Perhatian: Orangutan di Kompleks PCVI PKT!

Siang itu, tidak seperti biasanya Saya salat Jum’at di masjid Baiturrahman kompleks PCVI PKT. Lepas salat, Saya langsung berangkat ke kantor. Nah, pada saat Saya melewati kolam pemancingan Arwana komplek PCVI, tampak sesosok makhluk berbulu cokelat besar sedang memanjat pohon. Kaget, Saya pun langsung menepi dan keluar dari mobil. Ternyata tidak salah dugaan Saya, yang terlihat tadi adalah orangutan jantan dewasa.

Orangutan

Foto di atas didapat dari kamera telepon genggam bapuk milik Saya, sementara foto di bawah didapat dari mesin pencari Google sebagai pelengkap foto Saya yang tidak jelas.

male orangutan

Orangutan jantan —terlihat dari bantalan di pipi —berbobot sekitar 150 kg nampak terganggu akan kehadiran saya. Dia pun mendengus-dengus, mungkin mencoba mengintimidasi. Saya pun mundur beberapa langkah khawatir dia menyerang. Tidak lama kemudian satu pengendara motorpun berhenti untuk melihat, dan disusul beberapa kendaraan lain. Saya pun menjadi khawatir orangutan ini merasa terganggu dan menjadi agresif.

Kemudian Saya melapor ke satpam untuk memberitahu ada orangutan jantan dewasa di pinggir jalan raya. Si satpam hanya tertawa dan berkata “sudah biasa itu mas”. Dia bercerita bahwa sering terlihat orangutan di daerah itu. Yang besar, ada di sisi kanan jalan. Yang lebih kecil berada di sisi kiri jalan. Dia juga mengatakan bahwa di hutan belakang water treatment PCVI masih suka terlihat beruang madu. Dia mengatakan bahwa orangutan besar ini kemungkinan berasal dari kebon binatang yang dahulu terdapat di belakang  Jl. Manggar PCVI PKT

Menarik sekali, ternyata daerah perumahan PCVI, masih terdapat “penghuni asli” hutan Kalimantan Timur. Dan lagi, Saya belum pernah melihat lokasi bekas kebon binatang tersebut. Saya menjadi tertantang untuk melihatnya. Saya berencana untuk melihat dan menjelajahi lokasi itu setelah pulang kerja. Karena sudah pukul 13.30 akhirnya Saya memutuskan segera kembali ke kantor

***

Saya kembali ke kantor dengan perasaan khawatir akan keselamatan hewan menakjubkan tersebut. Sayapun bercerita kepada kawan-kawan Saya di Kantor. Beberapa orang nampak tertarik dengan cerita Saya. Tapi sebagian besar cenderung kurang lebih bersikap seperti ini”ngapain sih capek-capek mikirin orangutan” atau “segitunya ya”?

Saya punya berbagai alasan kenapa Saya peduli. Pertama, karena hewan ini sudah dalam kategori terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang No.5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Orangutan juga masuk dalam daftar merah IUCN (International Union of Conservation Nature) spesies-spesies yang terancam punah. Artinya, keberadaan makhluk hidup ini diawasi oleh negara dan masyarakat internasional. Tindakan yang membahayakan kehidupan orangutan dapat mengakibatkan hukuman pidana dan kecaman dari masyarakat internasional.

Kedua, karena Saya sudah menyaksikan sendiri betapa hewan ini sangat menganggumkan. Dua tahun di Kalimantan Timur, Saya sudah menyambangi dua pusat konservasi Orangutan. Yang paling mengesankan adalah ketika Saya mengunjungi Taman Nasional Kutai pos Prevab. Disana, Saya mengikuti peneliti dari Jepang dalam riset jangka panjang mengenai perilaku orangutan. Ya, Saya benar-benar melihat orangutan liar yang hidup di alamnya. Menyaksikan bagaimana orangutan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain, membuat tempat tidur menjelang malam lengkap dengan “payung” yang disusunnya sendiri dari ranting-ranting pohon untuk melindunginya dari hujan, melihat jantan yang egois memaksa betina untuk kawin (yup, I actually saw orangutan mating, live!), membuat Saya takjub akan kecerdasan makhluk ini.

Untuk semua geliat pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan pengingkatan kesejahteraan di wilayah Kalimantan Timur, kita telah mengorbankan ekosistem yang telah terbentuk sejak puluhan juta tahun silam. Termasuk didalamnya koevolusi antara mahkluk dan lingkungan hidupnya.  Orangutan yang tidak berdosa itu kehilangan tempat tinggal akibat tabiat manusia yang rakus. Kalau orangutan bisa berserikat dan berkumpul, sudah dituntutnya kita ke pengadilan karena merampas rumah dan hak-hak hidup mereka.

Ketiga, orangutan adalah salah satu warisan kekayaan bumi yang tidak ternilai. Tidakkah menakjubkan bahwa di dunia ini, orangutan  hanya terdapat di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Bukankah itu menunjukan bahwa keunikan ekosistem dan panjangnya sejarah hubungan antara orangutan dan lingkungannya yang menyebabkan orangutan tersebut bisa survive hanya di dua Pulau tersebut. Apa hak kita memutus hubungan unik antara makhluk hidup dan lingkungannya?

***

Tidak arif rasanya bila kita tidak peduli terhadap kelangsungan hidup orangutan. Beberapa orang mungkin bertanya Apa manfaat langsung dari keberadaan orangutan bagi kehidupan manusia? Walaupun orangutan punah, sepertinya secara langsung tidak akan mempengaruhi perkembangan peradaban umat manusia.

Namun disisi lain, ketidakmampuan untuk menyisihkan ruang untuk hidup orangutan menandakan kegagalan peran kita sebagai makhluk superior yang seharusnya menjaga keseimbangan di Bumi. Ditambah lagi, tidakkah nanti kitabersalah kepada generasi peneruskarena tidak mampu menjaga kelangsungan hidup makhluk-makhluk mengagumkan di dunia. Akankah keturunan kita tau orangutan lewat mitos, cerita bergambar dan layar televisi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s