Monthly Archives: November 2010

Sabtu Malam di Koperasi

Mbak-mbak Kasir :” Mas, kok malem minggu sendirian aja, cakep-cakep sendirian, pilih-pilih sih”

Wildan: (rada geer gara-gara dibilang cakep) eh? Ya harus milih dong mbak, masa asal comot aja.

Mbak-mbak Kasir: “Bukan, maksud saya, gak usah cari yang cantik. Yang penting hatinya baik”

Wildan : (tersenyum sambil memberikan selembar uang Rp 10,000 untuk membeli yoghurt Cimory termahal sedunia)

Mbak-mbak kasir : “Kalau saya punya anak perempuan pasti sudah saya jodohkan ke mas. Sayang saya gak punya anak perempuan” (sambil tertawa cekikikan)

Wildan : Terima kasih mbak (sambil nyengir dan berlalu)

***

Ah, mbak-mbak kasir, lihai sekali engkau merumuskan keadaan saya sekarang. Memang menyedihkan melihat bujang bolak-balik ke koperasi hanya untuk beli sebotol kecil Cimory. Keliatan sekali kalo si bujang ini ke koperasi hanya untuk belanja dadakan, bukannya belanja yang terencana.

Belanja dadakan hanya dilakukan bujang yang hidupnya serabutan. Apalagi kalau yang dibeli hanya sebotol Cimory, satu sachet sabun mandi atau sebotol besar aqua dengan frekuensi cukup sering. Pantas saja mbak-mbak kasir itu sudah hafal betul dengan Saya.

Tidak tepat kalau mbak-mbak kasir itu mengira bahwa Saya benar-benar nelangsa karena kesepian. Sementara ini, saya memilih untuk hidup menyepi dulu. Bukan karena saya tidak menginginkan pasangan hidup, tapi karena memang saya ingin menentukan orientasi hidup saya 🙂 Jadi mbak-mbak kasir, saya memang memilih untuk  kesepian 🙂

Tapi pembicaraan singkat itu menghighlight satu hal dalm hidup saya. Bahwa hidup Saya sekarang memang menyedihkan dan amburadul; pulang kerja larut malam tanpa jelas apa yang dikerjakan, belanja insidental, kamar berantakan, dan hampir tidak pernah beli pakaian semenjak dua tahun lalu.  Jadi wajar saja kalau mbak-mbak kasir juga bisa dengan mudah merumuskan keadaan saya. Yah, jalani sajalah, saya tidak tahu mau bagaimana nantinya kehidupan saya. Tapi yang saya yakini, saya sudah berada dalam jalur yang benar 🙂

Pengulu Semar

Draft tulisan itu sebenarnya sudah disusun.  Tulisan tentang tiga bencana berturut-turut yang terjadi di Indonesia; Wasior, Mentawai, dan Merapi. Yang terakhir menjadi istimewa karena terselip kisah “Mbah Maridjan” ditengah debu Merapi. Kisah berbau mistis itu ditanggapi macam-macam oleh berbagai kalangan. Ada yang mengutuk Maridjan karena dia terlampau keras kepala dengan tidak mau turun bahkan ketika Merapi sudah gawat, ada yang mengidolakannya karena dedikasinya terhadap amanat ada juga yang mencapnya syirik karena tidak suka aktivitas nyadran yang dilakukannya.

Mbah Maridjan mengingatkan Saya pada Penghulu Semar, karakter pada novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami. Penghulu, salah satu tetua desa digambarkan seorang bersahaja yang kerap mengenakan sarung, baju batik dan pecil lusuh. Namun, hal yang paling mengingatkan Saya terhadap Si Mbah adalah sikapnya yang menghormati kebiasaan masyarakat melakukan ritual tradisional namun tetap sujud kepada Allah Maha Tak Berbatas.

Si Mbah mewakili masyarakat yang berada di arena permainan yang berbeda dengan kebanyakan manusia modern. Si Mbah bermain di sisi misteri yang hanya bisa didekati dengan metafora. Ia menanggap alam punya jiwa, gunung punya dewa, dan samudera punya makhluk ganjil yang bersemayam. Oleh karenanya dia menghargai dewa-dewa dengan sesajaen.  Di sisi lain manusia modern menganggap alam sebagai objek deterministik yang mampu diterangkan dengan persamaan matematika dan runutan logika.  Alam dipandang sebagai objek, dengan akal untuk memperalat. Karenanya, Gunung tak lagi dihormati, samudera tak lagi disegani.

Saat hendak menyelesaikan draft itu, Saya terantuk tulisan pada catatan pinggir  bagian paling akhir dari Majalah Tempo bertitel Maridjan. Idenya walaupun tidak persis betul, mirip dengan draft yang Saya buat. Walaupun jelas bila dibandingkan, artikulasi maksud dan kejernihan kata-katanya jauh melampaui kemampuan Saya. Goenawan Mohamad adalah salah satu penulis favorit Saya. Berikut ini tulisannya bertitel  Maridjan yang mengagumkan itu.

***

Maridjan

Mbah Maridjan: sebuah pertanyaan. Ia tewas di tempatnya bertugas di Gunung Merapi, karena ia sejak lama menolak turun menghindar dari letusan yang telah berkali-kali menelan korban itu. Kesetiaannya mengagumkan, tapi apa arti tugas itu sebenarnya?

Ia, meninggal dalam usia 83, mungkin sebagai pelanjut dari alam pikiran yang dikukuhkan Kerajaan Mataram sejak abad ke-17. Ia pernah bercerita, Merapi adalah tempat terkuburnya Empu Rama dan Permadi, dua pembuat keris yang ditimbuni Gunung Jamurdipa karena telah mengalahkan dewa-dewa. Kedua orang itu tak mati. Mereka hidup, menghuni gunung yang kemudian disebut Merapi itu-yang jadi semacam keraton para arwah. Dan ke sanalah Raja Mataram (Islam) pertama, Panembahan Senapati (1575-1601), mengirim juru tamannya yang berubah jadi raksasa. Si raksasa diangkat sebagai “Patih Keraton Merapi”, dijuluki Kiai Sapujagat. Dengan itu, Panembahan Senapati, yang dikisahkan mempersunting Ratu Laut Selatan, menunjukkan bahwa kuasanya juga membentang ke arah utara. Dan di situlah pelanjut Kerajaan Mataram, atau Yogyakarta sejak abad ke-19, mengangkat orang untuk jadi kuncen Merapi.

Maridjan, yang biasa dipanggil “Mbah”, sejak 1982 diangkat Hamengku Buwono IX untuk tugas itu. Betapa penting kehormatan itu bagi si jelata yang lahir di Dukuh Kinahrejo di kaki Merapi itu. Ia menyandang gelar kebangsawanan “Raden”; nama resminya Surakso Hargo.

Tapi ia tak tunduk kepada raja yang sekarang, Hamengku Buwono X. Dalam majalah National Geographic yang terbit Januari 2008, (”Living with Volcanoes”, tulisan Andrew Marshall), disebutkan bagaimana Maridjan menganggap HB X membiarkan para pengusaha mencopoti jutaan meter kubik batu dan pasir dari tubuh Merapi. Juga dikatakan Sri Sultan enggan ikut dalam upacara nyadran ke Kiai Sapujagat, ketika makanan, kembang, kain, dan potongan rambut serta kuku raja dipersembahkan untuk melestarikan hubungannya dengan Keraton Merapi.

Agaknya Maridjan tak mengerti, HB X ada di alam pikiran yang berbeda. Sri Sultan, yang dalam National Geographic digambarkan mengisap lisong Davidoff dan suka setelan Armani, mengatakan: “Sebuah bangsa yang besar tak dapat dibangun di atas mithos yang pesimistis.”

Modernitas memang berangkat dengan optimisme. Ia bertolak dari keyakinan manusia bisa melepaskan diri dari alam sekitarnya. Dengan jarak itu, ia sanggup mengendalikan dunia. Fisika, geografi, ilmu kimia, dan juga teknologi bertumbuh terus dari kesanggupan menaklukkan bumi. Kesadaran modern menganggap alam sebagai materi yang mati. Tak ada peri menghuni samudra, tak ada raksasa menjaga Merapi.

Di abad ke-18, di Jerman, penyair Schiller menyebut arus modern ini sebagai die Entgtterung der Natur, “lepasnya dewa-dewa dari alam”.

Tapi tak hanya di Jerman di zaman Schiller dan Goethe tumbuh kesadaran hilangnya sifat yang magis dari alam. Animisme, yang menganggap benda-benda sekitar punya sukma, tergusur di Yunani sejak Sokrates dan Plato. Sejak abad ke-5 Sebelum Masehi, rasionalitas disambut. Sokrates tak menyukai mereka yang bekerja hanya berdasarkan “naluri”. Plato tak menghendaki penyair yang memandang alam sebagai sesuatu yang senyawa dengan manusia.

Tak dapat dilupakan: alam jadi mati, sebagaimana animisme terusir, sejak monotheisme ditegakkan. Pada mulanya adalah agama Yahudi. Yahweh adalah Tuhan yang “cemburu”, demikian disebut dalam Perjanjian Lama. “Janganlah ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, begitu sabda-Nya. Maka sebagaimana orang-orang penyembah patung lembu dibinasakan, segala sikap yang menganggap benda apa pun sebagai sesuatu yang punya anima dianggap menyembah berhala.

Monotheisme yang mengharamkan animisme itu berlanjut dalam agama Kristen dan Islam. Pada satu titik, agama Ibrahim ini bertemu dengan semangat modern: saat “lepasnya dewa-dewa dari alam”. Tak mengherankan bila tendensi anti-takhayul tumbuh misalnya di kalangan Muhammadiyah, yang lazim disebut sebagai pembawa modernitas dalam Islam di Indonesia. Tak mengherankan bila orang Muhammadiyah (seperti halnya HB X) cenderung menampik adat nyadran di Merapi dan di mana saja. Nyadran adalah pemberhalaan.

Tapi ada yang sebenarnya hilang ketika adat itu disingkirkan. Max Weber, sosiolog itu, telah termasyhur dengan telaahnya tentang proses hilangnya yang “magis” dari dunia, yang terjadi sejak modernitas berkembang biak. Manusia sejak itu hanya menggunakan “akal instrumental”, memperlakukan alam sebagai sesuatu yang bisa diperalat, dengan hasil yang bisa diarahkan. Dunia modern dan kerusakan ekologi cepat bertaut.

Yang tak disebutkan Weber: agama-agama pun kehilangan kepekaannya kepada yang sesungguhnya mendasari iman-kepekaan kepada yang menggetarkan dari kehadiran Yang Suci, yang dalam kata-kata Rudolf Otto yang terkenal disebut sebagai mysterium, tremendum, et fascinans. Yang Suci membangkitkan pada diri kita rasa gentar dan takjub karena misterinya yang dahsyat. Tapi ketika alam dipisahkan dari Yang Suci (karena tak boleh di-”sekutu”-kan), Tuhan pun berjarak. Ia tak membuat kita luruh. Kita hanya berhubungan dengan-Nya lewat hukum. Tuhan pun mudah ditebak. Hukuman dan pahalanya dapat dikalkulasi.

Maka ketika gunung meletus dan tsunami menggebuk, mereka yang merasa bisa memperhitungkan maksud Tuhan dengan cepat bisa menjelaskan: bencana itu azab, ia terjadi untuk tujuan tertentu. Dalam hal ini agama mirip dengan ilmu-ilmu yang merasa bisa menjelaskan & menguasai alam-dan membuat manusia bersujud kepada Tuhan yang sebenarnya tak akrab.

Saya kira Mbah Maridjan meninggal dengan bersujud kepada Tuhan yang sama. Tapi Tuhan itu masih membuatnya gentar, takjub, dan bertanya

Goenawan Mohamad

Bali: a One Stop Shopping Tourism

Sebagai tujuan wisata daerah tropis, Bali  hampir memiliki segalanya.  Anda mau merasakan suasana pedesaan dengan hamparan sawah hijau, anda bisa pergi ke Ubud. Anda mau menikmati pantai yang cantik, berbelanja dan menikmati kehidupan malam yang liar, Kuta adalah pilihannya. Jika anda mencari ketenangan dan memanjakan diri dengan perawatan diri serba mewah, anda bisa ke Jimbaran. Maniak surfing? cobalah pantai Padang-Padang, Suluban dan Dreamland yang terletak di Uluwatu. Watersport? tentu Nusa Dua dan Tanjung Benoa tempatnya. Diving? banyak sekali dive spot terkenal di Bali, yang teristimewa adalah wreck dive di Tulamben sebelah timur Bali.

Bali juga meiliki infrastruktur yang baik. Jalan raya membentang mengelilingi Pulau Bali. Kondisi Jalan cukup baik. Listrik bisa diandalkan,  air bersih berlimpah, koneksi internet mudah didapatkan, coverage telepon seluler dapat diterima hampir disemua tempat.  Pilihan akomodasi juga beragam. Anda mau berwisata dengna budget minim ala backpacker sampai mewah seperti artis, Bali bisa memfasilitasi.

Walaupun arus modernisme kencang menerpa Bali, sendi-sendi tradisional masih kukuh menopang kehidupan sosial di Bali. Upacara-upacara adat masih sering kita lihat di Bali,  aturan adat masih ditegakkan, pura kecil dapat kita temui di berbagai tempat. Mungkin karena itulah Bali membuat kita terpesona. Karena walaupun berdarah-darah, identitas Bali masih mampu bertahan melawan arus modernisme.

Makanya saat dive trip BDC Oktober lalu, Saya mengusulkan ke Bali. Karena di Bali, selain diving, banyak hal lain yang bisa dilakukan. Cuti lima hari yang Saya ambil harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Daripada bersusah-susah diving ke daerah terpencil yang bisa menghabiskan 3 hari perjalanan, lebih baik ke Bali, selain akses mudah, banyak hal yang bisa didapatkan.

Liburan Saya selama lima hari di Bali menyenangkan. Tiga hari pertama Saya menginap di Sanur. Dua hari berikutnya, Saya menginap di vila kecil yang mewah di Seminyak tanpa membayar 😀 Selama di Bali,  Saya sempat jalan-jalan ke Uluwatu, Jimbaran, Legian-Kuta, Tulamben, dan Karangasem. Mengelilingi sudut-sudut Bali membuat Saya bisa membedakan karakter tempat-tempat wisata utama di Bali dan tipe turis yang datang ke daerah wisata tersebut.

Berikut adalah lokasi-lokasi tempat Saya menjejak di Bali.

Sanur

Sanur bisa menjadi alternatif pantai bagi Anda yang menganggap Kuta terlalu bising dan Nusa Dua terlalu mahal lagi sepi. Di Sanur kita bisa melewati hari dengan santai. Pagi hari berjalan-jalan di pinggir pantai, siang nongkrong di cafe-cafe ciamik atau tidur-tiduran sambil baca buku di pinggir pantai kemudian malamnya ngobrol-ngobrol bersama sahabat di bar. Menyenangkan bukan?

Sisihkanlah waktu sehari-dua hari di Sanur. Cobalah untuk santai dengan menghabiskan waktu berjalan-jalan atau bersepeda di pinggir pantai. Anda akan merasakan perbedaan siginifikan antara Sanur dan Kuta.

Sunrise di Sanur

Sunrise di Sanur

Saya pribadi suka sekali dengan jalanan dan gang-gang di daerah Sanur. Jalanannya tidak terlalu lebar, datar, sementara di sisi kiri dan kanan Jalan masih terdapat Pura yang terselip diantara bangunan modern. Sanur merupakan tempat yang enak sekali untuk dijelajahi dengan sepeda.

Kalau diperhatikan, turis asing yang datang ke Sanur adalah turis yang menghindari kebisingan namun masih bisa mentolerir keramaian. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan turis-turis yang Saya amati adalah membaca buku, lari pagi, bersepeda, dan duduk-duduk di tepi pantai. Hiburan malam yang ada juga tidak terlampau jedak jeduk, hanya musik dan karaoke di bar-bar kecil yang kelihatan nyaman untuk bercengkrama dengan sahabat.

Harga makanan di Sanur menurut Saya standar daerah-daerah wisata. Makanan Padang dengan miunm teh manis di daerah Sanur bisa didapat dengna harga Rp. 12,000 – Rp 15,000. Dua restoran padang yang Saya coba di Jalan Danau Poso tidak mengecewakan. Makanan Padang memang menjadi pelarian turis-turis lokal seperti Saya yang memiliki lidah Indonesia banget. Karena saat menginap di Sanur aktivitas utama adalah diving, makanya Saya selalu ingin makanan padang. Menurut Saya, makan padang setelah diving merupakan kenikmatan tersendiri.

Walaupun Sanur merupakan daerah wisata yang ramah terhadap turis asing. Saya sebagai turis lokal merasa dinomor duakan. Contohnya ketika hendak menyewa sepeda motor untuk jalan-jalan, sulit sekali mencari sepeda motor. Bahkan, rekan Saya ditolak ketika hendak menyewa sepeda motor. “tidak untuk disewakan kepada turis lokal” begitu katanya. Beruntung, Bli Asa, divemaster kami yang mencarikan motor. Sehingga motor bisa didapat relatif mudah. Harganya lumayan mahal, sehari kami membayar Rp. 50,000 untuk skuter Mio.

Seminyak

Jika Anda ingin mencari restoran, bar dan klub yang terbaik di Bali. Datanglah ke Seminyak. Tentu sesuai dengan statusnya sebagai yang terbaik, harganya juga selangit. Ku De Ta misalnya, bertiga, kami menghabiskan hampir Rp 500,000 cuma untuk minum.

Selain terkenal dengan klub-klub dan restoran yang tersebar di Jalan Oberoi dan double six, di Seminyak juga menjamur vila-vila. Minimum, vila ini memiliki dapur, ruang keluarga, bahkan kamar tidur yang lebih dari satu. Vila ini sangat cocok disewa oleh keluarga dan rombongan.

Saya menginap dua hari dengan gratis di salah satu Vila yaitu Astana Kunti Seminyak yang terletak di Jalan Kunti II.  Vilanya terletak di ujung jalanan, terletak di samping sawah. Kok bisa? tidak penting untuk dibahas disini. Yang jelas, seluruh tamu di vila itu adalah turis asing. Sempat Saya intip, rate untuk apartemen villa sekitar Rp 1,000,000 per malam.

Apartemennya vilanya memang bagus, selain memiliki fasilitas standar kamar hotel, di apartemen disediakan kompor dan peralatan memasak. Selain itu, juga tata ruangnya juga apik didominasi dengan warna putih. Walaupun Saya tidak sempat menikmati apartemen ini karena lebih sering berjalan-jalan, tapi Saya senang bisa dapat kesempatan menginap di sini, gratis lagi 😀

Astana Kunti

Astana Kunti

Jika menginap di Seminyak, jangan lupa sarapan di Jalan Double Six.  Disepanjang jalan tersebut banyak restoran-restoran yang kebanyakan menawarkan sarapan gaya barat. Saya memilih sarapan di Hotel Kumala Pantai karena menawarkan sarapan model buffet. Satu orang dikenakan Rp. 50,000. Tanggapan Saya? biasa saja, standar sarapan pagi di hotel-hotel. Bedanya, di sini ada suara deburan ombak yang menemani sarapan pagi sehingga ada suasana berbeda dibandingkan dengan sarapan Indoor.

Double Six

Malam harinya Saya nongkrong di bar Ku De Ta yang terkenal itu. Ambiencenya asik, musiknya cocok dengan suara alami deburan ombak. Bertiga kami menghabiskan Rp 500,000 untuk minuman. Namun dibalik kemewahan dan ketenaran Ku De Ta, Kami tidak suka dengan pelayanannya yang memandang remeh turis lokal. Menyebalkan sekali. Seolah-olah kami tidak mampu membayar dan tidak mengerti menu-menu yang ditawarkan. Memang kami bertiga yang memakai celana pendek, T-shirt dan sandal jepit  sangat kontras bila dibandingkan dengan turis-turis asing itu yang well-dressed.  Namun bukan berarti kualitas pelayanannya dibedakan antara kami dan bule-bule itu. Kami juga tamu yang membayar service charge yang mahal itu. Saat nongkrong di Rock Bar saja, dengan gaya berpakaian yang tidak berbeda jauh, pelayanannya lebih baik. Untuk tempat hang out dengan reputasi yang baik dan harga yang mahal, Saya sangat kecewa dengan pelayanan di Ku De Ta.

Legian-Kuta

Satu pelajaran penting yang Saya dapatkan di daerah Legian-Kuta adalah jangan pernah mengendarai mobil di daerah ini, terutama sore sampai malam hari. Mimpi buruk! Jalanannya yang sempit. Sementara banyak restoran dan toko-toko menarik disisi kiri dan kanan jalan yang lebih enak dinikmati berjalan kaki. Belum lagi upacara adat yang tidak bisa diduga bisa bikin macet berjam-jam. Bayangkan, Saya masuk daerah ini pukul 15.00 dan baru bisa lepas dari kemacetan yang mengular pukul 19.00. Empat jam! dongkol rasanya nyetir sementara di sisi kiri kanan orang lalu lalang. Belum lagi kalau mendapati orang yang sama kita lihat sempat bolak balik sementara kita terjebak di dalam mobil.

Macet legian kuta

Macet Legian Kuta

Memang, cara paling asik untuk menikmati suatu daerah adalah dengan barjalan kaki. Cuma dengan berjalan kaki kita memiliki kesempatan untuk melihat detail lingkungan sekitarnya. Jalan kaki adalah cara terbaik untuk mengetahui suatu kota sampai ke pori-porinya.

Berjalan kaki sepanjang jalan Legian-Kuta memang lebih menyenangkan. Dengan berjalan kaki, kita bisa berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Bisa melihat toko-toko, membuka-buka buku menu direstoran, menawar barang, mencium aroma dupa, mendengar pedagang lokal menawarkan barang  dengan mengatakan “it is bloody cheap sir” yang membuat Saya mau tak mau menengok dan senyum senyum.

Hal lain yang menghibur di daerah ini adalah ketika melihat turis asing yang memakai baju, singlet, celana pendek, atau tank top berlogo “bintang”. Bahkan Saya melihat keluarga besar turis asing yang semuanya memakai baju berlogo “bintang” tentu yang warnanya berbeda. Ada bintang hijau, merah, biru, ungu, macam-macam. Jadilah keluarga ini objek ejekan kami. Mungkin bagi turis ini, belum ke Bali kalau belum beli kaos Bintang.

Jimbaran & Uluwatu

Sebetulnya tidak banyak yang bisa dilihat di Jimbaran. Tujuan Saya adalah melihat pantai Dreamland,  makan seafood, dan mencoba Rock Bar di Hotel Ayana yang terkenal itu.

Padang-padang, Suluban dan dreamland memang pantai berombak besar yang katanya cocok untuk surfing. Namun, karena Saya tidak bisa surfing. Saya hanya pergi melihat Pantai dreamland. Pantainya memang bagus, hamparan pasir putih dengan tebing karang yang  kokoh yang membuat pantai dreamland enak dinikmati. Dibandingkan Kuta, tentu saja pantai ini lebih bagus.

Dreamland

Seafood di Jimbaran tidak mengecewakan. Harganya juga relatif sama dengan Bontang. Makan berdua dengan Ikan Baronang 300 g, Udang galah 300 g, Kerang 100 g dan cah kangkung hanya menghabiskan Rp 140,000. Not bad kan?

Yang mahal adalah Rock Bar. Minum berdua ditemani dengan camilan calamari menguras dompet Saya Rp. 450,000. Awalnya kami merasa sedikit terintimidasi oleh megah dan mewahnya Hotel Ayana serta pengamanannya yang ketat. Kami takut diusir karena tidak berpakaian pantas. Tapi kami cuek saja. Ternyata pelayannya menyambut kami dengan baik. Kami langsung ditunjukkan arah menuju Rock Bar.

Ada dua akses untuk mencapai Rock Bar. Lewat tangga atau turun dengan cable car. Ya cable car! keren kan. Tentu saja kami memilih naik cable car walaupun harus antri. Sesuai dengan namanya, Rock Bar terletak di tebing berbatu Hotel Ayana. Tentu karena berada di karang tempat pecahnya ombak, suasana yang didapat juga luar biasa, apalagi saat sunset! kemudian pelayan wanitanya juga cantik-cantik 😀  Tempat yang menyenangkan untuk hang out bersama teman-teman. Tapi siap-siap saja untuk menguras dompet Anda di sini.

Rock Bar

Saya juga ke Pura Uluwatu. Ngapain? untuk nonton tari kecak saat matahari tenggelam. Turis banget ya :D.  Untuk nonton tari kecak selama satu setengah jam harus membayar Rp 75,000 per orang. Sayang waktu Saya ke sana sunsetnya malah tertutup awan. Yang menyebalkan juga, penari kecaknya gemuk dengan perut menggelambir. Belum lagi ada penari yang malah senyam senyum dan tengok kiri kanan. Wah payah, harusnya dengan harga tiket yang mahal, penari-penari itu lebih professional.

Tari kecak  mengiringi epos Ramayana yang terkenal itu. Sinta yang diculik oleh Rahwana kemudian dengan bantuan Hanoman kembali lagi ke pelukan Rama. Penari yang Saya suka tentu saja Sinta, karena dia cantik 😀 Namun jelas bintang hari itu adalah Hanoman. Karena dia gagah dengan bulu putihnya,  pandai berinteraksi dengan turis asing, dan bersedia difoto. Tidak seperti Sinta yang setelah pertunjukan langsung ngabur. Saya dan Sigit dengan noraknya berfoto dengan Hanoman. Sigit lebih norak lagi, dia curi-curi memotret turis Jepang cantik yang lagi berfoto dengan Hanoman.

Curi-curi

Rafting Talagawaja

Ada dua tempat rafting di Bali yaitu Sungai Ayung dan Talagawaja. Saya memilih Talagawaja karena lintasannya lebih panjang dan ada drop off setinggi empat meter.

Talagawaja terletak di Karangasem searah dengan Pura Besakih, Pura terbesar di Bali, sekitar dua jam dari Kuta. Terletak di kaki Gunung Agung, pemandangan sepanjang perjalanan dihiasi oleh eloknya kaki Gunung Agung dengan hamparan sawah yang menguning.

Operator rafting kami adalah Sobek. Memang dibandingkan dengan  operator lain Sobek menawarkan harga yang tinggi. Untuk turis lokal, kami membayar Rp 350,000 per orang. Sementara turis asing membayar $75. Tapi dengan harga yang mahal, fasilitas & standar keamanan yang didapat juga lebih baik. Tempat mandi dan makannya bagus. Sobek memperhatikan sampai detail terkecil, camilan dan kantong plastik untuk pakaian basah disediakan. Navigator kami juga ramah dan komunikatif sehingga rafting disungai yang dihimpit oleh tebing-tebing hijau menjadi menyenangkan.

Talagawaja

Di Bali memang kita bisa mendapatkan semuanya. Oleh karenanya, anda harus pintar-pinter mengelola dana. Berapa untuk menginap, berapa untuk transport, berapa untuk belanja, berapa untuk makan, dan berapa untuk entertainment harus ditentukan pada awal perjalanan. Anda harus disiplin, jangan mudah tergoda karena banyak sekali godaan. Jangan seperti Saya yang overbudget sampai 50 % walaupun sudah berusaha disiplin mengelola dana.

Saran selanjutnya, jika Anda memang berencana keliling Kuta, sewalah motor atau berjalan kaki. Jangan sekali-sekali menyewa mobil. Seperti yang sudah saya tulis, mimpi buruk. Mengendarai mobil cocok apabila anda ingin pergi ke daerah selatan seperti Uluwatu dan Jimbaran. Saya pernah naik motor dari Kuta ke Uluwatu. Hasilnya, masuk angin :))

Liburan di Bali cocok bagi anda yang memiliki sedikit waktu dan tidak mau repot mengurus detail-detail kecil karena semua ada yang bisa mengurus. Selain itu liburan di Bali seperti one-stop shopping, apa yang anda mau, bisa didapatkan. Yang belum ada hanya theme park seperti dufan dan disneyland.

Apabila anda merasakan perlakuan yang berbeda antara turis asing dan lokal, itu terjadi karena kebiasaan buruk turis lokal. Turis asing pandai menempatkan diri dan tidak pelit. Saat datang ke tempat hang out yang ramai mereka akan well-dressed. Mereka berpakaian rapi untuk menghargai orang lain dan terutama diri mereka sendiri. Tidak seperti kita yang cuek bebek berkaos dan bercelana pendek saat makan di restoran bintang lima. Kemudian, janganlah pelit-pelit memberi tips. Apabila pelayanannya memuaskan, berilah tips yang sesuai. Ini penting untuk membangun citra turis lokal. Pelitnya anda akan mempengaruhi pelayanan terhadap turis-turis lokal lain yang datang.

Terlepas dari itu, datang ke Bali akan membuat anda sadar bahwa Indonesia amat kaya. Anda lantas jatuh cinta, bukan hanya kepada Bali, tapi kepada Indonesia dengan kekayaan budayanya.