Memperebutkan Tuhan

Pada penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur Ke Jakarta beberapa waktu lalu, mata Saya terpaku pada satu halaman pada harian The New Strait Times. Koran Malaysia berbahasa Inggris tersebut memberitakan tentang pembakaran tiga gereja yang ditenggarai akibat kisruh penggunaan nama “Allah” oleh umat Katolik di Kuala Lumpur, Malaysia.

Dikabarkan bahwa pembakaran gereja tersebut akibat tulisan pada majalah Katolik Herald edisi bahasa melayu yang menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan. Biasanya majalah ini terbit dalam bahasa inggris yang menyebut Tuhan dengan “God” atau “Lord”.

Saya tidak mengerti kenapa masalah ini bisa sampai menyebabkan rumah ibadah umat Katolik terbakar. Beberapa pihak berspekulasi bahwa ini merupakan isu politik yang dihembuskan oleh partai pendukung pemerintah yang merasa terancam posisinya karena tekanan yang kuat dari partai oposisi. Perlu diketahui bahwa Pemerintah Malaysia didukung partai berkuasa yang mendorong pengeksklusifkan kata “Allah”. Namun, pengadilan Malaysia tidak menyetujuinya lantaran tidak ada masuk akal dan tidak punya landasan konstitusional.

Saya tidak mengikuti perkembangan politik di Malaysia. Tapi hal ini mengindikasikan bahwa kekerasan atas nama agama dapat terjadi karena gesekan kecil antara umat beragama. Bahkan jika benar hal itu bisa dipolitisir, berarti isu agama dapat dimain-mainkan demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Pihak  pendukung pengeksklusifan kata “Allah” berpendapat bahwa isu ini vital karena menyangkut keesaan Tuhan. Saya menangkap adanya kekhawatiran bahwa umat Islam di Malaysia takut apabila kata “Allah” yang digunakan oleh umat lain akan mengakibatkan kebingungan di umat Islam karena “Allah” mereka sebut ternyata berbeda dengan “Allah” umat Katolik, seakaan-akan Tuhan punya banyak rupa dan wujud.

Saya pun harus mempertanyakan kembali konsep keesaan yang dianut para pendukung pengeksklusifan penggunaan “Allah”. Memangnya Tuhan ada berapa ? Menurut Saya, apapun panggilan-Nya, Tuhan umat Islam, Nasrani dan agama-agama lain di dunia ini adalah Tuhan yang Maha Esa. Pengejawantahannya yang berbeda. Tentu Saya tidak setuju jika dikatakan semua agama adalah sama. Agama bersifat partikular dengan kekhasannya masing-masing.

Tuhan bukan seperti yang digambarkan oleh Nietzsche dalam karyanya yang mahsyur Also Sprach Zarathustra. Tuhan muram dan pencemburu yang membunuh tuhan-tuhan lain karena  marah melihat manusia menyembah tuhan-tuhan lain. Dan tuhan-tuhan lainpun mati karena tertawa geli.

“Allah” seakan-akan merupakan sosok baru yang diperkenalkan umat muslim ke dalam dunia yang telah penuh sesak oleh tuhan-tuhan lain. Tuhan orang Islam ini dipersepsikan amat pemarah sehingga apabila ada kaum lain yang menggunakan nama-Nya harus diberi hukuman yang seberat-beratnya, kalau perlu dimusnahkan.

Stereotip Muslim Dunia

Stereotip Muslim Dunia

Menggelikan sekali melihat umat-umat beragama di dunia saling bunuh sementara Tuhan membebaskan manusia untuk beragama. Ternyata di Dunia ini  masih ada orang-orang yang memilih untuk saling bunuh atas nama Tuhan. Lebih jauh lagi Tuhan pun menjadi justifikasi untuk memenuhi hawa nafsu —mendulang suara saat pemilihan, memperistri perempuan sebanyak-banyaknya, memperluas daerah kekuasaan, mencari harta dengan rakus— orang-orang picik.

Dan itulah saat sebenarnya kita sudah meninggalkan Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s