Monthly Archives: Oktober 2010

A Severe Lethargy

When you are so getting used to never get what you want, you will reach one point when you stop wanting anything. You will forget how to fight for something. You will forget that overwhelming sensation when you get what you fight for. Even if you had a chance, you would step back and let others fill the space.

Dammit.

Iklan

Diving Bali : Tulamben & Nusa Penida

Saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk membuat catatan perjalanan liburan. Dua minggu lalu, Saya liburan ke Bali. Agenda Saya adalah untuk diving dan jalan-jalan di Bali.

Nah, untuk menghindari campur aduk informasi yang membingungkan. Saya akan membagi catatan perjalanan Saya menjadi dua ; yaitu diving dan jalan-jalan.

Di Bali Saya diving empat kali, dua kali di Tulamben, sekali di Crystal Bay dan sekali lagi di Manta Point. Secara umum, diving di Bali memang memuaskan. Kami yang terbiasa diving di Bontang jadi keder. Karena diving di Bali sungguh luar biasa. Visibilitynya bisa hingga 30 meter dan keragaman terumbu karangnya membuat hati mengharu biru.

Daripada berlama-lama langsung saja Saya tuliskan detailnya. Nah, begini ceritanya;

Rencana diving di luar Bontang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya, Sigit, dan Frilo sudah ngebet untuk diving di luar Bontang. Kami sudah bosan dengan dive site Bontang yang itu-itu saja. Dan lagi, visibility di Bontang buruk sekali. Sudah saatnya kami keluar melihat dive site di luar Bontang. Kami lalu melempar wacana diving di milis BDC. Om Taufik dan Om irwansyah merespon positif dan memberi sinyal mau bergabung. Tanggal diving ditetapkan yaitu tanggat 9 sampai 12 Oktober 2010.

Pilihannya jatuh kepada Bali. Bali dipilih karena akses yang mudah dan dive spot yang relatif mudah dijangkau. Tadinya kami ingin ke Manado dan Lembeh, namun karena Om Irwansyah dan Om Taufik sudah pernah ke Manado dan Lembeh, Bali menjadi tujuan kami. Lokasinya adalah Tulamben & Nusa Penida. Tulamben karena disana ada wreck kapal kargo USS liberty. Nusa Penida karena kami mau melihat Mola mola.

Bali Marine Sport (BMS) kepunyaan Made “Nicky” Wirawan menjadi operator diving kami selama di Bali. BMS dipilih karena sudah dikenal oleh rekan-rekan BDC. BMS juga merupakan salah satu operator diving tertua di Bali. Sebelum berangkat, Bli Nicky sudah memberikan proyeksi biaya diving, hotel & Akomodasi. Setiap orang dikenakan biaya Rp. 2,650,000 untuk empat kali dive plus biaya hotel tiga malam. Sewa alat dikenakan Rp 150,000 per orang. Harga yang menurut Om Taufik yang sudah melalang buana diving di Indonesia cukup baik.

Walaupun akhirnya Frilo tidak bisa ikut karena ada tugas ke Belanda (yang akhirnya gak jadi juga). Kami berempat, Saya, Sigit, Om Taufik dan Om Irwansyah terbang ke Bali tanggal 9 Oktober 2010.

Kami menginap di Sanur di Hotel Stana Puri Gopa di Jl. Kesumasari dekat kantor BMS. Hotel tempat kami menginap cukup nyaman. Kamarnya besar, ber AC dan ada kolam renang. Kamar mandinya juga memiliki bath tub. Yang membuatnya kurang nyaman, kamar kami terletak di lantai tiga. Dengan bawaan yang berat, cukup merepotkan untuk naik turun tangga. Dan lagi, di Hotel ini Saya terpaksa membayar Rp. 300,000 karena memecahkan keramik kloset. Menyebalkan karena Saya memecahkannya karena berusaha memperbaiki flush yang bermasalah.

Bila dibandingkan dengan Kuta. Sanur merupakan tempat yang lebih tenang. Kuta yang penuh dengan gairah muda, pesta-pesta, dan tempat belanja sangat kontras bila dibandingkan dengan Sanur. Di Sanur, kita menjumpai turis asing yang sudah established yang mencari ketenangan dan kenyamanan. Di Kuta, kita akan menjumpai turis-turis yang mencari keramaian.

Tulamben

Pukul 7.45 setelah sarapan, kami dijemput oleh staff BMS untuk berangkat ke Tulamben yang terletak di sebelah Timur Pulau Bali. Perjalanan ke Tulamben memakan waktu kurang lebih dua jam, cukup melelahkan. Pemandangan sepanjang Sanur – Tulamben mengharukan. Sudah lama sekali Saya tidak melihat hamparan Sawah di kaki Gunung.

Di perjalanan, divemaster kami, Bli Asa, menceritakan tentang USS Liberty yang tenggelam di Tulamben.  Pada tahun 1942 Kapal kargo sepanjang 120 m ini tertembak oleh kapal selam jepang saat hendak melewati Selat Lombok menuju Australia. Dua perahu serbu yang menemani kapal ini mencoba mendorongnya ke Singaraja. Namun, karena kemasukan air terlalu banyak, kapal ini akhirnya kandas di Tulamben.  Liberty kandas di bagian dangkal pantai Tulamben selama  dua puluh tahun. Saat Gunung Agung meletus tahun 1963, Liberty terdorong ke bagian yang lebih dalam. Sejak itu, Liberty menjadi rumah bagi biota laut di sebelah Timur Bali.

Sesampainya di Tulamben, suasana sudah ramai. Banyak terlihat diver-diver dari berbagai negara berkumpul. Memang benar rumornya, diving di Tulamben serasa berada di pasar.

Suasana Diving di Tulamben

Karnaval di Tulamben

Bli Asa memberi briefing kepada kami sebelum turun. Dive pertama, kami, berencana keliling Liberty dari kedalaman 5 meter sampai 30 meter.  Kemudian  pada dive kedua kami akan bermain-main di bagian dalam Liberty. Dia juga berpesan agar kami santai saja, jangan terlalu terburu-buru.

Setelah gear-up, Kami diving dengan beach entry. Saya mengalami sedikit masalah saat dive pertama karena ternyata pemberat 4 kg yang biasa Saya gunakan di Bontang kurang, karenanya buoyancy Saya cenderung positif. Terpaksa Saya harus menggunakan fin mendorong badan Saya tenggelam. Cukup melelahkan.

Di dalam air, visibilitynya bagus sekali, lebih dari 30 m. Kami, diver Bontang yang terbiasa menyelam dengan visibility 5 – 10 m sangat takjub dan seperti anak kampung yang baru sekali ke kota. Ikan-ikan tidak penting yang bukan bintang di Tulambenpun kami foto. Karenanya, rencana kami untuk mengelilingi Liberty gagal. Namun kami cukup senang, karena kami banyak mendapat objek foto menarik seperti ikan-ikan besar yang jarang kami jumpai di Bontang. Di dive pertama ini Saya menjumpai Leaf Scorpion Fish. Saya memang suka ikan famili Scorpionidae karena bentuknya yang unik dan karena siripnya yang beracun.

Scorpionidae

Leaf Scorpionfish

Sebelum surfacing, kami melakukan safety stop di daerah tempat hidup Garden Eel. Lucu sekali belut-belut itu, ramai-ramai mereka menjulurkan kepalanya untuk menangkap plankton yang terbawa arus.

Selama surface interval kami makan siang. Sambil makan, Saya mengecek housing kamera Saya. Ternyata di bagian dalamnya terlihat titik-titik air. Saya mulai khawatir, jangan-jangan housing Saya bocor. Saya pun membuka housing, mengecek, dan menambahkan silicon grease pada seal housing Saya. Saya memutuskan untuk mencoba kamera pada dive kedua seraya berharap housing tidak bocor lagi.

Bli Asa mengevaluasi dive pertama kami. Dia bilang kami terlalu lambat sehingga tidak bisa melihat keseluruhan kapal. Dia meminta perhatian apabila dia memukul tanki karena seringkali kami  keasyikan memotret sehingga mengacuhkannya.  Dia juga bilang ke Saya bahwa pemberat Saya kurang sehingga Saya banyak membuang energi untuk menjaga buoyancy tetap netral. Bli Asa juga mengkritik kebiasaan Saya memposisikan kepala lebih rendah daripada pinggang dan kaki  saat melakukan pengamatan dan memotret sehingga menyebabkan ketidaksbilan buoyancy. Dia menyarankan, agar saat memotret, Saya mengambil posisi stabil dengan mendekatkan pemberat ke pusat gravitasi agar lebih stabil.

Pada dive kedua, Bli Asa menambah pemberat Saya menjadi 5 Kg.  Hasilnya memang lebih nyaman, dengan mudah saya tenggelam, buoyancy netralpun lebih mudah didapat.

Awal dive kedua, kami mendapati swirling jack fish. Saya pun memotret dari bawah sehingga menghasilkan foto siluet yang indah. Sayapun mendekati school of jacks tersebut untuk mengambil foto jarak dekat. Pengalaman yang luar biasa.

Swirling Jack Fish

Swirling Jack Fish

Dive kedua berjalan sesuai rencana. Menyenangkan sekali berenang diantara reruntuhan kapal besar. Sensasinya luar biasa. Diantara reruntuhan itu, seekor Great Barracuda berhenti kurang dari satu meter di depan Saya dan Om Taufik. Bli Asa langsung meminta kamera Saya dan memotret  Barracuda di depan Saya dan Om Taufik. Sementara Om Irwan dan Sigit bersembunyi dibalik dinding kapal. Saya baru tahu alasan kenapa dia sembunyi kemudian. Sigit bilang saat itu dia sedang kencing. Dia khawatir Barracuda membaui air seninya dan menyerang. Ada-ada saja.

Great Barracuda

Great Barracuda

Tindakan Barracuda membuka mulut dan memamerkan giginya yang tajam membuat Saya ketar ketir. Setelah beberapa menit, si Barracuda tidak kunjung pergi. Khawatir, akhirnya Saya yang pergi dengan setenang mungkin, Saya tidak berani melihat ke belakang karena khawatir Barracuda mengejar. Setelah cukup jauh, barulah Saya menengok ke belakang. Barracuda terlihat masih tenang-tenang disitu. Lega.

Untuk Saya, dive kedua ini kurang nyaman karena Saya terus menerus mengkhawatirkan housing dan kamera Saya. Sebentar-sebentar Saya melihat ke bagian dalam hosuing untuk mengecek apakah kamera Saya bocor atau tidak. Memang benar, setelah 40 menit dive, terlihat titik-titik air di dalam housing sehingga membuat housing kamera fogging. Saya mulai khawatir, sehingga 15 menit terakhir diving sangat tidak menyenangkan.

Selesai diving langsung Saya membuka housing, mengeluarkan kamera dan mengelapnya dengan tissue agar kering. Walaupun bocornya tidak banyak, namun hal itu tetap saja membuat khawatir. Saya khawatir kalau housing ini tidak bisa dipakai di Nusa Penida. Bli Asa menyarankan Saya agar membersihkan seal dan menaruh tissue di dalam housing agar kalaupun bocor, tissue bisa menyerap air yang masuk. Bli Asa juga menganjurkan Saya berkonsultasi dengan Bli Nicky mengenai hal tersebut di Sanur.

Lokasi mandi dan bersih-bersih di Tulamben kurang baik .Seharusnya, dengan banyaknya pengunjung, tempat mandi dan bersih-bersih alat bisa lebih baik. Selesai bersih-bersih, Kami pulang ke Sanur.

Menurut Saya, diving di Tulamben kurang kalau hanya dilakukan dua kali. Idealnya diving dilakukan empat kali supaya bisa melihat semua bagian kapal dan keragaman hayati yang menyelimuti kapal itu. Walaupun begitu, Kami semua sangat puas, karena walaupun singkat, rasa penasaran bagaimana diving di luar Bontang sudah terjawab. Dan Apabila ditanyakan apakah Kami berminat datang lagi. Jawabannya sama. Tentu saja !

Nusa Penida

Tidak seperti Tulamben yang dicapai dengan mengendarai mobil selama 2 jam, untuk mencapai Nusa Penida Kami menggunakan speedboat dengan waktu tempuh 45 menit.

Pagi-pagi kami sudah berkumpul depan kantor BMS yang terletak persis di depan Pantai Sanur. Divemaster kami berempat tetap Bli Asa. Bli Nicky juga ikut turun untuk menemani dua tamu dari Belanda dan satu tamu dari Singapore.

Tujuan pertama kami adalah Crystal Bay yang terletak di  sebelah  barat daya Nusa  Penida. Crystal Bay terkenal dengan  Mola mola yang menggunakan tiga tempat di area ini sebagai cleaning station. Target kami adalah mencapai cleaning station di kedalaman 25 meter. Baru kemudian Kami mencari objek foto menarik. Tidak seperti Tulamben yang santai, Bli Asa menginginkan kami cepat bergerak mencapai cleaning station. Bli Asa juga mengingatkan kondisi arus di Crystal Bay tidak bisa diperkirakan. Dia meminta kami untuk berenang dekat dengan karang agar saat arus datang kami bisa berpegangan. Bodohnya, Saya lupa membawa glove yang sudah Saya siapkan dari hotel tadi. Padahal glove itu sengaja dibeli untuk diving di Penida.

Saat hendak mencapai Crystal Bay, Bli Nicky melihat seekor Mola mola besar sedang sun bathing. Dia langsung mengajak kami gear up untuk mengejar Mola mola yang mungkin masih ada di cleaning station.

Tahukah kenapa dinamakan cleaning station? Mola mola adalah hewan berkulit tebal yang memiliki lapisan lendir di kulitnya. Menurut penelitian, di kulitnya ditemukan lebih dari 40 jenis parasit. Bahkan, pada parasit tersebut ditemukan parasit juga. Untuk mmbantu mengurangi parasit, Mola mola membutuhkan bantuan dari ikan-ikan karang. Nah, di cleaning station tersebut Mola mola akan diam dan dibersihkan oleh ikan-ikan karang. Cleaning station adalah tempat terbaik untuk mengamati Mola mola.

Saat nyebur, terasa suhu di sini lebih dingin. Dive computer Saya mencatat kalau suhu air di Crystal Bay adalah 26 derajat. Untung saja Saya memakai wetsuit 3 mm jadi tidak terlalu dingin. Arus nampaknya bersahabat, kami langusng menuju slope untuk menuju cleaning station.

Tidak dinyana, saat mencapai slope dan bergerak turun, Bli Asa memukul tankinya dengan keras. Terlihat dari jarak 20 m seekor Mola mola kecil sepanjang 1 meter berenang mendekat. Langsung saja Saya memotret dan merekam. Karena jeda waktu yang terlalu pendek, juga karena tiba-tiba arus kencang datang, hasil foto dan rekaman tidak terlalu bagus. Saya pun harus berpegangan pada salah satu ceruk pada karang untuk menahan agar tidak terbawa arus.

Mola mola

Mola mola

Saat arus mulai mereda, Kami berjuang mengayuh untuk turun ke cleaning station. Ternyata arus bukannya mereda malah semakin kencang. Saat mencoba maju, Saya yang tidak sadar kalau integrated weight Saya tersangkut di karang  dan jatuh. Yang Saya rasakan, badan Saya tertarik ke atas, oleh karenanya Saya terus berpegangan pada ceruk di karang. Saya kira itu akibat arus.

Ternyata, Sigit yang berada persis di belakang Saya, menemukan salah satu intergrated weight yang terjatuh sudah mencoba memberi tahu Saya. Namun, karena sedang berkonsentrasi berpengangan pada karang dan memegang kamera pada tangan satunya, saya tidak sadar Sigit mencolek-colek Saya. Untung Bli Asa melihat ini dan membantu memasukkan integrated weight. Setelah integrated weight terpasang. Badan Saya tertarik ke bawah dan Saya menjadi lebih mudah menjaga buoyancy.

Arus tidak kunjung reda sementara tekanan udara milik Om Taufik sudah kurang dari 75 bar. Bli Asa memutuskan untuk naik dan sedikit ber drift diving. Kami yang tidak paham tujuan Bli mengira Kami akan terus turun ke Cleaning Station sehingga Kami terus-terusan merayap di karang.

Saat  sedang merayap, Saya menemukan Ikan favorit Saya, Scorpion fish. Langsung Saya mencari sudut yang baik untuk memotret. Di belakang Saya, Om Taufik sudah menunggu giliran memotret.

Tasseled Scorpion Fish

Tasseled Scorpion Fish

Tiba-tiba seorang diver asing yang kelihatan asyik ber drift diving menoleh ke arah kami yang sedang merayap. Saat itu Saya sadar, kalau Bli Asa sedang drift diving. Betapa memalukkannya ketika drift diving kami malah ketakutan  dan berpegangan pada karang. Saya pun melepaskan pegangan Saya mengikuti bule  dan Bli Asa mengendarai arus.

Sedang asyik-asyiknya mengendari arus tiba-tiba Om Taufik berenang cepat mendekati Bli Asa. Dia membuat gerakan memotong leher dengan tangannya yang merupakan sinyal dia kehabisan udara. Bli Asa yang kesulitan meraih octopus, memberikan regulator miliknya ke Om Taufik. Saat itu kami berada pada kedalaman sekitar 10 m. Bli Asa menarik Om taufik untuk ke atas. Kamipun mengikuti mereka dan naik ke Speedboat yang sudah menunggu.

Tidak lama ketika kami naik, Bli Nicky dan ketiga tamunya ikut naik. Saat makan siang, Bli Nicky bilang kalau arusnya kencang sehingga dia juga tidak dapat membawa tamunya ke cleaning station. Syukurlah, ternyata tidak cuma kami yang tidak dapat mencapai cleaning station. Kami lebih beruntung karena berhasil melihat Mola walaupun kecil dan ekornya agak cacat.

Bli Nicky bilang kalau saat ini kondisi sedang pasang sehingga arusnya cukup deras. Mola yang awalnya terlihat mungkin berenang ke tempat lain. Kami makan siang di speedboat dengan pemandangan tebing-tebing terjal di sebelah selatan Nusa Penida yang kokoh walaupun terus menerus didebur gelombang dan dijilat ombak.

Dive kedua akan dilakukan di Manta Point yang berada di sebelah selatan Nusa Penida. Manta Point dicapai dengan 20 menit memakai speedboat. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tebing-tebing batu Nusa Penida yang kokoh dan indah.

Bli Asa memberi briefing bahwa di Manta Point, kedalaman maksimum hanya 15 meter. Lalu kami diberikan trik berenang efisien di Manta Point. Tipe gelombang di Manta Point datang dan terpantul kembali oleh dinding karang karenanya kami akan terseret arus maju dan mundur. Saat mundur, kami diminta mengikuti karena tidak lama kemudian kami akan merasakan arus maju. Nah, saat arus maju baru kami mengayuh. Dengan begitu tenaga bisa dihemat.

Kondisi air di permukaan air sangat menyeramkan karena deburan ombak yang menerpa dinding membuat riak-riak yang menyebabkan kapal kami bergoyang-goyang. Namun, ketika masuk, ternyata kondisi air tidak seburuk itu. Iya, memang kondisi permukaan bisa menipu, seperti buku, sampulnya bisa menipu. Makanya, jangan pernah tertipu oleh penampilan luar, coba selami dulu, barulah kita bisa menarik kesimpulan 🙂

Baru lima menit masuk air, Bli Asa sudah memukul tankinya dan menunjuk ke arah Manta Ray yang sedang berenang anggun menjauhi kami. Karena tidak siap, Saya hanya sempat merekamnya, hasilnya pun tidak terlalu bagus. Saya sudah mencoba mengejar, tapi ada daya, jelas Saya bukan tandingannya.

Dasar sial, ternyata itulah satu-satunya Manta yang kami lihat. walaupun sudah berkeliling dan menunggu di channel, tetap saja tidak terlihat Manta lewat. Akhirnya Saya memotret-motret apa saja yang terlihat menarik. Kondisi bawah laut Manta Point tidak terlalu kaya. Sehingga tidak terlalu menarik untuk difoto. Karenanya di Manta Point, Saya lebih banyak memotret teman-teman.

Satu jam kemudian, setalah melakukan safety stop, kami naik ke Speedboat. Bli Nicky yang naik tidak lama setelah kami juga bilang dia tidak mendapati Manta. Lagi-lagi Kami lebih beruntung. Setelah melepas semua alat, kami pun bersiap pulang ke Sanur diliputi dengan perasaan puas.

Sigit di Manta Point

Sigit di Manta Point

Sama seperti di Tulamben, sebaiknya diving di Nusa Penida dilakukan minimal empat kali di satu lokasi. Untuk bisa berjumpa target, seperti Mola dan Manta terlalu spekulatif kalau hanya mengandalkan satu kali dive. Karenanya, kalau ada kesempatan lain, Saya ingin sekali kembali ke sini untuk bercengkrama dengan Mola dan Manta 😀

Sailing Bontang

Sabtu malam  beberapa pekan lalu April, buddy diving Saya, SMS. Dia mengajak Saya latihan Sailing. April adalah salah satu dari sedikit atlet muda Bontang yang berminat pada olahraga air tersebut. Tanpa pikir panjang, Saya langsung bilang oke karena Saya ingin mencoba keasyikan olahraga mengendarai angin itu.

Minggu pagi pukul 10.00 wita Saya berangkat ke Pantai Marina PT. Badak NGL. Di sana April sudah menunggu ditemani Om Johar, penjaga Boat House.  Bukannya membantu, Saya yang awam mengenai olahraga ini mulai cerewet tanya itu itu. Bukan apa-apa, lokasi latihan sailing bersebelahan dengan Jetty PT. Badak NGL. Tidak terbayang masalah yang akan muncul kalau kami terseret angin ke Jetty PT. Badak NGL. Melihat April dan Pak Johar sibuk mengatur tali temali untuk layari, Saya jadi tidak enak dan ingin membantu, walaupun Saya juga tidak yakin bantuan Saya dibutuhkan.

Setelah memasang Jib (layar depan), Mainsail (layar utama), tiller (tongkat kemudi) serta mengencangkan dan memastikan tali-temali berfungsi untuk memudahkan kendali, April memberi briefing singkat mengenai bagian-bagian dari perahu layar yang kami gunakan.Dia menjelaskan prinsip kemudi dan fungsi layar depan dan layar belakang. Seperti biasa, Saya yang selalu ingin tahu detail terutama prinsip kerjanya jadi banyak tanya. April yang kelihatan kebingungan menjawab berondongan pertanyaan Saya langsung ngajak “turun” karena sulit menjelaskan tanpa praktek.

Saya sudah seperti turis. Kalau tidak dicegah, mungkin sudah Saya bawa drybag yang berisi handphone dan dompet. Beruntung April berhasil mencegah Saya, kalau tidak itu bisa jadi hal yang akan Saya sesali kemudian.  Saya juga menenteng kamera G11 yang sudah dipasang housing underwater untuk mengabadikan pengalaman sailing pertama Saya. April dan Om Johar hanya tersenyum penuh makna melihat Saya.

Perahu yang kamu gunakan adalah tipe Hobie Cat dengan dua hull berwarna kuning yang dijembatani oleh kanvas untuk tempat duduk awak. Ditengahnya, tegak berdiri mast atau tiang layar. Bentuknya seperti dua buah pisang yang disejajarkan dan diberi lilin ulang tahun ditengahnya. Dia lalu menerangkan tentang fungsi jib dan mainsail. Mainsail merupakan layar utama untuk menangkap angin sedangkan Jib berfungsi sebagai layar tambahan untuk menambah kecepeatan. Menurutnya hal terpenting pada Sailing adalah kemampuan membaca arah angin. Setelah itu perkara teknis mengendalikan layar agar sesuai dengan arah angin mudah saja dipelajari. Terus terang Saya bilang masih tidak paham dengan cara kerja perahu layar ini. April hanya senyum-senyum saja bikin keki.

April berperan menjadi skipper yang mengendalikan kemudi dan layar besar sedangkan Saya menjadi crew yang menjadi penyeimbang dan membantu mengendalikan layar depan. Pertama kali melaut, Saya mulai rewel karena kecepatan perahu kami sama saja dengan bebek-bebekan yang digowes itu. April menjelaskan kalau posisi kami sedang berada di teluk Marina yang merupakan dead zone karena angin yang datang terhalang daratan.

Peralahan-lahan setelah keluar dari Marina, hembusan angin mulai terasa menerpa. Karenanya, perahu kami pun semakin laju didorong oleh angin membelah laut Bontang yang biru kehijauan. Saya yang belum pernah naik perahu layar  bersorak-sorak gembira. Mengasyikan sekali mengendarai angin dengan layar. Tugas pokok Saya sederhana hanya menarik ulur tali layar depan untuk mendapat angin semaksimal mungkin sementara April sebagai skipper harus mengendalikan perahu dan mengontrol layar utama. Saya yang tidak terlalu menangkap cara kerja perahu layar ini dan ingin memahami kerja layar rewel menanyakan ini itu mengenai cara mengendalikan perahu kepada April yang sedang berkonsentrasi membaca arah angin.

Tidak terlalu lama, Kami sampai di Buoy 24, mengambil haluan dan berbalik. April terlihat sibuk membaca arah angin sementara Saya sibuk memotret. Pada perjalanan kembali ke Marina, Saya mengajak ngobrol April mengenai  Sailing yang seharusnya bisa ditanyakan saat di darat nanti, perbuatan yang akan Saya sesali beberapa saat kemudian. April yang tadinya berkonsentrasi membaca angin jadi agak lengah dan menanggapi obrolan Saya. Tiba-tiba angin mendadak jadi kencang. Perahu yang kami tumpangi semakin laju dan semakin condong ke satu sisi. Aprilia tanpa ekspresi hanya bilang, “wah kita sudah tinggi ya”. Melihat April sangat santai, Saya pikir itu hal yang biasa. Sejurus kemudian karena terlambat mengendorkan layar, perahu kami terangkat 90 derajat, dan terbalik Saya dan April yang duduk pada sisi yang sama jatuh terjerembab ke layar yang sudah tergolek dipermukaan laut.

Saya bertanya kepada April apakah dia pernah mengalami keadaan ini, dia menjawab pernah, tapi dia bilang tidak tahu caranya mengembalikan perahu seperti semula sambil tersenyum. Saya kira dia cuma bercanda karena dia mengatakannya sambil senyum senyum. Ternyata setelah berbagai cara, berbagai gaya sampai gendong-gendongan segala, perahu tidak bisa kami kembalikan seperti semula. Tangan saya sudah keram dibuatnya karena menarik-narik tiang layar yang berat itu sementara arus secara perlahan tapi pasti membawa kami ke pelabuhan PT. Badak LNG. Sudah terbayang oleh Saya apabila Saya terdampar disana, urusannya bisa runyam.

Saya berpikir keras bagaimana cara mengembalikan perahu ini seperti semula. Layar sulit diangkat karena sudah sebagian terendam oleh air. Ditengah loncatan-loncatan elektrokimia di otak, Saya sempat melihat sekilas ke April. Tanpa beban dia hanya senyum senyum. Padahal kalau Saya menilai, situasi sudah tidak bisa dikendalikan. Hampir tidak mungkin kami bisa mengembalikan perahu seperti semula tanpa bantuan. Sempat terbersit bahwa April lagi ngerjain Saya. Saya berharap dengan satu tombol atau satu gerakan saja, dia bisa mengembalikan perahu ini seperti semula. Tapi dia hanya duduk di salah satu  hull tanpa terlihat rasa khawatir di wajahnya.

Ditengah keputusasaan, dari kejauhan datang speedboat mendekat. April memperkirakan itu Om Johar yang datang membantu menegakkan kembali perahu  layar kami. Benar saja, itu Om Johar. Lega Saya melihat bantuan. Dengan cekatan Om Johar membantu kami menarik Hobie yang terbalik dengan speed boat, sekali tarik, perahu langsung tegak berdiri. Karena sudah lelah, kami berdua sepakat untuk makan siang dulu sebelum berlayar lagi.

Kami makan siang dengan sederhana di bawah pohon kersen yang menghadap ke laut. Meja dan kursinya juga sederhana, hanya bekas potongan kayu yang masih kasar. Menu makan siang juga sederhana, hanya nasi dengan mi, tumis kacang panjang dan ikan goreng.

Sambil makan, April bercerita bahwa setelah dia lulus SMA nanti, tidak ada lagi penerusnya sebagai atlet muda dan penggiat olahraga layar di Bontang. Yang tertarik hanya sesepuh-sesepuh yang sudah tidak bisa dibilang muda. Saya kaget, masak tidak ada peminatnya. Usut punya usut ternyata bukannya olahraganya tidak menarik. Tapi kebanyakan remaja takut hitam karena terkena siraman matahari. My God! Seriously guys, masak rela kehilangan pengalaman seru karena takut hitam. Oh, anak-anak muda, you are so pathetic. Sepertinya harus ada yang menyuarakan bahwa hitam juga keren. Tidak ada yang salah dengan gelapnya kulit. Justru lebih mengkhawatirkan anak-anak muda yang terobsesi dengan penampilan luar saja, tanpa prestasi, tanpa karakter.

Lepas makan siang, Kami melanjutkan trip kami yang kedua. Kali ini rutenya lebih jauh dan memutar, tapi tetap melalui Buoy 24. Saya sudah belajar dari kesalahan dahulu, Saya tidak banyak omong lagi. Saya juga mencoba menebak-nebak arah angin dan waspada kalau tiba-tiba ada angin kencang berhembus yang dapat membalik perahu kami. Sampai buoy 24 pelayaran kami aman dan seru. Nah saat hendak memutari Buoy 24 angin tidak berhembus. sehingga perahu yang dimaksudkan memutari buoy malah berbalik arah dan melaju ke arah buoy 24. Kaget, Saya bilang ke April untuk membelokkan perahu supaya tidak nabrak. April seperti biasa hanya senyum-senyum sambil bilang, “yah kita nabrak Buoy deh” Saya yang masih bingung dengan situasi karena insting Saya mengatakan kondisi sudah gawat sementara nada suara April hanya datar seperti bilang “yah rambutku belum disisir”. Angin sedang berhembus kencang persis dari arah belakang kami sehingga membuat perahu kamu melaju kencang ke arah Buoy. Beruntung April sigap mengarahkan perahu ke sisi kiri Buoy sehingga tabrakan bisa dihindari. Saya langung bernapas dengan lega setelah panik dibuatnya. Jelas hull fiberglass kami bukan tandingan Buoy yang terbuat dari besi tersebut.

Saya protes ke April supaya dia bisa mengekspresikan dirinya dengan betul suapaya gak membingungkan orang lain. Saat genting, tunjukkan kalau dia sedang bingung. Bukannya hanya senyum-senyum saja. Setelah peristiwa itu, kami sedikit melambung ke arah utara sebelum mengarah kembali ke Teluk Marina.

Sehabis berlayar, Saya merasakan kaki Saya lebam karena terantuk layar besar ketika terbalik dan tangan saya sempat keram ketika mencoba membalikkan kembali perahu. Sailing sungguh menjadi pengalaman yang sangat luar biasa untuk Saya. Walaupun Jakarta adalah Kota yang memiliki pantai, Saya tidak pernah mencoba olahraga air disana. Lagipula, siapa yang mau berolahraga air di Jakarta yang kondisi pantainya sudah seperti lautan sampah.

Saya sempat berpikir kenapa remaja-remaja disini tidak tertarik dengan olahraga keren ini. Saya saja yang sudah lewat seperempat abad masih tertarik berlayar. Yah, banyak sebabnya, Saya yang sering menjadi legam karena aktivitas outdoorpun masih sering diledek keluarga dan teman-teman. Saya sih tidak terlalu peduli, tapi kalau sering diledek seperti itu kesal juga. Menjadi hitam mengesankan Saya melakukan aktivitas yang kurang bonafid. Tercium aroma kastanisasi disitu. Orang berkulit legam dipersepsikan sebagai orang-orang penghuni kasta terendah di tingkat sosial, sementara orang berkulit putih menempati level diatasnya.  Itulah yang sekarang mau Saya berantas. Menjadi legam karena aktivitas outdoor sama sekali tidak buruk. Keren malah. Saya rasa itu yang harus disampaikan ke anak-anak muda Indonesia yang terobsesi dengan kulit putih. Putih tanpa prestasi itu menyedihkan, hitam dengan prestasi jauh lebih baik 😀

Plastic Life

It seems like we can make everything from plastic; Action figure, flower,  trees,  food, animal, babies. Every living thing can be made out of plastic. Big, beautiful, shiny, and colorful as they can be. They are just plastic. Fake.

Even our life can be made out of plastic. We sometimes, live someone else’s life, dreams someone else’s dreams , and chase someone else’s targets. Inspiring as they might be. They are just plastic. Fake.

We are living in a plastic world. Both literally and metaphorically. Sad to say, but it is true.

And I hope you, my love, are real.

Her green plastic watering can
For her fake Chinese rubber plant
In the fake plastic earth
That she bought from a rubber man
In a town full of rubber plans
To get rid of itself
It wears her out, it wears her out
It wears her out, it wears her out

She lives with a broken man
A cracked polystyrene man
Who just crumbles and burns
He used to do surgery
For girls in the eighties
But gravity always wins
And it wears him out, it wears him out
It wears him out

She looks like the real thing
She tastes like the real thing
My fake plastic love
But I can’t help the feeling
I could blow through the ceiling
If I just turn and run
And it wears me out, it wears me out
It wears me out, it wears me out

If I could be who you wanted
If I could be who you wanted
All the time, all the time

Radiohead.:Fake Plastic Trees:.