Monthly Archives: Oktober 2008

Hal yang paling saya benci sedunia

Mau tau hal yang yang saya benci di dunia ? Ketika hasil kerja keras saya tidak dihargai.

Mau tau hal kedua yang saya benci di dunia ? Ketika orang-orang meremehkan saya bahkan sebelum mereka memberikan kesempatan.

Dan mau tau hal yang paling saya benci di dunia ? ketika saya membiarkan hal-hal diatas terjadi.

Kenapa saya membiarkan hal-hal tersebut menimpa saya ? kenapa saya tidak berani “speak-up“?

karena saya takut dibilang egois, takut dimusuhin teman-teman, dan terutama takut salah. Saya takut memperjuangkan sesuatu yang salah (menurut Perusahaan), bahwa yang saya “ototin” ternyata adalah sesuatu yang tidak menguntungkan Perusahaan.

Ya, Saya telah berubah.  Bahkan orientasi saya telah berubah, I’m taking sides.  Karena sebagai karyawan suatu Perusahaan,saya harus takes side.  Saya kehilangan idealisme sebagai orang yang gak memihak. Dan yang paling saya takutkan, kalau saya memihak sesuatu yang jelas-jelas salah, dan saya tetap membelanya dengan segala macam cara.

Apakah saya terlalu idealis? ato terlalu naif ? Mungkinkah Saya terlalu lama berada di Menara Gading sehingga saya kaget ketika baru berkenalan dengan Dunia nyata…..

Welcome to the jungle Wildan……..

Iklan

Rapuh

Hari ini saya benar-benar belajar sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang gak akan bisa didapat kalau kamu sendiri tidak mengalaminya. Sesuatu yang benar-benar membuat saya terenyuh.

Seseorang yang sangat penting bagi saya namun saya sering melupakannya, seseorang yang mencintai saya dengan tulus namun saya sering tidak mengindahkannya, seseorang yang berjasa besar bagi hidup saya namun saya belum dapat membalasnya. Ya, sosok Ibu yang selama ini terlihat tegar, kuat, pengayom ternyata dapat menjadi sebegitu lemah.

Setelah divonis dokter terkena kanker dan menjalani kemoterapi, Ibu tidak menjadi sekuat dahulu, Ibu tidak dapat berpikir tajam seperti sebelum-sebelumnya, Ibu hanya manusia biasa yang kehilangan kekuatan-kekuatannya di masa lalu. Di titik inilah masalah kemudian timbul. Ibu merasa kehilangan kekuatan-kekuatan yang dahulu menopang tubuhnya. Ibu menangis ketika ia tidak bisa menyiapkan makan pagi seperti yang selama ini dia lakukan, menangis ketika melihat kondisi rumah berantakan dan tidak bisa melakukan apa-apa, muram ketika Ayahku harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri…….melihat Ibu menangis adalah seseuatu yang sangat jarang terjadi. Saya sebagai anaknya yang tidak bisa berbuat apa-apa  sangat sedih melihat Ibu saya yang selama ini kuat menjadi sangat rapuh..

Saya bilang ke Ibu akan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan Ibu selama ini, walaupun saya juga tidak mengerti bagaimana caranya. Jelas saya  tidak bisa menggantikan sosok Ibu yang selama ini mencintai keluarganya lebih dari dia mencintai dirinya sendiri, jelas saya tidak bisa sabar menghadapi anak-anaknya yang mirip begundal-begundal yang tidak bisa diatur.

Saya sadar itu hanya perkataan untuk menenangkan hati Ibu, bahwa ada banyak orang di sisi beliau dan akan tetap bersamanya walaupun dalam keadaan terburuk. Saya tidak ingin membuat Ibu merasa tersisih dan merasa tidak dapat melakukan apa-apa. Saya sangat ingin membuat Ibu tenang dalam menjalani kehidupannya, Saya ingin membuat Ibu bahagia.

Selama ini saya mencoba mengejar impian-impian saya (baca ~harta, jabatan, kepuasan diri) dengan tidak sengaja (atau sengaja) melupakan orang-orang terdekat saya. Saya jadi sadar, walaupun impian-impian saya tercapai, itu tidak akan ada artinya kalau saya tidak bisa memberi kebahagiaan pada orang-orang terdekat saya. Saya mencoba menset-up ulang impian-impian saya. Saya tidak ingin mencapai impian-impian saya tanpa membahagiakan orang-orang terdekat saya.

Saya membuat prioritas bahwa apapun yang terjadi family comes first.