Monthly Archives: Mei 2010

For You, I will :)

You said there were two places in the world that you really wish to see, New York and Machu Picchu.

Well, I think New York is not so much different than Tokyo; it’s crowd, it’s ambience, it’s city lights. Well, it is just another huge city. But, Machu Picchu is something else. Even the name  sounds so cool, Machu Picchu.

I know that you have a unique taste darling. The idea of riding llama while exploring the lost city of Inca and enjoying the breathtaking scenery really fascinate you right?

You know I will do anything in my power to make you happy. You wanna visit New York just to take a picture in Times Square or you wanna  see Machu Picchu and riding llama, it is up to you. We will go there sometime, I promise you. Just promise me to give me that smile, your most sincere smile when you are really happy 🙂

Iklan

Selamat Hari Pendidikan Nasional Ndut!

“Dan, tiga anak yang nilai IPA nya sepuluh itu Rahmi yang ajar siah, masuk koran lagi!”

Itu adalah pesan dari Sahabat Saya melalui fasilitas pesan di Facebook beberapa hari yang lalu. Merasa tidak cukup pamer, ia kemudian mengirimkan sms;

“Dan, mau pamer ga penting, murid yang Rahmi privatin NEM-nya tertinggi di Madina dan dua lagi masuk lima NEM tertinggi”

Sahabat Saya yang satu itu adalah seorang guru. Guru yang sangat hebat kalau Saya boleh menilai. Di masa saat peran seorang guru dikecilkan dengan menjadi perpanjangan tangan institusi pendidikan formal dengan sederet target pragmatis, sahabat Saya ini amat menyukai pekerjaannya.

Tidak semulus dan seidealis itu memang. Sahabat Saya ini, tentu seperti orang kebanyakan, mendambakan pekerjaan kantoran dengan gaji yang memuaskan dan jenjang karir yang jelas. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya dia mengajar. Beruntung dia mengajar di suatu bimbingan belajar yang dirintis oleh anak-anak muda visioner dengan metode yang cukup revolusioner. Dengan metode mengajar unik dan bakat mengajar yang besar, sebentar saja dia menjadi guru yang hebat.

Seiring berjalannya waktu, sembari bekerja untuk bimbingan belajar tersebut dia berkesempatan mengajar di sekolah formal. Walaupun tidak bertahan lama karena merasa tidak cocok dengan sistem pendidikan di tempat tersebut, dia bisa dibilang  sukses.

Kenapa dibilang sukses? pertama, karena rata-rata nilai bidang studi yang diajarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kedua, ini yang paling penting, dia berhasil merebut simpati dan kepercayaan dari murid-muridnya dan menjadi pengajar dengan arti sebenarnya. Dia menunjukan bahwa peran guru tidak terbatas pada ruang-ruang kelas. Dia membuka lebar-lebar pintu rumahnya dan juga hatinya bagi murid-murid yang memiliki kesulitan dalam pelajaran maupunpun untuk sekedar curhat.

Ya memang, pendidikan tidak sepatutnya hanya dibatasi pada ruang kelas.

Menurut Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan nasional, ada perbedaan vital antara pendidikan (education) dan persekolahan (schooling). Menurutnya pula,  pendidikan merupakan proses membiasakan anak didik mengenal, mempelajari, menguasai, dan menerapkan nilai-nilai yang diakui berguna bagi dirinya, keluarganya, humanitas, bangsa dan negara. Sedangkan persekolahan adalah bentuk institusional dari pendidikan yang menetapkan bentuk-bentuk yang relevan dari nilai-nilai tadi.

Salah besar apabila ada yang menganggap sekolah formal bertanggung jawab atas keseluruhan pendidikan anak. Pendidikan di luar sekolah juga berperan atas keseluruhan pribadi sang anak. Sebagus apapun pendidikan formal yang ditawarkan, seperti sekolah bertaraf internasional (SBI) misalnya, tetap saja peran keluarga dan pergaulan sehari-hari  penting bagi perkembangan karakter sang anak. Sesuatu yang sering dilupakan oleh orang-orang tua dan masyarakat akhir-akhir ini.

Nah kembali ke sahabat Saya. Entah disadari atau tidak, dia meleburkan diri dengan anak-anak didiknya, mengetahui kebiasaan-kebiasaannya, mengetahui siapa berpacaran dengan siapa, siapa suka dengan siapa, bahkan sampai bertukar cerita dengan murid-muridnya tanpa memiliki pretensi apapun sehingga muridnya merasa nyaman.  Inilah yang membuatnya menjadi guru yang baik. Dia berhasil meluaskan arti pendidikan dengan ikut masuk sedikit demi sedikit ke pribadi anak-anak didiknya dan menanamkan nilai-nilai, motivasi dan idealisme kepada anak didiknya. Hasilnya sukses besar. Sebagian anak-anak didiknya menjadi yang terbaik di sekolahnya, bahkan mendapat nilai sempurna untuk pelajaran sains.

Memang belum tentu meraih NEM tertinggi di sekolahnya menjadikan siswa-siswa itu manusia yang baik. Tapi bagi Saya, dia sudah membuat suatu perubahan besar bagi anak-anak itu. Saya yakin sekali, anak didiknya dapat menyerap pengalaman, motivasi dan nilai-nilai yang penting darinya.  Dan lagi, dia sudah menemukan what she is really good at. Buat Saya itu sangat penting dan membuat iri karena sampai sekarang Saya tetap belum tahu di bidang apa Saya bisa melakukan yang terbaik.

Tapi jangan besar kepala dulu gendut, ingat kelas sosial mana yang kau bantu untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya. Masih jauh dari asas fundamental pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu persamaan (equality) dan kesetaraan (equity). Untuk hal ini, kita masih sama, masih sama-sama memihak pemilik modal, hehehe.

Catharsis? err, maybe..

Oke, ada beberapa hal yang harus Saya luruskan.  Pertama, Saya tahu betul bagaimana menentukan skala prioritas. Jadi tolong, jangan pernah meragukan komitmen dan integritas Saya.

Memang akhir-akhir ini Saya sering terlihat uring-uringan. Tapi itu bukan karena beban pekerjaan yang berat. Juga bukan karena Saya harus lembur dua minggu berturut-turut.

Ada hal-hal yang lebih substansial yang membuat Saya resah dan uring-uringan.

Pertama adalah kejelasan pekerjaan. Saya paling tidak suka bekerja kalau tidak jelas juntrungannya, apa tujuannya? mengapa ini harus dilakukan? apa dasarnya? kapan harus dilakukan? bagaimana tingkat urgensinya? ini adalah hal-hal yang biasanya Saya tanyakan sebelum melakukan suatu pekerjaan. Memang terlihat menyebalkan.  Tapi ini penting, terutama untuk memotivasi diri Saya bahwa pekerjaan ini merupakan bagian dari tujuan organisasi. Bukan hanya kerjaan tidak jelas untuk menyenangkan atasan.

Kedua adalah kebiasaan kerja yang reaktif. Maaf, bukannya sok tahu, tapi tidak pernah Saya melihat adanya suatu kerangka kerja dan pembagian tugas yang jelas. Setiap ada masalah, penanganannya sangat reaktif. Jarang sekali kelihatan usaha untuk mengatasi masalah dengan komprehensif. Kebanyakan hanya upaya untuk memindahkan masalah. Kadang sulit sekali  menghubungkan ini dengan kerangka kerja dan tujuan organisasi.  Bagaimana kroco-kroco seperti saya bisa termotivasi bekerja kalau tidak tahu target jangka pendek ataupun jangka panjang?  Kerangka kerja memastikan pekerja mengetahui skala prioritas pekerjaan dan niscaya distribusi kerja menjadi lebih merata dan kontrolpun menjadi mudah.

Ketiga, mekanisme pembelajaran. Saya tidak pernah melihat adanya nursing bagi karyawan baru. Well, setidaknya Saya tidak merasakan. Seringkali Saya harus berjibaku sendiri di dunia yang belum pernah Saya masuki sebelumnya. Hasilnya? ditertawakan, diremehkan, kadang dipermainkan. Bahkan untuk bidang yang Saya kuasai pun tidak ada yang benar-benar memandu. Semuanya harus Saya gali sendiri dari dokumen-dokumen kantor. Beruntung pencatatan dokumen di tempat Saya bekerja amat baik jadi Saya amat terbantu untuk belajar.

Menurut Saya yang sok tahu ini, nursing penting menjaga kelangsungan hidup organisasi. Sistem nursing yang baik, mampu menggembleng sumber daya manusia yang menjadi motor organisasi serta memastikan transfer knowledge antara satu generasi dengan generasi selanjutnya. Oleh karena itu, nursing menjadi faktor yang krusial dalam pengembangan dan keberlanjutan organisasi.

Keempat adalah budaya. Nampaknya budaya “geng-gong” memang terlanjur berurat di tempat ini. Tidak ada masalah dengan  “geng-gong”. Hak tiap orang untuk memilih dan berkumpul bersama orang-orang yang disenanginya. Tapi kalau sudah menyangkut profesionalisme, sebaiknya budaya geng-gong dibuang jauh-jauh. Mengapa? karena dapat menimbulkan standar ganda. Seseorang yang masuk dalam suatu” geng-gong” akan dilindungi habis-habisan walaupun ia melakukan kesalahan. Namun, seseorang yang tidak masuk dalam geng-gong akan dibiarkan saja, bahkan mungkin dijatuhkan hanya karena satu kesalahan kecil. Kemudian, geng-gong dapat menghancurkan atmosfir kerja yang baik, apalagi kalau ada seorang “musuh bersama”. Bisa dibayangkan yang terjadi ada pekerjaan yang mengharuskan “musuh bersama” tersebut bersentuhan dengan “geng-gong”.

Kelima adalah komunikasi. Ampun deh, inilah yang paling sulit di Perusahaan negara. Seringkali terjadi komunikasi yang tidak lancar antara atasan dan bawahan. Entah bawahan yang merasa sungkan untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada atasan atau atasan yang merasa jumawa sehingga tidak perlu lagi mendengar suara dari bawahan. Memang, tidak semua hal harus disampaikan kepada atasan juga tidak semua masukan dari bawahan harus ditanggapi. Namun, bukan berarti ruang komunikasi itu tertutup sama sekali. Tetap saja harus diciptakan iklim kerja yang membuat atasan dan bawahan sama-sama nyaman berkomunikasi.

***

Saya pasti kelihatan sinis dan subjektif sekali.

Tapi tidak mengapa, hari ini Saya memang ingin sekali berkeluh kesah. Saya tidak bisa menemukan cara lain untuk membuat diri saya merasa lebih baik tanpa merugikan orang lain selain menulis, berolah raga dan baca buku. Karena tingkat kekesalan Saya sudah tinggi, maka Saya harus melakukan ketiganya secara simultan (gak kebayang kan gimana caranya, Saya juga bingung, hehe). Sudah dibilang Saya multitasker sejati tidak percaya sih. hehehe.

Ah, Saya sudah merasa lebih baik sekarang. Lebih baik sekarang Saya selesaikan semua tugas sebelum berplesir ke Derawan akhir bulan nanti, hehehehe.