Monthly Archives: September 2009

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Novel ini membuktikan bahwa seorang Dewi Lestari mampu menulis lintas genre. Awalnya, Saya kaget ketika membaca novel yang berbeda dengan karya Dee sebelumnya. Dee membuat novel ini ringan, jenaka, khas anak muda, berbeda dengan Supernova.

Kita mengikuti perjalanan kedua tokoh utama, yaitu Kugy dan Keenan. Dee mengibaratkan tokoh ini berada dikedua kutub berlawanan dan bertemu ditengah kemustahilan. Menurut Saya,  kedua tokoh ini tidak betul-betul berada di kedua kutub berlawanan. Keduanya adalah artis, Kugy seorang penulis dongeng dan Keenan pelukis. Keduanya pandai mengekspresikan dirinya walaupun dengan media berbeda.

Secara teknis, penokohan, penyusunan plot, gaya bertutur,  drama yang dibangun, sampai klimaks, Perahu Kertas mengikuti pola yang lazim ditemui pada komik serial cantik. Cewek cantik periang yang tidak peduli penampilan dan cowok keturunan bule yang cool, pendiam dan misterius akhirnya saling jatuh cinta, terpagut asmara, tidak bisa terpisahkan. Dijamin, anda-anda yang menggemari serial cantik, pasti sangat menggemari novel ini.

Dee memang pandai memainkan emosi pembacanya, mulai dari kehidupan percintaan, keluarga, persahabatan, pengorbanan, cita-cita, ambisi. Ramuan bahan-bahan ini di tangan seorang Dee, menghasilkan karya yang memiliki daya magnet yang luar biasa. Perasaan pembaca serasa diaduk-aduk, diterbangkan dengan impian, sekaligus dihempaskan dengan kenyataan pahit yang selalu ada.

Novel ini memang memikat, ditengah aktivitas lebaran, saya mampu menyelesaikan 434 halaman dalam waktu tiga hari. Cuma novel-novel yang memiliki alur cerita memikat, penyusunan plot yang tertata dan pengembangan drama yang indah, yang mampu membuat saya tenggelam membaca sampai berjam-jam.

Namun, dibalik kemampuan tutur bercerita dan kepandaian memainkan emosi, sesungguhnya tidak banyak hal baru dari novel ini. Kehidupan percintaan, makna berkorban, menjadi diri sendiri, mengejar mimpi, sering kita dapati pada karya-karya lain.  Tapi ada satu hal yang menarik. Novel ini menyampaikan pesan bahwa hati tidak pernah akan bisa memilih, ia selalu berlabuh ke tempat yang sama. Hati tidak pernah memilih, ia dipilih. Saya suka perspektif ini, bahwa kemanapun hati kita pernah singgah, sesungguhnya ia selalu berlabuh ke tempat yang sama.

Iklan

Tentang Impian

Dalam hidup ini, seringkali kita merasa kekurangan. Kadangkala, ketika telah mencapai sesuatu, Kita lupa untuk menengok ke belakang, menghargai setiap tetes keringat, darah yang tumpah, tubuh yang lelah, dan air mata yang mengalir. Selalu ada saja impian setelah impian, mimpi demi mimpi.

Disatu sisi, impian-impian itulah yang membuat Kita hidup, berpendar-pendar, membuat Kita berani bergulat dengan kehidupan yang tidak bisa ditebak. Tapi disisi lain, selalu ada yang dikorbankan untuk meraih impian; waktu, tenaga, uang, orang-orang yang dicintai, mungkin nurani.

Pertanyaannya, apakah yang dikorbankan setimpal dengan yang diraih?

Mungkin itu yang dialami Jacques Pangemanann —Tokoh dalam novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. Pangemanann adalah pribumi totok yang beruntung mendapatkan pendidikan eropa.  Mantan komisaris polisi ini memperoleh reputasi dan prestasi dengan menindas pribumi, kaumnya sendiri.

Diceritakan bahwa Pangemanann, arsitek segala kebijakan untuk mengekang pergerakan organisasi pada masa awal pertumbuhan nasionalisme di Hindia Belanda (Indonesia kala itu) menemukan bahwa kolonialisme Eropa tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan yang tumbuh di Eropa masa itu.  Dikatakan, kolonialisme dengan dalih mengenalkan kehidupan primordial dengan kehidupan modern, pada akhirnya hanya menjadi pemuas nafsu untuk menguasai, tanpa kepastian hukum, sama seperti Raja-raja  nenek moyang pribumi.

Pangemanann paham betul, dia hanyalah perpanjangan tangan kolonialisme. Pangemanann memilih setia kepada kolonialisme dan mengorbankan nuraninya. Memang, Pangemanann akhirnya menjadi seorang ahli kolonialisme anggota Algemene Secretariepenasihat Gurbenur Jenderal Hindia Belanda – yang umumnya hanya diduduki orang Eropa totok.

Harga yang dibayar sangat mahal, karena yang dikorbankan adalah nurani. Ternyata pengkhianatan terhadap nurani menimbulkan gejolak pemberontakan dalam diri yang hanya bisa diredam sementara oleh minuman keras. Dimulai dari sini, Pangemanann kehilangan segalanya; dirinya, keluarga, bahkan harta.

Pada tingkat tertentu, impian memang kadang membutakan, memakan dari dalam, dan pada akhirnya merusak.

Sedari kecil, Kita dibekali dengan pendidikan moral dan agama, bahwa yang benar harus ditegakkan dan yang salah harus dihindari. Kisah ini menunjukan bahwa pada kenyataannya, hal-hal yang benar memang sulit ditegakkan. Kitapun menjadi sadar, bahwa yang benar itu menjadi bermakna ketika kita mampu melaksanakannya, tidak hanya ada dalam teks, tidak hanya dalam ruang-ruang kelas, tidak hanya dalam sudut-sudut pikiran.

Saya jadi ingat Yudhistira. Ksatria dalam epik Mahabharata. Ia adalah ksatria yang paham bahwa posisi Raja dan panggilan dharma selalu bertentangan. Maka, Ia tak mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta dan perannya. Ia beranggapan bahwa orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci.

Role of Science: Solving Global Problems With Local Approach

Today, science plays an important role in building a better world. The exploding population, climate change, and environmental & energy problems can all be solved with science. In developed countries, science is already relatively interconnected with the market, government, and research institutions. In these countries, governments have sufficient funding and political power to promote research concerning national goals and problems, such as conservation and “clean” energy.  In developing countries, however, most research is market-driven. While market-driven research sometimes provides for societal needs, such as increasing industrial production and agricultural yields, developing country governments tend to be more concerned with promoting and maintaining economic growth than with long-term necessities, such as conservation. Beyond that, lack of available funding results in governments that are unable to direct research towards environmental goals, such as “clean” energy and biodiversity conservation.

In Denmark, since the 1980s, taking advantage of its long coastline, collaboration between research institutions, industries and government has led to a vast and growing wind industry which provides jobs and exportable energy. In 2007, wind power accounted for 19.7% of Danish’s electricity production, a significantly higher proportion than in other countries (Danish Energy Agency, 2008). Despite the fact that Denmark is a developed country, it shows that a good connection between research institutions, industry, and government, in combination with local “circumstances,” can foster innovation. However, the majority of the world’s population, and, therefore, the world’s problems, lies in developing countries. As such, in developing countries, research and technology should address their problems with an eye towards their local “raw materials” and circumstances. Therefore, ultimately, solutions lie in the connection between local research institutions, their respective governments, and their country’s’ industry.

According to the United Nations Population division, today’s world population is 6.8 billion, will reach 7 billion by 2012, and is projected to surpass 9 billion by 2050  (United Nation, Departement of Economic and Social Affairs, 2009). As previously stated, most of the world’s population lives in developing countries with rapidly growing populations. With the exploding populations, demand for basic needs –food, water, clean water, energy, healthcare– is overwhelming and puts pressure on land and ecosystems.

Climate change, fed by CO2 emissions, leads to droughts, floods, new strains of viruses, and many other catastrophes. Most CO2 emissions come from burning fossil fuels and deforestation, which are the result of the great global demand for energy and resources (A. Mitchell, 2008). How can we provide for basic needs while preserving biodiversity and focusing on sustainable energy? Science, focused on local problems and local answers, is the solution

Increased research into clean energy, food technology, water treatment, and energy efficiency will eventually make the world a better place. Therefore, all research institutions, as well as all governments, industries, and societies, have to get involved. I believe collaboration between these different bodies can be fostered as follows:

  1. For high-impact research (clean energy, medical research) that requires advanced technology and significant funding, researchers from all countries should collaborate. While researchers from developing country often suffer from a lack of appropriate technology and funding, they have the advantage of being able to use previously unexplored indigenous materials.
  2. Technology and knowledge transfer from developed countries to developing countries should be maintained, and possibly increased, by providing scholarships, training,  funding research, and investing in the basic infrastructure of developing countries.
  3. To balance market-driven research, governments should provide incentives to increase research that addresses global problems through a local approach, such as renewable energy, biodiversity conservation, and medical research.
  4. Governments need to consider sustainability and environmental impact when making policies and decisions. That is, decisions need to be driven by more than economics and political considerations.
  5. Industries should be encouraged to become actively involved in environmental protection. For example, governments can use information-based environmental policies such as eco-labeling and environmental rankings to get companies involved. Such policies would affect global marketing strategies and supply chain management of companies. With such measures, consumers would be able to choose environmentally-friendly products and systems.

In conclusion, with increasing populations, the coinciding demands on natural resources and energy, and the resulting environmental problems, science could be the answer. However, science in developing and developed nations needs to be connected with both local and foreign governments, research institutions, and industries. Developed countries have the knowledge, technology, and funding while developing countries have unexplored indigenous resources. If we can strengthen these connections, we will be able to make progress towards a more-equitable, prosperous, sustainable world.

Anak ITB

Ganesha

Ganesha

Anak ITB (red: alumni & mahasiswa) punya reputasi pongah luar biasa.  Pernah Saya membaca di suatu milis yang ditulis oleh head hunter mengenai sifat-sifat yang dimiliki oleh para anak gajah duduk. Congkak, sombong, merasa dirinya paling benar, sok tahu, kutu loncat, tidak bisa bekerja sama, pokoknya yang jelek-jelek menjadi predikat alumni Institut yang berada persis di samping Kebon Binatang Bandung ini.

Menurut Saya, Head hunter itu terlalu menggeneralisir , tapi dia tidak sepenuhnya salah.

Memang anak ITB terbentuk sok tau, sombong, dan memiliki percaya yang luar biasa.

Begini. Pada hari pertama masuk ke kampus ITB, kami disambut oleh spanduk yang bertulisan “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa”. Bagaimana tidak besar kepala? Tidak hanya sampai disitu, di fakultas dan jurusan pun, mahasiswa/i baru dicekoki dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa.  Mahasiswa/i dengan kapasitasnya diharapkan menjadi agent of change. Luar biasa bukan?

Tapi, tidak semua mahasiswa/i ITB seperti pendapat si head hunter. Saya kenal banyak anak ITB yang humble, tidak sok tau, loyal, dan enak diajak kerjasama.  Mahasiswa/i tipe ini memang pembawaan aslinya begitu. Atau, mereka pernah bergelut di organisasi baik terpusat maupun himpunan dan unit yang sering terjun langsung ke masyarakat, mengerti kapasitas diri dan paham esensi pendidikan.

Nah, orang tua teman Saya memiliki suatu teori menarik mengapa di dunia kerja alumni ITB kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Begini, para fresh graduate adalah mantan penguasa di lingkungan kampus. Mereka sering dimintai saran dan pendapat dari junior baik dalam bidang pendidikan maupun organisasi. Para dosen pun mempercayai kemampuan keilmuan mahasiswa/i tersebut. Mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem, atau bahkan telah berhasil menjalankan suatu sistem. Ketika masuk ke dunia berbeda, mereka mengalami  post power syndrome.

Di dunia baru, alumni dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia tidak melulu dihuni oleh manusia rasional berbudi. Budaya pun berbeda. Kalau di kampus pendapat apapun amat dihargai, di dunia kerja, bukan pendapat terbaik yang dihargai, tapi siapa yang mengungkapkan akan lebih didengar.  Sistem yang adapun jelas-jelas berbeda. Sering Saya dengar, alumni menyalahkan sistem di tempat kerja bahkan sampai berusaha untuk mengubah sistem.  Alumni ini lupa, bahwa sistem yang ada telah teruji berpuluh-puluh tahun dan berhasil survive. Akhirnya, alumni ini tidak betah dan terus menerus mencari tempat kerja yang sesuai sampai terbentur kenyataan bahwa tempat yang dicari sebenarnya tidak pernah ada.

Teori yang menarik dan cukup mewakili keadaan alumni ITB.

Menurut Saya, dimanapun, tempat berkarya tidak ada yang pernah sempurna. Sebaiknya alumni belajar beradaptasi. Belajar untuk berdamai dengan sistem, lingkungan dan rekan kerja. Karena bagaimanapun, alumni sebetulnya belum mengenal & memahami sistem secara keseluruhan. Cobalah pendam rasa sombong dan sok tahu, karena merasa lebih dari orang lain akan menghalangi proses komunikasi & pembelajaran. Tapi, sesuai dengan tradisi cap gajah, lakukanlah yang terbaik, jangan cepat puas dengan rata-rata.

Namun begitu, jangan pernah melepaskan prinsip jaman mahasiswa. Karena, sehina-hinanya manusia, adalah manusia yang tidak punya prinsip. Apabila menemui kondisi yang membenturkan prinsip, peganglah prinsip walaupun pahit. Karena, kebesaran anak ITB bukan hanya terletak pada akal instrumentalnya, tapi jauh di nuraninya.

Bagaimanapun, kita adalah “putra putri terbaik bangsa” hehehehe. Sorry guys, I have to mention that, being arrogant is unavoidable for my  fellow ITBers 🙂

as we all said,

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.