Kutu Buku

Wildan Ivan Sheika

Wildan Ivan Sheika

Suatu sore sekitar lima belas tahun lalu , Saya, dan kedua saudara kandung saling ejek setelah nonton sebuah film. Ejekannya tidak serius memang, namun karena waktu itu kami bertiga masih muda dan kayaknya kesal sekali melihat ekspresi wajah satu sama lain saat melemparkan ejekan, kami pun bertengkar. Kutu buku, itulah ejekan yang dilemparkan oleh kami bertiga akibat terpengaruh oleh film. Saya tidak ingat  baik judul maupun cerita film yang kami tonton. Yang Saya ingat, salah satu bagian film itu menceritakan seorang kutu buku yang nggak banget, gak kerenlah pokoknya, sampai-sampai kami merasa tersinggung bila diledek kutu buku.

Ribut-ribut tentang kutu buku, Ayah yang sedang berada di ruang kerjanya menghampiri dan mendamprat kami bertiga. Dia merasa kecewa karena ketiga anaknya menganggap kutu buku adalah sesuatu yang tidak keren. Ayah kelihatan kesal sekali. Dia menasihati tentang pentingnya buku, bagaimana dengan buku kami bisa menembus dunia yang mungkin tidak pernah tertembus dan menerbangkan imajinasi kami setinggi-tingginya. Ayah berpesan, jangan malu dan tersinggung apabila diledek kutu buku, karena sebenarnya itu bukan ledekan, namun pujian.

Kami bertiga hanya terdiam dan mengangguk-angguk, bukannya mengerti, tapi lebih karena takut Ayah marah. Alih-alih meresapi kata-kata Ayah, kami pun kembali bertengkar menyalahkan siapa yang meledek pertama kali. Tak tahu lagi harus berkata apa, Ayah akhirnya hanya geleng-geleng kepala. Diapun meminta kami tidak bertengkar lagi karena beliau sedang bekerja.

Tidak ada hal yang dramatis dan menggugah dari kejadian itu, hanya pertengkaran hari-hari yang coba dihentikan oleh Ayah. Tapi justru karena sangat biasa dan bersifat hari-hari, kejadian itu membekas dan mempengaruhi sikap Saya terhadap buku sampai sekarang. Memang Saya tidak seperti orang yang kerjaannya setiap hari membaca buku dan memiliki koleksi buku sampai berlemari-lemari. Saya hanya orang yang menghargai buku dan berusaha meluangkan waktu membacanya dikala senggang.

Koleksi buku yang Saya punya juga tidak banyak-banyak amat, hanya satu rak kecil bertingkat dua. Buku-buku Saya juga tidak keren-keren amat, didominasi oleh novel fiksi dan non-fiksi, beberapa buku-buku agama, buku-buku sejarah, buku TOEFL & grammar bahasa inggris, kamus, travel guide, beberapa academic textbook & buku-buku panduan lapangan. Itupun belum semuanya Saya khatamkan, beberapa buku yang tergolong berat dan memerlukan konsentrasi tinggi belum semuanya terbaca.

Beberapa waktu lalu di kantor, Saya yang sedang membaca buku tidak sadar kalau teman Saya memanggil. Baru setelah diteriaki, Saya sadar dan berdiri dari cubicle mencari sumber suara yang memanggil. Teman saya yang sebetulnya sudah tahu kalau Saya sedang membaca akan sulit untuk diajak berbicara hanya kesal menggeleng dan sedikit bergumam, “dasar kutu buku”. Saya pun hanya tersenyum dan menyampaikan maaf karena tidak menanggapi panggilannya.

Lima belas tahun telah berlalu setelah kejadian itu. Nasihat Ayah yang lima belas lalu disiramkan ke kami bertiga jadi lebih bermakna. Karena sekarang, Saya menganggap membaca buku adalah kegiatan yang keren, seperti keinginan Ayah lima belas tahun lalu.

*BTW I wrote it from my brand new MacBook Pro. This is my first writing using MacBook Pro. Im still getting used to it, but so far I’m really satisfied with its performance 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s