Jangan Pernah Lagi Takut Salah

Sedari kecil  Saya adalah orang yang  takut untuk berbuat salah.  Didikan yang amat keras dari orang tua telah membentuk Saya menjadi pribadi yang disiplin.

Saat kecil, Saya memang memiliki kelebihan energi (red: ameliorasi dari bandel) bila dibandingkan dengan kakak dan adik saya. Ayah yang melihat potensi itu mungkin tidak punya cara lain untuk  mengelola energi anak laki-laki pertamanya itu selain dengan disiplin ketat dan tangan besi. Cukup berhasil memang, sekarang efeknya mulai terasa. Saya yang sedari kecil dibiasakan memahami pentingnya persistensi dan konsistensi tidak mengalami masalah ketika berhadap-hadapan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang melelahkan dan membosankan.

Tapi metode yang diterapkan kepada Saya bukannya tanpa kelemahan. Memang untuk hal-hal yang berhubungan dengan konsistensi dan persistensi Saya mampu bertahan. Tapi untuk hal-hal baru yang membutuhkan kreativitas dan keberanian berbuat kesalahan, itu sesuatu hal yang tidak pernah Saya miliki.

Penelitian oleh Nate Cornell, Matthew Hays & Robert Bjork dari University Of California, Los Angeles dalam Journal of Experimental Psychology : Learning, Memory & Cognition menunjukan bahwa usaha dan kegagalan untuk mendapatkan jawaban, membantu dalam proses belajar. Pada penelitian itu, siswa memang sengaja dikondisikan untuk berbuat kesalahan. Saya tidak akan membahas detail metode yang akan membosankan. Langsung saja, hasil dari penelitian  ini menunjukkan bahwa kelompok yang diberikan semacam pre-test sebelum ujian akan mendapatkan hasil yang lebih dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan kesempatan membaca materi ujian. Hasil yang menarik, tentu hasil dari penelitian ini bukan hanya terbatas pada pendidikan formal yang merujuk pada textbook.

Shits happens dude !

Sedari kecil sampai sekarang, memang budaya berbuat kesalahan sedikit mendapat tempat di Indonesia. Setiap habis berbuat kesalahan, pasti akan dicerca dihabis-habisan. Walaupun tidak dicerca langsung, akan ada pandangan-pandangan menghukum dari orang-orang yang tahu bahwa kita telah berbuat kesalahan. Berbuat kesalahan seakan-akan dosa besar yang tidak terampuni, apalagi kalau kesalahan itu mengganggu kepentingan orang lain.

Baru-baru ini Saya membaca tulisan dari Rhenald Kasali, seorang pakar manajemen Indonesia, tentang budaya menghukum di Indonesia. Menurutnya, generasi Indonesia dibentuk dengan sejuta ancaman, baik fisik (gesper, rotan, penghapus) maupun kata-kata (awas..; kalau…; nanti…). Dia menceritakan pengalamanya ketika tulisan putrinya diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna saat baru tiba di Amerika Serikat. Menurut Rhenald, tulisan putrinya buruk dan logikanya terlalu sederhana. Takut Putrinya itu cepat berpuas diri, diapun mengajukan protes ke guru yang memberi nilai. Tidak disangka-sangka, argumen yang diajukan oleh guru tersebut malah membuat cara pandang seorang Rhenald Kasali berubah total. Sang guru menjelaskan bahwa filosofi pendidikan di Amerika Serikat bukan untuk menghukum, melainkan merangsang untuk maju, Encouragement. Guru itu pun melanjutkan, untuk anak sebesar itu yang baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa inggris, tulisan putri Rhenald merupakan karya yang hebat.

Rhenald Kasali pun menyadari kesalahannya. Tidak sepatutnya ia mengukur  kemampuan anaknya dengan ukurannya, seorang mahasiswa master. Seharusnya, yang patut dihargai adalah usaha keras dari putri tercintanya.

Sekarang, di tempat kerja, Saya pun masih mengalami hal-hal yang demikian. Sebagai anak baru, tentu Saya sering melakukan kesalahan. Tapi itu dia, berbuat kesalahan masih dianggap sesuatu yang tabu dan memalukan. Alih-alih mendapatkan encouragement, Saya mendapat discouragement lewat pandangan-pandangan & pembicaraan-pembicaraan yang membuat Saya merasa bodoh. Iklim kerja yang seperti itu yang membuat Saya ragu untuk melakukan sesuatu yang baru, takut salah.

Jelas Saya bukan merupakan orang pintar. Kalau Saya pintar, Saya tidak akan sering melakukan kesalahan. Walaupun Saya tidak pintar dan sering melakukan kesalahan, satu yang bisa dipastikan adalah Saya akan selalu belajar dari kesalahan Saya.

Walaupun sedari kecil Saya dididik untuk tidak melakukan kesalahan, Saya akan berupaya untuk berani melakukan sesuatu  tanpa takut akan kesalahan yang mungkin timbul.  Tentu saja Saya tidak akan bertindak konyol yang akan merugikan diri saya dan orang lain tanpa didasari akal sehat. Karena saya yakin, berbuat kesalahan dan belajar dari kesalahan akan membuat diri Saya menjadi lebih baik.

Seperti halnya teori-teori psikologi populer,  perkara ini jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Mudah-mudahan Saya kuat untuk benar-benar melakukannya, tidak hanya terucap saja.

So, throw away all the worries and let the good times roll !!

Iklan

2 responses to “Jangan Pernah Lagi Takut Salah

  1. throw away all the worries and let the good times roll.

    It’s worth with the risk.
    Tp caLculated-risk Lho ya….

  2. wildanjohardi

    ya pasti dong Ibu suhu risk management. Diusahakan sesuai ISO 31000 kok 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s