Saya dan Sepakbola

Saya masih ingat ketika SD dulu, Saya sekolah untuk bermain sepakbola. Bukan main sepakbola betulan, tapi main sepakbola di lapangan basket. Itupun dengan bola plastik dan kadang dengan bola tenis. Saat itu kami dilarang keras bermain sepakbola karena dianggap dapat merusak properti sekolah. Hal yang tidak dapat Saya mengerti karena kami bermain dengan bola plastik. Alhasil, Kami sering sekali kejar-kejaran dengan satpam sekolah saat bermain sepakbola. Sering juga bola plastik yang urunan kami beli disita dan dirusak oleh satpam.

Bahkan saat bulan puasa pun Saya tetap bermain sepakbola. Saya masih ingat waktu bulan puasa, kami sekolah hanya sampai jam 10 pagi dan setelah itu boleh pulang. Alih-alih pulang, Kami malah bermain bola sampai dzuhur. Hebatnya, Kami semua tetap berpuasa walaupun haus dan lelah setelah bermain sepakbola di bawah terik matahari.

Sekolah kami yang terletak di daerah permukiman padat Palmerah Jakarta Selatan itu bukanlah sekolah elit dan bonafid.  Memang, sekolah kami menyandang nama besar peguruan Al-Azhar. Namun, bila dibandingkan dengan perguran Al-Azhar lain, sekolah kami tidak ada apa-apanya. Saya ingat, ketika kami pernah latih tanding bola basket dengan SD Al-Azhar I (Kebayoran Baru). Kami merasa minder karena Al-Azhar I megah dan memiliki beberapa fasilitas olahraga yang mantap, sementara sekolah kami hanya memiliki satu lapangan basket.

Kurangnya fasiltas tidak menurunkan semangat kami untuk bermain sepakbola. Hampir setiap jam istirahat dan pulang sekolah, Kami bermain bola. Bahkan, untuk menghindari intaian satpam sekolah, sering kami bermain sepakbola dengan bola tenis di teras masjid dengan pilarnya menjadi gawang. Senang sekali rasanya. Rasanya hampir tidak pernah Saya memusingkan nilai Sekolah Saya yang hanya rata-rata itu. Orang tua Saya juga hanya geleng-geleng kepala ketika Saya pulang ke rumah dengan pakaian kotor dan tidak jarang celana panjang  yang sobek di bagian selangkangan.

Saat SMP, walaupun bermain sepakbola tetap sering dilakukan, ketertarikan Saya mulai bergeser ke bola basket dan main band. Bersekolah di SMP Al-Azhar Kemandoran yang terletak bersebelahan dengan SD, fasilitas di Sekolah kami tetap tidak berubah. Lama-kelamaan kami semakin bosan karena permainan kami tidak pernah bekembang; memakai bola plastik dan gawang yang dibuat dari tumpukan batu. Ketertarikan terhadap sepakbola pun turun kelas menjadi pemain bola lewat console playstation dan penonton sepakbola di televisi.  Ketika kelas tiga SMP, Saya semakin jarang bermain sepakbola tapi semakin kuat main game dan menonton sepakbola di televisi. Puncaknya ketika masuk SMA, ketika minat difasilitasi, Saya malah tidak tertarik masuk ke klub sepakbola. Sejak itu dalam hidup Saya sepakbola turun kelas. Sekarang pun Saya tidak terlalu antusias jika diajak bermain sepakbola oleh teman-teman. Bahkan nonton final Liga champions eropa 2010  saja Saya ketiduran.

Seiring dengan gegap gempitanya pesta sepakbola dunia 2010, Saya mencoba mengais memori masa lalu ketika sepakbola mendapat tempat yang penting di hidup Saya. Pikiran Saya pun terbang ke masa-masa ketika Saya amat menikmati permainan sepakbola, ketika Saya berlari mengejar bola murahan yang terbuat dari plastik itu, ketika Saya menggocek bola, ketika berselisih paham dengan teman mengenai masuk atau tidaknya suatu tembakan ke gawang (karena gawang dadakan yang hanya terbuat dari tumpukan batu), dan ketika Saya jatuh ditackle lawan sehingga tangan dan kaki saya lecet-lecet. Saya pun berandai-andai. Andai saja dulu ketika semangat bermain sepakbola sangat tinggi ada yang memfasilitasi, mungkin saja sekarang Saya sudah berada di layar televisi itu bermain untuk Indonesia di Piala Dunia 2010. Hehehe, terlalu optimis ya. Yah, namanya juga berandai-andai 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s