Monthly Archives: Januari 2010

Perhatian: Orangutan di Kompleks PCVI PKT!

Siang itu, tidak seperti biasanya Saya salat Jum’at di masjid Baiturrahman kompleks PCVI PKT. Lepas salat, Saya langsung berangkat ke kantor. Nah, pada saat Saya melewati kolam pemancingan Arwana komplek PCVI, tampak sesosok makhluk berbulu cokelat besar sedang memanjat pohon. Kaget, Saya pun langsung menepi dan keluar dari mobil. Ternyata tidak salah dugaan Saya, yang terlihat tadi adalah orangutan jantan dewasa.

Orangutan

Foto di atas didapat dari kamera telepon genggam bapuk milik Saya, sementara foto di bawah didapat dari mesin pencari Google sebagai pelengkap foto Saya yang tidak jelas.

male orangutan

Orangutan jantan —terlihat dari bantalan di pipi —berbobot sekitar 150 kg nampak terganggu akan kehadiran saya. Dia pun mendengus-dengus, mungkin mencoba mengintimidasi. Saya pun mundur beberapa langkah khawatir dia menyerang. Tidak lama kemudian satu pengendara motorpun berhenti untuk melihat, dan disusul beberapa kendaraan lain. Saya pun menjadi khawatir orangutan ini merasa terganggu dan menjadi agresif.

Kemudian Saya melapor ke satpam untuk memberitahu ada orangutan jantan dewasa di pinggir jalan raya. Si satpam hanya tertawa dan berkata “sudah biasa itu mas”. Dia bercerita bahwa sering terlihat orangutan di daerah itu. Yang besar, ada di sisi kanan jalan. Yang lebih kecil berada di sisi kiri jalan. Dia juga mengatakan bahwa di hutan belakang water treatment PCVI masih suka terlihat beruang madu. Dia mengatakan bahwa orangutan besar ini kemungkinan berasal dari kebon binatang yang dahulu terdapat di belakang  Jl. Manggar PCVI PKT

Menarik sekali, ternyata daerah perumahan PCVI, masih terdapat “penghuni asli” hutan Kalimantan Timur. Dan lagi, Saya belum pernah melihat lokasi bekas kebon binatang tersebut. Saya menjadi tertantang untuk melihatnya. Saya berencana untuk melihat dan menjelajahi lokasi itu setelah pulang kerja. Karena sudah pukul 13.30 akhirnya Saya memutuskan segera kembali ke kantor

***

Saya kembali ke kantor dengan perasaan khawatir akan keselamatan hewan menakjubkan tersebut. Sayapun bercerita kepada kawan-kawan Saya di Kantor. Beberapa orang nampak tertarik dengan cerita Saya. Tapi sebagian besar cenderung kurang lebih bersikap seperti ini”ngapain sih capek-capek mikirin orangutan” atau “segitunya ya”?

Saya punya berbagai alasan kenapa Saya peduli. Pertama, karena hewan ini sudah dalam kategori terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Orangutan juga masuk dalam daftar merah IUCN (International Union of Conservation Nature) spesies-spesies yang terancam punah. Artinya, keberadaan makhluk hidup ini diawasi oleh negara dan masyarakat internasional. Tindakan yang membahayakan kehidupan orangutan dapat mengakibatkan hukuman pidana dan kecaman dari masyarakat internasional.

Kedua, karena Saya sudah menyaksikan sendiri betapa hewan ini sangat menganggumkan. Dua tahun di Kalimantan Timur, Saya sudah menyambangi dua pusat konservasi Orangutan. Yang paling mengesankan adalah ketika Saya mengunjungi Taman Nasional Kutai pos Prevab. Disana, Saya mengikuti peneliti dari Jepang dalam riset jangka panjang mengenai perilaku orangutan. Ya, Saya benar-benar melihat orangutan liar yang hidup di alamnya. Menyaksikan bagaimana orangutan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain, membuat tempat tidur menjelang malam lengkap dengan “payung” yang disusunnya sendiri dari ranting-ranting pohon untuk melindunginya dari hujan, melihat jantan yang egois memaksa betina untuk kawin (yup, I actually saw orangutan mating, live!), membuat Saya takjub akan kecerdasan makhluk ini.

Untuk semua geliat pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan pengingkatan kesejahteraan di wilayah Kalimantan Timur, kita telah mengorbankan ekosistem yang telah terbentuk sejak puluhan juta tahun silam. Termasuk didalamnya koevolusi antara mahkluk dan lingkungan hidupnya.  Orangutan yang tidak berdosa itu kehilangan tempat tinggal akibat tabiat manusia yang rakus. Kalau orangutan bisa berserikat dan berkumpul, sudah dituntutnya kita ke pengadilan karena merampas rumah dan hak-hak hidup mereka.

Ketiga, orangutan adalah salah satu warisan kekayaan bumi yang tidak ternilai. Tidakkah menakjubkan bahwa di dunia ini, orangutan  hanya terdapat di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Bukankah itu menunjukan bahwa keunikan ekosistem dan panjangnya sejarah hubungan antara orangutan dan lingkungannya yang menyebabkan orangutan tersebut bisa survive hanya di dua Pulau tersebut. Apa hak kita memutus hubungan unik antara makhluk hidup dan lingkungannya?

***

Tidak arif rasanya bila kita tidak peduli terhadap kelangsungan hidup orangutan. Beberapa orang mungkin bertanya Apa manfaat langsung dari keberadaan orangutan bagi kehidupan manusia? Walaupun orangutan punah, sepertinya secara langsung tidak akan mempengaruhi perkembangan peradaban umat manusia.

Namun disisi lain, ketidakmampuan untuk menyisihkan ruang untuk hidup orangutan menandakan kegagalan peran kita sebagai makhluk superior yang seharusnya menjaga keseimbangan di Bumi. Ditambah lagi, tidakkah nanti kitabersalah kepada generasi peneruskarena tidak mampu menjaga kelangsungan hidup makhluk-makhluk mengagumkan di dunia. Akankah keturunan kita tau orangutan lewat mitos, cerita bergambar dan layar televisi?

Memperebutkan Tuhan

Pada penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur Ke Jakarta beberapa waktu lalu, mata Saya terpaku pada satu halaman pada harian The New Strait Times. Koran Malaysia berbahasa Inggris tersebut memberitakan tentang pembakaran tiga gereja yang ditenggarai akibat kisruh penggunaan nama “Allah” oleh umat Katolik di Kuala Lumpur, Malaysia.

Dikabarkan bahwa pembakaran gereja tersebut akibat tulisan pada majalah Katolik Herald edisi bahasa melayu yang menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan. Biasanya majalah ini terbit dalam bahasa inggris yang menyebut Tuhan dengan “God” atau “Lord”.

Saya tidak mengerti kenapa masalah ini bisa sampai menyebabkan rumah ibadah umat Katolik terbakar. Beberapa pihak berspekulasi bahwa ini merupakan isu politik yang dihembuskan oleh partai pendukung pemerintah yang merasa terancam posisinya karena tekanan yang kuat dari partai oposisi. Perlu diketahui bahwa Pemerintah Malaysia didukung partai berkuasa yang mendorong pengeksklusifkan kata “Allah”. Namun, pengadilan Malaysia tidak menyetujuinya lantaran tidak ada masuk akal dan tidak punya landasan konstitusional.

Saya tidak mengikuti perkembangan politik di Malaysia. Tapi hal ini mengindikasikan bahwa kekerasan atas nama agama dapat terjadi karena gesekan kecil antara umat beragama. Bahkan jika benar hal itu bisa dipolitisir, berarti isu agama dapat dimain-mainkan demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Pihak  pendukung pengeksklusifan kata “Allah” berpendapat bahwa isu ini vital karena menyangkut keesaan Tuhan. Saya menangkap adanya kekhawatiran bahwa umat Islam di Malaysia takut apabila kata “Allah” yang digunakan oleh umat lain akan mengakibatkan kebingungan di umat Islam karena “Allah” mereka sebut ternyata berbeda dengan “Allah” umat Katolik, seakaan-akan Tuhan punya banyak rupa dan wujud.

Saya pun harus mempertanyakan kembali konsep keesaan yang dianut para pendukung pengeksklusifan penggunaan “Allah”. Memangnya Tuhan ada berapa ? Menurut Saya, apapun panggilan-Nya, Tuhan umat Islam, Nasrani dan agama-agama lain di dunia ini adalah Tuhan yang Maha Esa. Pengejawantahannya yang berbeda. Tentu Saya tidak setuju jika dikatakan semua agama adalah sama. Agama bersifat partikular dengan kekhasannya masing-masing.

Tuhan bukan seperti yang digambarkan oleh Nietzsche dalam karyanya yang mahsyur Also Sprach Zarathustra. Tuhan muram dan pencemburu yang membunuh tuhan-tuhan lain karena  marah melihat manusia menyembah tuhan-tuhan lain. Dan tuhan-tuhan lainpun mati karena tertawa geli.

“Allah” seakan-akan merupakan sosok baru yang diperkenalkan umat muslim ke dalam dunia yang telah penuh sesak oleh tuhan-tuhan lain. Tuhan orang Islam ini dipersepsikan amat pemarah sehingga apabila ada kaum lain yang menggunakan nama-Nya harus diberi hukuman yang seberat-beratnya, kalau perlu dimusnahkan.

Stereotip Muslim Dunia

Stereotip Muslim Dunia

Menggelikan sekali melihat umat-umat beragama di dunia saling bunuh sementara Tuhan membebaskan manusia untuk beragama. Ternyata di Dunia ini  masih ada orang-orang yang memilih untuk saling bunuh atas nama Tuhan. Lebih jauh lagi Tuhan pun menjadi justifikasi untuk memenuhi hawa nafsu —mendulang suara saat pemilihan, memperistri perempuan sebanyak-banyaknya, memperluas daerah kekuasaan, mencari harta dengan rakus— orang-orang picik.

Dan itulah saat sebenarnya kita sudah meninggalkan Tuhan.

New Year’s Resolution

I believe there is a trade-off for something you want to achieve. To have a good career, for example, you have to sacrifice your personal life, vice versa. In the last six years i have always made resolutions. Though i rarely back-tracked and evaluated it. I came to know that most of them are unattainable resolutions. Because some of them are paradoxal.

How could you possibly want to have good career while you wish to travel a lot and have a good relationship with your significant others. I found it really stupid. If you wanna have good career, just stay focus on your career and don’t let anyone get in your way. If you want to have good relationship don’t be too ambitious in your career, then you will have a beautiful love life.

And my new year resolution is not to make another stupid thwarted resolution such as:

  1. Be a better person. The more i get older, the more i believe that nice guys always finish last. In this evil world, to achieve something, I believe you have to be more cruel. If you wanna be nice guys just stay away from the real world and make friends with Disney’s characters. There you will find your own place.
  2. Quit smoking, which i will never could
  3. Travel more. Well, i only have 4 days offs until October this year, so tell me how am I able to travel more? Silly.
  4. Get a girl. Seriously this is the most stupid resolution i have ever made in my  life. What was i thinking? To have someone in your life is unpredictable, no target should be made. What am I, God.

What I really want for 2010 is to know my self better. Why? because things i have mentioned above are not my true resolutions. Those are everyone-around-me’s resolution. I have to stop doing things like everybody expect me to, it is tiring. I have got to know my self.

How am i gonna know my self better? that’s a good question, hmmm,  I still don’t know how. Though I will figure out later if it is possible

Well, if it is not possible, I can always switch my mode into artificial and superficial resolutions. And it sounds more positive and up-beat as everybody wants me to be.