Alienasi (bukan yang versi Karl Marx)

Sore itu, hampir seluruh penghuni lantai 3 kantor Saya berkumpul di suatu sudut. Untuk bergunjing. Yang dipergunjingkan adalah keganjilan salah satu rekan kerja Saya yang malang.

Konon rekan kerja Saya itu sedang sakit. Sudah tiga hari dia tidak masuk kantor. Tidak terlalu jelas kenapa anak itu sakit. Sepanjang sore, sudah pengap ruangan ini dengan  pembicaraan mengenai musabab kenapa anak itu sakit. Dari situ pembicaraan menggelinding deras tidak terkendali. Pembicaraan yang tadinya hanya mencari penyebab tidak masuknya anak itu, malah jadi forum untuk menghakimi. Diakhir pembicaraan, persekutuan itu seperti bersepakat untuk melakukan “penyembuhan” terhadap keganjilan anak malang itu.

Memang perilaku anak itu agak aneh dan mengganggu. Namun, bukankah kita semua punya keanehan? punya sesuatu yang gelap, yang ganjil, yang kita simpan dalam-dalam disudut tergelap hati kita? “Setiap orang memiliki bagian sensitif yang tidak perlu kita orak” begitu kata Sandi Yuda, salah satu karakter dalam seri novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Anak itu malang karena sisi gelapnya mudah sekali terdedah.

Saya tahu rasa itu, rasa yang ingin mengubah orang lain karena menganggap diri lebih baik. Menganggap orang lain harus seperti Saya, mengukur orang lain dengan alat ukur Saya, melihat orang lain dari kacamata Saya. Dengan begitu, apabila sudah dia sudah berubah, barulah Saya bisa menepuk dada, nih Saya, orang yang berjasa dalam kehidupannya karena bisa membuat dia jadi lebih baik.

Terlalu mudah memang bagi kita untuk menilai orang lain. Padahal, siapa yang tau sejarah kehidupan seseorang. Siapa yang tau apa yang telah dialaminya dimasa lalu sehingga membuatnya jadi seperti sekarang ini. Apa hak kita untuk menghakimi, menuduh, dan ingin membuatnya jadi lebih baik?

Semua orang memang ingin berjasa dan bermanfaat bagi orang lain. Itu adalah kutukan bagi manusia, selalu membutuhkan penghargaan dari manusia lain.

Barangkali, semuanya akan lebih baik kalau saja kita memberikan sedikit pengertian. Tidak menghakimi dan mencoba mendengarkan sisinya, bukan malah memaksakan sisi kita. Mungkin saja kita bisa memberikan pemahaman kepadanya mengenai hal-hal yang dianggap ganjil dan menganggu bagi orang lain seraya berharap dia bisa mengerti setelah dimengerti.  Atau bisa  juga kita tidak mengorek-orek sisi gelapnya itu dan menerimanya sebagai bagian dari dirinya.

Satu hal yang pasti, bergunjing tentang dirinya tidak membuat semuanya jadi lebih baik. Apalagi dilakukan di khalayak ramai yang sebelumnya tidak tahu tentang sisi ganjilnya itu. Tentu saja hal itu bisa membangun persepsi buruk tentang dirinya yang menimbulkan pretensi. Dan lagi, hal itu dilakukan di bulan Ramadan ini yang…ah sudahlah.

Saya tahu, bergunjing memang menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri apabila kita membicarakan orang lain. Apalagi bergunjing dengan orang ramai. Mungkin saja saat itu Saya lagi sibuk sehingga tidak masuk ke lingkaran persekutuan penggunjing itu. Padahal biasanya Saya juga ikut masuk ke lingkaran itu. Entah saat itu Saya tidak ingin ikut masuk. Saat itu, Saya hanya berminat duduk dan mengerjakan tugas-tugas yang ingin segera Saya rampungkan sebelum cuti.

Keesokan harinya, rekan kerja Saya sudah masuk kerja. Jelas terlihat memang dia sakit. Beberapa orang menjadi lebih peduli dan menanyakan kabarnya. Dia juga kelihatan menikmati perhatian itu. Namun, ada juga orang-orang yang memang pada dasarnya tidak suka, jadi apapun yang dilakukan selalu jadi alasan untuk menguatkan keganjilan anak malang itu.

Saya? Saya sih tetap saja mengerjakan pekerjaan yang ingin dirampungkan sebelum cuti.

Iklan

2 responses to “Alienasi (bukan yang versi Karl Marx)

  1. bilangan fu itu terdiri dr beberapa seri ya? kmrn d gramed ada tp koq ceritanya agak2 misteri gt…

  2. Bilangan fu itu yang sudah rilis baru Bilangan Fu sama manjali & Cakrabirawa.
    Mungkin yg kamu liat di Gramedia itu karya2 Ayu yang terkenal termasuk Saman dan Larung. Bagus juga kok Saman dan Larung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s