Harvey Milk & Kaum Homoseksual

You never really understand a person until you consider things from his point of view.

Harper Lee

Harvey Milk

Harvey Milk

Beberapa waktu lalu, Saya nonton film Milk yang dibintangi Sean Penn. Sebetulnya Saya tidak suka nonton film yang menyoroti kehidupan homoseksual. Namun, karena Teman Saya memaksa akhirnya saya tonton juga Film yang mendapat dua Piala Oscar itu.  “It’s good for you since you’re gayphobic” katanya. Well, true, Saya memang gayphobic. Pengalaman membuktikan. Berapa kali sudah saya diganggu oleh tipe orang-orang ini, Tapi teman saya membela, “Hey respectful gay don’t hit on straight guys. It is inappropriate You just haven’t met them yet“. Ya, dia ada benarnya.

Film itu menceritakan tentang kehidupan dan perjuangan Harvey Milk,  seorang aktivis gay  yang masuk ke panggung politik untuk pertama kalinya di  Amerika Serikat. Penampilan Sean Penn dalam film ini luar biasa, pantas memang dia mendapat Oscar. Lepas dari ketidaksetujuan saya terhadap homoseksual, Film ini memang menarik dan membawa pesan yang kuat tentang hak asasi manusia.

Film itu menceritakan bagaimana Harvey Milk yang awalnya hanya ingin berbisnis akhirnya menjadi politikus yang memperjuangkan hak-hak kaum gay di Eureka Valley, San Fransisco, Amerika Serikat. Pada tahun 1970-an San Fransisco memang menjadi epicentrum kaum gay dan hippies di Amerika Serikat. Konon, kaum gay ditempat ini adalah Tentara Amerika Serikat yang dipecat dari militer, mereka enggan pulang karena tidak ingin ditolak  masyarakat. Setelah Bar Gay dibuka di daerah ini, berbondong-bondonglah kaum gay ke San Fransisco. Perjuangan tuan Milk dimulai ketika dia membuka toko kamera di Castro Street, di sanalah dia menyadari bahwa kaum gay yang dihinakan itu memiliki potensi politik. Maka dimulailah perjuangan Milk.

Sebagai seorang yang “straight“, terus terang saya terganggu dengan kehidupan homoseksual di film itu,  apalagi adegan ciuman diawal film, mau muntah rasanya. Tapi apakah menjadi gay adalah pilihan? Sebagian orang percaya bahwa menjadi gay bukanlah pilihan, biologi yang memainkan peran. Memang beberapa penelitian menunjukan faktor genetis, hormon, kognitif, dan anatomi otak berperan menentukan orientasi seksual seseorang. Namun, ada pengakuan dari seorang homoseksual bahwa dia menjadi homo karena pilihan. Sesorang yang telah menikah namun pernikahannya tidak berhasil lalu dia jatuh cinta kepada sesama jenis. Menjadi homoseksual bisa jadi merupakan pilihan. Tapi Saya, malah bertanya, mengapa memilih menjadi homoseksual yang dihina, dijauhi keluarga, lingkungan sekitar, dikebiri haknya, bahkan dianiaya? Saya kira, masalah orientasi seksual ini sangat kompleks, faktor biologi memainkan peran penting demikian pula faktor lingkungan.

Milk dalam kampanyenya yang memperjuangkan hak-hak kaum gay selalu menyuarakan “come out of the closet“, keluar dari persembunyian,dan menerima diri apa adanya. Tuan Milk adalah seorang pemberani. Sedikit sekali orang yang berani “berbeda” dari masyarakat dan aktif berjuang mendapatkan hak sosial dan hak hidup demi kaumnya walaupun nyawa diujung tanduk.  Saya akui, dia jauh lebih bernyali dibandingkan Rambo sekalipun.

Kaum homoseksual indentik dengan flamboyan, hedonis, narkoba, dan AIDS. Kebanyakan orang membuat generalisasi seperti itu, Saya kira itu tidak tepat. Sikap flamboyan, hedonis, pemakai narkoba dan AIDS tidak  hanya ada apada kaum homoseksual.  Kalau mau adil, kaum homoseksual telah menyumbangkan banyak bagi kemanusiaan; Freddy Mercury, Elton John, Ellen Degeneres, bahkan Leonarda da Vinci contohnya.

In action

In action

Saya tidak setuju dengan kaum homoseksual. Tapi saya menentang bila hak sosial dan hak hidup kaum homoseksual dikebiri. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia. Menjadi homoseksual tidak lantas membuat  mereka patut dinistakan dan kehilangan kehormatan. Menurut Teori ekologi, lingkungan yang seimbang adalah lingkungan yang memberikan relung kehidupan bagi tiap-tiap makhluk yang hidup didalamnya.  Kaum gay adalah kaum marjinal, mungkin kurang dari 10% total populasi.  Terlalu berlebihan kalau ada yang berpikir kaum gay akan mendominasi populasi dunia. Justru dengan memberi mereka ruang hidup, kaum homoseksual akan mampu berkontribusi maksimal kepada dunia.

Iklan

8 responses to “Harvey Milk & Kaum Homoseksual

  1. mybrainsgrowell

    jadi, lo gak menolak eksistensi mereka?
    ??

  2. wildanjohardi

    Yang gw tolak eksistensi orang-orang kaya lu Git. Maunya nginep di hotel enak, tapi gak mau ngeluarin duit. hehehe

  3. mybrainsgrowell

    asem.
    daripada di anggrek pilihan mu itu.. mesum. mending mahal n bisa lihat mbak2 yg belahan roknya tinggi bgt. hahaha..

  4. wildanjohardi

    Nah sekarang siapa yang mesum, hahahaha

  5. saya sependapat. meskipun saya juga kurang setuju dengan perilaku homoseksual, saya sangat menentang perlakuan dan judgements yang buruk tentang mereka. toh mereka juga orang biasa, hanya memiliki orientasi seksual yang berbeda. hak asasi manusia berhak dimiliki oleh setiap orang. saya berharap film seperti ini dapat memberikan sedikit representasi sisi positif yang dimikliki kaum homoseksual.

  6. Ya ya. Sepakat 100% Mbak Ika. Sepakat bukan berarti saya gay lho 🙂

  7. hehe,,tulisan2nya menarik,,jadi tergelitik untuk ngomentarin,,, 🙂
    mmm,,beberapa waktu lalu pernah ke komunitas temen2 homoseksual,,yang gak sepakat adalah konseling yang diberikan pada mereka (banyak yang masih ragu akan jalan yang mereka pilih)tapi justru didorong untuk memantapkan langkah (yang akan) mereka pilih..
    kalo kayak gitu gimana coba,,emang berlebihan kalo dikatakan akan mendominasi,,tp bukannya ndak mungkin angka 10% itu akan terus membengkak kan,,, ^^v

  8. Wah, kalo konselingnya diarahkan gitu, aku juga gak setuju.
    Menurutku, harusnya bukan menjadi homoseksual ato ngga-nya yang jadi tujuan konseling. Tapi belajar menerima diri apa adanya itu yg harusnya jadi target konseling.
    kalo menurutku, anomali di masyarakat gak akan meningkat tajam. Ibaratnya pencilan kalo di statistik 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s