Monthly Archives: Juli 2010

Mackinnon Field Guide, Finally!

Field Guide MacKinnon

Field Guide

Finally!

The last time I saw this book was  in college. Back then,  I was a member of birdwatcher community in ITB. At first I found birdwatching was an unproductive activity. A group of people, pointing at something on the tree,  peeking through binocular, make a sketch,  rattle off about bird’s latin names, debating about the difference between juvenile and adult, “what the hell are they doing”, “don’t they have more interesting things to do?”, that was my first responses.  If we want to see birds why don’t we go to the zoo, it is a lot easier, we don’t have to bring binocular, we don’t have to frequently look up until hurt out neck, we don’t have to identify, simple, fun, easy.

It turned out that I missed something. Birdwatching wasn’t meant only to see birds. Moreover, It was meant to show us the interdependency between birds and its natural habitat. We only find certain birds, in certain habitat. Of course there are “cosmo” birds that we can find almost everywhere near human like Eurasian Tree Sparrow (Passer montanus) or Burung gereja. But to find more unique, pretty birds with stunning voices, we have to go to certain habitat. For example, we could only see the  family of Paradisaeidae or the birds of paradise in Papua. As long as we preserve their natural habitat we can find them.

As a natural pragmatist, I realized something. Those birds are a lot prettier in the wild than in the cage. On top of that, in the wild, birds can serve their ecological service as a pollinator and as a natural controller for maintaining ecological balance . We often take for granted something we got freely without doing  extra effort like birds or insects. For too long we valued something based on what the benefit it would bring to human. I say stop! Change that point of view.  That is a very  humanistic point of view. Rather than putting ourselves as a center of the universe, try to see it differently. We are just a part of the universe, therefore everything around us has to be respected whether they would bring benefit to human or not. Try to see it closer, then you will understand 🙂

Okay I have to stop blabbering now, I might lead this writing to Dawkins evolutionary perspective 😛

Back to the book. MacKinnon’s fields guide for birds in Sumatra, Jawa, Bali & Kalimantan has been the holy bible for birdwatchers in Indonesia. As  a birdwatchers in Indonesia it is almost impossible if you didn’t know this book. Although sometime the bird’s color in the drawing is not exactly the same with the one  in the wild, I still found this book really helpful.

Special thanks to Burung Indonesia who made it possible for me to have this bible of birdwatching.

So, birdwatching anyone? 😀

Iklan

Jangan Pernah Lagi Takut Salah

Sedari kecil  Saya adalah orang yang  takut untuk berbuat salah.  Didikan yang amat keras dari orang tua telah membentuk Saya menjadi pribadi yang disiplin.

Saat kecil, Saya memang memiliki kelebihan energi (red: ameliorasi dari bandel) bila dibandingkan dengan kakak dan adik saya. Ayah yang melihat potensi itu mungkin tidak punya cara lain untuk  mengelola energi anak laki-laki pertamanya itu selain dengan disiplin ketat dan tangan besi. Cukup berhasil memang, sekarang efeknya mulai terasa. Saya yang sedari kecil dibiasakan memahami pentingnya persistensi dan konsistensi tidak mengalami masalah ketika berhadap-hadapan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang melelahkan dan membosankan.

Tapi metode yang diterapkan kepada Saya bukannya tanpa kelemahan. Memang untuk hal-hal yang berhubungan dengan konsistensi dan persistensi Saya mampu bertahan. Tapi untuk hal-hal baru yang membutuhkan kreativitas dan keberanian berbuat kesalahan, itu sesuatu hal yang tidak pernah Saya miliki.

Penelitian oleh Nate Cornell, Matthew Hays & Robert Bjork dari University Of California, Los Angeles dalam Journal of Experimental Psychology : Learning, Memory & Cognition menunjukan bahwa usaha dan kegagalan untuk mendapatkan jawaban, membantu dalam proses belajar. Pada penelitian itu, siswa memang sengaja dikondisikan untuk berbuat kesalahan. Saya tidak akan membahas detail metode yang akan membosankan. Langsung saja, hasil dari penelitian  ini menunjukkan bahwa kelompok yang diberikan semacam pre-test sebelum ujian akan mendapatkan hasil yang lebih dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan kesempatan membaca materi ujian. Hasil yang menarik, tentu hasil dari penelitian ini bukan hanya terbatas pada pendidikan formal yang merujuk pada textbook.

Shits happens dude !

Sedari kecil sampai sekarang, memang budaya berbuat kesalahan sedikit mendapat tempat di Indonesia. Setiap habis berbuat kesalahan, pasti akan dicerca dihabis-habisan. Walaupun tidak dicerca langsung, akan ada pandangan-pandangan menghukum dari orang-orang yang tahu bahwa kita telah berbuat kesalahan. Berbuat kesalahan seakan-akan dosa besar yang tidak terampuni, apalagi kalau kesalahan itu mengganggu kepentingan orang lain.

Baru-baru ini Saya membaca tulisan dari Rhenald Kasali, seorang pakar manajemen Indonesia, tentang budaya menghukum di Indonesia. Menurutnya, generasi Indonesia dibentuk dengan sejuta ancaman, baik fisik (gesper, rotan, penghapus) maupun kata-kata (awas..; kalau…; nanti…). Dia menceritakan pengalamanya ketika tulisan putrinya diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna saat baru tiba di Amerika Serikat. Menurut Rhenald, tulisan putrinya buruk dan logikanya terlalu sederhana. Takut Putrinya itu cepat berpuas diri, diapun mengajukan protes ke guru yang memberi nilai. Tidak disangka-sangka, argumen yang diajukan oleh guru tersebut malah membuat cara pandang seorang Rhenald Kasali berubah total. Sang guru menjelaskan bahwa filosofi pendidikan di Amerika Serikat bukan untuk menghukum, melainkan merangsang untuk maju, Encouragement. Guru itu pun melanjutkan, untuk anak sebesar itu yang baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa inggris, tulisan putri Rhenald merupakan karya yang hebat.

Rhenald Kasali pun menyadari kesalahannya. Tidak sepatutnya ia mengukur  kemampuan anaknya dengan ukurannya, seorang mahasiswa master. Seharusnya, yang patut dihargai adalah usaha keras dari putri tercintanya.

Sekarang, di tempat kerja, Saya pun masih mengalami hal-hal yang demikian. Sebagai anak baru, tentu Saya sering melakukan kesalahan. Tapi itu dia, berbuat kesalahan masih dianggap sesuatu yang tabu dan memalukan. Alih-alih mendapatkan encouragement, Saya mendapat discouragement lewat pandangan-pandangan & pembicaraan-pembicaraan yang membuat Saya merasa bodoh. Iklim kerja yang seperti itu yang membuat Saya ragu untuk melakukan sesuatu yang baru, takut salah.

Jelas Saya bukan merupakan orang pintar. Kalau Saya pintar, Saya tidak akan sering melakukan kesalahan. Walaupun Saya tidak pintar dan sering melakukan kesalahan, satu yang bisa dipastikan adalah Saya akan selalu belajar dari kesalahan Saya.

Walaupun sedari kecil Saya dididik untuk tidak melakukan kesalahan, Saya akan berupaya untuk berani melakukan sesuatu  tanpa takut akan kesalahan yang mungkin timbul.  Tentu saja Saya tidak akan bertindak konyol yang akan merugikan diri saya dan orang lain tanpa didasari akal sehat. Karena saya yakin, berbuat kesalahan dan belajar dari kesalahan akan membuat diri Saya menjadi lebih baik.

Seperti halnya teori-teori psikologi populer,  perkara ini jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Mudah-mudahan Saya kuat untuk benar-benar melakukannya, tidak hanya terucap saja.

So, throw away all the worries and let the good times roll !!

Do You Miss Me My Darling, As I Miss You

Siang hari ini Saya mau jadi romantis-melankolis ah 🙂

Aspettami
Wait for me
I’ve been lost
Adrift at sea
In your dreams
Dream my way
Someday I’ll find my heart
And come back to stay

Do you miss me
My darling
As I miss you
Take my hand
And pull me near
And never let me go again my dear

There was a time
I was safe in your arms
And the stars fell away like diamonds
Then we were young
And our love was younger still
Was it just an illusion

Aspettami
Wait for me
Close your eyes
And you will see
I’m coming home
Every sky in my heart will be blue
On the day I come back to you

I’m coming home
Every sky in my heart will be blue
On the day I come back to you

-Pink Martini, Aspettami-

Farewell Dear NEC-Versa

A few days ago, Bobby came to my desk and handed over his flash disk. I thought he wanted to scan his flash disk with my powerful NOD 32 anti virus. So, I plugged it in to my USB port. Suddenly, after the pop out notification, my laptop was dead. I was not worried because it had happened before, so I just turned it on again.  Right after booting to Windows it turned off again.  I started to worry, I turned it on again and yet again it turned off  again. Oh no, it happened, my laptop is dead. Bobby, who actually never wanted to scan his flash disk, just laugh. It turned out that  he just wanted to tease me. He handed over his flash disk because he wanted to show me his picture in Yogjakarta with the girl I had a crush on (a really long time ago), what an ass. Indirectly, he killed my loyal laptop 😦

Usually, every two or three days, I made a safety sync to my external hard drive since my laptop often shut-down mysteriously. I arranged my folder into category and filled it with the files related to the category. When I plugged in my external hard drive to laptop, there is this fancy software which can update all my files and folders into the hard drive with just one click. So, the arrangement and files I have been working on are always back -up. Apparently, there were recent work I hadn’t put in those folders, instead I put it on the desktop. Thus, When I synced it, my recent works didn’t go to the hard drive. Crap.

So, I took off my laptop’s hard drive and brought it to the IT Department to save my recent works. There, I got my hard drive connected to the PC as a slave. Yeah,  The PC detected my hard drive. But since it was password protected, I couldn’t access my data. Dammit ! I tried a desperate attempt to re-insert the hard drive into its original place – my laptop –  and turned it on. Miracle happened, it was successfully able to access windows. Quickly, I copied all my recent works to the external hard drive fearing  it would be soon dead again. Not so long after I had my data copied, my fear came true,  it turned off again. The technician could do nothing about it, he said the problem was in the motherboard not the hard drive. In the end,  He suggest me to buy a new laptop.

I was sad at first. Early this years I have predicted my laptop will be dead sooner or later since the frequent occurrence of windows blue screen of death (BSOD). Well, my old laptop was four years old, I think he deserves a peace. I decided to buy a new one since I don’t know how am  I gonna survive without one (*lebayista.com)   I gleefully rubbed my hand and can’t wait for the joy of looking around for the new laptop, hehehe.

Old NEC laptop

I have been doing some research for the new laptop. My old laptop was NEC versa E6210, a high-end laptop with relatively affordable price.  At first, I was very satisfied with its performance, then I began to understand why my laptop price wasn’t expensive while it had high specs.  One thing I hate from my laptop was  its noise that came from the internal cooler. It seems like the laptop need the noisy fan for compensating the heavy-duty NVIDIA graphic card. The second was the screen. Although it had a high-end graphic card, my old laptop had a lame screen.What is the point of  having the latest graphic card if you cannot enjoy it on the screen?

Based on the experience I had, I wouldn’t buy laptop from its high- specs . Rather, I will buy laptop from reputable brand and seek preview about it in internet. After doing some research,  my heart is set on the Macbook pro (MBP) 13″.  Why? first,because it is Mac. Unlike other computer, Mac offered a package consist of hardware and software. I can throw away all the worries about hardware and software incompatibility along the way. Second, because of its LED back light screen and good sound. And the third, I always love the elegant design of Apple products, they make you look more artsy 😀

Well, of course I still need Windows to run several work-related programs. I just need to install boot camp or parallel desktop to run windows on Mac. Voila, problem solved.

Pretty isn't it?

There are two kind of 13″ MBP, the high-end and low-end. The difference between high-end and low-end are  just 0.2 clock and 70 GB of storage gaps, the others are exactly the  same. The high-end has 2.66 GHz Intel core 2 duo processor and 320 GB 5400 rpm hard drive while the low-end has 2.4 GHz Intel core 2 duo processor and 250 GB 5400 rpm of hard drive. The price difference for both MBP are $300. I don’t think 0.2 Ghz clock and 70 GB worth it.  So, I decided to buy the low-end MBP 13″ and save $300. Saving $300 means I could buy that fancy magic mouse and other stuff, yay!

Now, I have to figure out how & when am I gonna buy MBP? I doubt they have an authorized reseller in Bontang. Well, I think I have to be patient until I get a chance to go to Jakarta 🙂

Early Marriage Won’t Work For Me

“You should have to pass an IQ test before you breed. You have to take a driving test to operate vehicles and an SAT test to get into college. So why don’t you have to take some sort of test before you give birth to children? When I am President, that is the first rule I will institute.”

Marilyn Manson

Sudah berkali-kali Saya ditanyakan oleh teman kantor mengenai kapan Saya bakal melepas status lajang ini. Biasanya Saya hanya tersenyum dan menjawab, “bukan tahun ini deh kayaknya”.  Di Bontang sepertinya sudah bekerja dan melajang merupakan hal yang tidak biasa. Kebiasaan umum disini adalah setelah masuk kerja ya menikah, setelah itu, ya punya anak, setelah itu, ya membesarkan anak, setelah itu ya pensiun. Tentu tidak ada yang salah dengan pandangan tersebut. Toh, salah satu alasan kenapa orang mau bekerja di BUMN adalah kenyamanan yang didapat. Menurut Saya, menikah cepat  adalah salah satu indikator kenyamanan yang diperoleh.

Banyak diantara teman-teman Saya yang sudah menikah, bahkan di usia yang masih sangat muda, awal dua puluhan. Mungkin karena Saya besar di Ibukota dan terbiasa melihat orang melajang , makanya melihat rekan-rekan yang menikah muda Saya jadi mengernyitkan dahi. Bukan apa-apa, melepas lajang berarti masuk ke arena pertandingan yang berbeda. Sederet beban dan resiko sudah membayang di depan mata; berbagi tempat tidur, berebut siaran televisi, sifat pasangan yang harus ditoleransi, keinginan pasangan yang harus dipenuhi, bertengkar, ekspektasi yang tak terpenuhi, belum lagi kalau sudah punya momongan.

Apabila ada anak muda yang memutuskan menikah dini cuma ada dua sebab, betul-betul bodoh atau betul-betul berani. Saya sering mendengar teman-teman menikah cepat untuk alasan yang agak aneh, seperti “biar halal”. Menikah, berarti sudah siap menanggung resiko yang akan timbul, bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang terjadi di depan. Saya paling tidak suka orang yang sembarangan menikah karena diburu nafsu atau karena lonjakan horman oksitosin akibat berasyik-masyuk dengan pasangannya. Kalau hanya menikah saja dan tidak ada buntutnya sih gak papa. Kalau sudah ada momongan, resikonya sudah beda lagi. Untuk hal ini, Saya bersetuju dengan Marilyn Manson, seharusnya sebelum para orang tua ngebrojolin anaknya ada serangkaian tes apakah orang tersebut layak menjadi orang tua atau tidak.

Membesarkan anak tidak bisa dilakukan main-main. Orang tua harus siap bertanggung jawab bukan hanya masalah materi tetapi juga terhadap perkembangan jiwa si anak. Sudah terlalu banyak muncul monster-monster akibat kesalahan pola asuh dan masa kecil yang buruk, tidak perlu ditambah lagi.  Apabila telah mengerti semua resiko dan tanggung jawab dan tentu saja betul-betul siap menjalani semua itu, barulah seseorang bisa dikatakan layak untuk berkeluarga.

Mengapa Saya berpandangan skeptis seperti ini ?  Saya kenal beberapa orang yang tidak mendapatkan kasih sayang kedua orang tua waktu kecil,  baik karena kedua orang tuanya bercerai dan sibuk dengan urusan masing-masing atau karena kedua orang tuanya sibuk mengejar karir sehingga anak-anaknya diasuh oleh televisi dan video game. Teman-teman Saya itu kesulitan untuk memposisikan diri di masyarakat, belum lagi kalau punya penyakit rendah diri,  akibatnya mereka sulit memberikan yang terbaik untuk masyarakat, bahkan beberapa malah menjadi beban masyarakat.

Saya pribadi paham betul tanggung jawab dan resiko yang akan timbul ketika Saya memutuskan untuk menikah. Makanya Saya tidak akan terburu-buru menikah, Saya belum betul-betul bodoh dan belum betul-betul berani.

Eh, jangan salah sangka. Tentu saja Saya memiliki keinginan untuk menikah. Saya tidak bisa membayangkan diri Saya di usia enam puluhan, sendirian, mencari orang yang mau mendengarkan  kisah kejayaan masa lalu, nggak banget. Cuma ya itu, Saya belum menemukan seseorang yang bisa membuat Saya betul-betul bodoh atau betul-betul berani untuk memutuskan menikah. Tapi hal yang paling Saya khawatirkan adalah gagalnya rencana liburan.  Saya adalah  pencinta jalan-jalan yang amat takut dengan kenyataan kalau menikah itu berarti mengubur dalam-dalam impian Saya menjelajahi hulu Sungai Mahakam, hiking di Lembah Baliem Papua, menyelam di Raja Ampat, naik Gunung Rinjani dan berbagai kegiatan seru lainnya.

Egois ? Memang, makanya Saya belum berani memutuskan untuk menikah. Jadi kalau ada yang menanyakan kapan Saya mau menikah, akan Saya keluarkan jawaban pamungkas Saya, “bukan tahun ini deh kayaknya”.

The Heart of Life

I hate to see you cry
Lying there in that position
There’s things you need to hear
So turn off your tears
And listen

Pain throws your heart to the ground
Love turns the whole thing around
No it won’t all go the way it should
But I know the heart of life is good

You know, it’s nothing new
Bad news never had good timing
Then, circle of your friends
Will defend the silver lining

Pain throws your heart to the ground
Love turns the whole thing around
No it won’t all go the way it should
But I know the heart of life is good

Pain throws your heart to the ground
Love turns the whole thing around
Fear is a friend who’s misunderstood
But I know the heart of life is good
I know it’s good

John Mayer – The Heart of Life

I trully am sorry it didn’t go the way it should.