ISO 14001 & 9001

Selasa 2 Juni 2007 merupakan hari pertama Saya mengikuti proses verifikasi ISO 14001: 2004 dan ISO 9001:2000 oleh Beurau Veritas, suatu lembaga sertifikasi yang telah diberi otoritas oleh ISO. Saya beruntung karena atasan Saya memberi kesempatan untuk mengikuti opening meeting yang cuma dihadiri pejabat-pejabat PT. Pupuk Kaltim. Walaupun agak minder karena yang datang adalah pejabat-pejabat PT. Pupuk Kaltim, tapi Saya cuek saja, toh atasan Saya yang meminta Saya datang. Tidak banyak yang disampaikan saat opening meeting. Hanya memastikan identitas perusahaan, jadwal acara, dan metodologi verifikasi.

ISO 14001:2004 adalah standar internasional untuk pengelolaan lingkungan hidup. Sementara ISO 9001:2000 adalah standar internasional untuk mutu. ISO secara filosofis membuat Perusahaan mempunyai “road map” sistem manajemen yang menuju ke  continuous improvement.  Secara pragmatis, ISO  membantu membangun citra Perusahaan yang peduli terhadap mutu produk untuk 9001 dan lingkungan hidup untuk 14001. Kebetulan Saya pernah ditugaskan oleh Perusahaan memberi materi ISO 14001 untuk Karyawan baru PT. Pupuk Kaltim, jadi Saya familiar dengan materi ISO . Nah, Ini yang bikin Saya bingung, Saya tidak pernah mendapatkan pelatihan ISO tetapi disuruh memberi materi, alasannya supaya belajar. Kok jadi inget waktu di himpunan mahasiswa, dikerjai ini-itu dengan alasan supaya “belajar”. Namun, Saya dapat mengambil hikmah. Saat audit seperti ini Saya mengerti teori ISO. Nah, inilah saat yang tepat untuk melihat langsung bagaimana audit ISO dilakukan.

Saya sempat mengikuti audit ISO 9001 di Kompartemen Pemeliharaan (maintenance). Saya dapat menangkap alur audit ISO. Semua berawal dari perencanaan. Rencana kerja dilihat lalu diverifikasi bagaimana pelaksaanan pekerjaan, tenaga kerja, dan biaya kerja. Kemudian periksa objective (sasaran & target) dan bagaimana realisasinya. Jika target tidak tercapai, analisis penyebab harus terdokumentasi. Sebetulnya inti ISO ini sederhana, hanya prosedur dan pelaksaannya yang terdokumentasi dan terkontrol. Tapi, di Perusahaan sebesar PT. Pupuk Kaltim, pelaksanaanya sangat “njelimet” karena ruang lingkup kerja yang sangat besar.

Saya akan lebih fokus mengupas tentang ISO 14001 karena ini menyangkut sistem manajemen lingkungan di tempat Saya bekerja. Tambahan lagi, mengerti ISO 14001 dan mampu menerapkannya merupakan target Saya di tahun 2009 ini bersama dengan AMDAL.

ISO 14001 dibentuk berdasarkan sistem manajemen lingkungan atau Environmental System Management (ESM). ESM merupakan sistem manajemen yang berdasarkan pada model Plan-Do-Check-Act (PDCA). Fokus dari model ini yaitu Continous Improvement. Semuanya berawal dari perencanaan yang baik, nah, perencanaan yang baik berawal dari identifikasi masalah lingkungan yang kemungkinan timbul dari suatu kegiatan usaha, baik industri atau jasa. Apabila kita menyadari adanya permasalahan yang ditimbulkan oleh kegiatan usaha, maka sesungguhnya ini adalah peluang untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan.

Lantas timbul pertanyaan, “bagaimana mengetahui kegiatan usaha menimbulkan permasalahan lingkungan atau belum?” Mungkin jawaban yang paling mudah adalah kesesuaian dengan regulasi yang ditetapkan oleh Pemerintah.  Berdasarkan pengalaman, Pemerintah tidak akan mengeluarkan suatu kebijakan tanpa mengkomunikasikannya dengan pelaku usaha. Contohnya pada saat pengetatan baku mutu air limbah buangan untuk Pabrik Pupuk, Kementrian Lingkungan Hidup meminta pendapat dari APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia). Kemudian pada saat pencanangan Program Kaltim Hijau pada Rapat Koordinasi Daerah Program Pemantapan Lingkungan Hidup (Rakorda PPLH Kaltim), pelaku industri turut diundang dan diajak berdiskusi dengan para regulator. Nah, niat dan itikad baik seperti ini harus disambut dengan baik. Permasalahan-permasalahan lingkungan layaknya permasalahan lain, kunci penyelesaiannya ada pada moderasi. Nah, Apabila Pemerintah sudah bersedia mendengarkan, sudah selayaknya pelaku industri berkomitmen untuk setidaknya berusaha untuk mematuhi regulasi.

Ada 6 elemen kunci pada ISO 14001 yaitu, penetapan kebijakan oleh manajemen, identifikasi dampak signifikan, Pengembangan target dan sasaran, rencana implementasi untuk mencapai target dan sasaran, training, dan review manajemen.

Penetapan kebijakan manajemen sebetulnya dilakukan untuk memperoleh komitmen manajemen. Komitmen yang dimaksud adalah komitmen untuk sesuai dengan regulasi, komitmen untuk mencegah pencemaran dan komitmen pada continuous improvement.

Identifikasi dampak signifikan dapat diperoleh dari aspect dan impact dari suatu kegiatan usaha. Aspek merupakan bagian dari kegiatan usaha yang berinteraksi dengan lingkungan, impact adalah perubahan yang mungkin terjadi, baik atau buruk, akibat aktivitas usaha atau produk. Nah,  dengan Kebijakan oleh manajemen dan identifikasi dampak signifikan Perusahaan dapat menentukan sasaran dan target.

Sasaran & target sebaiknya yang  terukur dan realistis. Contohnya seperti mengurangi bahan kimia berbahaya pada tahun 2010 sebesar 50% atau menghemat penggunaan listrik sebesar 10% dalam 5 tahun. Sasaran & target tidak terbatas hanya satu saja, sasaran dan target mungkin lebih dari satu sesuai dengan siginifikansi dari hasil aspect & impact.

Setelah sasaran & target dirumuskan, barulah disusun suatu program manajemen lingkungan. Implementasi dari program ini amat bergantung pada konsistensi dan komitmen terhadap sasaran serta kontrol dokumen yang baik. Implementasi merupakan break-down dari tahap planning, harus ada pembagian tugas sesuai bidang, training, komunikasi internal dan eksternal,  sistem kontrol dokumen, kontrol dokumen,  kontrol operasi , dan tanggap darurat. Nah, tahap ini kita sampai pada checking & corrective action yang terbagi menjadi tiga sub yaitu monitoring dan pengukuran, pendokumentasian, dan audit sistem manajemen lingkungan.

Monitoring dan pengukuran dimaksudkan untuk menjaga pendokumentasian prosedur agar karakter kunci dari proses operasional yang memiliki dampak ke lingkungan terkontrol dan terukur, atau lebih mudahnya agar sistem ISO ini berjalan dengan baik. Audit EMS diperlukan untuk terus  menjaga agar sistem ini memenuhi standar EMS dan berjalan dengan baik. Hasil Monitoring, pendokumentasian, dan audit sistem merupakan masukan bagi corrective & preventive action yang bertujuan agar sistem memiliki mekanisme investigasi, perbaikan dan pencegahan defisiensi sistem, set-up proses untuk memastikan corrective action terlaksana, dan membuka kesempatan revisi terhadap sistem itu sendiri. Hal terkahir dalam model P-D-C-A adalah management review. Hal ini bertujuan memastikan EMS berjalan  sesuai dengan proses bisnis Perusahaan, tidak menutup kemungkinan kebijakan, sasaran & target, atau elemen-elemen lainnya berubah. Tidak lupa, hasil review harus terdokumentasi dengan baik. 

Penerapan sistem manajemen ISO setidaknya menunjukan kepada khalayak umum bahwa perusahaan yang menerapkan ISO sudah modern dengan penerapan sistem yang accountable. Penerapan ISO ini  bukannya tanpa kelemahan. Saya sering mendapati bahwa sistem ISO belum terdokumentasi dengan baik. Banyak dokumen-dokumen yang diperlukan sulit didapatkan, penerapannya yang setengah-setengah dan kecenderungan untuk menganggap remeh suatu elemen dan meninggikan elemen lain. Selain itu, sistem ini hanya dimengerti oleh manajemen tingkat atas. Akhirnya, dalam penerapannya di lapangan  by-pass sering dilakukan. Bahkan beberapa manajemen mengamini by-pass yang dilakukan agar pekerjaan “lebih cepat” dilakukan. Akibatnya timbul penurunan nilai prosedur itu sendiri. “Prosedur” menjadi sesuatu yang dianggap menghalang-halangi proses kerja, dan akhirnya diremehkan.  Hmm, nampaknya target tahun ini untuk mampu mengimplentasikan ISO disimpan saja dahulu untuk tahun depan. Masih terlalu banyak ruang gelap pada ISO yang belum Saya ketahui.

Saya jadi ingat di pelajaran filsafat sains, biasanya orang-orang yang ekstrem itu menarik, tapi orang-orang moderatlah yang mendekati kebenaran.
Iklan

3 responses to “ISO 14001 & 9001

  1. mybrainsgrowell

    malesnya bikin dokumentasi..

  2. nah, pas betul git! cocok kamu menjadi sterotip orang indonesia, males nyatet…sama kaya gw, hahaha.

  3. Benar apa yang dikatakan sdr Wildanjohardi,

    Penerapannya ISO banyak yang nyimpang

    Kebanyakan organisasi kurang memahami tujuan penerapan ISO.

    kata kuncinya simple yaitu pemahaman proses,

    dan dikendalikan dengan SOP / IK / Record.

    Kesalahan yang dilakukan :

    by-pass sering dilakukan. Bahkan beberapa manajemen mengamini by-pass yang dilakukan agar pekerjaan “lebih cepat” dilakukan. Akibatnya timbul penurunan nilai prosedur itu sendiri. “Prosedur” menjadi sesuatu yang dianggap menghalang-halangi proses kerja, dan akhirnya diremehkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s