Tanjung Priok

Gerombolan orang berkopiah, beberapa memakai helm-polisi-yang-entah-darimana-didapat, bersenjatakan celurit, samurai, bambu, batang besi dan batu mengerumuni sesuatu yang tertutup oleh tameng polisi. Makian dan pekik kebesaran Tuhan bersahut-sahutan saat mereka melemparkan batu, memukul,  menendang dan menusuk sesuatu yang tertutup tameng itu.

Di depan televisi, Saya memperhatikan dengan hati pedih, berharap sesuatu itu bukan seperti yang dibayangkan. Ketika salah satu remaja tanggung itu mengangkat tameng polisi, Saya hampir menitikkan air mata, ternyata betul, itu adalah anggota Satpol PP. Remaja itupun mengangkat kepala aparat yang sudah tidak dapat bergerak dan terluka parah itu kemudian meneriakkan sesuatu yang tidak dapat saya tangkap. Sesaat kemudian terdengar bunyi dentuman yang disusul dengan asap putih. Ya Tuhan, mereka menembakkan gas air mata ke aparat naas itu dari jarak yang amat dekat…

Pedih rasanya. Tak terasa air mata saya menitik, dada saya terasa sesak, perasaan saya tak karu-karuan. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa orang-orang itu menganiaya petugas yang sudah terkapar, bergelimang darah dan nyaris tak bisa bergerak itu. Saya tak mengerti, bagaimana jika kakak, adik, sahabat, orang tua atau seseorang yang dikenal diperlakukan seperti itu. Tidakkah terbayang oleh mereka perasaan orang-orang yang menyayangi petugas itu. Pasti pedih sekali melihat orang yang disayangi diperlakukan seperti itu.

Tidak jauh dari gerombolan tersebut, Saya bisa melihat gerombolan lain melakukan hal yang tidak kalah brutal. Lemparan batu, tendangan, pukulan benda keras dan makian-makian tertuju ke satu objek membuat hati saya semakin tersayat-sayat.  Entah, padahal bisa saja Saya mematikan televisi dan pergi, tapi saya tidak mampu. Mata Saya seperti terpaku di depan televisi, berdoa supaya ada seseorang yang masih punya rasa kemanusiaan dan menyelamatkan dua petugas naas itu.

Pada akhirnya, dua korban itu dibiarkan teronggok begitu saja, seperti mainan tua. Para warga yang beringasan pun beralih ke mainan baru yaitu membakar truk-truk milik polisi dan Satpol PP. Mungkin bagi warga, bunyi ledakan dan api yang menjilat-jilat jauh lebih menyenangkan daripada menendang-nendang tubuh yang sudah tidak bisa bergerak itu.

Iya, pasti beberapa dari anda menganggap Saya terlalu menaruh hati pada Satpol PP yang sekarang dibenci masyarakat itu. Memang, Saya juga tidak setuju dengan gaya militeristik yang sering diterapkan Satpol PP kepada pedagang kecil. Tapi terlepas dari ketidaksetujuan Saya terhadap Satpol PP yang memang arogan, hati Saya selalu bersama orang-orang yang tertindas dan teraniaya apapun latar belakang suku, ras, agama dan kepada siapa mereka berpihak.

Pagi hari ini Saya mendapatkan kabar itu; korban tewas berjumlah tiga orang berasal dari pihak Satpol PP yang bernama W. Soepono, Ahmad Tajudin dan Israel Jaya. Ahmad Tajudin adalah seorang muslim taat yang berencana menikah bulan Oktober tahun ini, Soepono adalah seorang warga Tanjung Priok sedangkan Israel adalah penopang ekonomi keluarga.

Soepono, Ahmad Tajudin dan Israel Jaya, sungkawa terucap untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga kalian diberi tempat yang pantas di sisi-Nya. Saya selalu yakin kalau Tuhan Maha Adil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s