………

Sebelum istirahat siang beberapa hari lalu, Saya ikut nimbrung dalam pembicaraan rekan kerja Saya, sebut saja Pak Jarman. Awalnya Pak Jarman bercerita tentang anak tertuanya yang mulai bandel.  Nah, selanjutnya dia pun bercerita pada tanggal 17 Agustus kemarin, anak tertuanya yang masih SMP  itu mengikuti upacara penurunan bendera di Bontang Lestari. Sampai pukul tujuh malam, anaknya belum juga pulang, sudah ditelpon, diSMS tidak ada respon. “Perasaan Saya tidak karu-karuan” katanya. Baru setelah anaknya pulang, dia merasa lega. Pak Jarman menasihati anaknya agar memberi kabar kalau pergi sampai malam seperti itu.

Saya nyeletuk, “dibiasakan Pak, sebentar lagi akan sering itu”. Bukannya sok tahu, tapi itulah Saya. Sejak SD, sering sekali  Saya membuat kedua orang tua ketar ketir.  Ibu Saya termasuk yang paling khawatir. Dulu saat handphone masih barang langka, Ibu menelpon hampir semua rumah teman Saya yang dia tahu untuk mencari anaknya. Alhasil, Saya merasa tidak enak kepada teman-teman karena orang tua mereka kerap menanyakan Saya. Alih-alih dimarahi, Saya malah protes kepada Ibu agar tidak usah menelpon teman-teman. Saya janji akan menelpon Ibu kalau pulang telat walaupun pada kenyataannya Saya jarang sekali menelpon dan Ibu tetap saja menelpon untuk mencari Saya.

Pak Jarman mencoba memberi pengertian kepada Saya bahwa rasa khawatir merupakan bentuk kasih sayang orang tua. Sebandel apapun anaknya, orang tua tetap sayang kepada anaknya. Saya sadar dan menimpali “wah, iya juga ya, Saya belum punya anak, bagaimana saya bisa tahu perasaan Bapak kalau saya saja belum pernah mengalami”.

Dia hanya tertawa dan bilang, “nanti suatu saat kamu akan merasakan bagaimana rasa khawatir itu Dan”. “Saya mau lihat bagaimana kamu menangani anak kamu, apalagi kalau bandel”. Dia juga menambahkan, sepertinya untuk membuat saya merasa lebih baik, “anak laki-laki memang punya kecenderungan untuk tidak peduli”. Diapun bilang bahwa dirinya juga begitu dulu. Jadi rasanya memang dia harus mulai menyiapkan diri menghadapi kenyataan bahwa anaknya berperangai mirip Bapaknya.

Merasa ada yang membela, Saya pun nyeletuk lagi “Sekarang saja, kecuali ada hal-hal penting, Saya jarang nelpon kedua orang tua Saya”. Alih-alih mendapat dukungan, rekan Saya yang satu lagi ikut menimpali dengan dramatis dan berlebihan “HAH? beneran kamu gak pernah nelpon? emang gak kangen apa?” Ertalina, rekan Saya itu, memang anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Dia kaget dengan kenyataan ternyata di dunia ini ada orang semacam Saya.

Dipojokkan seperti itu, Saya agak defensif “Tapi kan Ibu rutin menelpon”. Jawaban Saya malah membuka pintu untuk serangan sekanjutnya. Dikatain pelitlah, tidak pedulilah, cueklah, untung saja tidak ada yang bilang Saya anak durhaka. “Ya ampun Wildan, orang tua pasti kangen banget tau, kamu telpon dong” dengan nada menasihati seakan-akan Saya durhaka sekali, walaupun tidak mengatakannya secara langsung.

Saya yang tadinya menganggap hal itu biasa saja mulai berpikir ulang. Bukannya itu biasa aja ya? Apakah Saya segitu buruknya? Apa ada yang salah dengan Saya?  Yang jadi soal, jarang sekali Saya merasa kangen dengan rumah, keluarga, dan kedua orang tua.

Sejak kuliah Saya sudah terbiasa tinggal jauh dari rumah.  Saat liburan akhir semester Saya lebih memilih tidak pulang untuk berorganisasi ataupun sekedar jalan-jalan. Setelah lulus kuliahpun, tidak sampai dua bulan tinggal di rumah,  Saya langung bekerja di Bontang, Kalimantan Timur. Ditelisik lebih jauh lagi, dari SD Saya sudah tidak betah di rumah. Sehabis pulang sekolah, Saya memilih berlama-lama nongkrong di sekolah, karena memang tidak tahu apa yang harus dikerjakan di rumah.

Entah ya, Saya juga tidak tahu. Mungkin Saya tidak peka untuk hal-hal semacam itu. Mungkin saja karena Saya tidak pernah terbuka, tidak pernah berbagi dan ikut merasakan fungsi keluarga sebagai “rumah” jadinya Saya merasa hal itu tidak terlalu penting. Saya ingat saat pernikahan Kakak,  Saya hampir tidak terlibat. Bahkan Saya sempat berpikir untuk tidak usah datang saja, toh sudah banyak orang yang datang dan adanya Saya tidak akan mengubah sesuatu apapun.

Dingin? Saya memang dingin, super cuek, tertutup dan arogan. Saya menyimpan semua rahasia terdalam sendirian. Saya hampir tidak pernah berbagi kesedihan dan keluh kesah karena memang sulit sekali bagi Saya untuk berbagi cerita dan mempercayakan hal-hal pribadi  kepada orang lain. Saya terlalu arogan dengan tidak mengandalkan siapa-siapa dalam keadaan terburuk sekalipun.

Apakah karena takut kecewa? ya bisa saja. Saya memang tidak suka dikecewakan. Bukankah sangat tidak enak ketika kita sudah bersandar kepada orang lain, orang itu malah pergi dan akhirnya kita jatuh? Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh orang terdekat bahkan keluarga, wah gak enak banget rasanya.

Ya ya ya, Saya tahu ini mengkhawatirkan. Saya sudah tahu teorinya. Saya harus mulai bisa berbagi cerita dan mulai bisa percaya sama orang lain, setidaknya dengan keluarga, begitu kan? Ya memang begitu, tapi percayalah, tidak semudah itu. Saya sudah dan akan terus berusaha jadi lebih baik, tapi nampaknya sifat itu sudah terlalu kuat mengakar dan tidak mudah untuk ditaklukan.

Mau bagaimana lagi, itulah Saya. Saya sudah berdamai dengannya. Keluarga Saya juga sudah mengerti. Tidak pernah orang tua memaksakan kehendaknya kepada Saya, untuk sering pulang misalnya. Orang-orang terdekat juga tahu bahwa Saya tidak bisa dipaksa cerita hal-hal pribadi.

Namun apabila kamu sabar, sangat sabar, kelak kamu akan tahu bahwa Saya yang dingin, cuek, tertutup dan arogan ini, bisa menjadi ramah, terbuka dan manis manja (ahay, manis manja bray!). Percaya deh, seseorang telah berhasil membuat Saya amat manis, ya setidaknya untuk beberapa waktu 🙂

Iklan

5 responses to “………

  1. aku koq jadi senyum2 dangdut ya baca postmu ini Dan… hahahaha :))

    aku jg badung kyk km, terbiasa jauh dr keluarga, bla bla bla.

    walo aku dulu cm 1 bln aktif ktemu ma km Dan, aku punya bnyk penilaian positif tentangmu lho,, mungkin jg krn sebagian karakter kt agak mirip hahahaha =))

    Yg km tulis tentang dirimu itu bener (tntng seolah trlihat cuek, cool, dsb). Tp pastinya km ga arogan koq. Cm kadang orng butuh waktu lbh lama utk bs paham bhw diam n cuekmu itu bkn berarti arogan,,palingan km diem krn memang lg males ngomong, atau krn ga tau mau ngomong apa wkwkwkwk =))

    aku sok tau ya???wkwkwkwk

  2. Wah wah, penilaian positif? Nah itu yang baru tan. selama ini, kayaknya jarang banget kesan pertamaku bagus :))

    Iya bener, butuh waktu lama untuk kenal seseorang, lama banget bahkan :)) Aku aja belum terlalu kenal sama si Wildan ini 😀

  3. hhmmmm setidaknya kan dirimu ga jutek and wajahmu Nggak “wajah kuburan” kayak aku hahahaha :))

  4. Huss, cantik-cantik bilang wajah mirip kuburan. Nanti dikabulkan gimana hayoo.

  5. hihihihi,,dulu aku smpt dikasih julukan wajah kuburan ama temen2ku.

    Met puasa Dan. Kl aku ke bontang, traktir di bontang kuala ya ^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s