Indonesia dan UNFCCC

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim (UNFCCC) sudah berakhir. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, tidak ada perjanjian mengikat yang berhasil disepakati oleh 193 negara yang terlibat, hanya komitmen politik untuk menghadapi tantangan terbesar abad ini yaitu perubahan iklim.

Pada konferensi kali ini, para pemimpin dunia menunjukan itikad baik dengan duduk bersama untuk mengatasi ancaman nyata perubahan iklim global. Walaupun tidak memenuhi ekspektasi semua pihak, konferensi ini cukup memberikan harapan. Berikut adalah rangkuman dari hasil konferensi tersebut;

  1. Menjaga agar kenaikan temperatur global tidak lebih dari 2°C. Negara-negara kepulauan kecil dan Afrika  kecewa dengan kesepakatan karena tidak sesuai dengan tuntutan mereka, yakni kenaikan temperatur global tidak lebih dari 1.5°C. Negara-negara inilah yang akan terkena dampak langsung dari kenaikan suhu global. Maladewa contohnya, negeri kepulauan yang sebagian besar hanya 1.5 meter dari permukaan laut itu terancam tenggelam akibat kenaikan temperatur global.
  2. Adanya mekanisme pengawasan dan pelaporan mengenai pengurangan emisi karbon. Negara-negara berkembang akan melakukan monitoring secara swadaya dengan hasil analisis yang bisa dipertanggungjawabkan dan ketentuan konsultasi internasional.
  3. Perjanjian ini menawarkan dana bantuan kepada negara-negara yang terkena dampak langsung pemanasan global sebesar $ 30 milyar pada periode 2010 – 2012 dan ditargetkan mencapai $ 100 milyar pada 2020. Dana ini akan digunakan secara berimbang untuk mitigasi (pengurangan) emisi gas rumah kaca (GRK) dan adaptasi di negara-negara yang terkena dampaknya secara langsung.
  4. Adanya mekanisme pendanaan baru untuk program REDD-plus (reduced emissions from deforestation  and forest degradation).  Prinsip program ini sederhana yaitu pemilik hutan —pemerintah atau perusahaan— diberi kompensasi atas perlindungan hutan dari penebangan.

Kekecewaan yang terbesar dari konferensi ini adalah ketidakmampuan untuk membuat suatu perjanjian internasional yang mengikat anggotanya untuk mengurangi emisi global sebagai pengganti Protokol Kyoto yang sudah tidak berlaku pada 2010. Dan lagi, hasil konferensi tidak menetapkan target yang jelas bagi negara-negara industri maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca baik jangka menengah maupun jangka panjang.

Indonesia boleh dikatakan berhasil mengawal Bali Action Plan yang merupakan hasil dari COP (Conference of the Parties) yang digelar di Bali pada tanggal 3 – 15 Desember 2007. Salah satu hasil dari Bali action plan adalah mekanisme REDD (Reduced emission from forest deforestation and forest degradation). Hal ini penting karena Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi kehutanan yang besar dengan sumbangan emisi CO2 yang besar pula dari sektor kehutanan.

Menurut Executive Summary: Indonesia and Climate Change yang dikeluarkan oleh PEACE tahun 2007, total emisi di Indonesia mencapai 3014 miliar ton ekuivalen CO2. Dari jumlah tersebut lebih dari 85% berasal dari sektor kehutanan, selebihnya berasal dari energi, agrikultur dan limbah. Ditelisik lebih jauh, 75% dari emisi yang berasal dari sektor kehutanan tersebut berasal dari deforestasi. Nah, dari 57 % sumbangan  deforestasi tersebut berasal dari kebakaran hutan dan konversi lahan. Bandingkan dengan Amerika Serikat dan China yang lebih dari 50% sumbangan karbon berasal dari sektor energi.

Pada konferensi kali ini pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26 % dari aktivitas bisnis biasa (BAU) tahun 2020. Ini merupakan target yang ambisius mengingat carut-marut penggunaan lahan, laju deforestasi yang tinggi, pembukaan lahan gambut ditambah rencana pemerintah untuk membangun pembangkit listrik berbahan baku batubara dan peningkatan sumbangan emisi dari sektor transportasi.

Jika Indonesia mampu mengurangi emisi yang sebagian besar berasal dari sektor kehutanan itu, jaminan insentif finansial dari program REDD-plus dan komitmen penurunan emisi sebesar 26% dapat terpenuhi. Mudahkah?  Tidak juga. Dengan carut marut tata guna lahan, lemahnya pengawasan hutan, penerapan hukum yang memble, laju deforestasi yang melonjak tajam dan permintaan terhadap produk hasil hutan yang tinggi membuat pemerintah harus menyingsingkan lengan baju dan berkeringat untuk mengejar target yang tidak mudah itu.

Namun, ada ancaman yang mengintai dari skema REDD. Skema ini tidak mempertimbangkan penduduk asli yang tinggal di area konservasi. Seringkali istilah “konservasi” justru malah menelantarkan dan mengusir warga asli dari tempat tinggal mereka. Kemudian juga, skema pengelolaan hutan lestari dikuatirkan malah mendorong industri kehutanan mengkonversi hutan primer menjadi hutan industri. Hal ini akan menurunkan kualitas hutan primer yang seharusnya jadi “kolam” keanekaragaman hayati dan menjadi “kebun-kebun” monokultur. Dan lagi, skema perdagangan karbon melalui REDD bisa jadi malah akan mendorong negara-negara maju untuk melampaui batas emisi karena beranggapan dapat membayarnya melalui skema REDD. Akbiatnya, total emisi dunia malah menjadi meningkat  karena skema ini hanya “memindahkan” kelebihan emisi dari negara-negara maju.

Ribet? Emang! Makanya jadi Penguasa itu gak gampang. Kita  yang berada diluar lingkaran kekuasaan memang berhak mengkritisi dan menjaga supaya Pemerintahan tetap membela kepentingan orang banyak. Tetapi, kita juga harus berupaya untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya berteriak-teriak dan grasak-grusuk menggoyang-goyang biduk yang sedang berlayar.

Saya sendiri adalah penggemar berat hutan hujan tropis. Hutan tropis seperti sebuah negeri dongeng yang memiliki aturannya sendiri. Negeri yang kelihatannya kejam namun lembut menampung bermilyar-milyar makhluk yang berebut hidup di relung-relungnya. Di pucuk tertinggi ,di balik batang pohon yang lapuk, sampai dalam segenggam tanah, kita dapat menemukan kehidupan. Tiap-tiap bentuk kehidupan itu saling bertautan terangkai membentuk jejaring halus ekosistem hutan tropis. Menakjubkan!

Apa yang akan Saya lakukan? Sederhana saja. Saya mulai menanam pekarangan rumah dengan buah-buahan khas Kalimantan seperti kweni, lay, wanyi dan asam putar. Tentu saja Saya tidak berharap bisa menikmati buahnya sekarang juga (bisa nunggu sepuluh tahun sampai berbuah). Saya ingin buah ini bisa dinikmati generasi penerus Saya dan tidak punah diterjang serangan buah-buahan populer seperti jeruk, apel, pisang dan mangga. Selain itu, dengan menanam pohon buah, Saya berharap bisa membangun replika sederhana jejaring kehidupan hutan tropis yang Saya kagumi itu.

Iklan

8 responses to “Indonesia dan UNFCCC

  1. eh, dan.. sori ya ini mah. betapa mulianya yang kamu lakukan, tapi rahmi gak bisa nahan ketawa siah pas baca kamu menanam di pekarangan rumah..

    bukan perkara tujuannya apa – tapi menanamnya itu.. jadi inget saran kamu ke rahmi untuk memelihara hewan piaraan.. haha!

  2. Kenapa emang kalo di pekarangan rumah? Eh eh, Gw nanem mangga dari mulai biji sampe jadi anakan pohon setinggi 180 cm. Being able to plant a tree and watch it grows gives me the sense of enormous well-being (berlebihan, hahaha)
    Apa hubungannya sih dengan elu yang miara hewan untuk menemani dikala hati resah dan gelisah sementara tiada orang untuk berbagi, hihihi

  3. haha.. IYA DEH yang punya BANYAK ORANG untuk BERBAGI!! selamat ya dan! 😀

    mungkin tanpa kamu sadar, kamu juga jadi menanam tanaman di pekarangan karena kesepian diantara BANYAK ORANG atau sedang resah dan gelisah juga.

    hahahahaha..

    *bercanda siah dan 😀

  4. Geuleuh
    Makanya berbuat baiklah sama BANYAK ORANG biar punya BANYAK ORANG untuk membantu menghilangkan resah dan gelisah.
    😀

  5. gandeng mi ah
    gw juga udah punya LIMA TANEMAN di teras yg udah seminggu gak gw siram2,
    biasa aja ko

    gak resah
    gak gelisah

    hahaha

  6. wildanjohardi

    Ah, kau gak masuk hitungan Cim. Kelabilanmu sudah melebihi abege-abege pada umumnya, hihihih.

  7. faaaaaak yuuuu

  8. ah.. ngapain menghilangkan resah dan gelisah pake tanaman! lebih baik menghilangkan resah dan gelisah pake bengbeng atau indomie goreng + telor ceplok setengah mateng.. sluuuurp! pasti hilang semua resah, gelisah, gundah dan gulana (:D naon deuihhh!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s