Anak ITB

Ganesha

Ganesha

Anak ITB (red: alumni & mahasiswa) punya reputasi pongah luar biasa.  Pernah Saya membaca di suatu milis yang ditulis oleh head hunter mengenai sifat-sifat yang dimiliki oleh para anak gajah duduk. Congkak, sombong, merasa dirinya paling benar, sok tahu, kutu loncat, tidak bisa bekerja sama, pokoknya yang jelek-jelek menjadi predikat alumni Institut yang berada persis di samping Kebon Binatang Bandung ini.

Menurut Saya, Head hunter itu terlalu menggeneralisir , tapi dia tidak sepenuhnya salah.

Memang anak ITB terbentuk sok tau, sombong, dan memiliki percaya yang luar biasa.

Begini. Pada hari pertama masuk ke kampus ITB, kami disambut oleh spanduk yang bertulisan “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa”. Bagaimana tidak besar kepala? Tidak hanya sampai disitu, di fakultas dan jurusan pun, mahasiswa/i baru dicekoki dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa.  Mahasiswa/i dengan kapasitasnya diharapkan menjadi agent of change. Luar biasa bukan?

Tapi, tidak semua mahasiswa/i ITB seperti pendapat si head hunter. Saya kenal banyak anak ITB yang humble, tidak sok tau, loyal, dan enak diajak kerjasama.  Mahasiswa/i tipe ini memang pembawaan aslinya begitu. Atau, mereka pernah bergelut di organisasi baik terpusat maupun himpunan dan unit yang sering terjun langsung ke masyarakat, mengerti kapasitas diri dan paham esensi pendidikan.

Nah, orang tua teman Saya memiliki suatu teori menarik mengapa di dunia kerja alumni ITB kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Begini, para fresh graduate adalah mantan penguasa di lingkungan kampus. Mereka sering dimintai saran dan pendapat dari junior baik dalam bidang pendidikan maupun organisasi. Para dosen pun mempercayai kemampuan keilmuan mahasiswa/i tersebut. Mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem, atau bahkan telah berhasil menjalankan suatu sistem. Ketika masuk ke dunia berbeda, mereka mengalami  post power syndrome.

Di dunia baru, alumni dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia tidak melulu dihuni oleh manusia rasional berbudi. Budaya pun berbeda. Kalau di kampus pendapat apapun amat dihargai, di dunia kerja, bukan pendapat terbaik yang dihargai, tapi siapa yang mengungkapkan akan lebih didengar.  Sistem yang adapun jelas-jelas berbeda. Sering Saya dengar, alumni menyalahkan sistem di tempat kerja bahkan sampai berusaha untuk mengubah sistem.  Alumni ini lupa, bahwa sistem yang ada telah teruji berpuluh-puluh tahun dan berhasil survive. Akhirnya, alumni ini tidak betah dan terus menerus mencari tempat kerja yang sesuai sampai terbentur kenyataan bahwa tempat yang dicari sebenarnya tidak pernah ada.

Teori yang menarik dan cukup mewakili keadaan alumni ITB.

Menurut Saya, dimanapun, tempat berkarya tidak ada yang pernah sempurna. Sebaiknya alumni belajar beradaptasi. Belajar untuk berdamai dengan sistem, lingkungan dan rekan kerja. Karena bagaimanapun, alumni sebetulnya belum mengenal & memahami sistem secara keseluruhan. Cobalah pendam rasa sombong dan sok tahu, karena merasa lebih dari orang lain akan menghalangi proses komunikasi & pembelajaran. Tapi, sesuai dengan tradisi cap gajah, lakukanlah yang terbaik, jangan cepat puas dengan rata-rata.

Namun begitu, jangan pernah melepaskan prinsip jaman mahasiswa. Karena, sehina-hinanya manusia, adalah manusia yang tidak punya prinsip. Apabila menemui kondisi yang membenturkan prinsip, peganglah prinsip walaupun pahit. Karena, kebesaran anak ITB bukan hanya terletak pada akal instrumentalnya, tapi jauh di nuraninya.

Bagaimanapun, kita adalah “putra putri terbaik bangsa” hehehehe. Sorry guys, I have to mention that, being arrogant is unavoidable for my  fellow ITBers 🙂

as we all said,

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Iklan

9 responses to “Anak ITB

  1. kalo di blog ini ada aplikasi buat nge-like postingan kaya di facebook, rahmi klik dan!

    Rakhmi Ramdhani Said Halim likes this.

  2. halah, inspirasi nulis ini juga didapet dari elu ndut, pake muji-muji gak ikhlas segala 🙂

  3. haha jangan suuzan. itu ikhlas seikhlas-ikhlasnya banget siah dan.. dosa puasa-puasa suuzan, wkwk..

  4. Wah Jadi keinget,,,waktu itu pernah ada obrolan di PSDM tentang karakteristik lulusan dari ITB, UI, dan UGM,,dan karakteristik lulusan ITB yang dibicarain ya gini ini,,,cocok banget. Jadi emang udah menjadi stereotype yang melekat dan terbukti,,,hehe,,pisss ya mas 😀

  5. hahaha, kebanyakan emang seperti itu, tapi gak semua kok 🙂 emang sifat-sifat itu inherit & unavoidable buat alumni ITB bu 😛

  6. kemaren waktu di kereta, ketemu ama seorang ibu yang nikah ama orang jerman. si ibu ini cerita, kalo suaminya pernah kerja dengan orang ITB dan mengeluhkan betapa arogannya lulusan ITB. wah… arogansinya sudah mendunia ternyata (generalisasi dengan penggunaan kata ‘dunia’)

  7. sy punya rekan kerja lulusan ITB,sok paten,rada sedikit penjilat dan besar kepala.Tp mudah di”kempesin” sama anak UGM yg sering disebut kampus Ndeso.

  8. Halo,

    Salam kenal. Kami suka dengan tema tulisan kamu tentang pengalaman kamu di ITB.

    Begini, LPM ITB sedang membuat situs antarmuka untuk menjembatani mahasiswa- alumni ITB, dengan siswa SMU dari seluruh Indonesia, yang berminat ke ITB, untuk bisa bertukar informasi. Tujuannya, adalah untuk mengurangi kasus “salah pilih jurusan” sebelum memutuskan masuk ke ITB, juga membuat siswa SMU mengenal lebih dekat kehidupan mahasiswa ITB, dengan harapan, mereka bisa mengoptimalkan waktu belajarnya di kampus.

    Kami berusaha untuk mengurangi bias informasi seputar jurusan di ITB, bagi siswa SMU, sehingga mereka punya spektrum yang luas dan berimbang seputar disiplin jurusan, bahkan aktivitas mahasiswa ITB.

    Kalau Kamu bersedia, silakan berkunjung, berdiskusi, berbagi, dan jangan lupa untuk menjawab keingintahuan siswa- siswa SMU dari seluruh Indonesia, tentang ITB.

    Oh iya, tulisan ini juga bisa lho, kalau mau diposting .

    Regards,

    Layanan Produksi Multimedia ITB
    http://www.masukitb.com
    http://multimedia.itb.ac.id

  9. Terima kasih apresiasinya, oke nanti Saya cek ke situs masuk ITB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s