Monthly Archives: Februari 2010

Seni Menunda

Saya memiliki kebiasaan buruk yaitu menginginkan banyak hal pada saat yang bersamaan. Contohnya, pada akhir pekan yang damai ini Saya sudah mempunyai sederet aktivitas yang mau dikerjakan; nonton film, melanjutkan baca buku, baca majalah, berkebun, menulis. Nah kalau sudah begini Saya sudah hapal betul ujungnya, yaitu malah mengerjakan hal lain di luar keinginan yang tadi itu; tidur, nonton televisi atau liat-liat berita di internet sambil mencoba memutuskan apa yang akan dikerjakan terlebih dahulu.

Kebiasaan ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan karena sudah sering terjadi. Pada akhirnya, Saya sendirilah yang menyesal karena kebiasaan menunda-nunda tersebut. Pekerjaan yang harusnya hanya memakan waktu tidak lebih dari setengah jam malah menghabiskan dua hari untuk menyelesaikannya.

Sejak kecil Saya memang sering menunda pekerjaan. Ibu kerap kali memarahi Saya ketika itu, “Wil ayo cepet salat!”  atau “Wil ayo makan”!, Saya yang sedang keasyikan mengerjakan sesuatu (biasanya nonton tivi atau main game) langsung membantah dan mengungkapkan berbagai alasan. Mungkin kebiasaan yang Saya pupuk dari kecil tersebut yang menyulitkan Saya sekarang. Bisa juga karena Saya merasa kegiatan itu tidak penting makanya Saya tunda. Well , benar,  untuk hal-hal yang teramat penting dan mendesak terutama yang  menyangkut pekerjaan atau kepentingan orang banyak, pantang bagi Saya untuk menunda. Permasalahan muncul ketika Saya dihadapkan pada permasalahan yang penting tapi tidak mendesak atau permasalahan tidak penting dan tidak mendesak, ya seperti mengisi waktu luang saat akhir pekan itu tadi.

Padahal, Saya sudah berupaya mengekang keinginan yang berlebih itu dengan membuat jadwal berdasarkan  skala prioritas. Tapi tetap saja keinginan-keinginan itu meloncat-loncat tak terkendali. Contohnya ketika saya sedang menonton film. Tiba-tiba ada satu bagian di film itu yang mengingatkan saya pada satu bab di buku Critical thinking. Tanpa pikir panjang,  Saya buka buku itu dan mulai membaca. Tidak lama kemudian, Saya nyalakan laptop dan mulai berselancar mengenai salah satu hal di buku tersebut.  Tanpa disadari, Saya pun malah keasyikan membuka halaman web mengenai liga inggris di Internet. Beberapa jam kemudian, Sayapun tersadar kalau film yang ditonton tadi belum selesai dan hal yang Saya kerjakan beberapa jam yang lalu  sama sekali gak nyambung.

Walaupun itu adalah hal-hal kecil yang tidak penting, tetap saja Saya pusing dibuatnya. Padahal saat liburan, hal yang paling Saya inginkan adalah mengerjakan hal-hal yang sulit dilakukan ketika hari kerja. Tapi saking banyaknya yang ingin dilakukan, akhirnya Saya malah tidak sempat mengerjakan apa-apa karena sibuk memikirkan mana yahng sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Kalaupun dikerjakan pasti tidak selesai karena kebiasaan Saya yang suka beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Ah sudahlah, lebih baik saya lanjutkan saja baca buku yang sempat tertunda gara-gara tulisan ini. Tadi sampai dimana ya?

Stay hungry Stay Foolish

There will be days when you feel like don’t know what are you doing in your life. You are stuck. You will be asking yourself whether you have made right decisions, were you in the right path, were you doing the right thing, were you truly enjoying what you were doing.

Steve Jobs told us a good story about his life. In 2005, Jobs gave speech at Standford University’s graduation. He gave us three stories. The first one about connecting the dot, the second one is about love and loss, and the third one is about death. Check out the video below.

Overall in his speech, Steve Jobs reminds us to find what we love. Work will take a large portion of our life. It would be such a waste if we spent most of our life doing things we don’t like. Living behind anyone’s shadow, following other people’s thought, trapped in dogma created by others are worthless. That is why we have to find what we love and show the world who we really are.  What if we haven’t found what we love? We have to keep looking and don’t settle. In our journey sometimes we just have to trust our gut. Who knows what we are doing now will become important for our future? All we have to do is doing our best while looking for it.

It is amazing how life can be. Like me, I don’t know why I end up working for fertilizer company in Bontang. Will it have something to do with my future, or will it be my future?  I’m totally clueless. What I do believe is I’m on the right path. In the other hand, I am a bit afraid that financial security will put me in comfortable zone. Because once we are settled, we are too lazy to think, our creativity is plugged, and finally we are reluctant to move forward.That is why I always remind myself never to get settled and leave the door open towards any possibilities.

Whenever you feel down, have doubt, or don’t know what to do with your life. Watch this video and see how inspiring people’s life is not easy. Sometimes they got hit by a brick in their head and they got bleed and bruises. But they managed to overcome it, picked theirself up, cleaned their wound, and moved on. They were fool enough to keep on going and have hunger to become better and better. So find what you love and have faith.

As Steve Jobs said,

Stay hungry stay foolish

Indonesia dan UNFCCC

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim (UNFCCC) sudah berakhir. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, tidak ada perjanjian mengikat yang berhasil disepakati oleh 193 negara yang terlibat, hanya komitmen politik untuk menghadapi tantangan terbesar abad ini yaitu perubahan iklim.

Pada konferensi kali ini, para pemimpin dunia menunjukan itikad baik dengan duduk bersama untuk mengatasi ancaman nyata perubahan iklim global. Walaupun tidak memenuhi ekspektasi semua pihak, konferensi ini cukup memberikan harapan. Berikut adalah rangkuman dari hasil konferensi tersebut;

  1. Menjaga agar kenaikan temperatur global tidak lebih dari 2°C. Negara-negara kepulauan kecil dan Afrika  kecewa dengan kesepakatan karena tidak sesuai dengan tuntutan mereka, yakni kenaikan temperatur global tidak lebih dari 1.5°C. Negara-negara inilah yang akan terkena dampak langsung dari kenaikan suhu global. Maladewa contohnya, negeri kepulauan yang sebagian besar hanya 1.5 meter dari permukaan laut itu terancam tenggelam akibat kenaikan temperatur global.
  2. Adanya mekanisme pengawasan dan pelaporan mengenai pengurangan emisi karbon. Negara-negara berkembang akan melakukan monitoring secara swadaya dengan hasil analisis yang bisa dipertanggungjawabkan dan ketentuan konsultasi internasional.
  3. Perjanjian ini menawarkan dana bantuan kepada negara-negara yang terkena dampak langsung pemanasan global sebesar $ 30 milyar pada periode 2010 – 2012 dan ditargetkan mencapai $ 100 milyar pada 2020. Dana ini akan digunakan secara berimbang untuk mitigasi (pengurangan) emisi gas rumah kaca (GRK) dan adaptasi di negara-negara yang terkena dampaknya secara langsung.
  4. Adanya mekanisme pendanaan baru untuk program REDD-plus (reduced emissions from deforestation  and forest degradation).  Prinsip program ini sederhana yaitu pemilik hutan —pemerintah atau perusahaan— diberi kompensasi atas perlindungan hutan dari penebangan.

Kekecewaan yang terbesar dari konferensi ini adalah ketidakmampuan untuk membuat suatu perjanjian internasional yang mengikat anggotanya untuk mengurangi emisi global sebagai pengganti Protokol Kyoto yang sudah tidak berlaku pada 2010. Dan lagi, hasil konferensi tidak menetapkan target yang jelas bagi negara-negara industri maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca baik jangka menengah maupun jangka panjang.

Indonesia boleh dikatakan berhasil mengawal Bali Action Plan yang merupakan hasil dari COP (Conference of the Parties) yang digelar di Bali pada tanggal 3 – 15 Desember 2007. Salah satu hasil dari Bali action plan adalah mekanisme REDD (Reduced emission from forest deforestation and forest degradation). Hal ini penting karena Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi kehutanan yang besar dengan sumbangan emisi CO2 yang besar pula dari sektor kehutanan.

Menurut Executive Summary: Indonesia and Climate Change yang dikeluarkan oleh PEACE tahun 2007, total emisi di Indonesia mencapai 3014 miliar ton ekuivalen CO2. Dari jumlah tersebut lebih dari 85% berasal dari sektor kehutanan, selebihnya berasal dari energi, agrikultur dan limbah. Ditelisik lebih jauh, 75% dari emisi yang berasal dari sektor kehutanan tersebut berasal dari deforestasi. Nah, dari 57 % sumbangan  deforestasi tersebut berasal dari kebakaran hutan dan konversi lahan. Bandingkan dengan Amerika Serikat dan China yang lebih dari 50% sumbangan karbon berasal dari sektor energi.

Pada konferensi kali ini pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26 % dari aktivitas bisnis biasa (BAU) tahun 2020. Ini merupakan target yang ambisius mengingat carut-marut penggunaan lahan, laju deforestasi yang tinggi, pembukaan lahan gambut ditambah rencana pemerintah untuk membangun pembangkit listrik berbahan baku batubara dan peningkatan sumbangan emisi dari sektor transportasi.

Jika Indonesia mampu mengurangi emisi yang sebagian besar berasal dari sektor kehutanan itu, jaminan insentif finansial dari program REDD-plus dan komitmen penurunan emisi sebesar 26% dapat terpenuhi. Mudahkah?  Tidak juga. Dengan carut marut tata guna lahan, lemahnya pengawasan hutan, penerapan hukum yang memble, laju deforestasi yang melonjak tajam dan permintaan terhadap produk hasil hutan yang tinggi membuat pemerintah harus menyingsingkan lengan baju dan berkeringat untuk mengejar target yang tidak mudah itu.

Namun, ada ancaman yang mengintai dari skema REDD. Skema ini tidak mempertimbangkan penduduk asli yang tinggal di area konservasi. Seringkali istilah “konservasi” justru malah menelantarkan dan mengusir warga asli dari tempat tinggal mereka. Kemudian juga, skema pengelolaan hutan lestari dikuatirkan malah mendorong industri kehutanan mengkonversi hutan primer menjadi hutan industri. Hal ini akan menurunkan kualitas hutan primer yang seharusnya jadi “kolam” keanekaragaman hayati dan menjadi “kebun-kebun” monokultur. Dan lagi, skema perdagangan karbon melalui REDD bisa jadi malah akan mendorong negara-negara maju untuk melampaui batas emisi karena beranggapan dapat membayarnya melalui skema REDD. Akbiatnya, total emisi dunia malah menjadi meningkat  karena skema ini hanya “memindahkan” kelebihan emisi dari negara-negara maju.

Ribet? Emang! Makanya jadi Penguasa itu gak gampang. Kita  yang berada diluar lingkaran kekuasaan memang berhak mengkritisi dan menjaga supaya Pemerintahan tetap membela kepentingan orang banyak. Tetapi, kita juga harus berupaya untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya berteriak-teriak dan grasak-grusuk menggoyang-goyang biduk yang sedang berlayar.

Saya sendiri adalah penggemar berat hutan hujan tropis. Hutan tropis seperti sebuah negeri dongeng yang memiliki aturannya sendiri. Negeri yang kelihatannya kejam namun lembut menampung bermilyar-milyar makhluk yang berebut hidup di relung-relungnya. Di pucuk tertinggi ,di balik batang pohon yang lapuk, sampai dalam segenggam tanah, kita dapat menemukan kehidupan. Tiap-tiap bentuk kehidupan itu saling bertautan terangkai membentuk jejaring halus ekosistem hutan tropis. Menakjubkan!

Apa yang akan Saya lakukan? Sederhana saja. Saya mulai menanam pekarangan rumah dengan buah-buahan khas Kalimantan seperti kweni, lay, wanyi dan asam putar. Tentu saja Saya tidak berharap bisa menikmati buahnya sekarang juga (bisa nunggu sepuluh tahun sampai berbuah). Saya ingin buah ini bisa dinikmati generasi penerus Saya dan tidak punah diterjang serangan buah-buahan populer seperti jeruk, apel, pisang dan mangga. Selain itu, dengan menanam pohon buah, Saya berharap bisa membangun replika sederhana jejaring kehidupan hutan tropis yang Saya kagumi itu.

If There Must be a War

If there must be a war, let it be against environmental contamination, nuclear contamination, chemical contamination; against the bankruptcy of soil and water systems; against the driving of people away from lands as environmental refugees.

If there must be a war, let it be against those who assault people and other forms of life by profiteering at the expense of nature’s capacity to support life.

If there must be a war, let the weapons be your healing hands, the hands of world’s youth in defense of the environment.

Mustafa Tolba

Former Secretary General

United Nations Environmental Programme