Ied Mubarak 1 Syawal 1431 H

Seperti tahun-tahun sebelumnya, lepas shalat Ied 1 Syawal 1431 H atau 10 September 2010 Masehi, Ayah Ibu mengajak Saya dan Adik silaturahmi ke tetangga. Saya sebetulnya agak malas berkunjung ke tetangga yang Saya kenal hanya parasnya saja itu. Pasalnya,  sudah lama sekali Saya tidak menetap di Jakarta, lepas SMA Saya hijrah ke Bandung, setelah itu langsung bekerja di Kalimantan Timur. Bukannya sombong, tapi kesempatan berinteraksi dengan mereka amat sedikit, jadi Saya tidak bisa mengikuti perkembangan kehidupan mereka.

Dengan malas, Saya menyeret kaki ke tetangga.  Dengan memasang senyum di wajah, menanggapi pertanyaan dan pernyataan basa-basi dengan tetap berusaha ramah seraya berharap dapat segera kembali ke rumah untuk makan ketupat yang disirami kuah gulai, Saya datangi rumah tetangga itu satu per satu.  “Maaf lahir batin” kalimat itu yang sering terlontar hari itu. Agak aneh memang, karena Saya hampir tidak pernah bertemu orang-orang itu. Apanya yang harus dimaafkan? bertemu saja setahun sekali, bagaimana Saya bisa melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan. “Apa kabar?” atau “Selamat Idul Fitri” menurut Saya kalimat yang lebih baik dilontarkan. Saya lebih senang menjawab bagaimana kabar saya daripada harus meminta dan menerima maaf atas kesalahan yang mungkin tidak pernah dilakukan. Lagi pula “maaf lahir batin” agaknya jadi lebih mirip mantra untuk mengurangi rasa canggung karena jarang bertemu.

Betulkah “maaf lahir batin” itu ungkapan tulus?  Menurut Saya, minta maaf adalah satu satu kalimat tersulit apabila harus diucapkan, setara dengan ucapan cinta apabila dikatakan dengan sungguh-sungguh. Justru dengan diobralnya kata maaf, terjadi ameliorasi. Kata yang bernilai tinggi itu turun drastis menjadi sekedar pengganti kata  “apa kabar”. Memang yang saya tangkap, makna idul fitri yang populer adalah “kembali ke fitrah manusia” maksudnya segala dosa telah dihapuskan. Diri kita seperti “bayi yang baru lahir”, tanpa dosa. Mirip-mirip tabula rasa. Karena dosa-dosa kita kepada Sang Khalik telah dimaafkan, maka kita harus meminta maaf kepada orang-orang sekitar untuk menghapus dosa antar manusia . Mungkin karena itulah orang-orang dengan kalap bersilaturahmi, ke tetangga, ke teman kerja, ke atasan, bahkan sampai ke presiden.

Puasa dan Idul Fitri adalah ritual bagi kaum beriman. Didalamnya terkandung makna hubungan vertikal dengan sang khalik dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dalam hubungan vertikal menurut al-Ghazali, esensi puasa adalah mengurangi energi-energi negatif dalam tubuh manusia agar tidak terlalu berdaya untuk berbuat jahat. Pengurangan aspek-aspek fisikal diklaim mampu meningkatkan sensitivitas spiritual. Konon, hanya dengan perut kosong seseorang mampu mencapai Yang Transedental yang mewujud dalam malam Lailatul Qodr yang muncul hanya setahun sekali itu.  Sesuatu yang sangat pribadi antara hamba dan Sang Khalik.

Seharusnya, efek Ramadan yang  diharapkan nyata terlihat adalah kepekaan kepada kaum yang kalah, kaum marjinal. Lapar dapat menumbuhkan empati kepada kaum tersebut. Kualitas seseorang dalam berpuasa seharusnya lebih mudah terlihat dengan kepeduliannya kepada kaum tersebut.  Dibandingkan dengan hubungan vertikal yang cenderung pribadi, kepekaan ini yang lebih mudah dirasakan khalayak ramai.

Tapi ada yang ironis disini. Kala puasa adalah ikhtiar untuk mengurangi yang berlebihan. Justru saat berpuasalah terjadi lonjakan pola konsumsi pada masyarakat. Sudah lazim terdengar harga daging ayam, sapi, kambing, gula, cabe merah naik saat menjelang bulan Ramadan karena tingginya permintaan. Puasa yang harusnya jadi momen pengurangan menjadi penundaan atau pelipatgandaan. Absennya makan siang langsung dibayar tunai saat berbuka, dengan bunga tentu(dawet, gorengan es shangai, es teler, dll)  supaya tidak rugi.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat Saya sukai saat Idul Fitri. Momen silaturahmi dengan keluarga besar. Amat jarang bagi Saya untuk bertemu keluarga besar, paling hanya setahun sekali. Makanya, kemarin tumben-tumbennya hampir semua keluarga besar dari pihak Ibu berkumpul. Sepupu Saya sudah besar-besar ternyata.  Saya jadi tau bahwa Sekar, sepupu Saya yang cantik itu akan dilamar pada 18 September nanti (lagi-lagi Saya tidak bisa datang), Berryl bocah pendiam itu sudah menjelma menjadi perempuan manis, Jedi yang dulu Saya tahu saat orok sekarang sudah menggendut, Nauval yang tadinya anak manja yang menyebalkan sudah bisa tersenyum kepada orang lain . Senang sekali rasanya mengetahui kabar mereka.

Ternyata momen Idul Fitri  itu ternyata mampu menjadi perekat hubungan dengan orang-orang yang Saya kenal dan kenal Saya sejak lahir. Maaf lahir batin yang keluar dari mulut jadi terasa bening dan bermakna.

Buat saya Inilah salah satu yang berharga dari idul Fitri. Momen Silaturahmi yang sederhana tapi sangat menyentuh. Mungkin inilah yang menyebabkan orang-orang banyak berkorban waktu, uang, dan tenaga hanya untuk dapat kembali pulang saat Idul Fitri.  Saya yang sering meremehkan silaturahmi jadi sadar kalau hal itu penting. Silaturahmi yang dilandasi niat baik memang terasa lebih bermakna. Bukan hanya jadi momen untuk pasang tampang senang dan  salam-salaman untuk sekedar menjaga reputasi dan  formalitas seperti kata-kata “maaf lahir batin” yang terasa dingin kering saat sembarang diucapkan.

*) Karena ini merupakan ruang publik. Masih dengan suasana Idul Fitri, Saya mohon maaf sedalam-dalamnya apabila dalam tulisan Saya pernah menyinggung perasaan pembaca yang budiman. Sungguh  Saya tidak pernah bermaksud menyinggung perasaan siapapun. Maafkan khilaf Saya. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1431 H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s