Early Marriage Won’t Work For Me

“You should have to pass an IQ test before you breed. You have to take a driving test to operate vehicles and an SAT test to get into college. So why don’t you have to take some sort of test before you give birth to children? When I am President, that is the first rule I will institute.”

Marilyn Manson

Sudah berkali-kali Saya ditanyakan oleh teman kantor mengenai kapan Saya bakal melepas status lajang ini. Biasanya Saya hanya tersenyum dan menjawab, “bukan tahun ini deh kayaknya”.  Di Bontang sepertinya sudah bekerja dan melajang merupakan hal yang tidak biasa. Kebiasaan umum disini adalah setelah masuk kerja ya menikah, setelah itu, ya punya anak, setelah itu, ya membesarkan anak, setelah itu ya pensiun. Tentu tidak ada yang salah dengan pandangan tersebut. Toh, salah satu alasan kenapa orang mau bekerja di BUMN adalah kenyamanan yang didapat. Menurut Saya, menikah cepat  adalah salah satu indikator kenyamanan yang diperoleh.

Banyak diantara teman-teman Saya yang sudah menikah, bahkan di usia yang masih sangat muda, awal dua puluhan. Mungkin karena Saya besar di Ibukota dan terbiasa melihat orang melajang , makanya melihat rekan-rekan yang menikah muda Saya jadi mengernyitkan dahi. Bukan apa-apa, melepas lajang berarti masuk ke arena pertandingan yang berbeda. Sederet beban dan resiko sudah membayang di depan mata; berbagi tempat tidur, berebut siaran televisi, sifat pasangan yang harus ditoleransi, keinginan pasangan yang harus dipenuhi, bertengkar, ekspektasi yang tak terpenuhi, belum lagi kalau sudah punya momongan.

Apabila ada anak muda yang memutuskan menikah dini cuma ada dua sebab, betul-betul bodoh atau betul-betul berani. Saya sering mendengar teman-teman menikah cepat untuk alasan yang agak aneh, seperti “biar halal”. Menikah, berarti sudah siap menanggung resiko yang akan timbul, bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang terjadi di depan. Saya paling tidak suka orang yang sembarangan menikah karena diburu nafsu atau karena lonjakan horman oksitosin akibat berasyik-masyuk dengan pasangannya. Kalau hanya menikah saja dan tidak ada buntutnya sih gak papa. Kalau sudah ada momongan, resikonya sudah beda lagi. Untuk hal ini, Saya bersetuju dengan Marilyn Manson, seharusnya sebelum para orang tua ngebrojolin anaknya ada serangkaian tes apakah orang tersebut layak menjadi orang tua atau tidak.

Membesarkan anak tidak bisa dilakukan main-main. Orang tua harus siap bertanggung jawab bukan hanya masalah materi tetapi juga terhadap perkembangan jiwa si anak. Sudah terlalu banyak muncul monster-monster akibat kesalahan pola asuh dan masa kecil yang buruk, tidak perlu ditambah lagi.  Apabila telah mengerti semua resiko dan tanggung jawab dan tentu saja betul-betul siap menjalani semua itu, barulah seseorang bisa dikatakan layak untuk berkeluarga.

Mengapa Saya berpandangan skeptis seperti ini ?  Saya kenal beberapa orang yang tidak mendapatkan kasih sayang kedua orang tua waktu kecil,  baik karena kedua orang tuanya bercerai dan sibuk dengan urusan masing-masing atau karena kedua orang tuanya sibuk mengejar karir sehingga anak-anaknya diasuh oleh televisi dan video game. Teman-teman Saya itu kesulitan untuk memposisikan diri di masyarakat, belum lagi kalau punya penyakit rendah diri,  akibatnya mereka sulit memberikan yang terbaik untuk masyarakat, bahkan beberapa malah menjadi beban masyarakat.

Saya pribadi paham betul tanggung jawab dan resiko yang akan timbul ketika Saya memutuskan untuk menikah. Makanya Saya tidak akan terburu-buru menikah, Saya belum betul-betul bodoh dan belum betul-betul berani.

Eh, jangan salah sangka. Tentu saja Saya memiliki keinginan untuk menikah. Saya tidak bisa membayangkan diri Saya di usia enam puluhan, sendirian, mencari orang yang mau mendengarkan  kisah kejayaan masa lalu, nggak banget. Cuma ya itu, Saya belum menemukan seseorang yang bisa membuat Saya betul-betul bodoh atau betul-betul berani untuk memutuskan menikah. Tapi hal yang paling Saya khawatirkan adalah gagalnya rencana liburan.  Saya adalah  pencinta jalan-jalan yang amat takut dengan kenyataan kalau menikah itu berarti mengubur dalam-dalam impian Saya menjelajahi hulu Sungai Mahakam, hiking di Lembah Baliem Papua, menyelam di Raja Ampat, naik Gunung Rinjani dan berbagai kegiatan seru lainnya.

Egois ? Memang, makanya Saya belum berani memutuskan untuk menikah. Jadi kalau ada yang menanyakan kapan Saya mau menikah, akan Saya keluarkan jawaban pamungkas Saya, “bukan tahun ini deh kayaknya”.

Iklan

2 responses to “Early Marriage Won’t Work For Me

  1. I agree with u, still enjoy my life and not ready for having family at this time 🙂

  2. wildanjohardi

    Cheers sisca !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s