Perahu Kertas

Perahu Kertas

Perahu Kertas

Novel ini membuktikan bahwa seorang Dewi Lestari mampu menulis lintas genre. Awalnya, Saya kaget ketika membaca novel yang berbeda dengan karya Dee sebelumnya. Dee membuat novel ini ringan, jenaka, khas anak muda, berbeda dengan Supernova.

Kita mengikuti perjalanan kedua tokoh utama, yaitu Kugy dan Keenan. Dee mengibaratkan tokoh ini berada dikedua kutub berlawanan dan bertemu ditengah kemustahilan. Menurut Saya,  kedua tokoh ini tidak betul-betul berada di kedua kutub berlawanan. Keduanya adalah artis, Kugy seorang penulis dongeng dan Keenan pelukis. Keduanya pandai mengekspresikan dirinya walaupun dengan media berbeda.

Secara teknis, penokohan, penyusunan plot, gaya bertutur,  drama yang dibangun, sampai klimaks, Perahu Kertas mengikuti pola yang lazim ditemui pada komik serial cantik. Cewek cantik periang yang tidak peduli penampilan dan cowok keturunan bule yang cool, pendiam dan misterius akhirnya saling jatuh cinta, terpagut asmara, tidak bisa terpisahkan. Dijamin, anda-anda yang menggemari serial cantik, pasti sangat menggemari novel ini.

Dee memang pandai memainkan emosi pembacanya, mulai dari kehidupan percintaan, keluarga, persahabatan, pengorbanan, cita-cita, ambisi. Ramuan bahan-bahan ini di tangan seorang Dee, menghasilkan karya yang memiliki daya magnet yang luar biasa. Perasaan pembaca serasa diaduk-aduk, diterbangkan dengan impian, sekaligus dihempaskan dengan kenyataan pahit yang selalu ada.

Novel ini memang memikat, ditengah aktivitas lebaran, saya mampu menyelesaikan 434 halaman dalam waktu tiga hari. Cuma novel-novel yang memiliki alur cerita memikat, penyusunan plot yang tertata dan pengembangan drama yang indah, yang mampu membuat saya tenggelam membaca sampai berjam-jam.

Namun, dibalik kemampuan tutur bercerita dan kepandaian memainkan emosi, sesungguhnya tidak banyak hal baru dari novel ini. Kehidupan percintaan, makna berkorban, menjadi diri sendiri, mengejar mimpi, sering kita dapati pada karya-karya lain.  Tapi ada satu hal yang menarik. Novel ini menyampaikan pesan bahwa hati tidak pernah akan bisa memilih, ia selalu berlabuh ke tempat yang sama. Hati tidak pernah memilih, ia dipilih. Saya suka perspektif ini, bahwa kemanapun hati kita pernah singgah, sesungguhnya ia selalu berlabuh ke tempat yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s