Ada Apa Denganmu Kawan?

Beberapa waktu lalu Saya ngobrol lewat telpon dengan sahabat Saya. Cukup lama kami berbicara, sekitar lima belas menit. Biasa, obrolan didahului dengan hal-hal ringan dan tak penting. Kemudian obrolan dilanjutan dengan celaan-celaan kejam yang menyerang fisik. Namun karena kami sahabat baik, Saya yakin dia tidak akan tersinggung. Itulah sifat yang Saya suka dari dia;  sangat terbuka, tidak sensitif dan pemarah, hanya tertawa saja.

Bosan saling ejek dan saling hina (walaupun lebih sering Saya yang mengejek),  pembicaraan pun masuk ke arena yang lebih berat; seorang teman menyebutnya sebagai quarter-life crisis. Krisis pada kaum muda usia duapuluhan —kebanyakan baru lulus kuliah — yang kaget ketika masuk ke dunia nyata dengan segala tanggung jawab dan problematikanya. Krisis ini bisa muncul pada macam-macam aspek kehidupan —karir, kehidupan percintaan, kestabilan emosi, ekspektasi dalam hidup — yang berpusat pada kenyataan bahwa akan selalu ada gap antara yang diharapkan dan kenyataan.

Quarter-life crisis

Tidak etis kalau Saya menyebutkan isi curhat sahabat Saya. Tapi  Saya menangkap jelas kekecewaan yang dalam, kekecewaan yang terjadi karena benturan dengan tembok kenyataan. Disinilah Saya melihat ada yang berubah pada sikapnya. Dia yang biasanya selalu positif ceria, mendadak menjadi pemurung yang mudah tersinggung, belum lagi sikapnya yang skeptis menghadapi hal positif yang coba saya suntikan.

Apa yang telah dunia lakukan kepadamu teman?

Saya pun khawatir, jangan-jangan ledekan kejam selama ini —yang Saya kira hanya lalu saja— ternyata mengendap dipikirannya dan menunggu saat yang tepat untuk membunuh sikap-sikap positif itu. Ah tidak mungkin rasanya, bukankah dia tahu kalau ledekan itu merupakan gaya Saya menunjukan keakraban. Jelas Saya tidak akan meledek seseorang kalau tidak terlalu akrab dengan orang tersebut. Iya kan?

Seperti layaknya teman yang baik, Saya pun mencoba memompa semangatnya dengan hal-hal yang sering orang bilang “Terus berusaha, kamu pasti bisa!” atau dengan “be positve !” tidak lupa dengan “jangan menyerah”.

Lama kelamaan Saya menyadari kekonyolan yang dilakukan. Seseorang harus berkata yang sejujurnya. Kata-kata manis itu berguna apabila sebelumnya kita menunjukan apa yang salah pada dirinya. Saya merasa bersalah melakukan hal konyol itu.

Saya merasa bersalah karena telah mencoba menyuntikan hal-hal positif yang tidak masuk akal. Itulah kebodohan yang sering kita lakukan. Sering kali, kala seseorang mengeluh kepada kita mengenai kerasnya hidup, kita malah menaik-naikan semangatnya dengan hal-hal yang sebetulnya kita sendiri tidak yakin. Akhirnya seseorang yang seharusnya sudah berputar dan mengambil jalan lain malah terpompa semangatnya untuk terus mendaki tanpa henti tebing yang terjal itu, yang kita sendiripun tidak mampu mendakinya. Apakah ia akan berhasil mendakinya? Pertanyaan ini harus dijawab dengan melihat lebih dalam ke dirinya. Jangan sampai kita meninggi-ninggikan harapan padahal kita tahu tebing itu tidak akan pernah mampu didaki.

Saya pun mengatakan yang sejujurnya. Kedengarannya memang kejam, tapi dengan begitu Saya berharap dia termotivasi untuk membuktikan bahwa yang Saya katakan tidak benar. Mudah-mudahan saja dia tidak bunuh diri di tengah keramaian seperti yang marak terjadi belakangan ini.

Bukankah itu  fungsi seorang sahabat? mengatakan yang sejujurnya ketika orang lain tidak ada yang berani mengatakan. Bukan memanis-maniskan kenyataan yang sebenarnya pahit.

Tapi keahlian Saya bukan hanya meledek dan mengatakan sesuatu dengan kejam. Sedikit banyak Saya memberikan jalan. Tapi Saya hanya memberikan jalan, bukan memutuskan jalan yang baik untuknya. Saya tidak mau merasa sebagai dewa penolong yang nasihatnya harus selalu didengar dan dilakukan.  Saya membiarkannya berpikir dewasa dan memilih untuk dirinya sendiri.

Dan lagi, Saya terus menjaga hubungan dengannya. Takut kecolongan kalau-kalau dia memang punya hasrat untuk bunuh diri di tempat ramai —walau Saya yakin dia tidak akan melakukannya. Kalaupun dia sampai melakukannya, kelak jika bertemu di akhirat nanti akan kuledek-ledek kau sampai menyesal pernah bunuh diri.

Ayolah! kembalilah seperti dulu. Janganlah terus menerus jadi pemurung yang sensitif. Saya tidak rela sahabat Saya yang periang dan menyenangkan direnggut oleh “real world“. Terlebih lagi, Saya tidak mau kehilangan target celaan favorit Saya.

Iklan

4 responses to “Ada Apa Denganmu Kawan?

  1. rahmi?
    kurang makan dia

  2. elu juga masuk Cim, hihihihi

  3. bilang aja lagi curhat

  4. ah.. kebanyakan nonton berita bunuh diri di mall-mall jakarta kamu dan. lagian masa’ sampe akhirat kamu masih mau jadi tukang caci.. ck ck ck.. :))

    *thanks anyway 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s