Rapuh

Hari ini saya benar-benar belajar sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang gak akan bisa didapat kalau kamu sendiri tidak mengalaminya. Sesuatu yang benar-benar membuat saya terenyuh.

Seseorang yang sangat penting bagi saya namun saya sering melupakannya, seseorang yang mencintai saya dengan tulus namun saya sering tidak mengindahkannya, seseorang yang berjasa besar bagi hidup saya namun saya belum dapat membalasnya. Ya, sosok Ibu yang selama ini terlihat tegar, kuat, pengayom ternyata dapat menjadi sebegitu lemah.

Setelah divonis dokter terkena kanker dan menjalani kemoterapi, Ibu tidak menjadi sekuat dahulu, Ibu tidak dapat berpikir tajam seperti sebelum-sebelumnya, Ibu hanya manusia biasa yang kehilangan kekuatan-kekuatannya di masa lalu. Di titik inilah masalah kemudian timbul. Ibu merasa kehilangan kekuatan-kekuatan yang dahulu menopang tubuhnya. Ibu menangis ketika ia tidak bisa menyiapkan makan pagi seperti yang selama ini dia lakukan, menangis ketika melihat kondisi rumah berantakan dan tidak bisa melakukan apa-apa, muram ketika Ayahku harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri…….melihat Ibu menangis adalah seseuatu yang sangat jarang terjadi. Saya sebagai anaknya yang tidak bisa berbuat apa-apa  sangat sedih melihat Ibu saya yang selama ini kuat menjadi sangat rapuh..

Saya bilang ke Ibu akan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan Ibu selama ini, walaupun saya juga tidak mengerti bagaimana caranya. Jelas saya  tidak bisa menggantikan sosok Ibu yang selama ini mencintai keluarganya lebih dari dia mencintai dirinya sendiri, jelas saya tidak bisa sabar menghadapi anak-anaknya yang mirip begundal-begundal yang tidak bisa diatur.

Saya sadar itu hanya perkataan untuk menenangkan hati Ibu, bahwa ada banyak orang di sisi beliau dan akan tetap bersamanya walaupun dalam keadaan terburuk. Saya tidak ingin membuat Ibu merasa tersisih dan merasa tidak dapat melakukan apa-apa. Saya sangat ingin membuat Ibu tenang dalam menjalani kehidupannya, Saya ingin membuat Ibu bahagia.

Selama ini saya mencoba mengejar impian-impian saya (baca ~harta, jabatan, kepuasan diri) dengan tidak sengaja (atau sengaja) melupakan orang-orang terdekat saya. Saya jadi sadar, walaupun impian-impian saya tercapai, itu tidak akan ada artinya kalau saya tidak bisa memberi kebahagiaan pada orang-orang terdekat saya. Saya mencoba menset-up ulang impian-impian saya. Saya tidak ingin mencapai impian-impian saya tanpa membahagiakan orang-orang terdekat saya.

Saya membuat prioritas bahwa apapun yang terjadi family comes first.

Iklan

One response to “Rapuh

  1. klo di facebook kan ada ‘like’, nah klo di sini ada rahmi klik-lah.. nice!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s