan semacam gaya dominan dalam khazanah sastra kita. Dikatakan pula puisi SDD adalah sebuah puncak pencapaian bahasa Indonesia. Di gambarkan puisi-puisi SDD amat berdisiplin, berima. SDD juga berhasil membuat karya yang menggoda pembaca dengan kesederhanaan kata, ambiguitas dan intelektualisme.

Puisi Pertemuan karya SDD menggunakan pilihan kata dan penyusunan kalimat yang teratur, pencitraan visual yang kuat sehingga menyebabkan orang tergoda untuk membaca dan mengapresiasi lebih jauh puisi ini. Pemilihan kata yang indah terlihat pada puisi ini yag kental dengan akhiran –a untuk memperindah bahasa. Perbandingan-perbandingan antara lelaki dan perempuan juga yang diungkap secara teratur dan nyata sehingga terlihat tandingan-tandingan antara lelaki dengan perempuan. Pada bait ke tiga SDD menggambarkan sesuatu yang intim lewat penggunaan-penggunaan kata yang kuat. Penguatannya berpusat pada kata Di ranjang ini.

Secara umum penyair mencoba menggambarkan perbedaan antara lelaki dengan perempuan. Pada bait pertama SDD mencoba menggambarkan perempuan yang emosional yang dituangkan lewat kalimat perempuan mengirim air matanya. Sedangkan pada bait kedua lelaki digambarkan sebagai makhluk yang penuh logika dan pada akhirnya ketika dipertemukan timbul reaksi keintiman-keintiman karena perbedaan satu sama lain yang menimbulkan kehidupan yang di lontarkan oleh penyair dengan kalimat dan serbuk-serbuk hujan tiba dari arah mana saja.

Puisi Pertemuan digambarkan oleh SDD sebagai perbandingan antara lelaki dengan perempuan. Di satu sisi membandingkan:

perempuan mengirim air matanya

ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan….

dan di sisi lain membandingkan:

lelaki tidak pernah menoleh

dan disetiap jejaknya: melebat hutan-hutan…

Hal yang sangat kontras digambarkan oleh SDD. Di satu sisi perempuan mengirim air matanya ke tempat-tempat yang agung, ke tempat yang tidak terjangkau seperti ke tanah-tanah cahaya, kutub-kutub bulan. Di sisi lain lelaki tidak pernah menoleh. Lelaki digambarkan oleh SDD penuh logika dan pada perjalanan hidupnya selalu ingin berbuat sesuatu di gambarkan oleh SDD dengan melebat hutan-hutan, hibuk pelabuhan-pelabuhan. Puncak perbedaannya adalah pada kalimat terakhir bait satu dan dua. Perempuan lembut bagai bianglala dan lelaki keras dan fana.

Pertemuan lelaki dan perempuan dituangkan oleh SDD pada bait ke tiga. Pertemuan lelaki dan perempuan ditandai dengan adanya serbuk-serbuk hujan yang melambangkan kehidupan. Pertemuan itu menjadi sangat intim dilukiskan oleh SDD dengan penggunaan kalimat Di ranjang ini.

SDD mencoba membuat parodi tentang kehidupan di mana perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tuhan mencipatakan lelaki dan perempuan dengan perbedaan-perbedaan. Walaupun sangat berbeda akhirnya lelaki dan perempuan membutuhkan satu sama lain untuk melanjutkan kehidupan. Sifat-sifat (perbedaan) lelaki dan perempuan yang melanjutkan kehidupan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s