Monthly Archives: Mei 2009

Bersepeda di Bontang

Sejak malam sebelumnya, Saya sudah berniat untuk bersepeda di Bontang untuk pertama kalinya. Rencananya, Saya mau bersepeda untuk cari sarapan saja. Menurut saya, topografi Bontang tidak bersahabat bagi pengendara sepeda, tanjakannya banyak dan panjang. Makanya, Saya tidak pasang target muluk-muluk ingin berkeliling Bontang. Cukup cari sarapan saja.

Sebelumnya, Saya akan ceritakan dulu dari mana Saya dapat sepeda. Saya mempunyai Sahabat yang tinggal di dekat rumah. Kerry namanya. Dia berasal dari Minnesota, Amerika Serikat. Singkatnya, Saya tau dia memiliki sepeda yang tidak pernah dia pakai. Nah,  menjelang kepulangannya ke Amerika, Saya bilang ingin membeli sepedanya. “I Bought it  for 1.2 , so 500k, would it be fair?” katanya. Deal! Akhirnya Saya punya sepeda, Yay!

Sepeda Baru

Sepeda Baru

Layaknya Blue bell (motor Saya), Sepeda ini harus punya nama. hmm, tapi Saya belum punya ide untuk namanya. Nanti sajalah.

Hari ini Saya ingin sarapan nasi pecel di luar kompleks PC di Daerah Km VI Bontang. Ah, tidak terlalu jauh, Saya optimis. Dengan gagah (Rasanya sih) Saya mulai menggenjot Sepeda keluar kompleks PC VI PT. Pupuk Kaltim. Tanjakan pertama dilibas, ah cuma segitu aja ternyata. Sepertinya tidak seseram yang Saya bayangkan. Tiba di tanjakan panjang dekat Stadion Mulawarman, otot paha harus bekerja ekstra keras. Bahkan gigi sepeda harus saya turunkan hingga yang paling rendah. Akhirnya, Tanjakan kedua berhasil ditaklukan. Saya baru sadar bahwa di luar PC, tanjakannya banyak dan panjang. Wah,  habis juga nafas kalau tanjakan terus pikir Saya. Ternyata  setelah sampai di lokasi, warung pecelnya tutup. Sudah jauh-jauh, nafas habis, kaki gempor, eh warungnya tutup. Bangke. Huh,  terpaksa ganti rencana deh, Saya makan bubur ayam saja di pujasera BTN. Untuk menuju ke sana Saya harus melewati tanjakan sebelum Mesjid Baiturahman. Ngeri membayangkannya.

Berbekal semangat, Saya menggenjot sepeda kembali ke kompleks PC, melewati lagi tanjakan-tanjakan yang saya lewati sebelumnya. Melewati pos satpam, tanjakan Baiturahman, menyapa rekan kerja di perjalanan,  sampai akhirnya Saya tiba di Pujasera BTN. Keringatan, napas tersengal-sengal, Saya langsung memesan bubur ayam. Derasan hormon endorphin di otak setelah bersepeda membuat saya merasa segar dan bersemangat menjalani hari ini.

Setelah makan bubur ayam saya pulang ke rumah, tapi lewat jalan memutar karena Saya ingin berkeliling kompleks PC yang hijau dan indah. Melewati danau PC, melihat Egretta alba mencari makan di tepi danau,   burung gereja (Passer montanus) berkejaran, biawak  (Varanus salvator) menghangatkan tubuhnya, mengingatkan kalau Saya kurang mensyukuri keindahan kompleks PC PKT.  Ah, seharunsya Saya lebih sering bersepada atau berjalan-jalan sekitar kompleks PKT yang memiliki banyak ruang terbuka hijau dan tertata rapi. Previlise seperti ini tidak mudah didapatkan di Kota-kota besar seperti Jakarta. Seharusnya Saya lebih bersyukur.

Tiba di Rumah, perut Saya terasa tidak enak, penuh rasanya. Nampaknya ide sarapan pagi kemudian bersepeda lagi bukan merupakan ide yang baik. Perut Saya bereaksi atas guncangan-guncangan setelah makan. Lesson learned, lain kali, Saya akan makan setelah bersepeda.

Ah, cara yang asik juga untuk mengawali hari minggu. Lain kali, kalau tidak lembur, Saya akan bersepeda lagi. Lumayan, badan segar, mood baik, lebih enak mengerjakan aktivtias selanjutnya.

Harvey Milk & Kaum Homoseksual

You never really understand a person until you consider things from his point of view.

Harper Lee

Harvey Milk

Harvey Milk

Beberapa waktu lalu, Saya nonton film Milk yang dibintangi Sean Penn. Sebetulnya Saya tidak suka nonton film yang menyoroti kehidupan homoseksual. Namun, karena Teman Saya memaksa akhirnya saya tonton juga Film yang mendapat dua Piala Oscar itu.  “It’s good for you since you’re gayphobic” katanya. Well, true, Saya memang gayphobic. Pengalaman membuktikan. Berapa kali sudah saya diganggu oleh tipe orang-orang ini, Tapi teman saya membela, “Hey respectful gay don’t hit on straight guys. It is inappropriate You just haven’t met them yet“. Ya, dia ada benarnya.

Film itu menceritakan tentang kehidupan dan perjuangan Harvey Milk,  seorang aktivis gay  yang masuk ke panggung politik untuk pertama kalinya di  Amerika Serikat. Penampilan Sean Penn dalam film ini luar biasa, pantas memang dia mendapat Oscar. Lepas dari ketidaksetujuan saya terhadap homoseksual, Film ini memang menarik dan membawa pesan yang kuat tentang hak asasi manusia.

Film itu menceritakan bagaimana Harvey Milk yang awalnya hanya ingin berbisnis akhirnya menjadi politikus yang memperjuangkan hak-hak kaum gay di Eureka Valley, San Fransisco, Amerika Serikat. Pada tahun 1970-an San Fransisco memang menjadi epicentrum kaum gay dan hippies di Amerika Serikat. Konon, kaum gay ditempat ini adalah Tentara Amerika Serikat yang dipecat dari militer, mereka enggan pulang karena tidak ingin ditolak  masyarakat. Setelah Bar Gay dibuka di daerah ini, berbondong-bondonglah kaum gay ke San Fransisco. Perjuangan tuan Milk dimulai ketika dia membuka toko kamera di Castro Street, di sanalah dia menyadari bahwa kaum gay yang dihinakan itu memiliki potensi politik. Maka dimulailah perjuangan Milk.

Sebagai seorang yang “straight“, terus terang saya terganggu dengan kehidupan homoseksual di film itu,  apalagi adegan ciuman diawal film, mau muntah rasanya. Tapi apakah menjadi gay adalah pilihan? Sebagian orang percaya bahwa menjadi gay bukanlah pilihan, biologi yang memainkan peran. Memang beberapa penelitian menunjukan faktor genetis, hormon, kognitif, dan anatomi otak berperan menentukan orientasi seksual seseorang. Namun, ada pengakuan dari seorang homoseksual bahwa dia menjadi homo karena pilihan. Sesorang yang telah menikah namun pernikahannya tidak berhasil lalu dia jatuh cinta kepada sesama jenis. Menjadi homoseksual bisa jadi merupakan pilihan. Tapi Saya, malah bertanya, mengapa memilih menjadi homoseksual yang dihina, dijauhi keluarga, lingkungan sekitar, dikebiri haknya, bahkan dianiaya? Saya kira, masalah orientasi seksual ini sangat kompleks, faktor biologi memainkan peran penting demikian pula faktor lingkungan.

Milk dalam kampanyenya yang memperjuangkan hak-hak kaum gay selalu menyuarakan “come out of the closet“, keluar dari persembunyian,dan menerima diri apa adanya. Tuan Milk adalah seorang pemberani. Sedikit sekali orang yang berani “berbeda” dari masyarakat dan aktif berjuang mendapatkan hak sosial dan hak hidup demi kaumnya walaupun nyawa diujung tanduk.  Saya akui, dia jauh lebih bernyali dibandingkan Rambo sekalipun.

Kaum homoseksual indentik dengan flamboyan, hedonis, narkoba, dan AIDS. Kebanyakan orang membuat generalisasi seperti itu, Saya kira itu tidak tepat. Sikap flamboyan, hedonis, pemakai narkoba dan AIDS tidak  hanya ada apada kaum homoseksual.  Kalau mau adil, kaum homoseksual telah menyumbangkan banyak bagi kemanusiaan; Freddy Mercury, Elton John, Ellen Degeneres, bahkan Leonarda da Vinci contohnya.

In action

In action

Saya tidak setuju dengan kaum homoseksual. Tapi saya menentang bila hak sosial dan hak hidup kaum homoseksual dikebiri. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia. Menjadi homoseksual tidak lantas membuat  mereka patut dinistakan dan kehilangan kehormatan. Menurut Teori ekologi, lingkungan yang seimbang adalah lingkungan yang memberikan relung kehidupan bagi tiap-tiap makhluk yang hidup didalamnya.  Kaum gay adalah kaum marjinal, mungkin kurang dari 10% total populasi.  Terlalu berlebihan kalau ada yang berpikir kaum gay akan mendominasi populasi dunia. Justru dengan memberi mereka ruang hidup, kaum homoseksual akan mampu berkontribusi maksimal kepada dunia.