Pilpres 2009: Sebuah Pembelajaran Politik

Indonesia memilih
Indonesia memilih

Pemilu presiden diselenggarakan 8 Juli 2009. Pada pemilu kali ini, Saya nyontreng di Kalimantan Timur, tempat tinggal dan mencari nafkah satu setengah tahun terakhir. Lima tahun yang lalu Saya mencoblos di Jakarta. Saat itu, Saya ingat, bilik pencoblosan suara persis di depan Rumah saya.  Saya tidak ingat betul siapa yang Saya pilih. Namun yang terpenting adalah Saya tidak golput. Walaupun Saya tidak mengerti politik (atau tidak mau tau), Saya percaya dibalik bilik suara itulah arah masa depan Indonesia ditentukan.

Apakah Saya terlalu naif ? Entahlah, Saya tidak pernah masuk ke dunia politik praktis.

Saya ingat, pada suatu acara talk show di televisi,  seorang pakar mengkampanyekan golput. Dia menceritakan pengalamannya di dunia politik praktis yang kotor, penuh kemunafikan dan kerusakan sistemik sudah sampai tahap kronis. Akhirnya, seseorang bergelar Ph.D dari Amerika ini sampai pada kesimpulan, untuk memperbaiki rusaknya sistem politik di Indonesia maka sistem politik kita harus direvolusi, termasuk orang-orang yang terlibat di dalamnya harus dienyahkan. Sampai titik ini Saya berpikir, nah, sekarang siapa yang naif.

Siapapun tau, hal-hal tersebut tidak mungkin terjadi di Indonesia yang rakyatnya lebih menginginkan keteraturan dan ketenangan dibandingkan revolusi.

*******

Politik tidak selalu menjadi politik dengan awalan “p” kecil yang menunjukan sisi gelapnya – pertarungan berebut kekuasaan. politik dapat diawali dengan “P” besar yang  berarti pengaturan, dan pembagian kekuasaan demi kepentingan orang banyak.

Apakah gerangan yang mereduksi makna politik?

Mungkin masyarakat sudah jengah melihat polah laku para politikus yang sering terlibat skandal (dari korupsi sampai seksual), kampanye partai politik yang jauh dari kesan intelek, sampai pada kekonyolan para politikus karbitan yang dengan sangat percaya diri memasang foto dirinya dengan ukuran superbesar, entah dengan kostum superhero atau menyandingkan dirinya dengan Presiden AS. Barrack Obama.

Caleg Superman

Caleg Superman

Politik seakan-akan dipandang dari perspektif ekonomi, meminjam istilah Ipar Saya “…rakyat (pemilih) dianggap sebagai pasar”. Akhirnya, pendekatan pasarlah yang dilakukan. Popularitas dianggap menjadi kunci kemenangan. Popularitas bukan karena kapasitas & kapabilitas, namun lebih kepada ketenaran. Akhirnya, ada partai politik yang menyorongkan artis-artis sebagai calon legislatif untuk mendongkrak suara.

Namun, Saya tetap berprasangka baik. Pendekatan pasar yang dilakukan, semata-mata hanya strategi untuk memenangkan suara Rakyat. Dengan masih lekatnya isu primordial seperti jender, agama, dan asal-usul, pendekatan seperti inilah yang paling realistis untuk memenangi pemilihan. Dibalik pragmatisme tersebut, Saya berharap ada visi pengelolaan negara untuk kepentingan rakyat banyak.

********

Pemilu Presiden 2009 menampilkan tiga kandidat yaitu Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Jusuf Kalla (JK). Masing-masing kandidat tentu memiliki strategi dan massa pendukung masing-masing.  SBY didukung 24 partai politik dengan jumlah kursi lebih dari 50%, JK dan Megawati didukung oleh sisanya. Logikanya, kemungkinan besar, SBY-lah yang memenangi pertarungan ini.

Namun, dari catatan sejarah, Pemilu Presiden RI tidak mengikuti logika itu. Tahun 1999, dengan jumlah suara legislatif lebih dari 30%, PDI-P tidak berhasil merebut kursi presiden. Demikian di tahun 2004, Golkar sebagai partai pemenang pemilu juga tidak berhasil duduk di kursi presiden, walaupun JK menjadi wakil presiden.

Oleh karena itulah para kandidat bertarung habis-habisan dengan saling klaim keberhasilan, saling menjelek-jelekan pasangan lain, dan pertarungan slogan politik yang hambar. Saya tidak melihat ada suatu yang fundamental yang ditawarkan. Inilah dagelan yang sesungguhnya. Justru dengan saling klaim keberhasilan, menjelek-jelekan seorang kandidat, sampai menonjolkan simbol-simbol agama tertentu untuk meraih dukungan, terlihat sekali yang diinginkan hanyalah kursi presiden, bukannya memperjuangkan kepentingan rakyat. ah, lagi-lagi saya terlalu naif.

Dari serangkaian debat yang disiarkan televisi, Saya tidak melihat adanya debat yang berbobot, yang benar-benar bisa mengidentifikasi kondisi Bangsa Indonesia dan menelurkan visi dan strategi yang menginspirasi. Semua kandidat bernyanyi di nada yang sama. Serba normatif. Memang sekali-kali JK menyerang, namun bukan kepada hal yang fundamental, contohnya serangan pada kampanye pilpres satu putaran. Mungkin Kalla takut blunder, karena dia berada di Pemerintahan. Saya berharap Mega bisa menyerang karena dia berada di pihak oposisi. Namun, sayang sekali, hal itu tidak terjadi.

Pertarungan slogan juga sama saja, serba hambar. SBY dengan slogan “lanjutkan” mengesankan segala sesuatunya sudah berjalan dengan baik, padahal masih banyak hal yang bisa dikritisi dari kebijakannya. JK dengan “lebih cepat, lebih baik”. Saya tidak yakin bahwa yang lebih cepat itu lebih baik. Saya kuatir, dengan kecepatan dan kemampuan mengambil resiko diatas rata-rata, JK bisa bertindak sembrono. Megawati dengan visi “ekonomi kerakyatan”. Visi yang bagus sebetulnya. Namun, Saya belum bisa menangkap penjabaran dari “ekonomi kerakyatan”.

Memang, Saya hanya memaparkan hal-hal yang buruk saja dari kandidat tersebut. Seakan-akan, Saya bersikap pesimis terhadap dunia perpolitikan di Indonesia. Tapi sesungguhnya Saya peduli. Dengan memperhatikan, membaca, dan berdiskusi. Saya bisa melihat, dibalik kebusukan dunia politik, sesungguhnya masa depan bangsa Indonesia berada dibalik bilik suara tersebut.

**********

Dalam memilih kandidat Presiden, Saya memang kesulitan. Hiruk pikuk informasi,  hingar bingar dunia kampanye yang  hadir dalam setiap sudut kehidupan membuat  sukar untuk menentukan pilihan. Janji-janji kampanye tidak bisa dijadikan pegangan. Daripada pusing dengan hal-hal dijanjikan dan dikampanyekan, akhirnya Saya mengandalkan informasi dari media yang memiliki reputasi baik. Selain itu, Saya juga memperhatikan kinerja kandidat selama menjabat atau kondisi negara ketika para kandidat berkuasa. Saya juga tidak akan memilih kandidat yang berperan pada kasus yang merugikan kepentingan orang banyak.

Dengan langkah mantap, Saya masuk ke bilik suara dan memilih calon presiden yang sesuai dengan kriteria Saya. Lalu, Saya pulang dengan perasaan lega. Setidaknya, walaupun kandidat pilihan tidak menang, Saya punya alasan kenapa Saya memilih kandidat tersebut. Saya percaya bahwa  dengan menetapkan pilihan, Saya telah berpartisipasi dalam pembelajaran politik. Dengan itu, Saya bisa mengatakan bahwa Saya berperan dalam kemajuan bangsa Indonesia. Walaupun terdengar naif

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s