Sailing Bontang

Sabtu malam  beberapa pekan lalu April, buddy diving Saya, SMS. Dia mengajak Saya latihan Sailing. April adalah salah satu dari sedikit atlet muda Bontang yang berminat pada olahraga air tersebut. Tanpa pikir panjang, Saya langsung bilang oke karena Saya ingin mencoba keasyikan olahraga mengendarai angin itu.

Minggu pagi pukul 10.00 wita Saya berangkat ke Pantai Marina PT. Badak NGL. Di sana April sudah menunggu ditemani Om Johar, penjaga Boat House.  Bukannya membantu, Saya yang awam mengenai olahraga ini mulai cerewet tanya itu itu. Bukan apa-apa, lokasi latihan sailing bersebelahan dengan Jetty PT. Badak NGL. Tidak terbayang masalah yang akan muncul kalau kami terseret angin ke Jetty PT. Badak NGL. Melihat April dan Pak Johar sibuk mengatur tali temali untuk layari, Saya jadi tidak enak dan ingin membantu, walaupun Saya juga tidak yakin bantuan Saya dibutuhkan.

Setelah memasang Jib (layar depan), Mainsail (layar utama), tiller (tongkat kemudi) serta mengencangkan dan memastikan tali-temali berfungsi untuk memudahkan kendali, April memberi briefing singkat mengenai bagian-bagian dari perahu layar yang kami gunakan.Dia menjelaskan prinsip kemudi dan fungsi layar depan dan layar belakang. Seperti biasa, Saya yang selalu ingin tahu detail terutama prinsip kerjanya jadi banyak tanya. April yang kelihatan kebingungan menjawab berondongan pertanyaan Saya langsung ngajak “turun” karena sulit menjelaskan tanpa praktek.

Saya sudah seperti turis. Kalau tidak dicegah, mungkin sudah Saya bawa drybag yang berisi handphone dan dompet. Beruntung April berhasil mencegah Saya, kalau tidak itu bisa jadi hal yang akan Saya sesali kemudian.  Saya juga menenteng kamera G11 yang sudah dipasang housing underwater untuk mengabadikan pengalaman sailing pertama Saya. April dan Om Johar hanya tersenyum penuh makna melihat Saya.

Perahu yang kamu gunakan adalah tipe Hobie Cat dengan dua hull berwarna kuning yang dijembatani oleh kanvas untuk tempat duduk awak. Ditengahnya, tegak berdiri mast atau tiang layar. Bentuknya seperti dua buah pisang yang disejajarkan dan diberi lilin ulang tahun ditengahnya. Dia lalu menerangkan tentang fungsi jib dan mainsail. Mainsail merupakan layar utama untuk menangkap angin sedangkan Jib berfungsi sebagai layar tambahan untuk menambah kecepeatan. Menurutnya hal terpenting pada Sailing adalah kemampuan membaca arah angin. Setelah itu perkara teknis mengendalikan layar agar sesuai dengan arah angin mudah saja dipelajari. Terus terang Saya bilang masih tidak paham dengan cara kerja perahu layar ini. April hanya senyum-senyum saja bikin keki.

April berperan menjadi skipper yang mengendalikan kemudi dan layar besar sedangkan Saya menjadi crew yang menjadi penyeimbang dan membantu mengendalikan layar depan. Pertama kali melaut, Saya mulai rewel karena kecepatan perahu kami sama saja dengan bebek-bebekan yang digowes itu. April menjelaskan kalau posisi kami sedang berada di teluk Marina yang merupakan dead zone karena angin yang datang terhalang daratan.

Peralahan-lahan setelah keluar dari Marina, hembusan angin mulai terasa menerpa. Karenanya, perahu kami pun semakin laju didorong oleh angin membelah laut Bontang yang biru kehijauan. Saya yang belum pernah naik perahu layar  bersorak-sorak gembira. Mengasyikan sekali mengendarai angin dengan layar. Tugas pokok Saya sederhana hanya menarik ulur tali layar depan untuk mendapat angin semaksimal mungkin sementara April sebagai skipper harus mengendalikan perahu dan mengontrol layar utama. Saya yang tidak terlalu menangkap cara kerja perahu layar ini dan ingin memahami kerja layar rewel menanyakan ini itu mengenai cara mengendalikan perahu kepada April yang sedang berkonsentrasi membaca arah angin.

Tidak terlalu lama, Kami sampai di Buoy 24, mengambil haluan dan berbalik. April terlihat sibuk membaca arah angin sementara Saya sibuk memotret. Pada perjalanan kembali ke Marina, Saya mengajak ngobrol April mengenai  Sailing yang seharusnya bisa ditanyakan saat di darat nanti, perbuatan yang akan Saya sesali beberapa saat kemudian. April yang tadinya berkonsentrasi membaca angin jadi agak lengah dan menanggapi obrolan Saya. Tiba-tiba angin mendadak jadi kencang. Perahu yang kami tumpangi semakin laju dan semakin condong ke satu sisi. Aprilia tanpa ekspresi hanya bilang, “wah kita sudah tinggi ya”. Melihat April sangat santai, Saya pikir itu hal yang biasa. Sejurus kemudian karena terlambat mengendorkan layar, perahu kami terangkat 90 derajat, dan terbalik Saya dan April yang duduk pada sisi yang sama jatuh terjerembab ke layar yang sudah tergolek dipermukaan laut.

Saya bertanya kepada April apakah dia pernah mengalami keadaan ini, dia menjawab pernah, tapi dia bilang tidak tahu caranya mengembalikan perahu seperti semula sambil tersenyum. Saya kira dia cuma bercanda karena dia mengatakannya sambil senyum senyum. Ternyata setelah berbagai cara, berbagai gaya sampai gendong-gendongan segala, perahu tidak bisa kami kembalikan seperti semula. Tangan saya sudah keram dibuatnya karena menarik-narik tiang layar yang berat itu sementara arus secara perlahan tapi pasti membawa kami ke pelabuhan PT. Badak LNG. Sudah terbayang oleh Saya apabila Saya terdampar disana, urusannya bisa runyam.

Saya berpikir keras bagaimana cara mengembalikan perahu ini seperti semula. Layar sulit diangkat karena sudah sebagian terendam oleh air. Ditengah loncatan-loncatan elektrokimia di otak, Saya sempat melihat sekilas ke April. Tanpa beban dia hanya senyum senyum. Padahal kalau Saya menilai, situasi sudah tidak bisa dikendalikan. Hampir tidak mungkin kami bisa mengembalikan perahu seperti semula tanpa bantuan. Sempat terbersit bahwa April lagi ngerjain Saya. Saya berharap dengan satu tombol atau satu gerakan saja, dia bisa mengembalikan perahu ini seperti semula. Tapi dia hanya duduk di salah satu  hull tanpa terlihat rasa khawatir di wajahnya.

Ditengah keputusasaan, dari kejauhan datang speedboat mendekat. April memperkirakan itu Om Johar yang datang membantu menegakkan kembali perahu  layar kami. Benar saja, itu Om Johar. Lega Saya melihat bantuan. Dengan cekatan Om Johar membantu kami menarik Hobie yang terbalik dengan speed boat, sekali tarik, perahu langsung tegak berdiri. Karena sudah lelah, kami berdua sepakat untuk makan siang dulu sebelum berlayar lagi.

Kami makan siang dengan sederhana di bawah pohon kersen yang menghadap ke laut. Meja dan kursinya juga sederhana, hanya bekas potongan kayu yang masih kasar. Menu makan siang juga sederhana, hanya nasi dengan mi, tumis kacang panjang dan ikan goreng.

Sambil makan, April bercerita bahwa setelah dia lulus SMA nanti, tidak ada lagi penerusnya sebagai atlet muda dan penggiat olahraga layar di Bontang. Yang tertarik hanya sesepuh-sesepuh yang sudah tidak bisa dibilang muda. Saya kaget, masak tidak ada peminatnya. Usut punya usut ternyata bukannya olahraganya tidak menarik. Tapi kebanyakan remaja takut hitam karena terkena siraman matahari. My God! Seriously guys, masak rela kehilangan pengalaman seru karena takut hitam. Oh, anak-anak muda, you are so pathetic. Sepertinya harus ada yang menyuarakan bahwa hitam juga keren. Tidak ada yang salah dengan gelapnya kulit. Justru lebih mengkhawatirkan anak-anak muda yang terobsesi dengan penampilan luar saja, tanpa prestasi, tanpa karakter.

Lepas makan siang, Kami melanjutkan trip kami yang kedua. Kali ini rutenya lebih jauh dan memutar, tapi tetap melalui Buoy 24. Saya sudah belajar dari kesalahan dahulu, Saya tidak banyak omong lagi. Saya juga mencoba menebak-nebak arah angin dan waspada kalau tiba-tiba ada angin kencang berhembus yang dapat membalik perahu kami. Sampai buoy 24 pelayaran kami aman dan seru. Nah saat hendak memutari Buoy 24 angin tidak berhembus. sehingga perahu yang dimaksudkan memutari buoy malah berbalik arah dan melaju ke arah buoy 24. Kaget, Saya bilang ke April untuk membelokkan perahu supaya tidak nabrak. April seperti biasa hanya senyum-senyum sambil bilang, “yah kita nabrak Buoy deh” Saya yang masih bingung dengan situasi karena insting Saya mengatakan kondisi sudah gawat sementara nada suara April hanya datar seperti bilang “yah rambutku belum disisir”. Angin sedang berhembus kencang persis dari arah belakang kami sehingga membuat perahu kamu melaju kencang ke arah Buoy. Beruntung April sigap mengarahkan perahu ke sisi kiri Buoy sehingga tabrakan bisa dihindari. Saya langung bernapas dengan lega setelah panik dibuatnya. Jelas hull fiberglass kami bukan tandingan Buoy yang terbuat dari besi tersebut.

Saya protes ke April supaya dia bisa mengekspresikan dirinya dengan betul suapaya gak membingungkan orang lain. Saat genting, tunjukkan kalau dia sedang bingung. Bukannya hanya senyum-senyum saja. Setelah peristiwa itu, kami sedikit melambung ke arah utara sebelum mengarah kembali ke Teluk Marina.

Sehabis berlayar, Saya merasakan kaki Saya lebam karena terantuk layar besar ketika terbalik dan tangan saya sempat keram ketika mencoba membalikkan kembali perahu. Sailing sungguh menjadi pengalaman yang sangat luar biasa untuk Saya. Walaupun Jakarta adalah Kota yang memiliki pantai, Saya tidak pernah mencoba olahraga air disana. Lagipula, siapa yang mau berolahraga air di Jakarta yang kondisi pantainya sudah seperti lautan sampah.

Saya sempat berpikir kenapa remaja-remaja disini tidak tertarik dengan olahraga keren ini. Saya saja yang sudah lewat seperempat abad masih tertarik berlayar. Yah, banyak sebabnya, Saya yang sering menjadi legam karena aktivitas outdoorpun masih sering diledek keluarga dan teman-teman. Saya sih tidak terlalu peduli, tapi kalau sering diledek seperti itu kesal juga. Menjadi hitam mengesankan Saya melakukan aktivitas yang kurang bonafid. Tercium aroma kastanisasi disitu. Orang berkulit legam dipersepsikan sebagai orang-orang penghuni kasta terendah di tingkat sosial, sementara orang berkulit putih menempati level diatasnya.  Itulah yang sekarang mau Saya berantas. Menjadi legam karena aktivitas outdoor sama sekali tidak buruk. Keren malah. Saya rasa itu yang harus disampaikan ke anak-anak muda Indonesia yang terobsesi dengan kulit putih. Putih tanpa prestasi itu menyedihkan, hitam dengan prestasi jauh lebih baik 😀

Iklan

7 responses to “Sailing Bontang

  1. aku pathetic banget Dan krn takut legam hahahaha =))

  2. beli perhau begitu dimana ya, dinindoesia ada gak?

  3. Kayaknya harus impor mas 😀

  4. hahahaha, aku gak bilang gitu lho ya, kamu sendiri yang bilang 😀

  5. salam kenal buat april yah,,, si hitam manis lg cantik…

  6. sedatar itu kah aku ?
    :))

  7. cerita yang menarik,, saya selalu bermimpi suatu saat saya akan berlayar dengan perahu layar buata saya sendiri L)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s