Monthly Archives: Agustus 2009

Negeri 5 Menara

Man jadda wajada

siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses

Itulah semangat yang menyelimuti novel menarik mengenai kehidupan anak pondok pesantren berjudul Negeri 5 Menara oleh A. Fuadi. Saya suka segala sesuatu yang menceritakan budaya, pendidikan, dan kehidupan dalam sudut pandang orang yang menjalaninya. Hal ini penting untuk membangun persepsi.

Setelah selama sekian terjebak dalam persepsi sendiri mengenai suatu hal, Saya belajar untuk tidak terlalu cepat menilai. Saya belajar untuk memahami dan membangun sudut pandang dari berbagai sisi. Karena, Saya yakin dengan melakukan itu, Saya bisa terbebas dari segala pretensi yang membatasi komunikasi.

Nah, bukan itu poin itu yang akan Saya tekankan, hehe.

Dalam salah satu babnya, dalam suatu sesi kelas malam -kelas yang diperuntukan untuk mengulang & mempersiapkan pelajaran- Ustadz Salman menceritakan potongan biografi tokoh-tokoh dunia. Dia menyanyakan pertanyaan retoris, “Apa yang membedakan orang sukses dengan orang biasa”? menurutnya ada dua hal yang sangat penting:

  1. going the extra miles. Intinya berusaha lebih keras, jangan mudah merasa cukup. Kita harus berani capek for going the extra miles
  2. Jangan pernah membiarkan diri terpengaruh oleh unsur luar. Kita berkuasa atas diri kita sendiri. Jangan pernah memberikan kekuasaan itu kepada lingkungan, keadaan dan orang lain untuk merusak impian-impian kita.

Sebetulnya itu bukan hal baru, namun mengingat situasi yang dialami, Saya tersengat. Nasihat inilah yang Saya butuhkan sekarang. Terutama yang nomor dua. Sudah terlalu sering Saya membiarkan diri  berada dibawah kekuasaan luar, baik lingkungan atau seseorang. Saya sering marah ketika orang lain memancing, sedih ketika dikecewakan dan gugup ketika diintimidasi. Manusiawi? tentu, tapi bukan berarti kita harus menyerah. Saya bertekad, mulai saat ini Saya tidak akan menyerah kepada keadaan dan seseorang. Karena Saya punya cita-cita, maka  dengan segenap ada, Saya akan menjaga api itu tetap menyala dan tidak akan membiarkan seorang pun memadamkannya.

Nah, petuah Pak Ustadz ini telah menjaga api ini tetap berkobar. Semoga, petuah ini juga bisa menginspirasi 🙂

Iklan

Do you know?

Though only covering 1.3 % of earth’s land surface, Indonesia’s forests represent 10 % of all the world tropical forest cover and are home to 20 % of all world’s species of flora and fauna, 17 % of world’s bird species, and more than 25 % of the world’s fish species.

-Thomas Friedman’s Hot, Flat and Crowded-

Amazing isn’t it. It is clear that Indonesia has a significant contribution to world’s ecosystem stability.

So, I say.

Save Indonesia save the world !

Nasionalisme dalam Keberagaman

Apa yang istimewa dari peringatan 17 Agustus 2009 ini? Untuk Saya, hari inilah pertama kalinya Saya menjadi petugas pembawa bendera. Tak pernah membayangkan sebelumnya, di usia yang hampir menginjak dua puluh lima, berseragam, menjadi petugas upacara, persis keadaannya seperti lima belas tahun lalu, ketika saya menjadi petugas upacara. Bedanya, waktu itu Saya menjadi pembaca teks Pancasila. Lucu.

Lima belas tahun lalu, guru SD saya menjejali saya dengan Pendidikan Moral Pancasila. Bahwa  Republik ini dibangun beralaskan tulang belulang pejuang kemerdekaan. Mereka berjuang agar generasi setelah mereka bisa hidup merdeka, atas nama nasionalisme katanya.

Bangsa Indonesia terbangun oleh keberagamannya. Itu adalah keniscayaan sejarah. Fondasi kebangsaan kita adalah keberagaman, setidaknya itulah yang Saya tangkap. Saya kemudian khawatir, setelah 64 tahun ini, banyak yang belum mahfum atas keberagaman tersebut. Nasionalisme Indonesia terancam oleh semangat-semangat yang membunuh keberagaman.

***

Otto Bauer —ada dua Otto Bauer, yang saya maksud ini bukan yang bintang film porno— mengatakan bahwa suatu bangsa terbentuk karena kesamaan watak yang muncul karena nasib yang sama. Sejumput perasaan itu yang menyatukan suku-suku di Indonesia, yang membuat kita merasa bergetar mendengar lagu Indonesia Raya, yang membuat kita meradang ketika saudara kita di Papua kelaparan, dan membuat kita berang ketika Malaysia mengklaim warisan nenek moyang kita sebagai budaya “asli” mereka.

Apakah yang terjadi jika nasib terlalu timpang? Terjadilah ketidakpuasan di daerah-daerah tersebut, puncaknya adalah gerakan separatisme. Ibarat jerami kering, apabila keadaan panas dan ada yang mengipasi, maka mudahlah dia terbakar. Kira-kira itulah yang mungkin terjadi di Papua dan di Aceh. Gerakan separatisme jelas mengancam supremasi NKRI sebagai teritorial-state. Kita tidak mau Indonesia yang telah susah payah diperjuangkan nenek-moyang kita menjadi tercerai berai.

Lantas bukankah Papua juga memperjuangkan kemerdekaannya? Saya kira, ini lebih merupakan masalah kesukuan dibandingkan nasionalisme. Rakyat Papua mungkin sakit hati melihat kekayaan alamnya dikuras tapi tidak merasa menerima hasilnya. Akibatnya, rasa keadilan terserang dan munculah gerakan separtisme seperti Organisasi Papua Merdeka. Saya rasa, dengan merdeka sekalipun, keadaan tidak lantas menjadi lebih baik bagi warga Papua. Mereka membawa isu-isu primordial mengenai suku dan tanah leluhur daripada hal-hal yang substansial seperti pendidikan.

***

Semangat-semangat yang menyatakan suatu suku atau suatu agama lebih mulia daripada suku atau agama lain tentu sah-sah saja. Tetapi kalau kadarnya berlebihan sampai menebarkan kebencian terhadap suku atau agama lain, hal itu akan menggerogoti Indonesia dari dalam. Kita bisa melihat gerakan-gerakan untuk memerdekakan diri atau membuat negara berlandaskan agama tertentu marak akhir-akhir ini.

Berangkat dari logika dengan memerdekakan diri atau mendirikan negara berlandaskan suatu agama tertentu akan membuat segalanya menjadi lebih baik, gerakan tersebut muncul. Bisa saja hal itu benar, siapa yang tau. Tapi, bukankah berarti kita menafikan landasan terbangunnya negara ini sejak awal? Bahwa Indonesia ini bangkit karena bersatunya suku bangsa yang sama-sama tertindas. Dengan bersatu, bukankah Indonesia bisa dan mampu merdeka?

Memang banyak hal yang harus diperbaiki pada ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke enam puluh empat. Sistem politik, ekonomi, dan pemerintahan kita memang belum sempurna. Keadilan & kesejahteraan sosial juga belum tercapai.  Tapi, Saya percaya, kita berada di jalan yang tepat (bila bukan benar). Oleh karena itulah kita perlu kerja keras. Tentu dengan berlandaskan semangat saling menghargai perbedaan.

Untuk itulah, di hari ini, Saya merayakan keberagaman Indonesia sebagai suatu nation. Dengan semangat menghargai keberagaman, Saya mencoba melakukan yang terbaik bagi Bangsa ini. Karena sungguh, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya sangat mencintai Indonesia.

Ethics of Conservation

Conservation is a magical term nowadays. In the name of conservation you can receive thousands of dollars grants, political influence, even gain public sympathy.

Within this new era, People acknowledge that we were too long sucking our natural resources without concerning about our earth capability to retaliate. We were in hallucination that our earth would be just fine if we cut down trees, burns up fossil fuels, or killing wild animals. Apparently, the world is not fine. We suffer the consequences of things we’ve been doing since industrial revolution.

Now, conservation is turning into magical term. It turns into political, marketing strategies, social matters. There is nothing wrong with that. What I’m concerned if this issue is just a lip service. Palm-oil industries blowing up tree-planting program while conversing more and more virgin forest into palm-oil plantation, chemical industries with cleaner production concept and yet still dumping hazardous chemical to the sea, and government in the name of economic growth give mining consession in the protected area.

Thomas Friedman in his notable book Hot, Flat & Crowded argues, to tackle world problems caused by hot, flat & crowded world we need to develop cleaner energy, being energy efficient and conservation. It is concluded that we have to optimize all at once. We cannot be concerned about one thing and ignore others.

Generating cleaner energy or energy efficiency is relatively  an easy thing to do than to conserve. We can expect the result of cleaner energy or energy efficiency within months or years. It is hard with conservation. You can’t expect to see the result within months if we protect coral reef or mangrove.

Conservation is not just a marketing or political strategy. Conservation has to be an ethic. Ethic is different than a law. Ethic is a norm, values, beliefs and habit which guide you. Ethic is something that regulates your behavior from inside, instead of outside. Ethic of conservation is sense of responsibility to preserve natural resources and wonders.

Conservation doesn’t mean to stop consumption. Most of people think that conservation is the opposite of consumption. We need consumption to grow and yet we need conservation to survive. Many environmentalists oppose consumption. It is not right. We need consumption to grow. With growing we can be prosper. Not every land or sea has to be protected. We have to protect those areas which provide critical ecological-support system.

That is why we need ethic of conservation. With the sense of  responsibilty to care for natural system, we can shape our behavior to be more ecological-friendly, put environmental perspective on every business aspects and protect critical ecological area for the sake of environmental sustainability and future generations.

The big question is how? Ethic is not something that can you build overnight. It requires several changes and often makes us uncomfortable. The best way to do it is to start from yourself. You don’t have to wait until USA, china and India ratified Tokyo protocol, or wait for your neighbour to have solar panel. I believe that every little action we’ve made can affect each other. It is the product we buy and lifestyle we choose has an impact to this world. To build such ethic, we need changes, and it is started from ourselves.

For My Most Favourite Person in the World

Don’t be too hard to yourself.

Sahabat saya pernah bilang seperti itu. Tapi, bukankah hidup itu keras? Bukankah dengan membiasakan keras terhadap diri sendiri maka hidup akan lebih lunak terhadap kita?

Ya memang benar, dengan bersikap keras niscaya hidup akan lebih mudah terhadap kita. Tapi, disisi lain, ketika kita bersikap keras terhadap diri, kita menjadi kurang menghargai diri kita sendiri.

Gak percaya? coba nonton film Doubt. Di film itu kita akan berkenalan dengan Suster Aloysius (Meryl streep), seorang yang sangat keras terhadap diri sendiri. Tengoklah, pribadi seperti apa dia. Orang yang membenci kebahagian sehingga dia merasa perlu menyingkirkan orang yang memiliki kebahagiaan.

Saya adalah tipe orang yang terlampau sering kalah sama ego sehingga terkadang menyiksa diri sampai apa yang sebetulnya dibutuhkan dan inginkan urung Saya perjuangkan.

Saya sering iri sama orang-orang yang tahu caranya bersenang-senang. Terus terang, I rarely treat myself. Karena terlalu seringnya, bahkan tidak tahu caranya.

Teruntuk sahabat Saya. I really wanna embrace your  friendship like we used to have back then. Tapi, masih terlalu sulit remembering things what you have done.  Mungkin suatu saat nanti, ketika Saya sudah mampu mengalahkan diri sendiri. But trully, I’ve been missing you