A Trip to Derawan-Maratua-Kakaban-Sangalaki

Setelah hampir seminggu kemarin disibukkan dengan urusan dokumen AMDAL pabrik Kaltim 5 dan audit PROPER Provinsi, akhirnya Saya dan Ertalina bisa “kabur” sejenak dari rutinitas sehari-hari pada saat long weekend. Kali ini Saya berplesir ke Derawan yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Sebenarnya sudah lama Saya merencanakan untuk pergi ke Derawan yang terkenal sampai ke mancanegara itu. Namun karena akses yang relatif sulit, biaya yang lumayan mahal dan sulit menemukan teman “sealiran”,  Saya urung pergi ke Derawan.

Kebetulan Ertalina, Harry, Agung (teman-teman PKT) dan teman-teman gerejanya mau berpakansi ke Derawan. Tanpa malu-malu Saya menawarkan diri untuk bergabung bersama mereka.  Setelah itu Saya mengajak Sigit sang calon fotografer handal, partner jalan-jalan Saya selama ini.  Namun karena teman-teman gereja Ertalina berencana untuk pergi ke Derawan dari Bontang via jalan darat dengan menghabiskan waktu perjalanan 18 jam, Saya, Ertalina dan Sigit memutuskan untuk memotong waktu perjalanan dengan naik pesawat dari Balikpapan ke Berau. Cukup mahal memang, harga tiket pulang pergi (PP) pesawat Balikpapan- Berau PP yaitu Rp. 1,514,000. Sigit lebih sial. Karena sifat plin-plan bo‘ nya, Dia baru memutuskan beli tiket seminggu sebelum perjalanan. Akhirnya harga tiket melonjak menjadi Rp. 1,800,000 PP, padahal dia lagi menabung untuk berlibur ke Korea, hehehe.

Sebetulnya ada penerbangan antara Samarinda dan Berau yang dilayani oleh maskapai perintis seperti Trigana Air dan Kal Star. Namun karena sedikit ragu dengan masalah safety, Saya tidak mau mengambil resiko dan memutuskan bercapek-capek ke Balikpapan. Mungkin suatu saat nanti Saya akan mencoba maskapai perintis tersebut.

Saya sebetulnya bingung bagaimana menulis laporan perjalanan. Walaupun sering jalan-jalan, hampir tidak pernah Saya menulis laporan perjalanan.

Kali ini Saya akan menulis untuk mempromosikan Derawan. Banyak orang yang takut ke Derawan karena biaya yang mahal dan akses yang sulit. Akhirnya, mereka memilih pergi ke Phuket, Thailand. Sayang sekali. Memang pada beberapa hal seperti infrastruktur Derawan kalah bila dibandingkan dengan Phuket. Namun, masalah keindahan alam apalagi pemandangan bawah air, Saya rasa sulit bagi Phuket untuk menandingi Derawan. Dan lagi, jalan-jalan ke daerah lokal membantu meningkatkan perekonomian rakyat Indonesia.

Oke, Saya akan menuliskan kronologi perjalanan Saya dari Balikpapan ke Derawan, beberapa informasi penting bagi traveler akan Saya cantumkan di tulisan Saya.

Hari Pertama: Perjalanan penuh cobaan

Apabila ada orang bijak mengatakan restu orang tua amatlah penting, barangkali perjalanan Saya ini bisa menjadi contoh untuk  menguatkan pendapat tersebut. Ertalina berplesir ke Derawan tanpa pamit ke orang tuanya, akibatnya ada saja halangan selama perjalan berangkat maupun kembali. Tapi Saya tidak bermaksud menyalahkan dia dan terlalu tergesa-gesa menyatakan bahwa halangan yang timbul terjadi karena Ertalina tidak izin ke orang tuanya. Hanya saja, kami tidak bisa menemukan alasan lain selain itu, hehehe.

Pesawat kami ke Tanjung Redeb ditunda selama hampir satu setengah jam. Satu setengah jam yang sangat berharga bagi kuli-kuli yang diperas keringatnya untuk bekerja seperti kami (agak berlebihan ya 😀 ).

Setelah sampai ke Bandara Kalimarau, kami mencarter kendaraan yang digunakan tim pendahulu yang sudah tiba di Derawan sehari sebelumnya. Biaya carter kendaraan dari Tanjung Redeb sampai Tanjung Batu adalah Rp. 250,000. Nah masalahnya, si sopir dan navigatornya kelihatan sekali kurang persiapan. Bensin belum diisi, tekanan ban tidak dicek, bahkan ban serep tidak sebaik ban yang terpasang. Alhasil kami harus berputar-putar di Tanjung Redeb untuk mencari bahan bakar ditambah lagi ditengah perjalanan, ban belakang sebelah kiri bocor, dua kali. Luar biasa. Akibatnya perjalanan yang harusnya bisa ditempuh kurang dari dua jam molor menjadi tiga jam lebih.

Awalnya kami semua sebal. Tapi, selalu ada saja lelucon selama perjalanan yang membuat kami tertawa-tawa meratapi nasib sendiri. Itulah pentingnya mencari teman jalan-jalan yang punya pikiran positif dan punya toleransi tinggi terhadap ketidakberesan selama perjalanan.

Pencinta jalan-jalan sebaiknya mencari kendaraan dan sopir yang reliable karena walaupun jalan ke Tanjung Batu relatif bagus, disepanjang jalan sulit sekali menemukan tempat tambal ban dan tempat pengisian bensin eceran.

Sampai di Dermaga Tanjung Batu, kami berangkat ke dengan speed boat Derawan, tepatnya ke penginapan Sari Cottage yang sudah disewa teman-teman kami. Biaya Speed Boat dari Tanjung Batu ke Derawan adalah Rp 250,000.  Biaya tersebut dikenakan per perjalanan dengan maksimal penumpang lima orang.

Sesampainya di sana, waktu sudah menunjukan jam lima dan perut kami sudah keroncongan karena belum diisi sejak siang tadi. Tanpa ba bi bu, kami langsung minta makanan dan menyantap ikan yang katanya dipancing oleh teman-teman yang sudah datang terlebih dahulu. Selesai makan, kami langsung bersiap-siap karena teman-teman akan segera berangkat memancing.

Kami diajak memancing di perairan Pulau Derawan. Saya tidak tahu kenapa orang suka sekali memancing. Bagi Saya, kegiatan itu tidak seru. Memang ada sensasi tersendiri ketika melempar umpan dan menarik ikan, tapi selain itu tidak ada. Ya kecuali terang bulan, cahaya bintang dan semilir angin malam, Saya tidak merasakan sesuatu yang luar biasa dari memancing.

Sunset saat Mancing

Lepas mancing, kami makan malam dengan hasil pancingan kami. Tentu saja karena masih amatir, hasil tangkapan kami tidak terlalu banyak. Tapi hal itu tidak terlalu mengurangi kenikmatan makan malam yang disajikan apalagi setelah perjalanan panjang yang penuh cobaan hari ini. Puas rasanya 🙂

Hari Kedua: Maratua – Kakaban -Sangalaki

Pagi harinya kami bangun agak terlambat. Matahari sudah muncul, namun kami tetap berjalan ke arah timur Pulau Derawan untuk melihat semburat cahaya matahari terbit. Tidak terlalu istimewa, mungkin karena fase peralihan antara kegelapan dan munculnya semburat cahaya itu sudah lewat. Nah yang istimewa, ketika kami berjalan kembali ke penginapan, kami melihat kerumunan orang sedang merubungi sesuatu. Penasaran, Kami pun mendekat. Ternyata itu adalah penyu yang kelihatannya sudah selesai bertelur. Agaknya penyu ini “kesiangan” dan terlambat untuk kembali ke laut. Akhirnya dia menjadi tontonan orang-orang.

Penyu kesiangan

Yang membuat miris, pengujung beramai-ramai berfoto, bahkan ada yang mau menunggangi penyu tersebut. Kasihan sekali. Saat si penyu menutup sarang dan berniat kembali ke laut lepas, pengunjung yang ingin berfoto beramai ramai mengejar dan menghalangi gerak penyu. Tidak bisa dipungkiri, Derawan adalah tempat tujuan wisata dan penyu adalah salah satu daya tarik wisata di Derawan. Namun, seharusnya ada pihak-pihak yang mengawasi turis agar tidak bertindak kelewatan terhadap penyu-penyu itu.

Setelah sarapan, Kami pun berangkat untuk keliling pulau-pulau sekitar derawan yaitu Derawan, Kakaban dan Sangalaki.

Pak Ruslan, guide kami selama berada di sana, telah menyiapkan kapal nelayan untuk menjelajahi pulau-pulau di sekitar Derawan. Kapal yang sanggup menampung 10 orang ini memang terlihat cukup kokoh. Tapi kekokohannya tidak sebanding dengan kecepatannya. Awalnya memang mengasyikan berperahu lambat-lambat sambil menikmati pemandangan. Tapi lama kelamaan kami pun bosan karena perjalanan dari Derawan ke Maratua akan memakan waktu dua jam. Bosan, Saya pun memilih untuk tidur di kabin karena memang Saya kurang tidur beberapa hari ini. Sekedar informasi,  biaya sewa perahu nelayan ini adalah Rp, 1,200,000 sehari penuh. Namun saran Saya, lebih baik menyewa speed boat yang lebih cepat (dengan harga yang lebih mahal tentu), agar waktu tidak terbuang sia-sia di perjalanan.

Saat bangun, kami sudah mendekati Maratua. Pulau Maratua memang Indah. Kami bisa melihat gradasi perairan dari tosca, biru muda dan biru tua. Selain itu, di perairan dangkal airnya sangat jernih. Kami bisa melihat ikan warna warni berseliweran. Selain itu, pasir pantai Maratua putih lembut dan padat sehingga enak sekali untuk main bola atau voli pantai.

Foto lompat ala pesbuk

Kami bersandar di dermaga milik Maratua Paradise Resort. Resor mewah yang katanya dikelola orang Malaysia. Cukup mahal menginap di resor ini. Biaya yang dikenakan yaitu Rp. 450,000 per kepala. Bandingkan dengan tempat menginap kami yang hanya dikenakan Rp. 400,000 per cottage, per malam. Selain itu,apabila mau diving harga yang ditawarkan juga dalam euro dan dollar. Di Derawan biaya diving dengan peralatan lengkap Rp 300,000, tapi itu belum termasuk sewa speedboat. Yang membuat Saya menyesal, di trip ini Saya tidak sempat menyelam. Padahal Derawan terkenal dengan pemandangan bawah airnya. Sayang sekali.

Dari Maratua, Kami berperahu ke Kakaban untuk melihat danau yang dihuni ubur-ubur yang tidak bersengat. Dari Maratua dengan perahu “odong-odong” perjalanan menempuh waktu kurang lebih satu jam. Sampai di Pulau Kakaban ternyata air surut menjelang pasang,  karenanya perahu kami tidak bisa bersandar karena khawatir kandas dan karam. Awalnya perahu kami sempat menepi dan beberapa teman sempat turun terlebih dahulu. Namun, karena hempasan gelombang pasang yang semakin kuat akhirnya kapal kami pun terpaksa mundur ke perairan ke yang lebih dalam.  Saya dan dua orang teman lain termasuk yang tertinggal di perahu . Karena perahu tidak berani mendekat dermaga, kami pun harus berenang ke dermaga.

Foto sebelum mendarat

Itulah yang menyebabkan kami tidak bisa foto-foto di Pulau Kakaban. Kamera bawah air yang kami bawa pun rusak. Satu-satunya kamera yang dibawapun baterainya habis. Sigit juga tidak berani membawa kamera SLR karena tidak ada pelindungnya. Akibatnya di pulau ini, kami miskin foto 😦

Saat lompat ke air nampaknya masker dan snorkel saya tidak terpasang dengan kuat sehingga terlepas. Beruntung masker dan snorkel tidak terlalu jauh lepas dari Saya. Nah masalah kemudian muncul.  Masker Saya berlensa minus. Tanpa masker, pandangan Saya tidak terlalu jelas. Makanya saat mendarat di karang pijakan Saya kurang kuat. Saat mencoba memanjat untuk berjalan ke arah yang lebih dangkal, Saya terhempas gelombang yang cukup kuat. Akibatnya tulang kering saya mencium karang yang tajam. Akibatnya daging tulang kering saya koyak dan darah mengucur. Sambil Misuh misuh menyesali yang terjadi, Saya pun naik ke dermaga. Saya sempat was-was yang mencium tulang kering saya adalah karang api. Untungnya tidak ada rasa panas dan gatal yang menyengat. Alhamdulillah.

Akibat ciuman sama Karang

Pulau Kakaban mempunyai pesona yang kuat. Mangrove dan tanaman khas hutan hujan tropis dataran rendah tumbuh subur di sini.  Di pulau ini sudah ada jalan yang dibuat dari kayu, sehingga untuk mencapai danau tidak diperlukan usaha yang berat.

Ditepi danau, kami pun langsung berenang karena penasaran melihat ubur-ubur. Semakin ke tengah danau, ubur-ubur yang ditemui semakin banyak. Saya sangat terpukau dengan pemandangan itu, sungguh magis dan fantastis. Ditempat yang kedalamannya sekitar 5-6 meter Saya melihat ada beberapa jenis alga hijau menghampar seperti permadani, anemon laut yang menempel pada alga tersebut serta ikan warna warni. Rasanya senang sekali punya kesempatan berenang di danau ini.

Ubur-ubur, anemon laut, algae, dan ikan yang Saya temui merupkan hasil dari proses adaptasi ratusan tahun di danau yang terisolasi ini. Itulah yang membuat Saya takjub dengan bagaimana ekosistem sekitar danau seperti mangrove, hutan hujan tropis, laut dan mungkin terumbu karang sekitar pulau kakaban dapat menyangga kehidupan di danau itu. Itu juga yang membuat ekosistem ini sangat rapuh. Karena terisolasi, keterkaitan antara satu elemen dengan elemen lain sangat kuat. Apabila ada gangguan terhadap satu elemen, maka diperkirakan seluruh bangunan ekosistem danau Kakaban dapat runtuh. Oleh karena itu, pengembangan turisme pulau Kakaban harus direncanakan secara matang dan memperhatikan setiap aspek yang ada agar “keajaiban” danau Kakaban dapat terjaga dan dinikmati oleh generasi penerus kita.

Setelah capek berenang dan juga karena rasa lapar yang menyerang, kami pun bersiap menuju ke Pulau selanjutnya yaitu Sangalaki untuk melihat Manta dan tempat konservasi penyu. Sampai di dermaga Pulau Kakaban ternyata air sudah pasang sehingga perahu kami bisa bersandar dan kaki Saya tidak perlu lagi mencium karang 😀

Perjalanan ke Sangalaki memakan waktu kurang lebih sejam, ya itu, karena perahu “odong-odong” yang kami sewa. Di perairan dekat Sangalaki kami melihat beberapa sayap Manta yang muncul di permukaan. Pemandu kami memang cukup pandai memperkirakan waktu. Kami sampai di Sangalaki tepat saat air pasang, sehingga banyak Manta yang keluar. Awalnya ingin sekali Saya turun dan berenang di sana, namun guide kami memberitahu bahwa arus disana cukup deras dan mengingat keadaan kaki saya yang mulai terasa sakit dan panas, akhirnya Saya urungkan niat dan memandang sedih ke kumpulan Manta itu. Kami pun menuju lokasi yang arusnya tenang dan ramah untuk snorkeling.

Sambil snorkeling, Pak Ruslan berburu untuk makan malam. Saya dan Ertalina memang memesan lobster ke dia tapi sayang dia tidak berhasil menemukan lobster. Walaupun begitu,  dia berhasil menombak  ikan pari dan cuttlefish (sotong). Asyik malam ini kita akan makan sotong goreng tepung!

Sangalaki

Menurut Saya, selain Manta dan tempat konservasi tidak ada yang menarik di Pulau Sangalaki. Untuk masuk ke pulau ini harus membayar Rp 2,000 per orang untuk turis lokal. Sialnya, saat datang ke sana semua tukik  sudah dilepas, padahal kami sudah bayar. Ya sudah,  kami segera pulang ke Derawan supaya tidak kemalaman.

Perjalanan ke Derawan dengan perahu “odong-odong” memakan waktu kurang lebih dua jam. Untuk mengisi waktu dan menambah menu makan malam, beberapa teman memilih memancing ikan tongkol. Lelah, saya memilih tidur. Ditengah perjalanan, tiba-tiba perahu berhenti, Pak Ruslan mengatakan bahwa ada bagian yang bocor di dekat propeller, kemungkinan karena terkena karang saat kami mencoba bersandar pertama kali di Pulau Kakaban. Teman-teman mulai terlihat panik, tapi Saya dengan tenang melanjutkan tidur lagi, hehe. Saat bangun, mesin kapal sudah berjalan dan teman-teman sudah terlihat lega walaupun Saya melihat Pak Ruslan sekuat tenaga memompa keluar air yang masuk ke lambung kapal. Seorang teman berbisik, saat mesin mati, kami berada di perairan yang banyak hiunya. Saat itu Pak Ruslan dan nahkoda perahu sudah kebingungan karena apabila perahu karam, kami harus berenang. Dengan luka yang masih basah, sudah dipastikan Saya akan menarik perhatian hiu. Untung saja masalah bisa selesai, walaupun Saya tidak tahu bagaimana cara mereka mengatasinya.

Saat tiba di Derawan kami semua merasa lega, tak sabar untuk bersih-bersih dan menyantap hasil tangkapan kami satu hari ini.  Saya juga tidak sabar untuk mengobati luka. Pengalaman menunjukan luka akibat goresan karang tidak mudah sembuh. Karenanya saya ingin cepat-cepat membersihkan luka, makan dan beristirahat.

Makan malam terakhir kami boleh dibilang istimewa. Sekurangnya ada tiga jenis ikan yang dihidangkan yaitu tongkol, kerapu dan pari serta sotong goreng tepung dan sayur bayam. Kami menghabiskan makan dengan cepat tanpa banyak bicara karena lapar dan lelah.

Setelah makan, kami pun ngobrol-ngobrol dengan Pak Ruslan. Pak Ruslan banyak bercerita mengenai keadaan di Pulau Derawan yang sering terjadi skandal-skandal perselingkuhan karena para lelaki pergi berlayar selama  berminggu-minggu. Dia juga bercerita tentang pekerjaannya sebagai pemandu dan pemburu ikan napoleon. Saya juga banyak bertanya tentang lokasi selam di Derawan. Memang sih dia kurang berpengalaman mengantar turis untuk menyelam, namun dia bilang bisa mencarikan pemandu selam yang handal untuk Saya dan teman-teman apabila dikemudian hari Saya berniat kembali ke Derawan. Dia dan pemilik Sari Cottage (Pak Sanusi) titip pesan untuk mempromosikan tempatnya ke teman-teman kami.

Untuk memenuhi janji Saya, inilah review Saya tentang Sari Cottage. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau.  Kamar dengan dua tempat tidur dikenai harga  Rp 175,000 per malam. Kamar tidur non-AC yaitu 100,000 per malam. Sementara untuk menyewa paviliun yang berisi 3 kamar tidur dan dua kamar mandi yaitu Rp 400,000 per malam. Semua kamar berisi dua ranjang spring bed berukuran single yang relatif masih baru. Kamar mandi bersih, air bersih lancar. Harus diingat, di Pulau Derawan listrik hanya mengalir 12 jam yaitu dari jam 6 sore ke jam 6 pagi. Lokasi penginapan pun menarik. Berada menjorok ke laut, kita bisa melihat ikan-ikan berenang di bawah penginapan. Kalau beruntung, kita bisa melihat penyu melintas. Orang-orangnya pun ramah, kita bisa mengatur perjalanan serta menegosiasikan harga dengan mereka. Nomor kontak yang bisa dihubungi, Pak Ruslan (081257776426), Pak Sanusi (081346538448)

sari cottage

Lelah, kami pun langsung cup tempat tidur masing-masing. Saya memilih tidur di beranda dengan pemandangan langit berbintang dan semilir angin. Tidak lama kemudian, kami langsung tertidur pulas. Saya yang masih sempat membaca buku sebentar sebelum tidur akhirnya pun tertidur pulas.

Hari Ketiga : Perjalanan Pulang

Pagi pagi sekali kami sudah bangun untuk bersiap-siap kembali ke kekehidupan nyata. Setelah sarapan dua buah mini donat dan kopi, kami siap berangkat ke Tanjung Batu dengan speedboat (Ya, kali ini bukan dengan odong-odong). Saat bersiap berangkat, turun hujan. Speedboat kami pun dipasang terpal untuk melindungi kami dari hujan. Sigit bilang kalau pulang jalan-jalan dengan Saya selalu ketemu terpal. Saya ingat waktu perjalanan pulang dari Taman Nasional Tangkoko menuju Manado, mobil pick-up yang mengantar kami ke terminal bus tidak beratap. Saat  turun hujan, sopir langsung memberikan Saya terpal yang cukup besar. Saya dan Sigit kebingungan dengan bagaimana cara melebarkan terpal di mobil pick -up yang tanpa penyangga dan sama sekali tidak berniat menurunkan keceapatannya. Lucunya lagi,  saat berhasil melebarkan terpal, Saya dan Sigit harus memegang terpal itu supaya penumpang lain tidak kehujanan sementara mobil melaju kencang menuruni bukit-bukit di bagian utara Sulawesi.

Saya sempat kuatir kalau sopir speedboat kami kehilangan ancer-ancer karena hujan dan jarak pandang terbatas. tapi sopir kami memang berpengalaman, dia tidak sulit menemukan dermaga Tanjung Batu. Oh iya, harga sewa speedboat dengan kapasitas mesin 115 PK dan penumpang 10 orang  Rp. 500,000 dari Derawan sampai ke Tanjung Batu.

Sampai di Tanjung Batu, kami mendapat berita yang tidak mengenakkan. Begini, Kami sudah memesan dua mobil, satu untuk mengantar Saya, Sigit dan Ertalina ke Bandara Kalimarau dan satu untuk kendaraan pulang teman-teman yang lain ke Bontang. Ternyata saat kami tiba di Tanjung Batu,  sopir dan navigatornya baru mengabarkan kalau mereka tidak mendapat kendaraan. Kalau saja semalam mereka mengabarkan, Kami bisa langsung memesan kendaraan ke Pak Ruslan. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara pesawat kami akan berangkat pukul sebelas siang. Keputusan harus segera dibuat. Akhirnya tiga orang dari kami berkorban untuk mencari sendiri kendaraan, karena mereka khawatir Kami akan ketinggalan pesawat.

Bertujuh (ditambah sopir dan navigator), kami langsung berangkat ke Kalimarau. Saat Saya lihat dashboard, lagi-lagi mereka belum mengisi bensin. Ketika Kami tiba di POM bensin Tanjung Batu, ternyata bensinnya habis. Kebingungan mereka pun berputar-putar di Tanjung Batu untuk mengisi bensin. Saya sempat menegur ketidaksiapan mereka yang belum mengisi bensin dan mungkin menyiapkan ban serep. Mereka berkilah tidak punya uang karena habis saat memperbaiki ban bocor dan ban serep. Akibat ketidaksiapannya, mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk mengisi bensin di tempat pengisian eceran. Benar-benar payah.

Terlepas dari ketidaksiapan sopir dan navigatornya, Saya harus akui mereka adalah sopir handal. Waktu tempuh dari Tanjung Batu ke Kalimarau ditempuh dalam waktu dua jam kurang, sehingga Kami tiba di Kalimarau pukul 10.00 WITA.

Setelah dadah-dadahan dengan teman-teman yang lain Kami pun bersantai sejenak sambil ngobrol-ngobrol sebelum check-in. Bandara Kalimarau adalah bandara dengan fasilitas seadanya, makanya jangan kaget saat melihat tempat boarding dan check-in yang sangat sederhana. Bahkan di tempat menunggu pesawat sebelum boarding, ada kantin yang menyediakan indomie dan nasi kuning. Lapar, kami pun memesan tiga indomie kuah. Mahal memang, seporsi mi dikenai harga Rp. 15,000. Entah karena kami kelaparan sehingga  kelihatan enak atau karena tampilan Indomie yang sangat menarik, beberapa bule yang melihat Kami ikut-ikutan memesan Indomie tersebut, hehehe.

Di Kantin Bandara

Saat akan boarding, Saya berjanji kepada diri sendiri untuk kembali ke tempat Indah ini. Walapun kaki luka terkena karang, Saya masih penasaran dengan keinginan yang tidak sampai yaitu berburu lobster, makan kepiting kenari,  dan menyelam di Derawan dan Maratua yang terkenal itu.

Entah berapa bulan atau tahun lagi, dan mungkin saja dengan kamu 🙂

Iklan

5 responses to “A Trip to Derawan-Maratua-Kakaban-Sangalaki

  1. kalau bisa ke sana lagi:
    – jangan pake “odong-odong” yang super lambret. enggak bgt.
    – harus bawa underwater camera
    – kudu udah bisa nyelem. (khusus buat saya) hahaha..
    – kalau bisa pake inova dr berau ke tanjung batu-nya. hahaha..

  2. Iye Git, makanya beli dong G11 plus casing. Masa kudu gw yang beli sih.

  3. kalau keberau lagi Pulau derawan sudah menyiapkan kendaran transportasi terbaru super cepat, Odong-Odong Under Ground need for speed

  4. halo….bapak sigit , saya mau menawarkan kalau bapak ke berau lagi dan ke pulau derawan saya siap memandu dan menyiapkan mobil transpottasi air ke derawan, dan saya tidak akan mengecewakan bapak, oh ya nama johan saya tinggal di berau dan kalau bapak berminat hubungin saya di no 081346508731 saya redy selalu. terimakasih sebelumnya saya ucapkan ke bapak.

  5. @ Sigit : Rencananya kapan ke Derawan lagi ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s