Nasionalisme dalam Keberagaman

Apa yang istimewa dari peringatan 17 Agustus 2009 ini? Untuk Saya, hari inilah pertama kalinya Saya menjadi petugas pembawa bendera. Tak pernah membayangkan sebelumnya, di usia yang hampir menginjak dua puluh lima, berseragam, menjadi petugas upacara, persis keadaannya seperti lima belas tahun lalu, ketika saya menjadi petugas upacara. Bedanya, waktu itu Saya menjadi pembaca teks Pancasila. Lucu.

Lima belas tahun lalu, guru SD saya menjejali saya dengan Pendidikan Moral Pancasila. Bahwa  Republik ini dibangun beralaskan tulang belulang pejuang kemerdekaan. Mereka berjuang agar generasi setelah mereka bisa hidup merdeka, atas nama nasionalisme katanya.

Bangsa Indonesia terbangun oleh keberagamannya. Itu adalah keniscayaan sejarah. Fondasi kebangsaan kita adalah keberagaman, setidaknya itulah yang Saya tangkap. Saya kemudian khawatir, setelah 64 tahun ini, banyak yang belum mahfum atas keberagaman tersebut. Nasionalisme Indonesia terancam oleh semangat-semangat yang membunuh keberagaman.

***

Otto Bauer —ada dua Otto Bauer, yang saya maksud ini bukan yang bintang film porno— mengatakan bahwa suatu bangsa terbentuk karena kesamaan watak yang muncul karena nasib yang sama. Sejumput perasaan itu yang menyatukan suku-suku di Indonesia, yang membuat kita merasa bergetar mendengar lagu Indonesia Raya, yang membuat kita meradang ketika saudara kita di Papua kelaparan, dan membuat kita berang ketika Malaysia mengklaim warisan nenek moyang kita sebagai budaya “asli” mereka.

Apakah yang terjadi jika nasib terlalu timpang? Terjadilah ketidakpuasan di daerah-daerah tersebut, puncaknya adalah gerakan separatisme. Ibarat jerami kering, apabila keadaan panas dan ada yang mengipasi, maka mudahlah dia terbakar. Kira-kira itulah yang mungkin terjadi di Papua dan di Aceh. Gerakan separatisme jelas mengancam supremasi NKRI sebagai teritorial-state. Kita tidak mau Indonesia yang telah susah payah diperjuangkan nenek-moyang kita menjadi tercerai berai.

Lantas bukankah Papua juga memperjuangkan kemerdekaannya? Saya kira, ini lebih merupakan masalah kesukuan dibandingkan nasionalisme. Rakyat Papua mungkin sakit hati melihat kekayaan alamnya dikuras tapi tidak merasa menerima hasilnya. Akibatnya, rasa keadilan terserang dan munculah gerakan separtisme seperti Organisasi Papua Merdeka. Saya rasa, dengan merdeka sekalipun, keadaan tidak lantas menjadi lebih baik bagi warga Papua. Mereka membawa isu-isu primordial mengenai suku dan tanah leluhur daripada hal-hal yang substansial seperti pendidikan.

***

Semangat-semangat yang menyatakan suatu suku atau suatu agama lebih mulia daripada suku atau agama lain tentu sah-sah saja. Tetapi kalau kadarnya berlebihan sampai menebarkan kebencian terhadap suku atau agama lain, hal itu akan menggerogoti Indonesia dari dalam. Kita bisa melihat gerakan-gerakan untuk memerdekakan diri atau membuat negara berlandaskan agama tertentu marak akhir-akhir ini.

Berangkat dari logika dengan memerdekakan diri atau mendirikan negara berlandaskan suatu agama tertentu akan membuat segalanya menjadi lebih baik, gerakan tersebut muncul. Bisa saja hal itu benar, siapa yang tau. Tapi, bukankah berarti kita menafikan landasan terbangunnya negara ini sejak awal? Bahwa Indonesia ini bangkit karena bersatunya suku bangsa yang sama-sama tertindas. Dengan bersatu, bukankah Indonesia bisa dan mampu merdeka?

Memang banyak hal yang harus diperbaiki pada ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke enam puluh empat. Sistem politik, ekonomi, dan pemerintahan kita memang belum sempurna. Keadilan & kesejahteraan sosial juga belum tercapai.  Tapi, Saya percaya, kita berada di jalan yang tepat (bila bukan benar). Oleh karena itulah kita perlu kerja keras. Tentu dengan berlandaskan semangat saling menghargai perbedaan.

Untuk itulah, di hari ini, Saya merayakan keberagaman Indonesia sebagai suatu nation. Dengan semangat menghargai keberagaman, Saya mencoba melakukan yang terbaik bagi Bangsa ini. Karena sungguh, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya sangat mencintai Indonesia.

Iklan

One response to “Nasionalisme dalam Keberagaman

  1. mybrainsgrowell

    sampeyan masuk tv lo. PKTV. ahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s