Tentang Impian

Dalam hidup ini, seringkali kita merasa kekurangan. Kadangkala, ketika telah mencapai sesuatu, Kita lupa untuk menengok ke belakang, menghargai setiap tetes keringat, darah yang tumpah, tubuh yang lelah, dan air mata yang mengalir. Selalu ada saja impian setelah impian, mimpi demi mimpi.

Disatu sisi, impian-impian itulah yang membuat Kita hidup, berpendar-pendar, membuat Kita berani bergulat dengan kehidupan yang tidak bisa ditebak. Tapi disisi lain, selalu ada yang dikorbankan untuk meraih impian; waktu, tenaga, uang, orang-orang yang dicintai, mungkin nurani.

Pertanyaannya, apakah yang dikorbankan setimpal dengan yang diraih?

Mungkin itu yang dialami Jacques Pangemanann —Tokoh dalam novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. Pangemanann adalah pribumi totok yang beruntung mendapatkan pendidikan eropa.  Mantan komisaris polisi ini memperoleh reputasi dan prestasi dengan menindas pribumi, kaumnya sendiri.

Diceritakan bahwa Pangemanann, arsitek segala kebijakan untuk mengekang pergerakan organisasi pada masa awal pertumbuhan nasionalisme di Hindia Belanda (Indonesia kala itu) menemukan bahwa kolonialisme Eropa tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan yang tumbuh di Eropa masa itu.  Dikatakan, kolonialisme dengan dalih mengenalkan kehidupan primordial dengan kehidupan modern, pada akhirnya hanya menjadi pemuas nafsu untuk menguasai, tanpa kepastian hukum, sama seperti Raja-raja  nenek moyang pribumi.

Pangemanann paham betul, dia hanyalah perpanjangan tangan kolonialisme. Pangemanann memilih setia kepada kolonialisme dan mengorbankan nuraninya. Memang, Pangemanann akhirnya menjadi seorang ahli kolonialisme anggota Algemene Secretariepenasihat Gurbenur Jenderal Hindia Belanda – yang umumnya hanya diduduki orang Eropa totok.

Harga yang dibayar sangat mahal, karena yang dikorbankan adalah nurani. Ternyata pengkhianatan terhadap nurani menimbulkan gejolak pemberontakan dalam diri yang hanya bisa diredam sementara oleh minuman keras. Dimulai dari sini, Pangemanann kehilangan segalanya; dirinya, keluarga, bahkan harta.

Pada tingkat tertentu, impian memang kadang membutakan, memakan dari dalam, dan pada akhirnya merusak.

Sedari kecil, Kita dibekali dengan pendidikan moral dan agama, bahwa yang benar harus ditegakkan dan yang salah harus dihindari. Kisah ini menunjukan bahwa pada kenyataannya, hal-hal yang benar memang sulit ditegakkan. Kitapun menjadi sadar, bahwa yang benar itu menjadi bermakna ketika kita mampu melaksanakannya, tidak hanya ada dalam teks, tidak hanya dalam ruang-ruang kelas, tidak hanya dalam sudut-sudut pikiran.

Saya jadi ingat Yudhistira. Ksatria dalam epik Mahabharata. Ia adalah ksatria yang paham bahwa posisi Raja dan panggilan dharma selalu bertentangan. Maka, Ia tak mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta dan perannya. Ia beranggapan bahwa orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s