Monthly Archives: September 2010

Enjoying Jakarta like Jakartans

Sehari sebelum kembali ke dunia nyata (red: Bontang) Saya membuat keputusan mustahak untuk menikmati Jakarta seperti layaknya Jakartans, jalan-jalan seharian di mall. Urusan Saya sangat penting, yakni ingin menguji berapa lama Saya sanggup nongkrong di warung kopi premium. Sudah rindu Saya menikmati kesendirian dalam keramaian yang dengan mudah didapatkan di Kota besar.  Sejumlah amunisi telah disiapkan, MBP sudah dicharge penuh, novel The Wind-up Bird Chronicle karya Haruki Murakami Saya masukkan ke tas, notes diselipkan, yea Saya siap berangkat. Pilihan lokasi jatuh kepada Mall Pacific Place yang terletak di Sudirman Central Business District (SCBD) supaya kerasa aura konsumerisme khas kota besar

Saya memesan taksi blue bird pada pukul sebelas sehingga masih punya dua jam untuk mandi dan bersiap-siap. Seperti biasanya, taksi biru itu sudah datang lima belas menit sebelum jam 11. Setelah pamit Saya pun berangkat ke Pacific Place menembus jalanan Jakarta yang masih lenggang.  Tidak sampai lima belas menit, Saya sudah sampai di lobby utama Pacific Place. Tidak ada yang berubah sejak terakhir Saya menginjakkan kaki disini. Masih megah gemerlapan dengan  desain interior yang tertata apik dan memanjakan pengunjung. Saya yakin hanya sebagian kecil warga Jakarta yang benar-benar mampu berbelanja di gerai-gerai utama Mall ini, namun Mall ini sepertinya menawarkan sesuatu yang lain. Semacam pelarian dari wajah-wajah lain Jakarta yang jorok dan kumuh. Di Kota yang miskin ruang publik seperti ini, pantas saja orang Jakarta senang sekali ke Mall.

Menurut salah satu teman Saya, parameter suatu kota layak huni atau tidak adalah adanya Mall. Ditambahkan lagi, di Mall itu harus ada bioskop, Starbucks atau kedai kopi sejenis. Saya kasihan padanya, tapi Saya tidak menyalahkan dia, memang kehidupan di Jakarta yang membentuknya seperti itu. Dia tidak tahu ada cara lain bersenang-senang selain ngopi atau nonton di Mall. Dia belum merasakan nikmatnya hiking di derah hutan lindung, jogging di lingkungan asri dan segar, liat sunset sambil menikmati singkong goreng dan kopi di pinggir pantai dan diving di laut yang masih jernih. Beruntung Saya yang besar di Jakarta bisa bekerja di Bontang. Saya tidak kaget dengan kemewahan khas Ibu kota dan tidak gagap dengan aktivitas outdoor yang menyegarkan.

Waktu makan siang sudah dekat, Saya memutuskan untuk makan dulu sebelum menjalani misi utama Saya yang super penting itu. Namun sebelumnya Saya ingin ke Toko Buku Aksara untuk melihat-lihat koleksi buku yang mereka punya. Seperti yang sudah diduga, walaupun tujuan awalnya hanya ingin lihat-lihat Saya tidak mampu memendam hasrat beli buku, akhirnya Saya beli buku karya Milan Kundera yang berjudul The Book of Laughter & Forgetting. Walaupun Saya tahu, buku itu akan masuk daftar antrian buku ke sekian yang harus dibaca. Saya tertarik karena pada buku ini ada kalimat, “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgettting“, menarik,  apa yang dia maksud dengan perjuangan terbesar manusia adalah perjuangan melawan lupa? Bikin penasaran saja.

Setelah membeli buku, Saya naik ke lantai yang khusus menyediakan kedai makanan. Bingung juga karena pilihan begitu banyak. Pilihan Saya jatuh kepada ramen, karena Saya suka mi dan sudah lama sekali Saya tidak makan mi  jepang itu.

Setelah makan siang, akhirnya Saya bisa menjalankan misi utama Saya. Saya memilih nongkrong di Starbucks lalu memesan pesanan biasa yaitu cappuccino. Karena akan nongkrong lama, Saya memesan juga cinnamon roll. Starbucks di Pacific Place tidak memiliki ruang terbuka.  Memang sih, kedai Starbucks di Pacific Place dipagari oleh kaca dan berada di lokasi yang selalu dilewati orang sehingga kita masih bisa melihat orang lalu lalang. Tapi kurang pas sepertinya bila tidak ada ruang terbukanya.  Karena masih lumayan sepi, Saya bisa duduk di sofa yang menghadap ke luar. Dari sana Saya bisa melihat orang lalu lalang.

Asyik, suasana inilah yang Saya cari. Ditemani cappuccino, cinnamon roll & lantunan musik jazz. Saya merasa amat santai. Waktu seakan melumer seperti dalam lukisan Salvador Dali. Sungguh momen yang tepat untuk membaca.

Sedang tenggelam dalam dunia Toru Okada yang baru saja kehilangan kucing, pekerjaan dan mungkin istrinya, seorang pria paruh baya menghampiri Saya. Bentuk wajahnya seperti etnis tionghoa, dia memakai kemeja biru, celana khaki, sepatu kets,  serta menggendong bodypack. Dia terlihat ragu untuk bertanya sesuatu. Nampaknya dia tidak mendapat tempat duduk. Tidak Saya sadari saat itu Starbucks sedang penuh. Saya duduk di tempat duduk yang terdiri dari tiga sofa. Satu untuk saya,satu untuk tas, dan satu dibiarkan kosong. Akhirnya dia memberanikan diri bertanya kepada Saya. “Is this seat taken“? menunjuk kepada kursi yang kosong. Agak terperanjat, Saya pun langsung merespon “No, please have a seat“, sambil menyediakan ruang buat dia di meja yang sudah penuh oleh barang milik Saya. Wow,berbahasa inggris di gerai Starbucks di Jakarta,  Saya merasa internasional. Ternyata disekeliling Saya sudah duduk orang-orang mancanegara. Dua wanita cantik di belakang Saya ngobrol dengan bahasa korea. Di samping kanan Saya ada segerombolan orang india berbahasa Inggris. Di sudut jauh ada sekeluarga kaukasia.  Luar biasa. Saya merasa bukan di Indonesia.

Interesting eh?” dengan gaya kanada, pria asia itu bertanya sambil melemparkan pandangan ke buku yang Saya baca. “Yea, quite interesting, its Murakami’s “, jawab Saya. Dia hanya mengangguk. Saya tebak, pasti dia tidak familiar dengan penulis novel kontemporer asal jepang tersebut. Dia tidak melanjutkan pertanyaannya dan kelihatan sibuk sendiri dengan laptopnya. Sayapun melanjutkan membaca novel karya salah satu pengarang favorit Saya itu. Tidak  lama kemudian dua orang temannya datang menjemput, tanpa berkata-kata diapun pergi meninggalkan Saya untuk duduk dengan teman-temannya.

Dua jam berlalu, Saya agak resah. Bukan karena cappuccino yang sudah dingin atau cinnamon roll yang sudah digasak habis, tapi karena Saya ingin kencing. Tidak mungkin Saya menitipkan meja Saya kepada barista Starbucks. Meninggalkan barang di tempat umum di Jakarta berarti mengikhlaskan barang anda untuk disumbangkan kepada tangan-tangan jahil. Tidak tahan, akhirnya Saya bangun juga dari Sofa nyaman itu menuju kamar mandi. Tentu dengan membawa barang-barang Saya.

Setelah lega, Saya sempat menimbang-nimbang untuk nonton bioskop. Tidak ada film yang menarik. Ada film Indonesia yang sepertinya lumayan, Darah Garuda. Tapi tidak jadi, karena Saya sebal dengan judulnya, Darah Garuda. Dari judulnya saja Saya bisa menangkap kesan bahwa film itu adalah film perjuangan sok asik ala Hollywood.  Saya menebak, selain dentuman senjata, ledakan bom dan ceceran darah dimana-mana pasti tidak ada yang baru dari film ini. Daripada nonton, lebih baik Saya mencari kedai kopi lagi. Setelah naik-turun dan keliling sana-sini,  akhirnya Saya memilih Coffee Bean yang terletak di Lantai 1. Coffee Bean terletak persis di depan gerai Hermes yang harga tasnya bisa mencapai Rp. 80 juta itu.

Lagi-lagi Saya memesan Cappucinno. Saya memang tidak tertarik dengan es kopi dengan campuran susu, gula, cream, dan pemanis-pemanis lainnya. Merusak rasa. Saya lebih suka cappucinno tanpa gula. Jikapun ingin minuman dingin, Saya akan memesan Latte Macchiato. Saya bukan ahli kopi atau seperti orang-orang Jakarta trendi yang mampu membedakan berbagai jenis kopi hanya dari seruputan, tapi terasa bahwa Cappucinno Coffee bean lebih “wet” daripada Starbucks. Setahu Saya ada empat tipe cappucinno, “regular” yang kadar susu, foam, dan espressonya sama. “wet” yang tanpa foam, hanya susu dan espresso. “dry” yang kadar foamnya lebih banyak dari susu. Dan “bone-dry” yang hanya foam dan espresso, tanpa susu. Saya pribadi lebih suka Capuucinno yang dry.

Suasana di Coffee Bean memang lebih enak daripada Starbucks. Karena berada di lantai dasar, Coffee Bean memiliki ruang terbuka. Dari kedai kopi tersebut pengunjung bisa melihat mobil yang lalu lalang dan gedung BEJ, pusat transaksi perdagangan sekitar sepertiga orang kaya di Indonesia. Satu hal yang Saya tidak suka di Coffee Bean, musik yang diputar adalah musik-musik top forty yang  merusak suasana. Menurut Saya padanan warung kopi adalah lagu jazz yang mengalun lembut, bukannya musik yang menghentak-hentak. Gak enak banget rasanya lagi santai menyeruput kopi tiba-tiba dikagetkan dengan suara menyebalkan Eminem.

Sekitar setengah jam menikmati kopi sambil mengetik, Lendi, sahabat Saya saat kuliah dulu SMS. Dia sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Dia mengajak Saya makan malam sambil ngobrol-ngobrol. Saya yang tadinya berencana untuk makan malam di rumah mengiyakan tapi saya tidak ingin pergi ke luar, cari makan di PP saja supaya gak repot soalnya Saya tidak bawa mobil.

Tidak lama setelah maghrib, Lendi tiba di PP. Kamipun langsung menuju ke lokasi berkumpulnya tempat makan. Kami akhirnya mencoba Sop Buntut Bogor karena terlihat selalu ramai. Seperti biasa, sambil makan kami ngobrol-ngobrol masalah wirasusaha, rencana masa depan, dan kabar teman-teman.

Selesai makan, Lendi mengajak Saya nongkrong di Starbucks. Saya bilang ke dia kalau mau ke sana Saya tidak akan ngopi soalnya sudah kenyang minum dua cangkir cappuccino. Saya nemeni dia ngopi sambil ngobrol saja. Di Starbucks, kami lanjut ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang terlintas di kepala. Yang paling sering adalah menertawakan kebodohan kami dan teman-teman di masa lalu. Ah masa lalu, padahal sudah berkali-kali kami menertawakan hal yang sama, berulang-ulang. Tapi tetap saja lucu.

Nongkrong hampir dua jam,waktu hampir menunjukan jam sepuluh, Saya harus segera pulang karena besok pagi pesawat Saya berangkat jam 10 pagi, karenanya paling tidak dua jam sebelum Saya harus sudah berangkat ke airport. Tepat jam sepuluh kami beranjak dari Starbucks, kami berpisah di lantai dasar. Lendi ke basement untuk mengambil mobil, Saya menunggu dijemput adik di lobby utama.

Suasana di lobby sudah sepi, hanya ada beberapa keluarga yang menunggu jasa valet. Sepertinya keluarga yang berasal dari pedalaman seperti Saya, tapi jelas jauh lebih makmur, melihat dari  belanjaan mereka. Hanya keluarga dari pedalaman yang rela berlama-lama di Mall macam Pacific Place dengan menggunakan valet. Tidak lama mobil mereka pun datang.  Setelah mobil mereka pergi, tinggalah Saya sendirian di bangku marmer yang dingin. Jalanan sudah lengang, dan sepertinya akses untuk masuk mobil untuk masuk lobi juga sudah ditutup, Ivan belum juga datang.

Saya keluarkan lagi The Wind-Up Bird Chronicle sambil menunggu. Saya, duduk sendirian di kursi marmer dingin, membaca buku Haruki Murakami, dengan cahaya lampu temaran di lobby sebuah mall terkemuka di jakarta, membuat Saya menjadi melankolis. Inikah yang Saya rindukan di Jakarta, ruang privat di sebuah ruang publik? Tepekur Saya terhenti oleh suara klakson. Dalam sebuah mobil hitam Ivan membuka kaca memanggil Saya. Saya kemudian berlari ke arah mobil untuk pulang.

A Song

Some say that a song could freeze time. They say it caught anything that comes with it; emotion, clothes you wear, drink you had, and even a sound of the rain outside the door. That frozen time is stored in a form of synaps in one dark corner of your brain. The magic thing is,  every time you listen to that song, synaps that formed starts to fire and enlighten that dark corner of your brain. The frozen memory begins to thaw.  Little by little you will be brought back to that very moment. If you fall in love while listening to a song, every time you hear that song you will fall in love. If you got your heart broken while listening to a song, when you listen to that son,  somewhere between your heart and lung will be hurt. A song can simply take your breath away..

The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I’ve seen that road before
It always leads me here
Lead me to your door.

The wild and windy night
That the rain washed away
Has left a pool of tears
Crying for the day.
Why leave me standing here?
Let me know the way.

Many times I’ve been alone
And many times I’ve cried,
Anyway you’ll never know
The many ways I’ve tried.

And still they lead me back
To the long, winding road
You left me standing here
A long, long time ago
Don’t leave me waiting here
Lead me to your door.

But still they lead me back
To the long winding road
You left me standing here
A long, long time ago
Don’t keep me waiting here
Lead me to your door.

The Beatles

.::The Long and Winding Road::.

Ied Mubarak 1 Syawal 1431 H

Seperti tahun-tahun sebelumnya, lepas shalat Ied 1 Syawal 1431 H atau 10 September 2010 Masehi, Ayah Ibu mengajak Saya dan Adik silaturahmi ke tetangga. Saya sebetulnya agak malas berkunjung ke tetangga yang Saya kenal hanya parasnya saja itu. Pasalnya,  sudah lama sekali Saya tidak menetap di Jakarta, lepas SMA Saya hijrah ke Bandung, setelah itu langsung bekerja di Kalimantan Timur. Bukannya sombong, tapi kesempatan berinteraksi dengan mereka amat sedikit, jadi Saya tidak bisa mengikuti perkembangan kehidupan mereka.

Dengan malas, Saya menyeret kaki ke tetangga.  Dengan memasang senyum di wajah, menanggapi pertanyaan dan pernyataan basa-basi dengan tetap berusaha ramah seraya berharap dapat segera kembali ke rumah untuk makan ketupat yang disirami kuah gulai, Saya datangi rumah tetangga itu satu per satu.  “Maaf lahir batin” kalimat itu yang sering terlontar hari itu. Agak aneh memang, karena Saya hampir tidak pernah bertemu orang-orang itu. Apanya yang harus dimaafkan? bertemu saja setahun sekali, bagaimana Saya bisa melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan. “Apa kabar?” atau “Selamat Idul Fitri” menurut Saya kalimat yang lebih baik dilontarkan. Saya lebih senang menjawab bagaimana kabar saya daripada harus meminta dan menerima maaf atas kesalahan yang mungkin tidak pernah dilakukan. Lagi pula “maaf lahir batin” agaknya jadi lebih mirip mantra untuk mengurangi rasa canggung karena jarang bertemu.

Betulkah “maaf lahir batin” itu ungkapan tulus?  Menurut Saya, minta maaf adalah satu satu kalimat tersulit apabila harus diucapkan, setara dengan ucapan cinta apabila dikatakan dengan sungguh-sungguh. Justru dengan diobralnya kata maaf, terjadi ameliorasi. Kata yang bernilai tinggi itu turun drastis menjadi sekedar pengganti kata  “apa kabar”. Memang yang saya tangkap, makna idul fitri yang populer adalah “kembali ke fitrah manusia” maksudnya segala dosa telah dihapuskan. Diri kita seperti “bayi yang baru lahir”, tanpa dosa. Mirip-mirip tabula rasa. Karena dosa-dosa kita kepada Sang Khalik telah dimaafkan, maka kita harus meminta maaf kepada orang-orang sekitar untuk menghapus dosa antar manusia . Mungkin karena itulah orang-orang dengan kalap bersilaturahmi, ke tetangga, ke teman kerja, ke atasan, bahkan sampai ke presiden.

Puasa dan Idul Fitri adalah ritual bagi kaum beriman. Didalamnya terkandung makna hubungan vertikal dengan sang khalik dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dalam hubungan vertikal menurut al-Ghazali, esensi puasa adalah mengurangi energi-energi negatif dalam tubuh manusia agar tidak terlalu berdaya untuk berbuat jahat. Pengurangan aspek-aspek fisikal diklaim mampu meningkatkan sensitivitas spiritual. Konon, hanya dengan perut kosong seseorang mampu mencapai Yang Transedental yang mewujud dalam malam Lailatul Qodr yang muncul hanya setahun sekali itu.  Sesuatu yang sangat pribadi antara hamba dan Sang Khalik.

Seharusnya, efek Ramadan yang  diharapkan nyata terlihat adalah kepekaan kepada kaum yang kalah, kaum marjinal. Lapar dapat menumbuhkan empati kepada kaum tersebut. Kualitas seseorang dalam berpuasa seharusnya lebih mudah terlihat dengan kepeduliannya kepada kaum tersebut.  Dibandingkan dengan hubungan vertikal yang cenderung pribadi, kepekaan ini yang lebih mudah dirasakan khalayak ramai.

Tapi ada yang ironis disini. Kala puasa adalah ikhtiar untuk mengurangi yang berlebihan. Justru saat berpuasalah terjadi lonjakan pola konsumsi pada masyarakat. Sudah lazim terdengar harga daging ayam, sapi, kambing, gula, cabe merah naik saat menjelang bulan Ramadan karena tingginya permintaan. Puasa yang harusnya jadi momen pengurangan menjadi penundaan atau pelipatgandaan. Absennya makan siang langsung dibayar tunai saat berbuka, dengan bunga tentu(dawet, gorengan es shangai, es teler, dll)  supaya tidak rugi.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat Saya sukai saat Idul Fitri. Momen silaturahmi dengan keluarga besar. Amat jarang bagi Saya untuk bertemu keluarga besar, paling hanya setahun sekali. Makanya, kemarin tumben-tumbennya hampir semua keluarga besar dari pihak Ibu berkumpul. Sepupu Saya sudah besar-besar ternyata.  Saya jadi tau bahwa Sekar, sepupu Saya yang cantik itu akan dilamar pada 18 September nanti (lagi-lagi Saya tidak bisa datang), Berryl bocah pendiam itu sudah menjelma menjadi perempuan manis, Jedi yang dulu Saya tahu saat orok sekarang sudah menggendut, Nauval yang tadinya anak manja yang menyebalkan sudah bisa tersenyum kepada orang lain . Senang sekali rasanya mengetahui kabar mereka.

Ternyata momen Idul Fitri  itu ternyata mampu menjadi perekat hubungan dengan orang-orang yang Saya kenal dan kenal Saya sejak lahir. Maaf lahir batin yang keluar dari mulut jadi terasa bening dan bermakna.

Buat saya Inilah salah satu yang berharga dari idul Fitri. Momen Silaturahmi yang sederhana tapi sangat menyentuh. Mungkin inilah yang menyebabkan orang-orang banyak berkorban waktu, uang, dan tenaga hanya untuk dapat kembali pulang saat Idul Fitri.  Saya yang sering meremehkan silaturahmi jadi sadar kalau hal itu penting. Silaturahmi yang dilandasi niat baik memang terasa lebih bermakna. Bukan hanya jadi momen untuk pasang tampang senang dan  salam-salaman untuk sekedar menjaga reputasi dan  formalitas seperti kata-kata “maaf lahir batin” yang terasa dingin kering saat sembarang diucapkan.

*) Karena ini merupakan ruang publik. Masih dengan suasana Idul Fitri, Saya mohon maaf sedalam-dalamnya apabila dalam tulisan Saya pernah menyinggung perasaan pembaca yang budiman. Sungguh  Saya tidak pernah bermaksud menyinggung perasaan siapapun. Maafkan khilaf Saya. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1431 H.

Alienasi (bukan yang versi Karl Marx)

Sore itu, hampir seluruh penghuni lantai 3 kantor Saya berkumpul di suatu sudut. Untuk bergunjing. Yang dipergunjingkan adalah keganjilan salah satu rekan kerja Saya yang malang.

Konon rekan kerja Saya itu sedang sakit. Sudah tiga hari dia tidak masuk kantor. Tidak terlalu jelas kenapa anak itu sakit. Sepanjang sore, sudah pengap ruangan ini dengan  pembicaraan mengenai musabab kenapa anak itu sakit. Dari situ pembicaraan menggelinding deras tidak terkendali. Pembicaraan yang tadinya hanya mencari penyebab tidak masuknya anak itu, malah jadi forum untuk menghakimi. Diakhir pembicaraan, persekutuan itu seperti bersepakat untuk melakukan “penyembuhan” terhadap keganjilan anak malang itu.

Memang perilaku anak itu agak aneh dan mengganggu. Namun, bukankah kita semua punya keanehan? punya sesuatu yang gelap, yang ganjil, yang kita simpan dalam-dalam disudut tergelap hati kita? “Setiap orang memiliki bagian sensitif yang tidak perlu kita orak” begitu kata Sandi Yuda, salah satu karakter dalam seri novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Anak itu malang karena sisi gelapnya mudah sekali terdedah.

Saya tahu rasa itu, rasa yang ingin mengubah orang lain karena menganggap diri lebih baik. Menganggap orang lain harus seperti Saya, mengukur orang lain dengan alat ukur Saya, melihat orang lain dari kacamata Saya. Dengan begitu, apabila sudah dia sudah berubah, barulah Saya bisa menepuk dada, nih Saya, orang yang berjasa dalam kehidupannya karena bisa membuat dia jadi lebih baik.

Terlalu mudah memang bagi kita untuk menilai orang lain. Padahal, siapa yang tau sejarah kehidupan seseorang. Siapa yang tau apa yang telah dialaminya dimasa lalu sehingga membuatnya jadi seperti sekarang ini. Apa hak kita untuk menghakimi, menuduh, dan ingin membuatnya jadi lebih baik?

Semua orang memang ingin berjasa dan bermanfaat bagi orang lain. Itu adalah kutukan bagi manusia, selalu membutuhkan penghargaan dari manusia lain.

Barangkali, semuanya akan lebih baik kalau saja kita memberikan sedikit pengertian. Tidak menghakimi dan mencoba mendengarkan sisinya, bukan malah memaksakan sisi kita. Mungkin saja kita bisa memberikan pemahaman kepadanya mengenai hal-hal yang dianggap ganjil dan menganggu bagi orang lain seraya berharap dia bisa mengerti setelah dimengerti.  Atau bisa  juga kita tidak mengorek-orek sisi gelapnya itu dan menerimanya sebagai bagian dari dirinya.

Satu hal yang pasti, bergunjing tentang dirinya tidak membuat semuanya jadi lebih baik. Apalagi dilakukan di khalayak ramai yang sebelumnya tidak tahu tentang sisi ganjilnya itu. Tentu saja hal itu bisa membangun persepsi buruk tentang dirinya yang menimbulkan pretensi. Dan lagi, hal itu dilakukan di bulan Ramadan ini yang…ah sudahlah.

Saya tahu, bergunjing memang menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri apabila kita membicarakan orang lain. Apalagi bergunjing dengan orang ramai. Mungkin saja saat itu Saya lagi sibuk sehingga tidak masuk ke lingkaran persekutuan penggunjing itu. Padahal biasanya Saya juga ikut masuk ke lingkaran itu. Entah saat itu Saya tidak ingin ikut masuk. Saat itu, Saya hanya berminat duduk dan mengerjakan tugas-tugas yang ingin segera Saya rampungkan sebelum cuti.

Keesokan harinya, rekan kerja Saya sudah masuk kerja. Jelas terlihat memang dia sakit. Beberapa orang menjadi lebih peduli dan menanyakan kabarnya. Dia juga kelihatan menikmati perhatian itu. Namun, ada juga orang-orang yang memang pada dasarnya tidak suka, jadi apapun yang dilakukan selalu jadi alasan untuk menguatkan keganjilan anak malang itu.

Saya? Saya sih tetap saja mengerjakan pekerjaan yang ingin dirampungkan sebelum cuti.