Ramadhan

Saya selalu suka bulan Ramadhan.

Saya tidak terlalu ingat bagaimana kedua orang tua Saya mendidik berpuasa. Tapi yang jelas, tidak berpuasa saat bulan Ramadhan pantang dilakukan. Bukan karena ancaman neraka ataupun dipotongnya uang lebaran, tapi karena Saya memang senang menguji diri sendiri. Sejak kelas dua SD saya memang sudah terbiasa puasa penuh. Walaupun lagi rajin-rajinnya bermain bola, Saya tetap berpuasa. Atau dibalik, walaupun puasa, tetap rajin bermain bola.

Musuh terbesar Saya kala itu masih makanan dan minuman.

Beranjak dewasa, ketika Saya mulai melihat lebih banyak dan menyadari bahwa puasa ternyata lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, musuh utama Saya bukan lagi makanan dan minuman. Saya yang tadinya mengira musuh terbesar dari luar mulai sadar, yang lebih jahat, yang lebih sulit dikendalikan ada di dalam sini. Diri sendiri.

Agak aneh kalau Saya mencoba menerangkan makna berpuasa mengambil perspektif teologis Islam. Karena siapapun yang mengenal Saya pasti tahu untuk permasalahan itu Saya tidak bisa diandalkan. Makanya Saya tidak akan sok-sokan mencoba menjelaskan, ilmu Saya masih terlalu dangkal. Ditambah lagi,  feel untuk menerangkan sesuatu sesuai dengan kaidah teologis belum kerasa.

Berpuasa, menurut Saya, berarti meresapi ketidakberdayaan, menyadari keadaan diri yang tak utuh-penuh. Berada di tengah gaduhnya dunia yang terus mendorong  untuk membanggakan ke-Aku-an, berpuasa berarti berhenti sejenak ditengah kegaduhan itu dan belajar. Belajar bahwa manusia bisa  lemah, fana dan terbatas, bukan merupakan ide “M”anusia yang menguasai, menaklukan, kuat, dan tak tepermanai.

Yang paradoksial, justru dari kesadaran atas diri yang tak penuh tersebut muncul rasa digdaya, menganggap diri suci sementara orang lain dosa, najis, kotor. Bisa jadi, dari situlah muncul rasa ingin dihormati seperti gerombolan orang-orang galak yang tidak segan menggunakan kekerasan itu. Karena Saya sudah berpuasa sesuai dengan tuntunanNya maka Ia telah meninggikan Saya jauh diatas sana. Oleh karena itu Saya harus dihormati, tidak seorangpun berhak merusak kesucian bulan Ramadhan ini dengan makan-minum sembarangan di depan muka Saya. Atau dengan galak mendamprat orang yang memancing kemarahan Saya.

Saat ini Saya tidak aktif lagi bermain bola. Sayapun tidak yakin akan kuat berpuasa bila aktif bermain bola layaknya dulu. Musuh utama Sayapun sekarang sudah bukan lagi makanan dan minuman, tapi diri sendiri. Saya juga tidak yakin apakah Saya bisa beribadat tanpa ditemani perasaan itu, perasaan lebih baik dari orang lain.

Terlepas dari itu semua, Saya yakin Tuhan tidak selalu menuntut kekuatan dan kesempurnaan dari hambaNya. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang  juga memaafkan kelemahan dan ketidaksempurnaan.

Dan Saya tetap akan suka bulan Ramadhan layaknya dahulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s