Diving Bali : Tulamben & Nusa Penida

Saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk membuat catatan perjalanan liburan. Dua minggu lalu, Saya liburan ke Bali. Agenda Saya adalah untuk diving dan jalan-jalan di Bali.

Nah, untuk menghindari campur aduk informasi yang membingungkan. Saya akan membagi catatan perjalanan Saya menjadi dua ; yaitu diving dan jalan-jalan.

Di Bali Saya diving empat kali, dua kali di Tulamben, sekali di Crystal Bay dan sekali lagi di Manta Point. Secara umum, diving di Bali memang memuaskan. Kami yang terbiasa diving di Bontang jadi keder. Karena diving di Bali sungguh luar biasa. Visibilitynya bisa hingga 30 meter dan keragaman terumbu karangnya membuat hati mengharu biru.

Daripada berlama-lama langsung saja Saya tuliskan detailnya. Nah, begini ceritanya;

Rencana diving di luar Bontang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Saya, Sigit, dan Frilo sudah ngebet untuk diving di luar Bontang. Kami sudah bosan dengan dive site Bontang yang itu-itu saja. Dan lagi, visibility di Bontang buruk sekali. Sudah saatnya kami keluar melihat dive site di luar Bontang. Kami lalu melempar wacana diving di milis BDC. Om Taufik dan Om irwansyah merespon positif dan memberi sinyal mau bergabung. Tanggal diving ditetapkan yaitu tanggat 9 sampai 12 Oktober 2010.

Pilihannya jatuh kepada Bali. Bali dipilih karena akses yang mudah dan dive spot yang relatif mudah dijangkau. Tadinya kami ingin ke Manado dan Lembeh, namun karena Om Irwansyah dan Om Taufik sudah pernah ke Manado dan Lembeh, Bali menjadi tujuan kami. Lokasinya adalah Tulamben & Nusa Penida. Tulamben karena disana ada wreck kapal kargo USS liberty. Nusa Penida karena kami mau melihat Mola mola.

Bali Marine Sport (BMS) kepunyaan Made “Nicky” Wirawan menjadi operator diving kami selama di Bali. BMS dipilih karena sudah dikenal oleh rekan-rekan BDC. BMS juga merupakan salah satu operator diving tertua di Bali. Sebelum berangkat, Bli Nicky sudah memberikan proyeksi biaya diving, hotel & Akomodasi. Setiap orang dikenakan biaya Rp. 2,650,000 untuk empat kali dive plus biaya hotel tiga malam. Sewa alat dikenakan Rp 150,000 per orang. Harga yang menurut Om Taufik yang sudah melalang buana diving di Indonesia cukup baik.

Walaupun akhirnya Frilo tidak bisa ikut karena ada tugas ke Belanda (yang akhirnya gak jadi juga). Kami berempat, Saya, Sigit, Om Taufik dan Om Irwansyah terbang ke Bali tanggal 9 Oktober 2010.

Kami menginap di Sanur di Hotel Stana Puri Gopa di Jl. Kesumasari dekat kantor BMS. Hotel tempat kami menginap cukup nyaman. Kamarnya besar, ber AC dan ada kolam renang. Kamar mandinya juga memiliki bath tub. Yang membuatnya kurang nyaman, kamar kami terletak di lantai tiga. Dengan bawaan yang berat, cukup merepotkan untuk naik turun tangga. Dan lagi, di Hotel ini Saya terpaksa membayar Rp. 300,000 karena memecahkan keramik kloset. Menyebalkan karena Saya memecahkannya karena berusaha memperbaiki flush yang bermasalah.

Bila dibandingkan dengan Kuta. Sanur merupakan tempat yang lebih tenang. Kuta yang penuh dengan gairah muda, pesta-pesta, dan tempat belanja sangat kontras bila dibandingkan dengan Sanur. Di Sanur, kita menjumpai turis asing yang sudah established yang mencari ketenangan dan kenyamanan. Di Kuta, kita akan menjumpai turis-turis yang mencari keramaian.

Tulamben

Pukul 7.45 setelah sarapan, kami dijemput oleh staff BMS untuk berangkat ke Tulamben yang terletak di sebelah Timur Pulau Bali. Perjalanan ke Tulamben memakan waktu kurang lebih dua jam, cukup melelahkan. Pemandangan sepanjang Sanur – Tulamben mengharukan. Sudah lama sekali Saya tidak melihat hamparan Sawah di kaki Gunung.

Di perjalanan, divemaster kami, Bli Asa, menceritakan tentang USS Liberty yang tenggelam di Tulamben.  Pada tahun 1942 Kapal kargo sepanjang 120 m ini tertembak oleh kapal selam jepang saat hendak melewati Selat Lombok menuju Australia. Dua perahu serbu yang menemani kapal ini mencoba mendorongnya ke Singaraja. Namun, karena kemasukan air terlalu banyak, kapal ini akhirnya kandas di Tulamben.  Liberty kandas di bagian dangkal pantai Tulamben selama  dua puluh tahun. Saat Gunung Agung meletus tahun 1963, Liberty terdorong ke bagian yang lebih dalam. Sejak itu, Liberty menjadi rumah bagi biota laut di sebelah Timur Bali.

Sesampainya di Tulamben, suasana sudah ramai. Banyak terlihat diver-diver dari berbagai negara berkumpul. Memang benar rumornya, diving di Tulamben serasa berada di pasar.

Suasana Diving di Tulamben

Karnaval di Tulamben

Bli Asa memberi briefing kepada kami sebelum turun. Dive pertama, kami, berencana keliling Liberty dari kedalaman 5 meter sampai 30 meter.  Kemudian  pada dive kedua kami akan bermain-main di bagian dalam Liberty. Dia juga berpesan agar kami santai saja, jangan terlalu terburu-buru.

Setelah gear-up, Kami diving dengan beach entry. Saya mengalami sedikit masalah saat dive pertama karena ternyata pemberat 4 kg yang biasa Saya gunakan di Bontang kurang, karenanya buoyancy Saya cenderung positif. Terpaksa Saya harus menggunakan fin mendorong badan Saya tenggelam. Cukup melelahkan.

Di dalam air, visibilitynya bagus sekali, lebih dari 30 m. Kami, diver Bontang yang terbiasa menyelam dengan visibility 5 – 10 m sangat takjub dan seperti anak kampung yang baru sekali ke kota. Ikan-ikan tidak penting yang bukan bintang di Tulambenpun kami foto. Karenanya, rencana kami untuk mengelilingi Liberty gagal. Namun kami cukup senang, karena kami banyak mendapat objek foto menarik seperti ikan-ikan besar yang jarang kami jumpai di Bontang. Di dive pertama ini Saya menjumpai Leaf Scorpion Fish. Saya memang suka ikan famili Scorpionidae karena bentuknya yang unik dan karena siripnya yang beracun.

Scorpionidae

Leaf Scorpionfish

Sebelum surfacing, kami melakukan safety stop di daerah tempat hidup Garden Eel. Lucu sekali belut-belut itu, ramai-ramai mereka menjulurkan kepalanya untuk menangkap plankton yang terbawa arus.

Selama surface interval kami makan siang. Sambil makan, Saya mengecek housing kamera Saya. Ternyata di bagian dalamnya terlihat titik-titik air. Saya mulai khawatir, jangan-jangan housing Saya bocor. Saya pun membuka housing, mengecek, dan menambahkan silicon grease pada seal housing Saya. Saya memutuskan untuk mencoba kamera pada dive kedua seraya berharap housing tidak bocor lagi.

Bli Asa mengevaluasi dive pertama kami. Dia bilang kami terlalu lambat sehingga tidak bisa melihat keseluruhan kapal. Dia meminta perhatian apabila dia memukul tanki karena seringkali kami  keasyikan memotret sehingga mengacuhkannya.  Dia juga bilang ke Saya bahwa pemberat Saya kurang sehingga Saya banyak membuang energi untuk menjaga buoyancy tetap netral. Bli Asa juga mengkritik kebiasaan Saya memposisikan kepala lebih rendah daripada pinggang dan kaki  saat melakukan pengamatan dan memotret sehingga menyebabkan ketidaksbilan buoyancy. Dia menyarankan, agar saat memotret, Saya mengambil posisi stabil dengan mendekatkan pemberat ke pusat gravitasi agar lebih stabil.

Pada dive kedua, Bli Asa menambah pemberat Saya menjadi 5 Kg.  Hasilnya memang lebih nyaman, dengan mudah saya tenggelam, buoyancy netralpun lebih mudah didapat.

Awal dive kedua, kami mendapati swirling jack fish. Saya pun memotret dari bawah sehingga menghasilkan foto siluet yang indah. Sayapun mendekati school of jacks tersebut untuk mengambil foto jarak dekat. Pengalaman yang luar biasa.

Swirling Jack Fish

Swirling Jack Fish

Dive kedua berjalan sesuai rencana. Menyenangkan sekali berenang diantara reruntuhan kapal besar. Sensasinya luar biasa. Diantara reruntuhan itu, seekor Great Barracuda berhenti kurang dari satu meter di depan Saya dan Om Taufik. Bli Asa langsung meminta kamera Saya dan memotret  Barracuda di depan Saya dan Om Taufik. Sementara Om Irwan dan Sigit bersembunyi dibalik dinding kapal. Saya baru tahu alasan kenapa dia sembunyi kemudian. Sigit bilang saat itu dia sedang kencing. Dia khawatir Barracuda membaui air seninya dan menyerang. Ada-ada saja.

Great Barracuda

Great Barracuda

Tindakan Barracuda membuka mulut dan memamerkan giginya yang tajam membuat Saya ketar ketir. Setelah beberapa menit, si Barracuda tidak kunjung pergi. Khawatir, akhirnya Saya yang pergi dengan setenang mungkin, Saya tidak berani melihat ke belakang karena khawatir Barracuda mengejar. Setelah cukup jauh, barulah Saya menengok ke belakang. Barracuda terlihat masih tenang-tenang disitu. Lega.

Untuk Saya, dive kedua ini kurang nyaman karena Saya terus menerus mengkhawatirkan housing dan kamera Saya. Sebentar-sebentar Saya melihat ke bagian dalam hosuing untuk mengecek apakah kamera Saya bocor atau tidak. Memang benar, setelah 40 menit dive, terlihat titik-titik air di dalam housing sehingga membuat housing kamera fogging. Saya mulai khawatir, sehingga 15 menit terakhir diving sangat tidak menyenangkan.

Selesai diving langsung Saya membuka housing, mengeluarkan kamera dan mengelapnya dengan tissue agar kering. Walaupun bocornya tidak banyak, namun hal itu tetap saja membuat khawatir. Saya khawatir kalau housing ini tidak bisa dipakai di Nusa Penida. Bli Asa menyarankan Saya agar membersihkan seal dan menaruh tissue di dalam housing agar kalaupun bocor, tissue bisa menyerap air yang masuk. Bli Asa juga menganjurkan Saya berkonsultasi dengan Bli Nicky mengenai hal tersebut di Sanur.

Lokasi mandi dan bersih-bersih di Tulamben kurang baik .Seharusnya, dengan banyaknya pengunjung, tempat mandi dan bersih-bersih alat bisa lebih baik. Selesai bersih-bersih, Kami pulang ke Sanur.

Menurut Saya, diving di Tulamben kurang kalau hanya dilakukan dua kali. Idealnya diving dilakukan empat kali supaya bisa melihat semua bagian kapal dan keragaman hayati yang menyelimuti kapal itu. Walaupun begitu, Kami semua sangat puas, karena walaupun singkat, rasa penasaran bagaimana diving di luar Bontang sudah terjawab. Dan Apabila ditanyakan apakah Kami berminat datang lagi. Jawabannya sama. Tentu saja !

Nusa Penida

Tidak seperti Tulamben yang dicapai dengan mengendarai mobil selama 2 jam, untuk mencapai Nusa Penida Kami menggunakan speedboat dengan waktu tempuh 45 menit.

Pagi-pagi kami sudah berkumpul depan kantor BMS yang terletak persis di depan Pantai Sanur. Divemaster kami berempat tetap Bli Asa. Bli Nicky juga ikut turun untuk menemani dua tamu dari Belanda dan satu tamu dari Singapore.

Tujuan pertama kami adalah Crystal Bay yang terletak di  sebelah  barat daya Nusa  Penida. Crystal Bay terkenal dengan  Mola mola yang menggunakan tiga tempat di area ini sebagai cleaning station. Target kami adalah mencapai cleaning station di kedalaman 25 meter. Baru kemudian Kami mencari objek foto menarik. Tidak seperti Tulamben yang santai, Bli Asa menginginkan kami cepat bergerak mencapai cleaning station. Bli Asa juga mengingatkan kondisi arus di Crystal Bay tidak bisa diperkirakan. Dia meminta kami untuk berenang dekat dengan karang agar saat arus datang kami bisa berpegangan. Bodohnya, Saya lupa membawa glove yang sudah Saya siapkan dari hotel tadi. Padahal glove itu sengaja dibeli untuk diving di Penida.

Saat hendak mencapai Crystal Bay, Bli Nicky melihat seekor Mola mola besar sedang sun bathing. Dia langsung mengajak kami gear up untuk mengejar Mola mola yang mungkin masih ada di cleaning station.

Tahukah kenapa dinamakan cleaning station? Mola mola adalah hewan berkulit tebal yang memiliki lapisan lendir di kulitnya. Menurut penelitian, di kulitnya ditemukan lebih dari 40 jenis parasit. Bahkan, pada parasit tersebut ditemukan parasit juga. Untuk mmbantu mengurangi parasit, Mola mola membutuhkan bantuan dari ikan-ikan karang. Nah, di cleaning station tersebut Mola mola akan diam dan dibersihkan oleh ikan-ikan karang. Cleaning station adalah tempat terbaik untuk mengamati Mola mola.

Saat nyebur, terasa suhu di sini lebih dingin. Dive computer Saya mencatat kalau suhu air di Crystal Bay adalah 26 derajat. Untung saja Saya memakai wetsuit 3 mm jadi tidak terlalu dingin. Arus nampaknya bersahabat, kami langusng menuju slope untuk menuju cleaning station.

Tidak dinyana, saat mencapai slope dan bergerak turun, Bli Asa memukul tankinya dengan keras. Terlihat dari jarak 20 m seekor Mola mola kecil sepanjang 1 meter berenang mendekat. Langsung saja Saya memotret dan merekam. Karena jeda waktu yang terlalu pendek, juga karena tiba-tiba arus kencang datang, hasil foto dan rekaman tidak terlalu bagus. Saya pun harus berpegangan pada salah satu ceruk pada karang untuk menahan agar tidak terbawa arus.

Mola mola

Mola mola

Saat arus mulai mereda, Kami berjuang mengayuh untuk turun ke cleaning station. Ternyata arus bukannya mereda malah semakin kencang. Saat mencoba maju, Saya yang tidak sadar kalau integrated weight Saya tersangkut di karang  dan jatuh. Yang Saya rasakan, badan Saya tertarik ke atas, oleh karenanya Saya terus berpegangan pada ceruk di karang. Saya kira itu akibat arus.

Ternyata, Sigit yang berada persis di belakang Saya, menemukan salah satu intergrated weight yang terjatuh sudah mencoba memberi tahu Saya. Namun, karena sedang berkonsentrasi berpengangan pada karang dan memegang kamera pada tangan satunya, saya tidak sadar Sigit mencolek-colek Saya. Untung Bli Asa melihat ini dan membantu memasukkan integrated weight. Setelah integrated weight terpasang. Badan Saya tertarik ke bawah dan Saya menjadi lebih mudah menjaga buoyancy.

Arus tidak kunjung reda sementara tekanan udara milik Om Taufik sudah kurang dari 75 bar. Bli Asa memutuskan untuk naik dan sedikit ber drift diving. Kami yang tidak paham tujuan Bli mengira Kami akan terus turun ke Cleaning Station sehingga Kami terus-terusan merayap di karang.

Saat  sedang merayap, Saya menemukan Ikan favorit Saya, Scorpion fish. Langsung Saya mencari sudut yang baik untuk memotret. Di belakang Saya, Om Taufik sudah menunggu giliran memotret.

Tasseled Scorpion Fish

Tasseled Scorpion Fish

Tiba-tiba seorang diver asing yang kelihatan asyik ber drift diving menoleh ke arah kami yang sedang merayap. Saat itu Saya sadar, kalau Bli Asa sedang drift diving. Betapa memalukkannya ketika drift diving kami malah ketakutan  dan berpegangan pada karang. Saya pun melepaskan pegangan Saya mengikuti bule  dan Bli Asa mengendarai arus.

Sedang asyik-asyiknya mengendari arus tiba-tiba Om Taufik berenang cepat mendekati Bli Asa. Dia membuat gerakan memotong leher dengan tangannya yang merupakan sinyal dia kehabisan udara. Bli Asa yang kesulitan meraih octopus, memberikan regulator miliknya ke Om Taufik. Saat itu kami berada pada kedalaman sekitar 10 m. Bli Asa menarik Om taufik untuk ke atas. Kamipun mengikuti mereka dan naik ke Speedboat yang sudah menunggu.

Tidak lama ketika kami naik, Bli Nicky dan ketiga tamunya ikut naik. Saat makan siang, Bli Nicky bilang kalau arusnya kencang sehingga dia juga tidak dapat membawa tamunya ke cleaning station. Syukurlah, ternyata tidak cuma kami yang tidak dapat mencapai cleaning station. Kami lebih beruntung karena berhasil melihat Mola walaupun kecil dan ekornya agak cacat.

Bli Nicky bilang kalau saat ini kondisi sedang pasang sehingga arusnya cukup deras. Mola yang awalnya terlihat mungkin berenang ke tempat lain. Kami makan siang di speedboat dengan pemandangan tebing-tebing terjal di sebelah selatan Nusa Penida yang kokoh walaupun terus menerus didebur gelombang dan dijilat ombak.

Dive kedua akan dilakukan di Manta Point yang berada di sebelah selatan Nusa Penida. Manta Point dicapai dengan 20 menit memakai speedboat. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tebing-tebing batu Nusa Penida yang kokoh dan indah.

Bli Asa memberi briefing bahwa di Manta Point, kedalaman maksimum hanya 15 meter. Lalu kami diberikan trik berenang efisien di Manta Point. Tipe gelombang di Manta Point datang dan terpantul kembali oleh dinding karang karenanya kami akan terseret arus maju dan mundur. Saat mundur, kami diminta mengikuti karena tidak lama kemudian kami akan merasakan arus maju. Nah, saat arus maju baru kami mengayuh. Dengan begitu tenaga bisa dihemat.

Kondisi air di permukaan air sangat menyeramkan karena deburan ombak yang menerpa dinding membuat riak-riak yang menyebabkan kapal kami bergoyang-goyang. Namun, ketika masuk, ternyata kondisi air tidak seburuk itu. Iya, memang kondisi permukaan bisa menipu, seperti buku, sampulnya bisa menipu. Makanya, jangan pernah tertipu oleh penampilan luar, coba selami dulu, barulah kita bisa menarik kesimpulan 🙂

Baru lima menit masuk air, Bli Asa sudah memukul tankinya dan menunjuk ke arah Manta Ray yang sedang berenang anggun menjauhi kami. Karena tidak siap, Saya hanya sempat merekamnya, hasilnya pun tidak terlalu bagus. Saya sudah mencoba mengejar, tapi ada daya, jelas Saya bukan tandingannya.

Dasar sial, ternyata itulah satu-satunya Manta yang kami lihat. walaupun sudah berkeliling dan menunggu di channel, tetap saja tidak terlihat Manta lewat. Akhirnya Saya memotret-motret apa saja yang terlihat menarik. Kondisi bawah laut Manta Point tidak terlalu kaya. Sehingga tidak terlalu menarik untuk difoto. Karenanya di Manta Point, Saya lebih banyak memotret teman-teman.

Satu jam kemudian, setalah melakukan safety stop, kami naik ke Speedboat. Bli Nicky yang naik tidak lama setelah kami juga bilang dia tidak mendapati Manta. Lagi-lagi Kami lebih beruntung. Setelah melepas semua alat, kami pun bersiap pulang ke Sanur diliputi dengan perasaan puas.

Sigit di Manta Point

Sigit di Manta Point

Sama seperti di Tulamben, sebaiknya diving di Nusa Penida dilakukan minimal empat kali di satu lokasi. Untuk bisa berjumpa target, seperti Mola dan Manta terlalu spekulatif kalau hanya mengandalkan satu kali dive. Karenanya, kalau ada kesempatan lain, Saya ingin sekali kembali ke sini untuk bercengkrama dengan Mola dan Manta 😀

Iklan

4 responses to “Diving Bali : Tulamben & Nusa Penida

  1. Detail bgt, nyet. Itu fotoku kenapa kayak orang tenggelem.. *sigh

  2. Iye sih kelewat detail. Tulisan untuk trip selanjutnya nanti dipersingkat deh 😀
    masih bagus foto lu gw masukin :))

  3. Nice story and very comprehensive. Hope you will meet Mola on your next visit to Penida Island. She is so gorgeous…one of the UW creature that you must see before you die (my friend in Sgapore said this to me !) 🙂

  4. Actually I saw one Mbak Lia, but not a big one. We didn’t make it to the cleaning station because the current was strong. Anyway thanks for stopping by, appreciate it 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s