Tentang Keluh Kesah

Hari ini Saya ingin berkeluh kesah.  Keluh kesah tentang Saya yang tidak bisa menjadi sempurna.

Mengapa seiring berjalannya waktu Saya membiarkan pikiran-pikiran orang lain melencengkan kata hati Saya. Apa yang sebetulnya terjadi? Sudah jatuhkah Saya ke kubangan berlumpur itu? Sudahkah Saya gadaikankah nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi.

“Percuma kau dididik dengan keras hati oleh Bapakmu yang meginginkan kau seperti ikan yang tidak lantas menjadi asin walaupun hidup di lautan” sebagian hati berkata. “Ah percuma sudah Ibumu mengajarkan bagaimana mencintai tanpa batas saat kau masih takut-takut mencintai ” sebagian lain berteriak. “Percuma sudah kamu dididik senior-seniormu untuk berhati-hati dan kritis terhadap suara kebanyakan orang kalau kamu sendiri tidak berani bersuara” yang lain menggema.

Suara-suara tersebut kerap menghantui ketika Saya dipaksa untuk mengkhianati kata hati. Saat itulah Saya menjadi seorang yang permisif dan penuh kompromi. Batas antara hitam dan putih tidak lagi menjadi jelas karena sudah terlalu pandai Saya memanipulasi. Hal-hal yang tadinya hitam akhirnya luntur akibat keragu-raguan Saya. Hal-hal yang Saya anggap putih pun ternoda akibat sikap kritis Saya.

Seperti itukah proses pendewasaan? Ketika kita akhirnya melihat bahwa kenyataan ternyata tidak seindah retorika. Ketika kita tahu bahwa ternyata manusia yang halus budi dan mampu berpikir logis adalah makhluk egois dan mampu bertindak jauh diluar akal sehat.

Kalau memang benar begitu, Lebih baik Saya menjadi kanak-kanak yang berkawan dengan peri-peri cantik di angkasa atau makhluk–makhluk cebol menyenangkan di bawah tanah. Bersama-sama kami melawan raksasa jelek pengganggu dunia fantasi yang selalu indah. Setidaknya dengan menjadi kanak-kanak, Saya tidak perlu memikirkan interdependensi antara peri-peri dan makhluk cebol menyenangkan dengan raksasa jelek itu. Peri-peri tidak akan menjadi cantik tanpa raksasa yang jelek, dan makhluk cebol tidak semenyenangkan itu ketika raksasa tidak pernah ada.

Saya sudah lelah. Ingin rasanya Saya turun dari kereta ini dan kembali pulang. Saya penat menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak selalu indah. Namun anehnya, ada sebagian diri ini yang mencoba mengangkat sebagian diri yang sudah jatuh tersungkur dan berbisik “semuanya akan baik-baik saja, Wildan”.

Saya pun bangun, memperbaiki diri dan mencoba kembali menjadi sempurna. Tapi kemudian  Sayapun tersungkur kembali, sampai berulang-ulang. Sampai suatu saat Saya sadar bahwa dunia menentang Saya yang mencoba sempurna. “Kamu ini masih manusia Nak”,bisiknya. Konon katanya, kesempurnaan itu milik Tuhan yang tidak bisa diganggu-gugat, apalagi oleh makhluk macam Saya ini. Tapi Saya mencoba menggugat. Kenapa Tuhan egois sekali dengan sifat-sifat baik. Bagi Saya, Tuhan tidak bisa dan tidak mungkin didefinisikan kesempurnaanNya. Kalaupun Kita mencoba, pada akhirnya Kita telah membonsaiNya dengan memakaikan baju manusia ke Tuhan.

Mungkin kebandelan Saya akhirnya menempatkan Saya pada posisi saat ini. Kalau begitu, Ayah, Ibu, dan kawan-kawan, Saya minta maaf karena berupaya menjadi sempurna. Karena Saya tahu, Saya tidak mungkin menjadi sesempurna itu.

Iklan

2 responses to “Tentang Keluh Kesah

  1. tulisan yang sangat menggertak hati nurani, haha..

    rakhmi ramdhani likes this.

  2. Menggertak?
    maksudnya kesepet gitu? hihihih, thanks anyway mi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s