Kebahagiaan dan Absurditas

Beberapa hari lalu Saya membaca email yang dikirim oleh seorang kawan. Kurang lebih pesannya seperti ini;  seringkali kita berlari dan berlari tanpa mengatahui tujuan kita, dan ketika kita telah sampai diakhir ternyata kita sadar bukan hal itu yang kita cari selama ini. Kemudian, penulis mencoba menghubungkan kebahagiaan dengan mengerjakan hal-hal yang disukai. Terdengar indah dan menginspirasi memang, tapi sekaligus absurd. Di dunia yang selamanya tidak bisa ditebak dan chaotic, manusia mencoba mencari makna, mencari tujuan.  Seperti mencoba mendapatkan makna dari sesuatu yang sebetulnya tidak jelas, absurd.

Memiliki tujuan hidup memang membuat kita memiliki semangat ditengah ketidakpastian.  Saya berani bertaruh, hampir semua orang waras di dunia ini memiliki tujuan dalam hidupnya, entah itu sekedar untuk makan atau untuk menjadi sukses dan terkenal. Saya pun memiliki tujuan hidup, walaupun kemudian Saya sering mempertanyakan kembali tujuan hidup Saya.

Selama ini, Saya beranggapan bahwa mimpi-mimpi adalah tujuan hidup. Karir cemerlang dan hidup serba kecukupan adalah tujuan  Tapi kemudian  Saya pun menjadi ragu dan kembali mempertanyakan, karena pada akhirnya Saya pun akan terbentur tembok kenyataan. Karir tidak akan pernah selesai didaki, harta tidak akan habis dicari. Sejujurnya, Saya masih ragu dengan apa yang sebetulnya dicari.  Saya kerap mempertanyakan, mungkin dengan mempertanyakan apa yang sebetulnya dicari  semakin dekat atau bisa jadi akan semakin menjauh. Dan Saya pun terjebak dalam absurditas.

Apakah yang Saya cari itu kebahagiaan?

Di email itu, penulis mencoba menghubungkan kebahagiaan dengan melakukan hal-hal yang disukai. Katanya “Kebahagiaan dalam hidup ini akan dapat Anda raih bila Anda melakukan sesuatu yang benar-benar Anda nikmati”. Sepintas memang terdengar menginspirasi. Tapi, pada kenyataannya dunia tidak dapat ditebak, kebahagiaan tidak sesederhana itu, dan hal-hal yang benar-benar kita nikmati belum tentu menjamin kebahagiaan.  Seberapa keraspuun berusaha, pada akhirnya manusia dipaksa tunduk oleh sesuatu diluar kemampuan nalarnya, sesuatu yang mungkin kita namakan takdir atau kehendak Tuhan. Manusia selamanya hidup dalam absurditas.

Albert Camus,  dalam essai Le mhyte de sisyphe, menggambarkan ketidakberdayaan manusia terhadap sesuatu diluar nalar.  Sisyphus, sesorang yang dikutuk Dewa, selamanya hanya mendorong batu besar ke atas gunung hanya untuk melihatnya menggelinding ke bawah dan mendorongnya kembali. Pekerjaan yang sia-sia itu merupakan metafor dari kehidupan modern yang sehari-hari berjibaku dengan hal yang sama, berulang-ulang, absurd.

sisyphus

Pada akhirnya, pencarian kebahagian akan sampai pada kehampaan dan kesia-siaan. Mencoba menjelaskan tentang dunia dan kontradiksinya hanya akan membuat kebahagiaan semakin menjauh. Mungkin karena itulah Eleanor Roosevelt  percaya happiness is not a goal, it is a byproduct. Memang, orang-orang hebat di dunia yang menginspirasi adalah orang-orang yang tidak terobsesi dengan kebahagiaan itu sendiri,  melainkan mereka yang berani berjuang, melakukan perubahan dan bergulat dengan kehidupan. Bukan orang-orang yang terobsesi mengejar kebahagiaan.

Lucu memang ketika kita terobsesi mempelajari dan mengejar  kebahagiaan, semakin tidak bahagia kita dibuatnya, semakin membingungkan dan semakin absurd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s