Bersepeda di Bontang

Sejak malam sebelumnya, Saya sudah berniat untuk bersepeda di Bontang untuk pertama kalinya. Rencananya, Saya mau bersepeda untuk cari sarapan saja. Menurut saya, topografi Bontang tidak bersahabat bagi pengendara sepeda, tanjakannya banyak dan panjang. Makanya, Saya tidak pasang target muluk-muluk ingin berkeliling Bontang. Cukup cari sarapan saja.

Sebelumnya, Saya akan ceritakan dulu dari mana Saya dapat sepeda. Saya mempunyai Sahabat yang tinggal di dekat rumah. Kerry namanya. Dia berasal dari Minnesota, Amerika Serikat. Singkatnya, Saya tau dia memiliki sepeda yang tidak pernah dia pakai. Nah,  menjelang kepulangannya ke Amerika, Saya bilang ingin membeli sepedanya. “I Bought it  for 1.2 , so 500k, would it be fair?” katanya. Deal! Akhirnya Saya punya sepeda, Yay!

Sepeda Baru

Sepeda Baru

Layaknya Blue bell (motor Saya), Sepeda ini harus punya nama. hmm, tapi Saya belum punya ide untuk namanya. Nanti sajalah.

Hari ini Saya ingin sarapan nasi pecel di luar kompleks PC di Daerah Km VI Bontang. Ah, tidak terlalu jauh, Saya optimis. Dengan gagah (Rasanya sih) Saya mulai menggenjot Sepeda keluar kompleks PC VI PT. Pupuk Kaltim. Tanjakan pertama dilibas, ah cuma segitu aja ternyata. Sepertinya tidak seseram yang Saya bayangkan. Tiba di tanjakan panjang dekat Stadion Mulawarman, otot paha harus bekerja ekstra keras. Bahkan gigi sepeda harus saya turunkan hingga yang paling rendah. Akhirnya, Tanjakan kedua berhasil ditaklukan. Saya baru sadar bahwa di luar PC, tanjakannya banyak dan panjang. Wah,  habis juga nafas kalau tanjakan terus pikir Saya. Ternyata  setelah sampai di lokasi, warung pecelnya tutup. Sudah jauh-jauh, nafas habis, kaki gempor, eh warungnya tutup. Bangke. Huh,  terpaksa ganti rencana deh, Saya makan bubur ayam saja di pujasera BTN. Untuk menuju ke sana Saya harus melewati tanjakan sebelum Mesjid Baiturahman. Ngeri membayangkannya.

Berbekal semangat, Saya menggenjot sepeda kembali ke kompleks PC, melewati lagi tanjakan-tanjakan yang saya lewati sebelumnya. Melewati pos satpam, tanjakan Baiturahman, menyapa rekan kerja di perjalanan,  sampai akhirnya Saya tiba di Pujasera BTN. Keringatan, napas tersengal-sengal, Saya langsung memesan bubur ayam. Derasan hormon endorphin di otak setelah bersepeda membuat saya merasa segar dan bersemangat menjalani hari ini.

Setelah makan bubur ayam saya pulang ke rumah, tapi lewat jalan memutar karena Saya ingin berkeliling kompleks PC yang hijau dan indah. Melewati danau PC, melihat Egretta alba mencari makan di tepi danau,   burung gereja (Passer montanus) berkejaran, biawak  (Varanus salvator) menghangatkan tubuhnya, mengingatkan kalau Saya kurang mensyukuri keindahan kompleks PC PKT.  Ah, seharunsya Saya lebih sering bersepada atau berjalan-jalan sekitar kompleks PKT yang memiliki banyak ruang terbuka hijau dan tertata rapi. Previlise seperti ini tidak mudah didapatkan di Kota-kota besar seperti Jakarta. Seharusnya Saya lebih bersyukur.

Tiba di Rumah, perut Saya terasa tidak enak, penuh rasanya. Nampaknya ide sarapan pagi kemudian bersepeda lagi bukan merupakan ide yang baik. Perut Saya bereaksi atas guncangan-guncangan setelah makan. Lesson learned, lain kali, Saya akan makan setelah bersepeda.

Ah, cara yang asik juga untuk mengawali hari minggu. Lain kali, kalau tidak lembur, Saya akan bersepeda lagi. Lumayan, badan segar, mood baik, lebih enak mengerjakan aktivtias selanjutnya.

Iklan

3 responses to “Bersepeda di Bontang

  1. waahh,,seru kayaknya,,,sepedanya masih ada yah??mau mau pinjem.. 😀

  2. ada tuh di rumah, kabari aja kalo mau minjem ya 🙂

  3. sumpah ngakak khayang bacanya! XDD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s