Enjoying Jakarta like Jakartans

Sehari sebelum kembali ke dunia nyata (red: Bontang) Saya membuat keputusan mustahak untuk menikmati Jakarta seperti layaknya Jakartans, jalan-jalan seharian di mall. Urusan Saya sangat penting, yakni ingin menguji berapa lama Saya sanggup nongkrong di warung kopi premium. Sudah rindu Saya menikmati kesendirian dalam keramaian yang dengan mudah didapatkan di Kota besar.  Sejumlah amunisi telah disiapkan, MBP sudah dicharge penuh, novel The Wind-up Bird Chronicle karya Haruki Murakami Saya masukkan ke tas, notes diselipkan, yea Saya siap berangkat. Pilihan lokasi jatuh kepada Mall Pacific Place yang terletak di Sudirman Central Business District (SCBD) supaya kerasa aura konsumerisme khas kota besar

Saya memesan taksi blue bird pada pukul sebelas sehingga masih punya dua jam untuk mandi dan bersiap-siap. Seperti biasanya, taksi biru itu sudah datang lima belas menit sebelum jam 11. Setelah pamit Saya pun berangkat ke Pacific Place menembus jalanan Jakarta yang masih lenggang.  Tidak sampai lima belas menit, Saya sudah sampai di lobby utama Pacific Place. Tidak ada yang berubah sejak terakhir Saya menginjakkan kaki disini. Masih megah gemerlapan dengan  desain interior yang tertata apik dan memanjakan pengunjung. Saya yakin hanya sebagian kecil warga Jakarta yang benar-benar mampu berbelanja di gerai-gerai utama Mall ini, namun Mall ini sepertinya menawarkan sesuatu yang lain. Semacam pelarian dari wajah-wajah lain Jakarta yang jorok dan kumuh. Di Kota yang miskin ruang publik seperti ini, pantas saja orang Jakarta senang sekali ke Mall.

Menurut salah satu teman Saya, parameter suatu kota layak huni atau tidak adalah adanya Mall. Ditambahkan lagi, di Mall itu harus ada bioskop, Starbucks atau kedai kopi sejenis. Saya kasihan padanya, tapi Saya tidak menyalahkan dia, memang kehidupan di Jakarta yang membentuknya seperti itu. Dia tidak tahu ada cara lain bersenang-senang selain ngopi atau nonton di Mall. Dia belum merasakan nikmatnya hiking di derah hutan lindung, jogging di lingkungan asri dan segar, liat sunset sambil menikmati singkong goreng dan kopi di pinggir pantai dan diving di laut yang masih jernih. Beruntung Saya yang besar di Jakarta bisa bekerja di Bontang. Saya tidak kaget dengan kemewahan khas Ibu kota dan tidak gagap dengan aktivitas outdoor yang menyegarkan.

Waktu makan siang sudah dekat, Saya memutuskan untuk makan dulu sebelum menjalani misi utama Saya yang super penting itu. Namun sebelumnya Saya ingin ke Toko Buku Aksara untuk melihat-lihat koleksi buku yang mereka punya. Seperti yang sudah diduga, walaupun tujuan awalnya hanya ingin lihat-lihat Saya tidak mampu memendam hasrat beli buku, akhirnya Saya beli buku karya Milan Kundera yang berjudul The Book of Laughter & Forgetting. Walaupun Saya tahu, buku itu akan masuk daftar antrian buku ke sekian yang harus dibaca. Saya tertarik karena pada buku ini ada kalimat, “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgettting“, menarik,  apa yang dia maksud dengan perjuangan terbesar manusia adalah perjuangan melawan lupa? Bikin penasaran saja.

Setelah membeli buku, Saya naik ke lantai yang khusus menyediakan kedai makanan. Bingung juga karena pilihan begitu banyak. Pilihan Saya jatuh kepada ramen, karena Saya suka mi dan sudah lama sekali Saya tidak makan mi  jepang itu.

Setelah makan siang, akhirnya Saya bisa menjalankan misi utama Saya. Saya memilih nongkrong di Starbucks lalu memesan pesanan biasa yaitu cappuccino. Karena akan nongkrong lama, Saya memesan juga cinnamon roll. Starbucks di Pacific Place tidak memiliki ruang terbuka.  Memang sih, kedai Starbucks di Pacific Place dipagari oleh kaca dan berada di lokasi yang selalu dilewati orang sehingga kita masih bisa melihat orang lalu lalang. Tapi kurang pas sepertinya bila tidak ada ruang terbukanya.  Karena masih lumayan sepi, Saya bisa duduk di sofa yang menghadap ke luar. Dari sana Saya bisa melihat orang lalu lalang.

Asyik, suasana inilah yang Saya cari. Ditemani cappuccino, cinnamon roll & lantunan musik jazz. Saya merasa amat santai. Waktu seakan melumer seperti dalam lukisan Salvador Dali. Sungguh momen yang tepat untuk membaca.

Sedang tenggelam dalam dunia Toru Okada yang baru saja kehilangan kucing, pekerjaan dan mungkin istrinya, seorang pria paruh baya menghampiri Saya. Bentuk wajahnya seperti etnis tionghoa, dia memakai kemeja biru, celana khaki, sepatu kets,  serta menggendong bodypack. Dia terlihat ragu untuk bertanya sesuatu. Nampaknya dia tidak mendapat tempat duduk. Tidak Saya sadari saat itu Starbucks sedang penuh. Saya duduk di tempat duduk yang terdiri dari tiga sofa. Satu untuk saya,satu untuk tas, dan satu dibiarkan kosong. Akhirnya dia memberanikan diri bertanya kepada Saya. “Is this seat taken“? menunjuk kepada kursi yang kosong. Agak terperanjat, Saya pun langsung merespon “No, please have a seat“, sambil menyediakan ruang buat dia di meja yang sudah penuh oleh barang milik Saya. Wow,berbahasa inggris di gerai Starbucks di Jakarta,  Saya merasa internasional. Ternyata disekeliling Saya sudah duduk orang-orang mancanegara. Dua wanita cantik di belakang Saya ngobrol dengan bahasa korea. Di samping kanan Saya ada segerombolan orang india berbahasa Inggris. Di sudut jauh ada sekeluarga kaukasia.  Luar biasa. Saya merasa bukan di Indonesia.

Interesting eh?” dengan gaya kanada, pria asia itu bertanya sambil melemparkan pandangan ke buku yang Saya baca. “Yea, quite interesting, its Murakami’s “, jawab Saya. Dia hanya mengangguk. Saya tebak, pasti dia tidak familiar dengan penulis novel kontemporer asal jepang tersebut. Dia tidak melanjutkan pertanyaannya dan kelihatan sibuk sendiri dengan laptopnya. Sayapun melanjutkan membaca novel karya salah satu pengarang favorit Saya itu. Tidak  lama kemudian dua orang temannya datang menjemput, tanpa berkata-kata diapun pergi meninggalkan Saya untuk duduk dengan teman-temannya.

Dua jam berlalu, Saya agak resah. Bukan karena cappuccino yang sudah dingin atau cinnamon roll yang sudah digasak habis, tapi karena Saya ingin kencing. Tidak mungkin Saya menitipkan meja Saya kepada barista Starbucks. Meninggalkan barang di tempat umum di Jakarta berarti mengikhlaskan barang anda untuk disumbangkan kepada tangan-tangan jahil. Tidak tahan, akhirnya Saya bangun juga dari Sofa nyaman itu menuju kamar mandi. Tentu dengan membawa barang-barang Saya.

Setelah lega, Saya sempat menimbang-nimbang untuk nonton bioskop. Tidak ada film yang menarik. Ada film Indonesia yang sepertinya lumayan, Darah Garuda. Tapi tidak jadi, karena Saya sebal dengan judulnya, Darah Garuda. Dari judulnya saja Saya bisa menangkap kesan bahwa film itu adalah film perjuangan sok asik ala Hollywood.  Saya menebak, selain dentuman senjata, ledakan bom dan ceceran darah dimana-mana pasti tidak ada yang baru dari film ini. Daripada nonton, lebih baik Saya mencari kedai kopi lagi. Setelah naik-turun dan keliling sana-sini,  akhirnya Saya memilih Coffee Bean yang terletak di Lantai 1. Coffee Bean terletak persis di depan gerai Hermes yang harga tasnya bisa mencapai Rp. 80 juta itu.

Lagi-lagi Saya memesan Cappucinno. Saya memang tidak tertarik dengan es kopi dengan campuran susu, gula, cream, dan pemanis-pemanis lainnya. Merusak rasa. Saya lebih suka cappucinno tanpa gula. Jikapun ingin minuman dingin, Saya akan memesan Latte Macchiato. Saya bukan ahli kopi atau seperti orang-orang Jakarta trendi yang mampu membedakan berbagai jenis kopi hanya dari seruputan, tapi terasa bahwa Cappucinno Coffee bean lebih “wet” daripada Starbucks. Setahu Saya ada empat tipe cappucinno, “regular” yang kadar susu, foam, dan espressonya sama. “wet” yang tanpa foam, hanya susu dan espresso. “dry” yang kadar foamnya lebih banyak dari susu. Dan “bone-dry” yang hanya foam dan espresso, tanpa susu. Saya pribadi lebih suka Capuucinno yang dry.

Suasana di Coffee Bean memang lebih enak daripada Starbucks. Karena berada di lantai dasar, Coffee Bean memiliki ruang terbuka. Dari kedai kopi tersebut pengunjung bisa melihat mobil yang lalu lalang dan gedung BEJ, pusat transaksi perdagangan sekitar sepertiga orang kaya di Indonesia. Satu hal yang Saya tidak suka di Coffee Bean, musik yang diputar adalah musik-musik top forty yang  merusak suasana. Menurut Saya padanan warung kopi adalah lagu jazz yang mengalun lembut, bukannya musik yang menghentak-hentak. Gak enak banget rasanya lagi santai menyeruput kopi tiba-tiba dikagetkan dengan suara menyebalkan Eminem.

Sekitar setengah jam menikmati kopi sambil mengetik, Lendi, sahabat Saya saat kuliah dulu SMS. Dia sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Dia mengajak Saya makan malam sambil ngobrol-ngobrol. Saya yang tadinya berencana untuk makan malam di rumah mengiyakan tapi saya tidak ingin pergi ke luar, cari makan di PP saja supaya gak repot soalnya Saya tidak bawa mobil.

Tidak lama setelah maghrib, Lendi tiba di PP. Kamipun langsung menuju ke lokasi berkumpulnya tempat makan. Kami akhirnya mencoba Sop Buntut Bogor karena terlihat selalu ramai. Seperti biasa, sambil makan kami ngobrol-ngobrol masalah wirasusaha, rencana masa depan, dan kabar teman-teman.

Selesai makan, Lendi mengajak Saya nongkrong di Starbucks. Saya bilang ke dia kalau mau ke sana Saya tidak akan ngopi soalnya sudah kenyang minum dua cangkir cappuccino. Saya nemeni dia ngopi sambil ngobrol saja. Di Starbucks, kami lanjut ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang terlintas di kepala. Yang paling sering adalah menertawakan kebodohan kami dan teman-teman di masa lalu. Ah masa lalu, padahal sudah berkali-kali kami menertawakan hal yang sama, berulang-ulang. Tapi tetap saja lucu.

Nongkrong hampir dua jam,waktu hampir menunjukan jam sepuluh, Saya harus segera pulang karena besok pagi pesawat Saya berangkat jam 10 pagi, karenanya paling tidak dua jam sebelum Saya harus sudah berangkat ke airport. Tepat jam sepuluh kami beranjak dari Starbucks, kami berpisah di lantai dasar. Lendi ke basement untuk mengambil mobil, Saya menunggu dijemput adik di lobby utama.

Suasana di lobby sudah sepi, hanya ada beberapa keluarga yang menunggu jasa valet. Sepertinya keluarga yang berasal dari pedalaman seperti Saya, tapi jelas jauh lebih makmur, melihat dari  belanjaan mereka. Hanya keluarga dari pedalaman yang rela berlama-lama di Mall macam Pacific Place dengan menggunakan valet. Tidak lama mobil mereka pun datang.  Setelah mobil mereka pergi, tinggalah Saya sendirian di bangku marmer yang dingin. Jalanan sudah lengang, dan sepertinya akses untuk masuk mobil untuk masuk lobi juga sudah ditutup, Ivan belum juga datang.

Saya keluarkan lagi The Wind-Up Bird Chronicle sambil menunggu. Saya, duduk sendirian di kursi marmer dingin, membaca buku Haruki Murakami, dengan cahaya lampu temaran di lobby sebuah mall terkemuka di jakarta, membuat Saya menjadi melankolis. Inikah yang Saya rindukan di Jakarta, ruang privat di sebuah ruang publik? Tepekur Saya terhenti oleh suara klakson. Dalam sebuah mobil hitam Ivan membuka kaca memanggil Saya. Saya kemudian berlari ke arah mobil untuk pulang.

Iklan

2 responses to “Enjoying Jakarta like Jakartans

  1. –menikmati kesendirian di tengah keramaian–
    tdk bnyk orng yg bs memahami, apalagi menikmatinya. Jadi, beruntunglah kita 🙂

  2. Betul betul betul. Kayaknya cuma kita berdua yang ngerti 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s