Monthly Archives: Januari 2011

Hobi

Memilih diving sebagai hobi adalah suatu kesalahan. Selain beresiko, olahraga ini mahal. Kalau sudah tercebur di dunia ini bersiaplah merogoh kantong anda dalam-dalam. Awalnya teman-teman yang meracuni anda akan bilang, “oh basic gear untuk diving gak mahal kok, cuma wetsuit, mask, snorkel dan fins. Nanti Buoyancy Compensator (BC) sama regulator pinjem aja sama club”.

Setelah sertifikasi open water dan mencoba berkali-kali diving di lokasi yang sama, muncul rasa penasaran bagaimana rasanya diving di lokasi terbaik di Indonesia. Sayangnya, dive trip sama sekali murah, seringkali bikin perut mulas. Tapi percaya deh, sekali tercebur anda pasti ketagihan. Bukan tidak mungkin  rencana jalan-jalan anda berubah jadi dive travel.

Tidak berhenti sampai disitu, bergabung dengan komunitas selam anda akan berkenalan dengan tipe-tipe diver, dari photographer sampai technical. Mau tidak mau anda akan tersedot ke dunia mereka. Yang paling berbahaya adalah underwater photography. berhati-hatilah kalau rekan-rekan anda merupakan underwater photographer. Mereka paling bisa bikin “kabita” atau kepingin bisa motret seperti mereka. Perlengkapan underwater photography tidak murah. Awalnya mungkin hanya housing dan dan camera. Lama-kelamaaan, melihat foto anda yang didominasi warna hijau dan biru serta melihat foto-foto rekan anda yang warnanya”keluar” anda mulai mempertimbangkan untuk beli strobe. Beberapa waktu kemudian, anda mulai cari-cari lensa tambahan untuk lebih mengeksplorasi.  Gadget tersebut lagi-lagi tidak murah, strobe contohnya, harganya bisa lebih mahal dari kamera itu sendiri.

Jika anda hobi menyelam dan tertarik dengan u/w photography, nah itu namanya mimpi buruk. Selain anda selalu mengidam-idamkan diving di tempat-tempat terbaik di Indonesia, anda juga memiliki keinginan untuk upgrade gadget. Tanpa anda sadari, tabungan anda mulai terkikis habis.

Untuk bujangan, yang paling kasihan adalah calon pasangan karena anda tidak bisa menawarkan apa-apalagi kepada dia selain peralatan fotografi dan foto-foto penyelaman anda. Bisa jadi anda lebih perhatian kepada gadget ketimbang pacar.  Kalau anda sudah berkeluarga, bersiap-siaplah diprotes istri karena pengeluaran terbesar keluarga adalah “mainan” dan perjalanan diving anda.

Saya sendiri mulai sadar kalau diving sudah terlalu banyak berkontribusi kepada buruknya neraca keuangan. Rencana jalan-jalan yang sudah lama dibuat gagal karena saya lebih memilih jalan-jalan ke lokasi-lokasi diving. Telepon genggam yang harus sudah diganti juga tidak diganti karena saya lebih memilih untuk beli beberapa gadget.

Menyesal? sepertinya sih perasaan sementara aja, soalnya sudah berkali-kali saya boros karena diving, berkali-kali pula hal itu diulangi kembali. Yang harus dipikirkan sekarang adalah bagaimana cara menjaga balance tabungan saya agar tidak jelek-jelek amat atau dengan kata lain, mencari pemasukan tambahan 😀

Iklan

Diving Attitude

Sedang asyik mencari-cari objek menarik untuk difoto, seorang dive leader Tanjung Bara Diving Club (TBDC) berkebangsaan Australia itu melemparkan pandangan aneh yang tidak saya mengerti dan memberi signal untuk naik ke atas. Okay, Saya kira dia meminta saya untuk melakukan safety stop di kedalaman 5 m (saat itu saya berada dikedalaman sekitar 7 m). Saya ikuti saja maunya dia.

Tidak lama setelah surfacing,  Om Roy dan beberapa rekan  Badak Diving Club (BDC) ngajak foto di dekat marker sebagai kenang-kenangan sekaligus bukti bahwa kami pernah diving di Sangata. Kami pun kembali turun. Membentangkan banner BDC di dalam air bukan perkara yang mudah. Saya melihat dive leader yang memberi pandangan aneh itu dan Rahma salah satu anggota TBDC nampak kesulitan membentangkan banner. Ada yang sesuatu yang janggal, kenapa mereka repot-repot sampai harus terbalik-balik segala. Saya yang jadi juru foto enak saja hovering bertumpu pada ujung fin saya sambil motret. Ketika gantian saya yang dipotret, saya juga merasa janggal. Kenapa rekan-rekan BDC dan TBDC begitu kerepotan menjaga buoyancy, sementara saya asyik saja bertumpu pada ujung fin, bahkan sempat kneeling.

Baru ketika Saya sudah di Bontang pertanyaan itu terjawab saat ngobrol dengan teman BDC yang ikut diving di Sangatta. Saya bertanya kenapa dia tidak ikutan foto dengan banner BDC. Dia bilang tidak enak karena sulit menjaga buoyancy agar tidak kena karang. Saya langsung mulas. Saya ingat TBDC punya sepuluh golden rules yang ditunjukkan kepada seluruh diver sebelum diving. Salah satu rulesnya adalah dilarang menginjak/menyentuh karang.

Tidak cuma sekali, berkali-kali saya menyentuh dan menginjak karang saat diving bersama dengan TBDC. Pantas saja si bule australia itu melemparkan pandangan dan memberi gesturewhat the hell are you doing?” saat sedang asyik mencari objek foto. Juga pada saat foto bersama, pantas saja si bule bersusah payah sampai terbalik-balik segala. Ternyata dia setengah mati berusaha agar tidak menyentuh karang. Sementara saya dengan asyik bertumpu pada karang. Sungguh saya merasa amat bersalah.

Padahal saat open water course, saya termasuk yang paling hati-hati. Saya sebisa mungkin berusaha tidak mengganggu kehidupan laut dengan menyentuhnya. Okelah, kalau gangguin anemone fish (ikan nemo) sudah sering saya lakukan. Salah sendiri mereka rusuh kalau mau difoto, sampai matuk-matuk segala :D. Tapi berpengangan pada karang dan bertumpu pada karang merupakan hal yang tabu, kecuai pada keadaan darurat.

Sejak kapan saya menjadi sembrono begini? Barangkali semenjak diving di Crystal Bay Nusa Penida. Di sana arusnya lumayan kencang sehingga berkali-kali saya berpegangan pada karang untuk menghindari terbawa arus. Mungkin karena itulah saya jadi kehilangan sensitivitas, karena menganggap berpengangan dan bertumpu pada karang merupakan hal yang biasa.

Tidak terganggu saja, terumbu karang sudah terancam oleh aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab seperti membuang sampah sembarangan, melempar sauh sembrono, menangkap ikan dengan bom atau racun sianida dll. Sebagai seorang penikmat (jika tidak mau dibilang pencinta) alam bawah air, sudah selayaknya kita meminimalkan gangguan kita kepada dunia bawah air.

Diving di Sangata mengingatkan bahwa saya sudah terlalu sembrono. Colek sana sini, pegangan, terlalu dekat dengan terumbu karang, pressure gauge tidak dikaitkan, merupakan hal yang harus saya koreksi. Saya masih ingat pandangan aneh bule Australia itu, diantara pandangan kecewa dan pandangan menyesal telah mengajak saya. Well, Saya segera harus memperbaiki attitude saya di bawah air. Dimulai dari Bunaken-Lembeh 😀

Kantong Kresek

Berapa banyak kantong plastik kresek yang anda pergunakan untuk membungkus belanjaan? Katakanlah dalam sehari paling tidak anda  dua kali berbelanja, berarti anda menggunakan dua kantong kresek.  Anggap anda tinggal di kota kecil yang berpenduduk 500,000 jiwa. Dengan asumsi orang-orang di kota anda merupakan orang yang “resik” yang langsung membuang kantong plastik, berarti  kantong kresek yang harus dikelola selama sehari mencapai 1,000,000 lembar.

Pertanyaannya, bagaimanakah cara mengelola 1,000,000 kantong kresek setiap hari? Beruntung apabila kota anda memiliki sistem manajemen sampah yang baik.  Maksudnya, sejak sampah dihasilkan sudah dilakukan pemilahan sampah untuk tujuan daur ulang dan pabrik daur ulangnya ada. Lantas, bagaimana kalau kota kita tidak memiliki konsep atau infrastruktur pengelolaan sampah? Syukur-syukur kalau anda termasuk warga teladan yang membuang sampah pada tempatnya sehingga permasalahan bisa dilokalisir. Kalau tidak, kantong kresek itu akan menjadi masalah lingkungan.

taken from tribunnews.com

Untuk lebih dekat mengenal kantong kresek, marilah kita tinjau mengenai daur hidup (life cycle) dari kantong kresek. Kantong kresek merupakan hasil polimerisasi ethylene yang berasal dari “cracking” minyak bumi. Menurut hasil analisis daur hidup (life cycle anlysis) oleh Franklin Associates, ltd yang membandingkan daur hidup kantong kresek dengan kantong kertas, energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan 15,000 kantong kresek adalah 9.3 juta btu. Sementara  per 15,000 kantong kresek, limbah padat yang dihasilkan yaitu 9.1 kaki kubik, emisi udara 17.9 pounds dan limbah cair 1.8 pounds dengan asumsi tidak ada daur ulang.

Oleh karenanya, terus menerus bergantung kepada kantong kresek untuk membungkus belanjaan kita bukan merupakan pilihan bijak mengingat terlalu banyak sumberdaya dan energi yang dihabiskan untuk hal yang terbilang remeh temeh. Bayangkan, untuk produksi 15,000 kantong kresek saja kita menghabiskan energi yang dapat menerangi 13 rumah pelanggan golongan R-1 selama sebulan!

Bertepatan dengan tahun baru 2011, ada baiknya kita mengubah kebiasaan yang merugikan lingkungan, salah satunya adalah dengan bijaksana dalam menggunakan kantong kresek. Tentu sama sekali tidak menggunakan kantong plastik merupakan hal yang sulit di masa kini mengingat kantong kresek sangat praktis dan bisa digunakan untuk banyak hal.

Hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi beban lingkungan dari kantong kresek adalah mengurangi penggunaan kantong kresek dengan tas yang bisa digunakan berulang-ulang terutama saat kita berbelanja.  Yang kedua adalah mempergunakan kembali kantong plastik yang kita miliki. Selain untuk membungkus belanjaan, plastik bisa dipergunakan untuk banyak hal; melapisi keranjang sampah, membungkus pakaian yang basah, membungkus sandal jepit dan sepatu sebelum dimasukkan di tas, sampai untuk membungkus bangkai tikus sebelum kita enyahkan (yang satu ini pengalaman pribadi).

Yang ketiga, tularkan kebiasaan ini ke rekan-rekan sekitar anda. Diharapkan  dengan menularkan kebiasaan ini, ada reaksi berantai yang menyebabkan gerakan besar untuk mengurangi penggunaan kantong kresek. Yang keempat, apabila anda mempunyai sepasang tangan yang kreatif, cobalah untuk membuat sesuatu yang memiliki nilai tambah dari sampah plastik. Selalu ada orang-orang kreatif yang bisa menghasilkan sesuatu yang menarik dari sampah plastik, yang dibutuhkan sekarang hanya niat dan kesadaran untuk melakukannya.

Permasalahan kantong kresek adalah permasalahan kebiasaan dan gaya hidup. Mengubah gaya hidup lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Oleh kareanya diperlukan ikhtiar keras dari diri kita sendiri sebagai perwujudan manusia yang  mampu hidup selaras dengan alam.

Let’s kick the habit !

Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang !

2011

Saya dan segenap Bangsa Indonesia ingin mengucapkan ( apa sih gw pake bawa-bawa bangsa indonesia 😀 )

SELAMAT TAHUN BARU 2011

Semoga menjadi tahun yang lebih ceria dari tahun 2010.

Saya sudah mencanangkan tahun 2011 ini menjadi tahun ceria 😀 pokoknya apapun yang terjadi harus ceria. Gagal liburan mesti ceria, banyak kesibukan harus tetep ceria, dianggap remeh ceria tidak berhenti, dikucilkan pantang surut cerianya. Pokoknya tahun cerialah!

Keceriaan sudah dimulai saat malam pergantian tahun baru. Saya dan diri saya (bingung ga lo :D) bercengkrama bersama menonton Iron Man dan Transformer yang ditayangkan secara bersamaan di TV.  Sebetulnya Saya sudah nonton dua film lawas ini. Tapi karena terlalu malas untuk beranjak dari tempat duduk dan memutar dvd bajakan yang sudah dibeli, jadilah saya menonton kedua film ini secara bersamaan. Maksudnya bersamaan, saat jeda iklan di saluran yang menayangkan Iron Man, saya pindah ke saluran lain yang menayangkan Transformer dan begitu seterusnya. Aktivitas yang amat menyenangkan. Saking menyenangkannya, saya  tertidur pulas sebelum pergantian tahun 2010 ke 2011. Momen yang mengharukan.

Pada pergantian tahun 2009 ke 2010, Saya yang baru kembali dari perjalanan panjang melelahkan dari Takayama menuju Osaka, turun di Umeda untuk merayakan pergantian tahun di Umeda Sky Building. Dengan cuaca sekitar 5 derajat celcius, angin kencang,  dan ditemani suara cempreng orang-orang Jepang yang menyebalkan, saya berkumpul dengan ribuan anak-anak muda jepang di Umeda Sky Building. Peristiwa pergantian tahun itu dirayakan dengan permainan laser hijau yang sama sekali tidak menghibur. Permainan laser saat pertandingan Indonesia vs Malaysia di Bukit Jalil mungkin lebih menghibur. Yang saya tidak habis pikir, setelah permainan laser usai, ribuan orang itu beramai-ramai meninggalkan Umeda. Tidak ada saling memberi selamat, tidak ada kecupan hangat untuk mengusir dingin. Benar-benary payah.  Saya yang mengharapkan pelukan selamat tahun baru dari gadis-gadis Jepang akhirnyapun cuma bisa gigit jari.

Seorang teman yang baru saya kenal di Jepang saat itu menanyakan apa resolusi tahun baru saya. Dengan lantang (karena direkam) saya mengatakan bahwa tahun depan saya akan merayakan tahun baru di tepi sungai Thames untuk menikmati kembang api yang melatari Big Ben. Terlalu bersemangat,  saya pun menambahkan bahwa tahun depannya lagi Saya akan menikmati pergantian tahun di Times Square. Bualan kelas berat yang baru saya sadari kemudian terlalu ambisius dan mengada-ada.

Setelah setahun berlalu, ternyata saya merayakan pergantian tahun 2011 di Kota Bontang tercinta dengan layar yang lebih dinamis bila dibandingkan langit kota London, yaitu layar televisi.  Memang sih Saya tidak melakukan apa-apa. Tapi, come on,  apalagi hal yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan membiarkan diri berleha-leha. Istilah Italianya Dolce far niente, the sweetness of doing nothing. Frasa inspiratif yang saya dapat dari film Eat, Pray & Love. film tentang sesuatu yang tidak jelas yang akhirnya juga menjadi tidak jelas. Untung saja ada frasa inspiratif yang menyelamatkan film itu.

Oleh karenanya, Saya mencanangkan tahun 2o11 menjadi tahun ceria. Pokoknya walau bagaimanapun harus ceria.

Salam ceria!