Selamat Hari Pendidikan Nasional Ndut!

“Dan, tiga anak yang nilai IPA nya sepuluh itu Rahmi yang ajar siah, masuk koran lagi!”

Itu adalah pesan dari Sahabat Saya melalui fasilitas pesan di Facebook beberapa hari yang lalu. Merasa tidak cukup pamer, ia kemudian mengirimkan sms;

“Dan, mau pamer ga penting, murid yang Rahmi privatin NEM-nya tertinggi di Madina dan dua lagi masuk lima NEM tertinggi”

Sahabat Saya yang satu itu adalah seorang guru. Guru yang sangat hebat kalau Saya boleh menilai. Di masa saat peran seorang guru dikecilkan dengan menjadi perpanjangan tangan institusi pendidikan formal dengan sederet target pragmatis, sahabat Saya ini amat menyukai pekerjaannya.

Tidak semulus dan seidealis itu memang. Sahabat Saya ini, tentu seperti orang kebanyakan, mendambakan pekerjaan kantoran dengan gaji yang memuaskan dan jenjang karir yang jelas. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya dia mengajar. Beruntung dia mengajar di suatu bimbingan belajar yang dirintis oleh anak-anak muda visioner dengan metode yang cukup revolusioner. Dengan metode mengajar unik dan bakat mengajar yang besar, sebentar saja dia menjadi guru yang hebat.

Seiring berjalannya waktu, sembari bekerja untuk bimbingan belajar tersebut dia berkesempatan mengajar di sekolah formal. Walaupun tidak bertahan lama karena merasa tidak cocok dengan sistem pendidikan di tempat tersebut, dia bisa dibilang  sukses.

Kenapa dibilang sukses? pertama, karena rata-rata nilai bidang studi yang diajarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kedua, ini yang paling penting, dia berhasil merebut simpati dan kepercayaan dari murid-muridnya dan menjadi pengajar dengan arti sebenarnya. Dia menunjukan bahwa peran guru tidak terbatas pada ruang-ruang kelas. Dia membuka lebar-lebar pintu rumahnya dan juga hatinya bagi murid-murid yang memiliki kesulitan dalam pelajaran maupunpun untuk sekedar curhat.

Ya memang, pendidikan tidak sepatutnya hanya dibatasi pada ruang kelas.

Menurut Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan nasional, ada perbedaan vital antara pendidikan (education) dan persekolahan (schooling). Menurutnya pula,  pendidikan merupakan proses membiasakan anak didik mengenal, mempelajari, menguasai, dan menerapkan nilai-nilai yang diakui berguna bagi dirinya, keluarganya, humanitas, bangsa dan negara. Sedangkan persekolahan adalah bentuk institusional dari pendidikan yang menetapkan bentuk-bentuk yang relevan dari nilai-nilai tadi.

Salah besar apabila ada yang menganggap sekolah formal bertanggung jawab atas keseluruhan pendidikan anak. Pendidikan di luar sekolah juga berperan atas keseluruhan pribadi sang anak. Sebagus apapun pendidikan formal yang ditawarkan, seperti sekolah bertaraf internasional (SBI) misalnya, tetap saja peran keluarga dan pergaulan sehari-hari  penting bagi perkembangan karakter sang anak. Sesuatu yang sering dilupakan oleh orang-orang tua dan masyarakat akhir-akhir ini.

Nah kembali ke sahabat Saya. Entah disadari atau tidak, dia meleburkan diri dengan anak-anak didiknya, mengetahui kebiasaan-kebiasaannya, mengetahui siapa berpacaran dengan siapa, siapa suka dengan siapa, bahkan sampai bertukar cerita dengan murid-muridnya tanpa memiliki pretensi apapun sehingga muridnya merasa nyaman.  Inilah yang membuatnya menjadi guru yang baik. Dia berhasil meluaskan arti pendidikan dengan ikut masuk sedikit demi sedikit ke pribadi anak-anak didiknya dan menanamkan nilai-nilai, motivasi dan idealisme kepada anak didiknya. Hasilnya sukses besar. Sebagian anak-anak didiknya menjadi yang terbaik di sekolahnya, bahkan mendapat nilai sempurna untuk pelajaran sains.

Memang belum tentu meraih NEM tertinggi di sekolahnya menjadikan siswa-siswa itu manusia yang baik. Tapi bagi Saya, dia sudah membuat suatu perubahan besar bagi anak-anak itu. Saya yakin sekali, anak didiknya dapat menyerap pengalaman, motivasi dan nilai-nilai yang penting darinya.  Dan lagi, dia sudah menemukan what she is really good at. Buat Saya itu sangat penting dan membuat iri karena sampai sekarang Saya tetap belum tahu di bidang apa Saya bisa melakukan yang terbaik.

Tapi jangan besar kepala dulu gendut, ingat kelas sosial mana yang kau bantu untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya. Masih jauh dari asas fundamental pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu persamaan (equality) dan kesetaraan (equity). Untuk hal ini, kita masih sama, masih sama-sama memihak pemilik modal, hehehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s