Monthly Archives: Desember 2009

Ada Apa Denganmu Kawan?

Beberapa waktu lalu Saya ngobrol lewat telpon dengan sahabat Saya. Cukup lama kami berbicara, sekitar lima belas menit. Biasa, obrolan didahului dengan hal-hal ringan dan tak penting. Kemudian obrolan dilanjutan dengan celaan-celaan kejam yang menyerang fisik. Namun karena kami sahabat baik, Saya yakin dia tidak akan tersinggung. Itulah sifat yang Saya suka dari dia;  sangat terbuka, tidak sensitif dan pemarah, hanya tertawa saja.

Bosan saling ejek dan saling hina (walaupun lebih sering Saya yang mengejek),  pembicaraan pun masuk ke arena yang lebih berat; seorang teman menyebutnya sebagai quarter-life crisis. Krisis pada kaum muda usia duapuluhan —kebanyakan baru lulus kuliah — yang kaget ketika masuk ke dunia nyata dengan segala tanggung jawab dan problematikanya. Krisis ini bisa muncul pada macam-macam aspek kehidupan —karir, kehidupan percintaan, kestabilan emosi, ekspektasi dalam hidup — yang berpusat pada kenyataan bahwa akan selalu ada gap antara yang diharapkan dan kenyataan.

Quarter-life crisis

Tidak etis kalau Saya menyebutkan isi curhat sahabat Saya. Tapi  Saya menangkap jelas kekecewaan yang dalam, kekecewaan yang terjadi karena benturan dengan tembok kenyataan. Disinilah Saya melihat ada yang berubah pada sikapnya. Dia yang biasanya selalu positif ceria, mendadak menjadi pemurung yang mudah tersinggung, belum lagi sikapnya yang skeptis menghadapi hal positif yang coba saya suntikan.

Apa yang telah dunia lakukan kepadamu teman?

Saya pun khawatir, jangan-jangan ledekan kejam selama ini —yang Saya kira hanya lalu saja— ternyata mengendap dipikirannya dan menunggu saat yang tepat untuk membunuh sikap-sikap positif itu. Ah tidak mungkin rasanya, bukankah dia tahu kalau ledekan itu merupakan gaya Saya menunjukan keakraban. Jelas Saya tidak akan meledek seseorang kalau tidak terlalu akrab dengan orang tersebut. Iya kan?

Seperti layaknya teman yang baik, Saya pun mencoba memompa semangatnya dengan hal-hal yang sering orang bilang “Terus berusaha, kamu pasti bisa!” atau dengan “be positve !” tidak lupa dengan “jangan menyerah”.

Lama kelamaan Saya menyadari kekonyolan yang dilakukan. Seseorang harus berkata yang sejujurnya. Kata-kata manis itu berguna apabila sebelumnya kita menunjukan apa yang salah pada dirinya. Saya merasa bersalah melakukan hal konyol itu.

Saya merasa bersalah karena telah mencoba menyuntikan hal-hal positif yang tidak masuk akal. Itulah kebodohan yang sering kita lakukan. Sering kali, kala seseorang mengeluh kepada kita mengenai kerasnya hidup, kita malah menaik-naikan semangatnya dengan hal-hal yang sebetulnya kita sendiri tidak yakin. Akhirnya seseorang yang seharusnya sudah berputar dan mengambil jalan lain malah terpompa semangatnya untuk terus mendaki tanpa henti tebing yang terjal itu, yang kita sendiripun tidak mampu mendakinya. Apakah ia akan berhasil mendakinya? Pertanyaan ini harus dijawab dengan melihat lebih dalam ke dirinya. Jangan sampai kita meninggi-ninggikan harapan padahal kita tahu tebing itu tidak akan pernah mampu didaki.

Saya pun mengatakan yang sejujurnya. Kedengarannya memang kejam, tapi dengan begitu Saya berharap dia termotivasi untuk membuktikan bahwa yang Saya katakan tidak benar. Mudah-mudahan saja dia tidak bunuh diri di tengah keramaian seperti yang marak terjadi belakangan ini.

Bukankah itu  fungsi seorang sahabat? mengatakan yang sejujurnya ketika orang lain tidak ada yang berani mengatakan. Bukan memanis-maniskan kenyataan yang sebenarnya pahit.

Tapi keahlian Saya bukan hanya meledek dan mengatakan sesuatu dengan kejam. Sedikit banyak Saya memberikan jalan. Tapi Saya hanya memberikan jalan, bukan memutuskan jalan yang baik untuknya. Saya tidak mau merasa sebagai dewa penolong yang nasihatnya harus selalu didengar dan dilakukan.  Saya membiarkannya berpikir dewasa dan memilih untuk dirinya sendiri.

Dan lagi, Saya terus menjaga hubungan dengannya. Takut kecolongan kalau-kalau dia memang punya hasrat untuk bunuh diri di tempat ramai —walau Saya yakin dia tidak akan melakukannya. Kalaupun dia sampai melakukannya, kelak jika bertemu di akhirat nanti akan kuledek-ledek kau sampai menyesal pernah bunuh diri.

Ayolah! kembalilah seperti dulu. Janganlah terus menerus jadi pemurung yang sensitif. Saya tidak rela sahabat Saya yang periang dan menyenangkan direnggut oleh “real world“. Terlebih lagi, Saya tidak mau kehilangan target celaan favorit Saya.

Iklan

(500) Days of Summer

500 Days of Summer

Film ini adalah contoh yang baik tentang pemaknaan ulang happy ending.  Ya, memang Saya paling sebal sama film-film komedi romantis yang memakai formula itu-itu saja, pertemuan-jatuh cinta pandangan pertama-drama-akhirnya hidup happily ever after. basi!

Ah, Anda-anda pasti mencoba menganalisa apakah ini berhubungan dengan pengalaman buruk yang dialami? Tidak juga. Tak dipungkiri memang pengalaman yang membentuk persepsi mengenai kehidupan. Namun terlepas dari itu,  Saya selalu  percaya bahwa  selama Kita hidup di dunia yang tidak pasti ini, tidak akan pernah ada yang namanya happily ever after.

Film ini menceritakan tentang Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt), pria  menyedihkan dan sensitif yang mengira telah menemukan cinta sejati pada diri Summer Finn (Zooey Deschanel).

Tom , seorang berlatar pendidikan arsitektur yang menjadi tukang bikin kata-kata manis untuk perusahaan pembuat kartu ucapan, langsung jatuh cinta ketika melihat Summer di kantornya. Seiring berjalannya waktu, Kita bisa menebak kalau Summer yang misterius itu memang tertarik pada Tom. Namun, pada awal hubungan mereka pun, Summer sudah menegaskan kalau dia tidak mau ada ikatan dalam hubungan mereka. Summer tidak percaya pada ikatan.

Nah, itulah sumber masalahnya, Tom pun menjadi pria yang merengek-rengek dan sensitif. Tom menginginkan kejelasan mengenai hubungan mereka karena Tom menganggap sudah menemukan “cinta sejati” pada diri Summer. Dia terus menerus menuntut kejelasan kepada Summer mengenai hubungan mereka. Summer pun mengatakan “we’re just friends“. Tom merasa perlu curhat dengan adiknya, Rachel Hansen (Chloe Moretz) mengenai tingkah Summer. Rachel ternyata jauh lebih dewasa dari Kakaknya yang menyedihkan itu. Rachel memberikan pandangan rasional kepada Tom yang seharusnya memikirkan kembali mengenai Summer adalah  wanita yang tepat bagi Tom.

Secara teknis, film ini menampilkan cara bercerita yang menarik. Film ini menampilkan alur cerita yang tidak kronologis melainkan lompat-lompat, maju mundur dalam 500 hari bersama Summer. Adegan yang menampilkan hari bahagia bagi Tom kemudian lompat ke adegan dimana mereka putus, lalu kembali lagi ke hari-hari awal Tom mendekati Summer, lalu lompat lagi, kembali lagi, ditambah permainan animasi yang segar dan menarik yang disisipkan membuat film ini tidak membosankan dan sedap dipandang mata.

Film ini menyampaikan pesan bahwa hubungan timbal balik itu tidak bisa dipaksakan. Ada seusuatu dalam diri Summer yang menahannya untuk “resmi berpacaran” walaupun Tom sudah merasa Summer adalah “the one“. Makanya Summer selalu menghindar karena merasa belum menemukan apa yang dia cari dalam diri Tom.

Akhir yang Indah dalam suatu cerita tidak harus diakhiri dengan kebersamaan antara kedua tokoh utamanya. Itulah yang membedakan film ini dengan komedi romantis biasa. Film ini membuat anda berpikir ulang mengenai arti cinta dan jodoh. Dan lagi, film ini berakhir mengambang, bukan hidup bahagia selamanya. Itulah yang paling Saya suka dari film ini.

Kisah Itu

Kalau saja jalanan itu tak pernah ada, mungkin
kau tak akan melintas di sana dan bertemu aku. Tetapi jalanan itu terlanjur ada, maka bermulalah semuanya—kisah-kisah itu: harapan dan kecemasan itu.…

Iswadi Pratama

Hidup memang penuh kejutan. Sebelumnya, tidak pernah terbayang kalau Saya akan mencari nafkah di Ujung Kalimantan Timur. Di Kota yang namanya hanya pernah Saya di dengar di Liga Sepak Bola Indonesia.

Sudah hampir dua tahun Saya tinggal di kota ini. Kota yang bergeliat tumbuh ditopang Industri berbasis sumber daya alam. Entah apa yang terjadi pada kota ini bila suatu saat nanti sumber daya alam yang tak terbaharui itu habis dihisap mesin-mesin serakah. Mungin pada akhirnya Kota ini akan dilupakan, seperti orang tua yang diacuhkan ketika bercerita mengenai kejayaan masa lalunya.

Jauh dari hiruk pikuk Kota besar, Kota ini menyimpan kedamaiannya sendiri. Kedamaian yang menghanyutkan. Di kota inilah pertama kalinya Saya belajar hidup mapan, belajar hitung-hitungan investasi, belajar memikirkan masa depan dan akhirnya belajar berdamai dengan mimpi…. Sayapun menjadi takut akan kedamaian. Begitu takut kalau ternyata pada akhirnya mimpi-mimpi Saya yang harus dikorbankan untuk kedamaian ini..

Entah apa yang Saya cari. Apakah ini yang saya cari adalah kemapanan? kemampuan untuk memenuhi kebutuhan ? atau apakah yang dicari itu kebahagiaan yang absurd? Tak tahulah. Yang jelas, Saya harus lebih baik dari  ini. Selebihnya Saya serahkan kepada waktu.

Namun, Saya juga khawatir. Apakah waktu yang akhirnya menipu? Mungkinkah waktu membiarkan saya terhisap oleh kedamaian ini sehingga pada saatnya nanti Saya kehilangan keberanian?  Sayapun cemas, jangan-jangan Saya pun akan berakhir seperti orang-orang itu: yang bekerja untuk mengejar petang agar bisa santai-santai sambil minum teh dan nonton televisi.

Entahlah, yang Saya tahu pasti, bersama harapan ada kecemasan.

Begitu juga dengan kamu. Bukannya aku tidak mau. Tapi itulah, ada harapan dan kecemasan yang saling berpilin, saling meruntuhkan satu sama lain sehingga mengaburkan batas antara harapan dan kecemasan.

Bisakah kamu mengerti? bahwa selamanya aku berdiri di batas ituantara kecemasan dan harapan. Tidak ada yang pasti untukku, sayang. Tak ingin sebetulnya kukecewakan kamu. Tapi sudah terlanjur aku bertemu kamu….

Sudahlah, kubiarkan saja kisah itu membentuk dirinya.