Kisah Itu

Kalau saja jalanan itu tak pernah ada, mungkin
kau tak akan melintas di sana dan bertemu aku. Tetapi jalanan itu terlanjur ada, maka bermulalah semuanya—kisah-kisah itu: harapan dan kecemasan itu.…

Iswadi Pratama

Hidup memang penuh kejutan. Sebelumnya, tidak pernah terbayang kalau Saya akan mencari nafkah di Ujung Kalimantan Timur. Di Kota yang namanya hanya pernah Saya di dengar di Liga Sepak Bola Indonesia.

Sudah hampir dua tahun Saya tinggal di kota ini. Kota yang bergeliat tumbuh ditopang Industri berbasis sumber daya alam. Entah apa yang terjadi pada kota ini bila suatu saat nanti sumber daya alam yang tak terbaharui itu habis dihisap mesin-mesin serakah. Mungin pada akhirnya Kota ini akan dilupakan, seperti orang tua yang diacuhkan ketika bercerita mengenai kejayaan masa lalunya.

Jauh dari hiruk pikuk Kota besar, Kota ini menyimpan kedamaiannya sendiri. Kedamaian yang menghanyutkan. Di kota inilah pertama kalinya Saya belajar hidup mapan, belajar hitung-hitungan investasi, belajar memikirkan masa depan dan akhirnya belajar berdamai dengan mimpi…. Sayapun menjadi takut akan kedamaian. Begitu takut kalau ternyata pada akhirnya mimpi-mimpi Saya yang harus dikorbankan untuk kedamaian ini..

Entah apa yang Saya cari. Apakah ini yang saya cari adalah kemapanan? kemampuan untuk memenuhi kebutuhan ? atau apakah yang dicari itu kebahagiaan yang absurd? Tak tahulah. Yang jelas, Saya harus lebih baik dari  ini. Selebihnya Saya serahkan kepada waktu.

Namun, Saya juga khawatir. Apakah waktu yang akhirnya menipu? Mungkinkah waktu membiarkan saya terhisap oleh kedamaian ini sehingga pada saatnya nanti Saya kehilangan keberanian?  Sayapun cemas, jangan-jangan Saya pun akan berakhir seperti orang-orang itu: yang bekerja untuk mengejar petang agar bisa santai-santai sambil minum teh dan nonton televisi.

Entahlah, yang Saya tahu pasti, bersama harapan ada kecemasan.

Begitu juga dengan kamu. Bukannya aku tidak mau. Tapi itulah, ada harapan dan kecemasan yang saling berpilin, saling meruntuhkan satu sama lain sehingga mengaburkan batas antara harapan dan kecemasan.

Bisakah kamu mengerti? bahwa selamanya aku berdiri di batas ituantara kecemasan dan harapan. Tidak ada yang pasti untukku, sayang. Tak ingin sebetulnya kukecewakan kamu. Tapi sudah terlanjur aku bertemu kamu….

Sudahlah, kubiarkan saja kisah itu membentuk dirinya.

Iklan

5 responses to “Kisah Itu

  1. gaya bahasa seorang penulis labil yang mencoba kreatif. hm.. cukup berhasil. hahaha..

    bercanda dan. udah kerasa aura kreatifnya koq dan.. :)) juga lumayan kerasa kedalaman maknanya.

  2. lu suka nyambung-nyambungin aje ndut, hahahaha. Gak ada hubunganya kali antara ini dengan gw yang ngerasa kurang kreatif.

  3. bontang diam-diam menampakkan kuasanya…

  4. lu kenapa git?

  5. bontang menghanyutkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s