Monthly Archives: Agustus 2010

………

Sebelum istirahat siang beberapa hari lalu, Saya ikut nimbrung dalam pembicaraan rekan kerja Saya, sebut saja Pak Jarman. Awalnya Pak Jarman bercerita tentang anak tertuanya yang mulai bandel.  Nah, selanjutnya dia pun bercerita pada tanggal 17 Agustus kemarin, anak tertuanya yang masih SMP  itu mengikuti upacara penurunan bendera di Bontang Lestari. Sampai pukul tujuh malam, anaknya belum juga pulang, sudah ditelpon, diSMS tidak ada respon. “Perasaan Saya tidak karu-karuan” katanya. Baru setelah anaknya pulang, dia merasa lega. Pak Jarman menasihati anaknya agar memberi kabar kalau pergi sampai malam seperti itu.

Saya nyeletuk, “dibiasakan Pak, sebentar lagi akan sering itu”. Bukannya sok tahu, tapi itulah Saya. Sejak SD, sering sekali  Saya membuat kedua orang tua ketar ketir.  Ibu Saya termasuk yang paling khawatir. Dulu saat handphone masih barang langka, Ibu menelpon hampir semua rumah teman Saya yang dia tahu untuk mencari anaknya. Alhasil, Saya merasa tidak enak kepada teman-teman karena orang tua mereka kerap menanyakan Saya. Alih-alih dimarahi, Saya malah protes kepada Ibu agar tidak usah menelpon teman-teman. Saya janji akan menelpon Ibu kalau pulang telat walaupun pada kenyataannya Saya jarang sekali menelpon dan Ibu tetap saja menelpon untuk mencari Saya.

Pak Jarman mencoba memberi pengertian kepada Saya bahwa rasa khawatir merupakan bentuk kasih sayang orang tua. Sebandel apapun anaknya, orang tua tetap sayang kepada anaknya. Saya sadar dan menimpali “wah, iya juga ya, Saya belum punya anak, bagaimana saya bisa tahu perasaan Bapak kalau saya saja belum pernah mengalami”.

Dia hanya tertawa dan bilang, “nanti suatu saat kamu akan merasakan bagaimana rasa khawatir itu Dan”. “Saya mau lihat bagaimana kamu menangani anak kamu, apalagi kalau bandel”. Dia juga menambahkan, sepertinya untuk membuat saya merasa lebih baik, “anak laki-laki memang punya kecenderungan untuk tidak peduli”. Diapun bilang bahwa dirinya juga begitu dulu. Jadi rasanya memang dia harus mulai menyiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa anaknya berperangai mirip Bapaknya.

Merasa ada yang membela, Saya pun nyeletuk lagi “Sekarang saja, kecuali ada hal-hal penting, Saya jarang nelpon kedua orang tua Saya”. Alih-alih mendapat dukungan, rekan Saya yang satu lagi ikut menimpali dengan dramatis dan berlebihan “HAH? beneran kamu gak pernah nelpon? emang gak kangen apa?” Ertalina, rekan Saya itu, memang anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Dia kaget dengan kenyataan ternyata di dunia ini ada orang semacam Saya.

Dipojokkan seperti itu, Saya agak defensif “Tapi kan Ibu rutin menelpon”. Jawaban Saya malah membuka pintu untuk serangan sekanjutnya. Dikatain pelitlah, tidak pedulilah, cueklah, untung saja tidak ada yang bilang Saya anak durhaka. “Ya ampun Wildan, orang tua pasti kangen banget tau, kamu telpon dong” dengan nada menasihati seakan-akan Saya durhaka sekali, walaupun tidak mengatakannya secara langsung.

Saya yang tadinya menganggap hal itu biasa saja mulai berpikir ulang. Bukannya itu biasa aja ya? Apakah Saya segitu buruknya? Apa ada yang salah dengan Saya?  Yang jadi soal, jarang sekali Saya merasa kangen dengan rumah, keluarga, dan kedua orang tua.

Sejak kuliah Saya sudah terbiasa tinggal jauh dari rumah.  Saat liburan akhir semester Saya lebih memilih tidak pulang untuk berorganisasi ataupun sekedar jalan-jalan. Setelah lulus kuliahpun, tidak sampai dua bulan tinggal di rumah,  Saya langung bekerja di Bontang, Kalimantan Timur. Ditelisik lebih jauh lagi, dari SD Saya sudah tidak betah di rumah. Sehabis pulang sekolah, Saya memilih berlama-lama nongkrong di sekolah, karena memang tidak tahu apa yang harus dikerjakan di rumah.

Entah ya, Saya juga tidak tahu. Mungkin Saya tidak peka untuk hal-hal semacam itu. Mungkin saja karena Saya tidak pernah terbuka, tidak pernah berbagi dan ikut merasakan fungsi keluarga sebagai “rumah” jadinya Saya merasa hal itu tidak terlalu penting. Saya ingat saat pernikahan Kakak,  Saya hampir tidak terlibat. Bahkan Saya sempat berpikir untuk tidak usah datang saja, toh sudah banyak orang yang datang dan adanya Saya tidak akan mengubah sesuatu apapun.

Dingin? Saya memang dingin, super cuek, tertutup dan arogan. Saya menyimpan semua rahasia terdalam sendirian. Saya hampir tidak pernah berbagi kesedihan dan keluh kesah karena memang sulit sekali bagi Saya untuk berbagi cerita dan mempercayakan hal-hal pribadi  kepada orang lain. Saya terlalu arogan dengan tidak mengandalkan siapa-siapa dalam keadaan terburuk sekalipun.

Apakah karena takut kecewa? ya bisa saja. Saya memang tidak suka dikecewakan. Bukankah sangat tidak enak ketika kita sudah bersandar kepada orang lain, orang itu malah pergi dan akhirnya kita jatuh? Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh orang terdekat bahkan keluarga, wah gak enak banget rasanya.

Ya ya ya, Saya tahu ini mengkhawatirkan. Saya sudah tahu teorinya. Saya harus mulai bisa berbagi cerita dan mulai bisa percaya sama orang lain, setidaknya dengan keluarga, begitu kan? Ya memang begitu, tapi percayalah, tidak semudah itu. Saya sudah dan akan terus berusaha jadi lebih baik, tapi nampaknya sifat itu sudah terlalu kuat mengakar dan tidak mudah untuk ditaklukan.

Mau bagaimana lagi, itulah Saya. Saya sudah berdamai dengannya. Keluarga Saya juga sudah mengerti. Tidak pernah orang tua memaksakan kehendaknya kepada Saya, untuk sering pulang misalnya. Orang-orang terdekat juga tahu bahwa Saya tidak bisa dipaksa cerita hal-hal pribadi.

Namun apabila kamu sabar, sangat sabar, kelak kamu akan tahu bahwa Saya yang dingin, cuek, tertutup dan arogan ini, bisa menjadi ramah, terbuka dan manis manja (ahay, manis manja bray!). Percaya deh, seseorang telah berhasil membuat Saya amat manis, ya setidaknya untuk beberapa waktu 🙂

Iklan

Ramadhan

Saya selalu suka bulan Ramadhan.

Saya tidak terlalu ingat bagaimana kedua orang tua Saya mendidik berpuasa. Tapi yang jelas, tidak berpuasa saat bulan Ramadhan pantang dilakukan. Bukan karena ancaman neraka ataupun dipotongnya uang lebaran, tapi karena Saya memang senang menguji diri sendiri. Sejak kelas dua SD saya memang sudah terbiasa puasa penuh. Walaupun lagi rajin-rajinnya bermain bola, Saya tetap berpuasa. Atau dibalik, walaupun puasa, tetap rajin bermain bola.

Musuh terbesar Saya kala itu masih makanan dan minuman.

Beranjak dewasa, ketika Saya mulai melihat lebih banyak dan menyadari bahwa puasa ternyata lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, musuh utama Saya bukan lagi makanan dan minuman. Saya yang tadinya mengira musuh terbesar dari luar mulai sadar, yang lebih jahat, yang lebih sulit dikendalikan ada di dalam sini. Diri sendiri.

Agak aneh kalau Saya mencoba menerangkan makna berpuasa mengambil perspektif teologis Islam. Karena siapapun yang mengenal Saya pasti tahu untuk permasalahan itu Saya tidak bisa diandalkan. Makanya Saya tidak akan sok-sokan mencoba menjelaskan, ilmu Saya masih terlalu dangkal. Ditambah lagi,  feel untuk menerangkan sesuatu sesuai dengan kaidah teologis belum kerasa.

Berpuasa, menurut Saya, berarti meresapi ketidakberdayaan, menyadari keadaan diri yang tak utuh-penuh. Berada di tengah gaduhnya dunia yang terus mendorong  untuk membanggakan ke-Aku-an, berpuasa berarti berhenti sejenak ditengah kegaduhan itu dan belajar. Belajar bahwa manusia bisa  lemah, fana dan terbatas, bukan merupakan ide “M”anusia yang menguasai, menaklukan, kuat, dan tak tepermanai.

Yang paradoksial, justru dari kesadaran atas diri yang tak penuh tersebut muncul rasa digdaya, menganggap diri suci sementara orang lain dosa, najis, kotor. Bisa jadi, dari situlah muncul rasa ingin dihormati seperti gerombolan orang-orang galak yang tidak segan menggunakan kekerasan itu. Karena Saya sudah berpuasa sesuai dengan tuntunanNya maka Ia telah meninggikan Saya jauh diatas sana. Oleh karena itu Saya harus dihormati, tidak seorangpun berhak merusak kesucian bulan Ramadhan ini dengan makan-minum sembarangan di depan muka Saya. Atau dengan galak mendamprat orang yang memancing kemarahan Saya.

Saat ini Saya tidak aktif lagi bermain bola. Sayapun tidak yakin akan kuat berpuasa bila aktif bermain bola layaknya dulu. Musuh utama Sayapun sekarang sudah bukan lagi makanan dan minuman, tapi diri sendiri. Saya juga tidak yakin apakah Saya bisa beribadat tanpa ditemani perasaan itu, perasaan lebih baik dari orang lain.

Terlepas dari itu semua, Saya yakin Tuhan tidak selalu menuntut kekuatan dan kesempurnaan dari hambaNya. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang  juga memaafkan kelemahan dan ketidaksempurnaan.

Dan Saya tetap akan suka bulan Ramadhan layaknya dahulu.

Certified Scuba Diver

NAUI certificate

NAUI certificate

After several “uncertified” dives, now I am officially certified Scuba Diver and I am ready to dive anywhere around the world. Outside Bontang of course 😀

First trip, Bali !

About Failure

Failure

When you really want something and trying so hard to get what you want, you pray to God, beg him to fulfill your dream, you tell everyone to wish you luck. You even did something you never done before just to get what you want.What would you do when the reality hits you? when you failed.

For those of you who likes to read all “chicken-soup” series or self-motivated books, you might think that you know all theory about how to face failure, how to keep the faith and  how to be sure that behind a failure there is always a sweet success. That’s the theory, in practice,  you will realize that it is not as easy as the books told you.

Anyhow you take failure, it is normal to feel sad, disappointed, and embarrass. What is not normal is when you  are trying to hide your emotion, trying to be positive and doing all what the “chicken soup” has said.

I used to be like this. Reading lots of books and childhood experience made me rarely show my emotion to people. At first I thought taking  failure was easy. According to those books I read, I have to be positive and keep the faith as in times I will get something much much better than the one I failed to get. Yes, it was easy. Being good at hiding my emotions, I often get through failure without any serious damage. As I grow older, I realized that hiding emotions isn’t good for my mental health.

Why? because by doing that, I never truly accept failure, I never forgive myself for failing. Thus, all the disappointment, anger, and embarrassment stays inside. Eating me alive, destroying from inside.

I think the best way anyone can do is trying for honesty. Let yourself feel all the emotions, admit that you are sad, disappointed, maybe depressed. If you need some space, give yourself some space, if you need someone to talk to, get someone to talk to you. Do what you need to do to make yourself better.  Never mind the people who seems to underestimate your problem. They don’t know how you feel.

When you are ready, let it go. Don’t try to bring it up again by analyzing why you failed, blaming yourself,  blaming others, blaming the situation or blaming God. Just forgive yourself and let it go.

Last week I got the news, that I didn’t get what I really wanted. At first I could’t believe what I read, I kept read it and read it all over again. I was disappointed. I remembered all the efforts that I have been doing, all the things that I have done. I just couldn’t believe that I failed. I was at the office when I got the news. The next thing I did was continuing what I had been doing. I was pretty busy that night and I barely thinking about my failure.

Then after I got home I realized that I  failed. I called my friend and told her about the bad news. She felt sorry for me because she knew how much I wanted it. She listened to all my cynical opinion about no matter how hard I tried, I will fail. When she tried to explain the cliche theory that behind failure there will be a success, that God will give me much better than I wanted, I told her not to tell me that and leave God out of this.  I just wanted to share my disappointment. I didn’t want her to inject me with another hope, another dreams that I will get what I want.I talked for about half an hour, she just listened. After I felt much better, I ended the conversation.

The next morning I was ready to accept the reality. I told everyone who knew that I failed. One thing I hate if you told people bad news is the pity in their eyes as if you were a fragile glass that would easily break. But other than that, I felt free, I could accept that I failed, I have forgiven myself.

Well, I kind of proud of myself 🙂

Kutu Buku

Wildan Ivan Sheika

Wildan Ivan Sheika

Suatu sore sekitar lima belas tahun lalu , Saya, dan kedua saudara kandung saling ejek setelah nonton sebuah film. Ejekannya tidak serius memang, namun karena waktu itu kami bertiga masih muda dan kayaknya kesal sekali melihat ekspresi wajah satu sama lain saat melemparkan ejekan, kami pun bertengkar. Kutu buku, itulah ejekan yang dilemparkan oleh kami bertiga akibat terpengaruh oleh film. Saya tidak ingat  baik judul maupun cerita film yang kami tonton. Yang Saya ingat, salah satu bagian film itu menceritakan seorang kutu buku yang nggak banget, gak kerenlah pokoknya, sampai-sampai kami merasa tersinggung bila diledek kutu buku.

Ribut-ribut tentang kutu buku, Ayah yang sedang berada di ruang kerjanya menghampiri dan mendamprat kami bertiga. Dia merasa kecewa karena ketiga anaknya menganggap kutu buku adalah sesuatu yang tidak keren. Ayah kelihatan kesal sekali. Dia menasihati tentang pentingnya buku, bagaimana dengan buku kami bisa menembus dunia yang mungkin tidak pernah tertembus dan menerbangkan imajinasi kami setinggi-tingginya. Ayah berpesan, jangan malu dan tersinggung apabila diledek kutu buku, karena sebenarnya itu bukan ledekan, namun pujian.

Kami bertiga hanya terdiam dan mengangguk-angguk, bukannya mengerti, tapi lebih karena takut Ayah marah. Alih-alih meresapi kata-kata Ayah, kami pun kembali bertengkar menyalahkan siapa yang meledek pertama kali. Tak tahu lagi harus berkata apa, Ayah akhirnya hanya geleng-geleng kepala. Diapun meminta kami tidak bertengkar lagi karena beliau sedang bekerja.

Tidak ada hal yang dramatis dan menggugah dari kejadian itu, hanya pertengkaran hari-hari yang coba dihentikan oleh Ayah. Tapi justru karena sangat biasa dan bersifat hari-hari, kejadian itu membekas dan mempengaruhi sikap Saya terhadap buku sampai sekarang. Memang Saya tidak seperti orang yang kerjaannya setiap hari membaca buku dan memiliki koleksi buku sampai berlemari-lemari. Saya hanya orang yang menghargai buku dan berusaha meluangkan waktu membacanya dikala senggang.

Koleksi buku yang Saya punya juga tidak banyak-banyak amat, hanya satu rak kecil bertingkat dua. Buku-buku Saya juga tidak keren-keren amat, didominasi oleh novel fiksi dan non-fiksi, beberapa buku-buku agama, buku-buku sejarah, buku TOEFL & grammar bahasa inggris, kamus, travel guide, beberapa academic textbook & buku-buku panduan lapangan. Itupun belum semuanya Saya khatamkan, beberapa buku yang tergolong berat dan memerlukan konsentrasi tinggi belum semuanya terbaca.

Beberapa waktu lalu di kantor, Saya yang sedang membaca buku tidak sadar kalau teman Saya memanggil. Baru setelah diteriaki, Saya sadar dan berdiri dari cubicle mencari sumber suara yang memanggil. Teman saya yang sebetulnya sudah tahu kalau Saya sedang membaca akan sulit untuk diajak berbicara hanya kesal menggeleng dan sedikit bergumam, “dasar kutu buku”. Saya pun hanya tersenyum dan menyampaikan maaf karena tidak menanggapi panggilannya.

Lima belas tahun telah berlalu setelah kejadian itu. Nasihat Ayah yang lima belas lalu disiramkan ke kami bertiga jadi lebih bermakna. Karena sekarang, Saya menganggap membaca buku adalah kegiatan yang keren, seperti keinginan Ayah lima belas tahun lalu.

*BTW I wrote it from my brand new MacBook Pro. This is my first writing using MacBook Pro. Im still getting used to it, but so far I’m really satisfied with its performance 😀