Monthly Archives: Maret 2010

Anglingdarma

“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.

“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’

Goenawan Mohamad

Puisi yang ditulis dengan bagus oleh GM ini terinspirasi dari legenda Anglingdarma. Anglingdarma adalah seorang raja yang menjadi legenda dalam tradisi Jawa. Konon, Anglingdarma adalah keturunan ketujuh dari Arjuna—salah satu pandawa dalam epos Mahabharata.

Kisah Anglingdarma menceritakan seorang raja yang dihukum oleh dewa-dewi karena mengkhianati janji setia. Akhirnya, Anglingdarma diusir dari kerajaannya dan berkelana dari kerajaan ke kerajaan untuk menebus dosa.

Puisi diatas menangkap satu fragmen di kisah ini. Tentang janji yang tidak bisa ditepati. Memang, perjalanan kisah Anglingdarma diawali dengan janji yang tak terpenuhi yang menuntun kita dari kisah satu ke kisah lain.  Diceritakan bahwa Raja yang arif ini tidak mampu memenuhi janjinya untuk setia. Permaisuri yang merasa cinta suaminya telah luntur mengajak Anglingdarma untuk bunuh diri karena tidak mau berbagi rahasia. Dihadapan api, Anglingdarma yang telah berjanji setia sehidup semati meninggalkan permaisurinya terjun sendirian ke dalam api.

Nonsens, mungkin itulah yang dipikrkan oleh Anglingdarma ketika dihadapkan pada api. Seperti apa yang dibicarakan oleh cicak itu.

Tentang Keluh Kesah

Hari ini Saya ingin berkeluh kesah.  Keluh kesah tentang Saya yang tidak bisa menjadi sempurna.

Mengapa seiring berjalannya waktu Saya membiarkan pikiran-pikiran orang lain melencengkan kata hati Saya. Apa yang sebetulnya terjadi? Sudah jatuhkah Saya ke kubangan berlumpur itu? Sudahkah Saya gadaikankah nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi.

“Percuma kau dididik dengan keras hati oleh Bapakmu yang meginginkan kau seperti ikan yang tidak lantas menjadi asin walaupun hidup di lautan” sebagian hati berkata. “Ah percuma sudah Ibumu mengajarkan bagaimana mencintai tanpa batas saat kau masih takut-takut mencintai ” sebagian lain berteriak. “Percuma sudah kamu dididik senior-seniormu untuk berhati-hati dan kritis terhadap suara kebanyakan orang kalau kamu sendiri tidak berani bersuara” yang lain menggema.

Suara-suara tersebut kerap menghantui ketika Saya dipaksa untuk mengkhianati kata hati. Saat itulah Saya menjadi seorang yang permisif dan penuh kompromi. Batas antara hitam dan putih tidak lagi menjadi jelas karena sudah terlalu pandai Saya memanipulasi. Hal-hal yang tadinya hitam akhirnya luntur akibat keragu-raguan Saya. Hal-hal yang Saya anggap putih pun ternoda akibat sikap kritis Saya.

Seperti itukah proses pendewasaan? Ketika kita akhirnya melihat bahwa kenyataan ternyata tidak seindah retorika. Ketika kita tahu bahwa ternyata manusia yang halus budi dan mampu berpikir logis adalah makhluk egois dan mampu bertindak jauh diluar akal sehat.

Kalau memang benar begitu, Lebih baik Saya menjadi kanak-kanak yang berkawan dengan peri-peri cantik di angkasa atau makhluk–makhluk cebol menyenangkan di bawah tanah. Bersama-sama kami melawan raksasa jelek pengganggu dunia fantasi yang selalu indah. Setidaknya dengan menjadi kanak-kanak, Saya tidak perlu memikirkan interdependensi antara peri-peri dan makhluk cebol menyenangkan dengan raksasa jelek itu. Peri-peri tidak akan menjadi cantik tanpa raksasa yang jelek, dan makhluk cebol tidak semenyenangkan itu ketika raksasa tidak pernah ada.

Saya sudah lelah. Ingin rasanya Saya turun dari kereta ini dan kembali pulang. Saya penat menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak selalu indah. Namun anehnya, ada sebagian diri ini yang mencoba mengangkat sebagian diri yang sudah jatuh tersungkur dan berbisik “semuanya akan baik-baik saja, Wildan”.

Saya pun bangun, memperbaiki diri dan mencoba kembali menjadi sempurna. Tapi kemudian  Sayapun tersungkur kembali, sampai berulang-ulang. Sampai suatu saat Saya sadar bahwa dunia menentang Saya yang mencoba sempurna. “Kamu ini masih manusia Nak”,bisiknya. Konon katanya, kesempurnaan itu milik Tuhan yang tidak bisa diganggu-gugat, apalagi oleh makhluk macam Saya ini. Tapi Saya mencoba menggugat. Kenapa Tuhan egois sekali dengan sifat-sifat baik. Bagi Saya, Tuhan tidak bisa dan tidak mungkin didefinisikan kesempurnaanNya. Kalaupun Kita mencoba, pada akhirnya Kita telah membonsaiNya dengan memakaikan baju manusia ke Tuhan.

Mungkin kebandelan Saya akhirnya menempatkan Saya pada posisi saat ini. Kalau begitu, Ayah, Ibu, dan kawan-kawan, Saya minta maaf karena berupaya menjadi sempurna. Karena Saya tahu, Saya tidak mungkin menjadi sesempurna itu.