Seni Menunda

Saya memiliki kebiasaan buruk yaitu menginginkan banyak hal pada saat yang bersamaan. Contohnya, pada akhir pekan yang damai ini Saya sudah mempunyai sederet aktivitas yang mau dikerjakan; nonton film, melanjutkan baca buku, baca majalah, berkebun, menulis. Nah kalau sudah begini Saya sudah hapal betul ujungnya, yaitu malah mengerjakan hal lain di luar keinginan yang tadi itu; tidur, nonton televisi atau liat-liat berita di internet sambil mencoba memutuskan apa yang akan dikerjakan terlebih dahulu.

Kebiasaan ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan karena sudah sering terjadi. Pada akhirnya, Saya sendirilah yang menyesal karena kebiasaan menunda-nunda tersebut. Pekerjaan yang harusnya hanya memakan waktu tidak lebih dari setengah jam malah menghabiskan dua hari untuk menyelesaikannya.

Sejak kecil Saya memang sering menunda pekerjaan. Ibu kerap kali memarahi Saya ketika itu, “Wil ayo cepet salat!”  atau “Wil ayo makan”!, Saya yang sedang keasyikan mengerjakan sesuatu (biasanya nonton tivi atau main game) langsung membantah dan mengungkapkan berbagai alasan. Mungkin kebiasaan yang Saya pupuk dari kecil tersebut yang menyulitkan Saya sekarang. Bisa juga karena Saya merasa kegiatan itu tidak penting makanya Saya tunda. Well , benar,  untuk hal-hal yang teramat penting dan mendesak terutama yang  menyangkut pekerjaan atau kepentingan orang banyak, pantang bagi Saya untuk menunda. Permasalahan muncul ketika Saya dihadapkan pada permasalahan yang penting tapi tidak mendesak atau permasalahan tidak penting dan tidak mendesak, ya seperti mengisi waktu luang saat akhir pekan itu tadi.

Padahal, Saya sudah berupaya mengekang keinginan yang berlebih itu dengan membuat jadwal berdasarkan  skala prioritas. Tapi tetap saja keinginan-keinginan itu meloncat-loncat tak terkendali. Contohnya ketika saya sedang menonton film. Tiba-tiba ada satu bagian di film itu yang mengingatkan saya pada satu bab di buku Critical thinking. Tanpa pikir panjang,  Saya buka buku itu dan mulai membaca. Tidak lama kemudian, Saya nyalakan laptop dan mulai berselancar mengenai salah satu hal di buku tersebut.  Tanpa disadari, Saya pun malah keasyikan membuka halaman web mengenai liga inggris di Internet. Beberapa jam kemudian, Sayapun tersadar kalau film yang ditonton tadi belum selesai dan hal yang Saya kerjakan beberapa jam yang lalu  sama sekali gak nyambung.

Walaupun itu adalah hal-hal kecil yang tidak penting, tetap saja Saya pusing dibuatnya. Padahal saat liburan, hal yang paling Saya inginkan adalah mengerjakan hal-hal yang sulit dilakukan ketika hari kerja. Tapi saking banyaknya yang ingin dilakukan, akhirnya Saya malah tidak sempat mengerjakan apa-apa karena sibuk memikirkan mana yahng sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Kalaupun dikerjakan pasti tidak selesai karena kebiasaan Saya yang suka beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Ah sudahlah, lebih baik saya lanjutkan saja baca buku yang sempat tertunda gara-gara tulisan ini. Tadi sampai dimana ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s